INNALILLAHI WA INNA ILAIHI ROJIUN…GUS DUR Desember 31, 2009
Posted by ajidedim in Uncategorized.Tags: presiden, partai kebangkitan bangsa, pkb, gus dur, NU, nahdlatul ulama
add a comment
Aku merinding tidak seperti biasanya ketika siang jam 12.15 mobil jenasahmu memasuki pondok pesantren Tebuireng Jombang… mobil disemuti para murid, anak, pendukung dan pengikutmu…. Ya Allah… tak tahan aku menahan tangis. Diiringi alunan Qul huwallahu Ahad Allahussamad Lam Yalid wa Lam Yulad wa Lam Yakullahu Kufuyan Ahad…
Dialektika pikiran,
Dialektika politik,
Dialektika sosial,
Dialektika budaya,
Dialektika idealita,
Dialektika perjalanan surga,
Akhirnya… selamat jalan Gus…
Kami kangen terus…
Kami makin cinta…
Kami makin rindu…
Kami makin ingin pelukan demokrasimu…
Selamat jalan Gus…
KH Abdurrahman Ad Dakhil… KH Abdurrahman Wahid… Gus Dur meninggal 13 Muharram 1431 H atau 30 Desember 2009 pukul 18.45 WIB di RSCM Jakarta dan dimakamkan di Ponpes Tebuireng Jombang Jawa TImur
Singosari, 31 Desember 2009
REDESAIN EKONOMI ( SYARIAH ) ISLAM INDONESIA Desember 22, 2009
Posted by ajidedim in ekonomi, ekonomi islam.Tags: bank indonesia, bank islam, bank syariah, ekonomi, ekonomi islam, ekonomi syariah, islam, sukuk, syariah, takaful
2 comments
ABSTRAKSI REDESAIN EKONOMI SYARIAH INDONESIA Desember 21, 2009
Posted by ajidedim in Uncategorized.Tags: asuransi syariah, bank islam, bank syariah, BI, blue print perbankan islam, ekonomi islam, ekonomi syariah, sukuk, takaful
add a comment
ABSTRAKSI
REDESAIN OUTLOOK EKONOMI SYARIAH INDONESIA
Oleh: Aji Dedi Mulawarman
Staf Pengajar Program Doktor Ilmu Akuntansi FE Universitas Brawijaya
Akhir tahun seperti ini biasanya banyak bertebaran seminar, pertemuan, diskusi panel dan tulisan-tulisan berkenaan dengan outlook ekonomi Indonesia tahun mendatang. Tidak ketinggalan ekonomi Islam atau ekonomi syariah. Penulis merasa para pengamat dan predictor ekonomi Islam/Syariah menggunakan Positivistic Mapping, yang terlalu berorientasi pendekatan matematis dan kuantitatif, serta outward looking. Positivistic Mapping mengedepankan model: to explain and to predict. Perkembangan ekonomi Islam yang dipakai Positivistic Mapping sebagai tolok ukur seperti desain blue print “top-down”, prospek-kendala kronologis, struktural kelembagaan, pertumbuhan linier, dan lebih banyak pendekatan proyeksi statistik.
POSITIVE MAPPING
Positivistic Mapping melihat desain ekonomi Islam Indonesia selalu dikerangka dalam kronologi waktu dengan pencapaian-pencapaian linier dan tumbuh, meningkat dan semuanya diarahkan pada logika umum ekonomi yaitu pertumbuhan/growth, keuntungan dan ekuitas para penggiatnya. Kalaupun ada yang namanya tujuan kesejahteraan itupun kelihatannya tidak berbeda dengan ekonomi konvensional. Pemikiran Ekonomi Kapitalis, Sosialis, Lingkungan atau Ekonomi Baru selalu mendiskusikan alternatif dari dua kata magis Kesejahteraan dan Keadilan menuju Ekonomi Berhati Nurani (Michael Dua 2008). Tidak ada di dunia ini yang mengatakan ekonomi itu tidak bertujuan pada kesejahteraan. Dan itu pula yang kemudian dikritik bahwa ekonomi kesejahteraan Barat hanyalah kesejahteraan bersifat pertumbuhan dan linieritas serta mekanistis. Pemikiran Ekonomi Baru ala Tony Fritjof Capra atau Danah Zohar dan Ian Marshall kemudian mendekati Ekonomi dalam koridor Spiritualitas yang memberi jiwa bagi kepentingan diri-sosial-alam.
