PASAR SAHAM MLOTROK LAGI: MASIH PERCAYA? Maret 18, 2008
Posted by ajidedim in ekonomi.Tags: Akuntansi, akuntansi syariah, BBM, bursa saham, ekonomi, ekonomi islam, ekonomi kerakyatan, Ekonomi Rakyat, globalisasi, indonesia, inflasi, Islamic Banking, islamic economic, islamic financial, kebutuhan pokok, keuangan, koperasi, krisis global, LPG, minyak goreng, neoliberalisme, pasar saham, sosial
trackback
Keserakahan memang pada akhirnya akan menghantam balik penjarahnya…
Sejak tahun 2007 sampai sekarang, “penyakit dan virus mematikan” makro ekonomi yang ditunjukkan lewat pasar saham Amrik sana saja mulai membangkrutkan perekonomian. Apa kita masih mau percaya bahwa logika pasar bebas akan memberikan model mutakhir, gaya ekonomi paling hebat, dan akan memberi dampak kemajuan ekonomi bagi bangsa? Bank Indonesia, Bu Menteri Keuangan atau Pak Menko Ekonomi, dan akademisi ekonomi di Indonesia, masih mau nekat “jualan buku” Ekonomi Barat yang katanya manjur? (lihat analisis ekonomi yang terkait, klik link di sini –> Gempa Ekonomi Dunia dan Pasar Saham Anjlok
Tidakkah kita bisa memberi prediksi ekonomi dunia tahun 2010 mau terjadi apa? Mbok kalo antisipasi itu bukan jadi “pengekor teori”. Mbok kalo bikin kebijakan itu yang mikir dunia konkrit. Jangan hanya ngotak-atik angka di komputer aja. Ini namanya kebohongan publik
Siapa bilang harga-harga turun? Istri saya selalu bilang tiap hari kalo lombok, minyak goreng, gula, daging, dan kebutuhan hari-hari, naiknya tidak normal dan tanpa kendali setiap hari. