MELAMPAUI POSTRUKTURALISME: KRITIK FILSAFAT (1)


Bapak-ibu-saudara sekalian, sekarang saya belajar ngomong filosofis dikit ni…mau nyoba melakukan kritik “akademis” (katanya gitu sih…gak tau nyampe apa nggak ya :D ) terhadap agenda besar postrukturalisme, yang katanya merupakan salah satu akar utama postmodernisme. kalo kurang filosofis ya maklum wong saya bukan filosof… saya hanyalah orang biasa…ordinary man

 

1. PENDAHULUAN

Postrukturalisme (Barat) secara umum diperlakukan sebagai pelopor intelektual postmodernisme (Bartes, 1995) dalam Ritzer (2003, 57). Karena ini menurut Ritzer (2003, 57), postrukturalisme merupakan untaian-untaian pemikiran yang membentang dalam perkembangan teori sosial postmodern. Bahkan Ritzer (2003, 57) menyatakan bahwa postrukturalisme adalah suatu sumber teoretis yang sangat penting bagi teori sosial postmodern, terdapat garis yang fleksibel dan sangat tipis di antaranya, bahkan dalam kacamata postmodernisme garis itupun harus ditolak. Meskipun diyakini oleh Ritzer (2003, 58) postrukturalis cenderung sangat abstrak, sangat filosofis, kurang politis dibanding dengan postmodern.

Sedangkan dalam makna intelektual, postrukturalisme banyak dipengaruhi pemikiran Jean Paul Sartre (Muhadjir 2002, 249) yang menggagas Strukturalisme. Meskipun menurut Ritzer (2003, 54) tokoh sentral strukturalisme adalah Claude Levi Strauss, antropolog Perancis. Sedangkan menurut Kuntowijoyo (2004, 34), asal-usul strukturalisme dapat ditemukan dalam metode linguistik yang dipakai Ferdinand de Saussure dalam kuliah-kuliahnya di Jenewa sejak 1906.

 

2. STRUKTURALISME

Strukturalisme menurut Ritzer (2003, 51-54) muncul dari perkembangan yang bermacam-macam dalam berbagai bidang kajian, namun sumber strukturalisme modern adalah linguistik, meskipun, kebanyakan sosiolog konsern dengan struktur sosial. Strukturalisme merupakan usaha untuk menemukan struktur umum yang terdapat dalam aktivitas manusia (Ritzer 2003, 51). Dari sudut pandang ini, suatu struktur dapat didefinisikan sebagai:

Sebuah unit yang tersusun dari beberapa elemen dan selalu ditemukan pada hubungan yang sama dalam suatu ‘aktivitas’ yang tergambar. Unit tidak bisa dipecah dalam elemen-elemen tunggal, bagi kesatuan struktur tidak terlalu dipahami oleh sifat elemen yang substantif sebagaimana ia tidak terlalu dipahami oleh hubungannya. (Spivak 1974; dalam Ritzer 2003, 51).

 

Lane (1970) dalam Kuntowijoyo (2004, 35) melihat ciri strukturalisme, yang pertama ialah perhatiannya pada keseluruhan, pada totalitas. Strukturalisme analitis mempelajari unsur, tetapi ia selalu diletakkan di bawah sebuah jaringan yang menyatukan unsur-unsur itu. Jadi, lanjut Lane (1970) dalam Kuntowijoyo (2004, 35) rumusan pertama dari strukturalisme ialah bahwa unsur hanya bisa dimengerti melalui kesalingterkaitan antar unsur. Kedua, menurut Lane (1970 dalam Kuntowijoyo (2004, 35) strukturalisme tidak mencari struktur di permukaan, pada tingkat pengamatan, tetapi di bawah atau di balik realitas empiris. Apa yang ada di permukaan adalah cerminan struktur yang ada di bawah (deep structure), lebih ke bawah lagi ada kekuatan pembentuk struktur (innate structuring capacity). Ketiga, lanjut Lane (1970) dalam Kuntowijoyo (2004, 35), dalam peringkat empiris, keterkaitan antar unsur bisa berupa binary opposition. Keempat, sebagai ciri terakhir, dikatakan Lane (1970) dalam Kuntowijoyo (2004, 35), strukturalisme memperhatikan unsur-unsur yang sinkronis, bukan yang diakronis, yaitu unsur-unsur dalam satu waktu yang sama, bukan perkembangan antar waktu, diakronis atau historis.