CONSTRUCTIVE MAPPING
Ma’rifat Ekonomi Islam tidak hanya melakukan pendekatan seperti Positivistic Mapping, yaitu melakukan interkoneksi model ekonomi konvensional dengan ekonomi Islam tradisional kemudian dilakukan reinterpretasi ulang berdasarkan landasan normative Islam, yaitu Tawhid. Pendekatan positivistic model seperti itu sangat top-down dan tidak membumi. Ma’rifat Ekonomi Islam menggunakan Constructive Mapping, yaitu mengintegrasikan tiga komponen model ekonomi Islam tradisional, model ekonomi konvensional disertai dengan pendekatan empiris interaksi sosiologis masyarakat Muslim yang bersifat bottom-up sekaligus top-down. Berdasarkan integrasi tiga komponen tersebut dilakukan reinterpretasi ekonomi Islam berdasarkan landasan normative Islam, yaitu Tawhid.
Desain blue print dan positioning Ekonomi Islam saat ini (source dari Positivistic Mapping) memang tidak serta merta ditolak dan dihapus. Desain yang “positivistic” seperti itu” dan sudah ada perlu digunakan dan tetap dijadikan salah satu pijakan. Tetapi itu hanyalah salah satu dari desain ekonomi Islam yang di sini disebut Constructive Mapping. Disamping melakukan Positivistic Mapping, diperlukan kajian Non-Positivistic seperti poststrukturalis, fenomenologis dan antropologis, serta genealogis bagi ekonomi Islam. Sinergi diperlukan untuk titik temu ide dan metafisika dalam bentuk aksi “New Blue Print”. Agenda beberapa tahun ke depan adalah merancang pemberdayaan mikro tanpa meninggalkan pengembangan makro ekonomi. Artinya, saatnya memikirkan lebih konkrit mekanisme yang menyentuh langsung pada sektor riil. Seperti, menemukan formulasi mikro ekonomi berasas mashlaha untuk semua, menggali dan mengangkat kearifan lokal berekonomi, sinergi mikro dan makro ekonomi atas dasar kepentingan ekonomi, sosial, lingkungan, serta pengembangan teknis alternatif konsep pembiayaan, seperti salaf atau qardh yang memang secara tradisional fiqh-nya dekat sistem pinjaman/pembiayaan, maupun pengembangan sistem muzara’ah dan musaqah yang memang dekat dengan realitas masyarakat Indonesia, yaitu PERTANIAN.
HANCURKAN BERHALA HUKUM DAN KETERTIBAN SOSIAL November 21, 2009
Posted by ajidedim in Uncategorized.1 comment so far
bila kesombongan dan keangkuhan menghinggapi para pemegang kuasa hukum dan ketertiban sosial, bahkan menjadi tuhan-tuhan baru, sampai menghancurkan sendi-sendi norma sosial yang seharusnya menjadi tiang utama pentingnya hukum dan ketertiban, maka masyarakat berhak memilih kebenaran berdasar metafisika sosialnya sendiri…berhak menghancurkan berhala hukum dan ketertiban sosial yang bebas kesombongan dan keangkuhan…
TARGET MARKET SHARE 5% BANK SYARIAH: on SCRIBD November 19, 2009
Posted by ajidedim in ekonomi islam.Tags: bank syariah, market share
add a comment
MENGEMBANGKAN KOMPETENSI INTI PERILAKU BISNIS KOPERASI: on SCRIBD November 19, 2009
Posted by ajidedim in koperasi.Tags: bisnis koperasi, koperasi
add a comment
IFRS: SEKULARISASI DAN NEOLIBERALISME AKUNTANSI November 8, 2009
Posted by ajidedim in Akuntansi.Tags: Akuntansi, IFRS, neolib, neoliberalisme
1 comment so far
IFRS: SEKULARISASI DAN NEOLIBERALISME AKUNTANSI
Oleh: Aji Dedi Mulawarman
diambil dari sebagian buku Akuntansi Syariah: Teori, Konsep dan Laporan Keuangan, yaitu “kata pengantar” (halaman xvii) dan Bab 4 (halaman 98-100); serta makalah penulis pada seminar di STEI TAZKIA tanggal 10 Januari 2009 berjudul Perubahan Melalui Akuntansi Syariah di Era Neoliberalisme (lagi…)
SIMPOSIUM NASIONAL PENDIDIKAN DASAR ISLAM Oktober 24, 2009
Posted by ajidedim in Pendidikan, call for paper.Tags: call for paper, call paper, islam, islamic education, Pendidikan, pendidikan dasar islam, sekolah, sekolah dasar, simposium, simposium nasional, simposium nasional pendidikan dasar islam
1 comment so far
AGAMA-AGAMA DUNIA 2009 Oktober 21, 2009
Posted by ajidedim in Kebudayaan, agama, peradaban.Tags: agama, agama dunia, agama-agama dunia, hindu, islam, nasrani, sekuler, statistik agama-agama dunia, statistik dunia
1 comment so far
Menurut Pew Forum on Religion and Public Life US tanggal 9 Oktober jumlah penduduk dunia (populasi 6, 8 miliar) berdasarkan pembagian agama adalah Islam 1,57 miliar; Nasrani 2,25 miliar; Hindu 1,4 miliar; Sekuler 1 miliar; Lainnya 0,6 miliar
Khusus agama Islam, mayoritas Muslim ada di Asia sebesar 61,9%, disusul Timur Tengah (20,1%), Sub Sahara Afrika 15,3%, Eropa 2,4%, dan Amerika 0,3%. Di Asia penduduk Muslim terbanyak di Indonesia, yaitu berjumlah 202,9 juta, kemudian disusul Pakistan 174 juta, India 160 juta, Bangladesh 145 juta. Bila dilihat dari alirannya, Aliran Sunni berkisar 87-90% sedangkan Syiah 10-13%.
Survey ini dilakukan di 232 negara selama 3 tahun. Survey mengerahkan 50 ahli demografi, untuk mempelajari 1500 data sensus penduduk sampai dengan survey populasi.
KERING AIR JERNIH GURUN September 16, 2009
Posted by ajidedim in puisi.Tags: puisi
add a comment
Materialitas kejujuran dan kebaikan itu bagai air jernih
Aliran dan ketenangannya menunjukkan semua yang bersamanya
Materialitas air akan memberi kesegaran dan kesejukan
Itulah mengapa kita diminta mencari kesejukan air untuk kehidupan
Immaterialitas kejujuran dan kebaikan itu bagai keringnya gurun
Panas terik dan hamparan kering pasir menunjukkan semua yang bersamanya
Oase dan pepohonan hanyalah fatamorgana di tengah gurun
Itulah mengapa kita diminta menikmati kekeringan dalam berpuasa
Siapa yang ingin menunjukkan kejujuran dan kebaikan?