 

2. POSTRUKTURALISME

Postrukturalisme dapat dikatakan merupakan antitesis dari strukturalisme, dengan tokohnya, Jacques Derrida. Berseberangan dengan strukturalisme yang mengutamakan pemikiran mengenai bahasa, postrukturalisme menurut Derrida lebih memfokuskan pada tulisan, yang kemudian tercipta yang dinamakan grammatology (Ritzer 2003, 202). Ide-ide dasar Derrida mengenai postrukturalisme, mulai dari writing (tulisan), trace (jejak), differance (perbedaan) arche-writing (pergerakan differance) (Ritzer 2003, 204). Dan dari ide-ide dasar tersebut, Derrida menarik kesimpulan, bahwa selalu ada suatu realitas yang bersembunyi di belakang tanda; selalu ada sesuatu yang tersembunyi di balik apa yang hadir (Ritzer 2003, 204). Ia adalah realitas dan hubungan dalam realitas, dan dua hal itulah yang merupakan titik sentral kajian Derrida (Ritzer 2003, 204).

Ketika realitas dan hubungan dalam realitas itu muncul dalam penerapan, yaitu dekonstruksi, Derrida sering menitikberatkan pada hal yang kecil. Ketika misalnya hikayat diceritakan dalam teks (Ritzer 2003, 205), hal itu tidak menjadi masalah. Tetapi yang kemudian perlu dipertimbangkan kembali adalah makna lanjutan dari dekonstruksi dari Derrida, mengenai dekonstruksi yang tidak pernah diarahkan pada kepastian kebenaran dan akan terjadi dekonstruksi terus menerus. Ritzer menjabarkan lebih lanjut pikiran dekonstruksi Derrida, sebagai berikut:

Tetapi dekonstruksi tidak pernah diarahkan pada kepastian kebenaran. Ia mendekonstruksi agar dapat mendekonstruksi lagi dan lagi secara terus menerus; bukan berarti menghancurkan yang paling bawah, untuk menemukan kebenaran. Walaupun dekonstruksi berjalan terus, ia hanya akan memberi jalan pada dekonstruksi selanjutnya (Ritzer 2003, 205).

Hal ini kemudian yang menggiring pada terma kunci lainnya, yaitu decentering, yang ingin meninggalkan strukturalisme dari fokusnya tentang tanda (sign) dan menitikberatkan pada proses “menjadi tanda” (becoming sign); meninggalkan struktur objektif beralih pada hubungan antar struktur subjektif dan objektif. Pada terma yang sangat luas, decentering diarahkan pada dekonstruksi masalah sentrisme, seperti hasrat manusia untuk menempatkan ‘pusat’ kehadiran pada ‘awal’ dan ‘akhir’; juga berkaitan dengan penolakan linieritas dan penyelidikan terhadap yang origin (Ritzer 2003, 206).

Seperti yang juga dijelaskan oleh Awuy (1994) mengenai konsep “differance”-nya Derrida yang membawa konsekuensi lebih serius terhadap metafisika barat. Pemikiran metafisika barat, bagi Derrida dalam Awuy (1994) adalah logosentrisme dan fonosentrisme. Pada logosentrisme, pemikiran kita dibawa ke seberang dunia sana, dunia ideal, sebagai prinsip rasional untuk mengantisipasi ke-khaos-an dunia pengalaman. Dengan logos ini, ruang, waktu dan peristiwa bergerak secara linier, dengan demikian maka logos adalah konsep yang mampu mentotalitaskan segala sesuatu. Dengan prinsip ini, siapapun dapat menguasai baik ruang, waktu dan peristiwa. Pada fonosentrisme adalah anggapan tentang ekspresi murni bahasa dari kedalaman diri kita. Ketika budaya muncul, bahasa bunyi yang telah dikorupsi oleh bahasa tulisan. Menurut Derrida, pemahaman logos dan phonos inilah yang menjadi pondasi peradaban barat. Baik logosentrisme dan fonosentrisme sebagai konsep murni metafisika barat, bagi Derrida adalah mistifikasi, yang harus didekonstruksi, dilakukan demistifikasi. ..bersambung

sumber: Mulawarman, Aji Dedi. 2006. Menyibak Akuntansi Syari’ah. Penerbit Kreasi Wacana Yogyakarta. Bab 2.

About these ads

4 thoughts on “MELAMPAUI POSTRUKTURALISME: KRITIK FILSAFAT (1)

  1. post modernism, post structuralism – niatnya memanusiakan manusia, menghargai logika dan rasa, objectifitas dan subjectifitas mendapat porsinya yang dirasakan lebih wajar, yang jadi soal adalah : porsi-porsi positivitas – idealitas, porsi deductivitas – inductivitas, porsi materialitas (form —> in-form-asi) dengan image dll, dalam upayanya mencari kebenaran.

    Tentu saja tidak akan pernah ketemu, karena bermula dari random dan kembali ke random (cek dialog pada kuliah Derrida).

    Yang benar menurut saya adalah datang dari Dia kembali ke Dia, inna li Allahi, wa inna Ilaihi raji’un.

    Wassalam, selamat menunaikan ibadah puasa.

  2. Ping-balik: Dekonstruksi Derrida (Sebuah Filsafat Anti Metafisika) « Pra "DUGA"

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s