Dia yang dapat menikmati kejernihan gurun dan keringnya air
Dia yang dapat menikmati sejuknya gurun dan teriknya air
Dialah yang dapat menikmati keduanya dalam ketenangan dan ketegaran hidup…
Sebenarnyalah jangan meminta kenikmatan an sich…
Jangan melihat semua dari perspektif ego diri,
Yang lebih penting memang bukanlah kesegaran dan kesejukan atau panas dan kering,
Yang lebih penting itu adalah apa adanya, tanpa basa basi, tanpa prasangka
Kejujuran dan kebaikan karena mencari Ridho adalah kuncinya
Itulah makna asasi dari kejujuran dan kebaikan
KILAU CAHAYA EKONOMI ISLAM September 16, 2009
Posted by ajidedim in ekonomi islam.Tags: ekonomi islam, puisi
1 comment so far
Indahnya Islam adalah indahnya petani, peladang dan pekebun
Yang selalu menyeru nama Allah
Saat berinteraksi dalam harmoni alam semesta-Nya
Sejuknya Islam adalah sejuknya para pedagang dan bankir
Yang selalu membersihkan jiwa
Dengan kejujuran dan kebaikan asali Nur Muhammad
Damainya Islam adalah damainya para pemilik modal dan penambang
Dalam keikhlasan cipta-proses-saluran nilai tambah
Sembari menjunjung kebesaran-Mu
NIAT-kanlah untuk membangun…
Back To Nature Economics, Ekonomi Kembali Ke Fitrah..
Itulah Ekonomi Islam yang suci dan penuh kilauan rahmat dan barakah Allah…
Insya Allah….
SEJARAH DAN PERKEMBANGAN AKUNTANSI SYARIAH September 8, 2009
Posted by ajidedim in Akuntansi, Kebudayaan, agama, akuntansi syariah, ekonomi, ekonomi islam, peradaban.Tags: Akuntansi, akuntansi Islam, akuntansi syariah, AL KHAWARISMI, AL MA'MUN, ekonomi islam, islam, LEONARDO DA PISA, LUCA PACIOLI, PERADABAN ISLAM, PERDAGANGAN ISLAM, sejarah
1 comment so far
TAZKIYAH SAINS DAN TEKNOLOGI (Bagian 3) Agustus 10, 2009
Posted by ajidedim in agama, filsafat, ilmu, islam, teknologi.Tags: agama, filsafat, ilmu, islam, sains, sains dan teknologi, tazkiyah, teknologi
1 comment so far
TAZKIYAH SAINS DAN TEKNOLOGI:
KELUAR DARI CARUT MARUT SAINS-TEKNOLOGI MODERN[1]
Dr. Aji Dedi Mulawarman[2]
Bagian ketiga dari artikel dengan judul yang sama.
3. KEBERADAAN SEGALA SESUATU:
DARI EMPIRIS-ANTROPOSENTRIS MENUJU EMPIRIS-EKOSENTRISME
Pandangan empiris yang mendominasi alam pikiran ontologi masyarakat ilmiah modern sebenarnya dibangun dari tradisi pemikiran natural science ala Descartes. Descartes memandang segala sesuatu di dunia dan alam semesta ini bagaikan sebuah mesin yang terbangun dari bagian terpisah-pisah. Alam semesta adalah sebuah sistem mekanis yang tidak lebih dari sekedar mesin. Tidak ada tujuan, kehidupan atau spiritualitas di dalam materi. Alam bekerja sesuai dengan hukum mekanik, dan segala sesuatu di alam materi dapat diterangkan dalam pengertian tatanan dan gerakan-gerakan dari bagiannya. Pandangan mekanistik Descartes telah memberikan persetujuan ’ilmiah’ pada manipulasi dan ekploitasi yang menjadi karakteristik peradaban Barat (Capra 1997, 61-67). Reduksionis gaya Descartes atas realitas bersifat ruhaniah/abstrak menurut Qadir (2002, 3) adalah bentuk desakralisasi pengetahuan dan berdampak pada filsafat yang hanya mengakui produk rasio. Sekularisasi pemikiran semacam ini menurut Qadir (2002, 4) telah melahirkan pandangan mekanistik mengenai realitas. Realitas menurut Whitehead seperti dikutip Qadir (2002, 4) direduksi menjadi proses, sedangkan waktu hanya menjadi bentuk kuantitas, dan sejarah menjadi proses enthelekheia transenden.
Pandangan ontologi mekanistik Descartes bukan hanya menjadi dasar pengembangan ilmu alam (baik fisika, kimia maupun biologi) tetapi juga telah merasuk dalam ilmu sosial (social science). Tidak terkecuali ilmu ekonomi, hukum, pendidikan dan hingga sekarang merambah seluruh ilmu. Penekanan ini kemudian membatasi penilaian kualitatif (yang sebenarnya sangat menentukan pemahaman pada dimensi ekologis, sosial dan psikologis. (Capra, 1997, 256-7).
Lebih jauh dalam dunia empiris sendiri masih terdapat perbedaan yang sangat besar antara dunia empiris yang obyektif dan subyektif. Seperti dijelaskan Burell dan Morgan (1979, 4) bahwa realitas dapat berada diluar individu atau merupakan hasil bentukan kesadaran individual atas lingkungan luar atau lingkungan didalam kesadaran individu itu sendiri; apakah realita merupakan bentuk obyektif atau hasil pengakuan individu, baik realita ini berada di luar atau produk dari pikiran seseorang (1). Pemikiran ontologis empiris obyektif disebut Burell dan Morgan (1979, 4) sebagai pemikiran realism. Sedangkan pemikiran ontologis yang melihat dunia empiris dari pandangan subyektif disebut sebagai pemikiran nominalism (4). Aliran nominalism digambarkan Burell dan Morgan (1979, 4) mendasarkan diri pada asumsi bahwa dunia sosial berada diluar individu dan tidak lebih dari nama, konsep dan label yang digunakan untuk membentuk realitas. Realism, lanjut Burell dan Morgan (1979, 4) pada sisi yang lain menyatakan bahwa dunia sosial yang berada diluar individu adalah suatu dunia nyata yang terbuat dari struktur yang keras, nyata dan relatif kuat, dan realitas dunia ini eksis sebagai suatu entitas empiris. Bagi aliran realisme dunia sosial eksis hanya karena apresiasi individual terhadapnya. Selain itu, dunia sosial memiliki eksistensi yang keras dan konkrit seperti dunia nyata.
3.1. Evolusi Empiris Antroposentris Ke Empiris Ekosentris
Gagasan dunia yang makin technological ini bukannya tanpa tentangan. Ketika dunia telah dipenuhi oleh sesaknya teknologi yang makin mengalienasi manusia di sudut dunia yang sepi tanpa makna, di sisi lain pula telah terjadi penghancuran sistematis alam semesta akibat dari kekuatan teknologi. Menipisnya ozon, efek rumah kaca, polusi dan penghacuran hutan dan biota telah menggerus alam dan lingkungan menjadi habis hanya untuk kepentingan manusia. Dari kesadaran tamaknya teknologi akibat pikiran manusia yang sangat kering ini telah menggeser pemikiran untuk berpaling pada konsep atroposentris menuju ekosentrisme. Peduli lingkungan mulai merasuki dunia manusia. Ekologi dangkal yang disebut Capra sebagai bentuk antroposentris, bergeser menjadi ekologi dalam yang tidak memisahkan manusia atau apapun dari lingkungan alamiahnya. Melihat dunia bukan sebagai kumpulan obyek yang terpisah, tetapi sebagai jaringan fenomena yang saling berhubungan dan saling tergantung satu sama lain secara fundamental (Capra 1997).
Perkembangan lanjutan dari pemikiran deep ecology digagas para pemikir yang lebih peduli atas kegagalan dunia mekanistik Kartesian. Capra (1997, 36-42) misalnya dengan apa yang disebutnya sebagai pemikiran tentang Sistem, melihat pemikiran sistem yang memiliki kriteria-kriteria umum. Pertama, sistem-sistem hidup adalah keseluruhan yang terpadu yang sifat-sifatnya tidak dapat direduksi menjadi bagian-bagian yang lebih kecil. Kedua, kemampuan mengubah secara bolak balik di antara tingkatan-tingkatan sistem.Di semua bagian dunia yang hidup, dijumpai sistem-sistem yang bersarang dalam sistem lainnya, dan dengan menerapkan konsep yang sama pada tingkatan yang berbeda, setiap kesatuan sistem memiliki kompleksitas yang berbeda. Saling hubungan antar jaringan dan kesatuan antar sistem dipngaruhi pula adanya proses. Artinya, sebagai pengembangan konsep sistem dalam pikiran Capra (2003) dengan adanya the pattern of organisation suatu sistem hidup sebagai konfigurasi hubungan di antara bagian sistem yang paling menentukan ciri esensial sistem tersebut, yaitu struktur sistem sebagai perwujudan materi pola organisasinya dan proses kehidupan sebagai proses perwujudan yang terus menerus. Dalam ranah sosial, karakter sistem ini disebutkan Capra masih terdapat satu perspektif disamping perspektif proses, bentuk dan materi itu sendiri, yaitu yang disebut sebagai perspektif makna. Perspektif makna adalah kesadaran reflektif itu sendiri. Pemikiran Capra adalah bentuk alternatif dari carut marut dunia yang telah digagahi dengan kuat oleh pemikiran Kartesian dan Newtonian, menjadi pandangan dunia yang holistik dan ekologis. Sebuah hubungan-hubungan fenomena psikologis, biologis, fisik, sosial dan budaya serta menciptakan suatu teori holistik sistem hidup.
Bersambung…. ke bagian 4. Pengembangan Ilmu
[1] Makalah pernah disampaikan dalam Kuliah Peradaban di Masjidil ’Ilm Bani Hasyim, Singosari, Malang, 8 Januari 2007 dan Latihan Kader II HMI Cabang Yogyakarta, 30 Juni 2007. Makalah ini merupakan salah satu bagian dari rencana buku yang akan diterbitkan penulis dengan judul Peradaban dan Ilmu Islami: Menggugat Filsafat Ilmu dan Metode Ilmiah
[2] Dosen Program Doktor Ilmu Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Brawijaya, Malang; Direktur Eksekutif Lembaga Studi Ekonomi dan Keuangan Islam, CISFED, Jakarta. Direktur KB-TK-SD Bertaraf Internasional Masjidil ’Ilm Bani Hasyim, Singosari, Malang, Jawa Timur. Email: ajidedim@yahoo.co.id HP: 081-555-600-745
TAZKIYAH SAINS DAN TEKNOLOGI (Bagian 2) Agustus 10, 2009
Posted by ajidedim in agama, filsafat, ilmu, islam, teknologi.Tags: agama, filsafat, islam, sains, sains dan teknologi, tazkiyah, teknologi
add a comment
TAZKIYAH SAINS DAN TEKNOLOGI:
KELUAR DARI CARUT MARUT SAINS-TEKNOLOGI MODERN[1]
Dr. Aji Dedi Mulawarman[2]
Bagian kedua dari artikel dengan judul yang sama.
2. MENCARI AKAR MASALAH
Ilmu adalah hasil perenungan dan proses persinggunggan aktif, dinamis sinergis dari akal, batin dan fitrah spiritualitas yang hanya dimiliki manusia. Seperti akan kita lihat nanti bagaimana sebenarnya ilmu tak dapat lepas dari ketiga hal tersebut. Hal ini sekaligus akan merombak tradisi konvensional saat ini yang sangat parsial, ilmu yang berpisah dengan batin manusia, spiritualitas manusia, etika kemanusiaan bahkan teknologi hasil implementasinya. Tetapi kenyataannya dalam domain ilmu Barat pandangan empiris sebagai basis dasar ontologi ilmu dan pandangan positivisme sebagai basis dasar epistemologi ilmu telah menurunkan bentuk ilmu khas Barat, dan tidak bersesuaian dengan takdirnya sebagai manusia.
Mempertanyakan basis dasar keilmuan pasti berhubungan dengan manusia sebagai sosok pengembang ilmu. Karena ilmu memang khas manusia. Pertanyaan mengenai diri atau manusia sebagai dirinya sendiri telah banyak dilakukan. Bahkan pertanyaan tentang manusia telah dilakukan sejak jaman filsafat Yunani. Pembahasan manusia mengalami perubahan-perubahan sesuai dengan tingkat pemahaman pengetahuan di jamannya. Ketika pemahaman pengetahuan masih diliputi oleh nuansa mistis, maka konsep manusia dihubungkan dengan hal-hal yang berhubungan dengan titisan dewa, setengah dewa dan sebagainya. Ketika manusia telah memahami bahwa alam semesta tidak bersifat mistis tetapi bersifat mekanistis, maka konsep manusia berubah menjadi penciptaan yang bersifat evolusionis. Ketika manusia telah memahami bahwa alam semesta beserta isinya tidak mungkin apa adanya, tetapi terjadi dari sebuah Grand Design yang Super Canggih, maka manusia dipahami sebagai makhluk yang bersifat spiritual sekaligus memiliki kecerdasan untuk merubah alam semesta ini sesuai dengan batas dan kemampuannya serta keinginannya.
Schumacher (1981, 3-5) melihat manusia modern ternyata berpola scientism empiricism/positivism dengan menegasikan integralitas kemanusiaannya. Manusia modern tidak percaya sesuatu yang tak dapat dibuktikan secara empiris, tidak percaya pada masalah yang berhubungan dengan nilai artistik/seni, nilai spiritual, dan kebenaran mutlak. Hal tersebut diperparah dengan penerapan metode ilmiah yang semakin ketat atas nama obyektifitas ilmiah, bahwa nilai-nilai dan makna-makna tidak lain daripada mekanisme-mekanisme pertahanan serta bentukan-bentukan reaksi. Bahwa manusia tak lain daripada suatu mekanisme biokimia pelik yang dimotori oleh suatu system pembakaran yang memberi tenaga kepada computer-komputer dengan fasilitas-fasilitas penyimpanan yang luar biasa guna memelihara informasi bersandi. Hilangnya dimensi vertikal lanjut Schumacher (15) berarti bahwa tak mungkin lagi terdapat suatu jawaban kecuali yang berkaitan dengan kepentingan (utility). Jawabannya dapat bersifat lebih egoistis-individualistis atau lebih sosial-altruistik, tetapi ia tak dapat tidak bersifat utilitarian. Tidak pula mungkin merumuskan fitrah manusia lain daripada tabiat hewan, dan juga hewan yang lebih tinggi yang disebut homo sapiens.
Bersambung…. ke bagian 3. Keberadaan Segala Sesuatu
[1] Makalah pernah disampaikan dalam Kuliah Peradaban di Masjidil ’Ilm Bani Hasyim, Singosari, Malang, 8 Januari 2007 dan Latihan Kader II HMI Cabang Yogyakarta, 30 Juni 2007. Makalah ini merupakan salah satu bagian dari rencana buku yang akan diterbitkan penulis dengan judul Peradaban dan Ilmu Islami: Menggugat Filsafat Ilmu dan Metode Ilmiah
[2] Dosen Program Doktor Ilmu Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Brawijaya, Malang; Direktur Eksekutif Lembaga Studi Ekonomi dan Keuangan Islam, CISFED, Jakarta. Direktur KB-TK-SD Bertaraf Internasional Masjidil ’Ilm Bani Hasyim, Singosari, Malang, Jawa Timur. Email: ajidedim@yahoo.co.id HP: 081-555-600-745
















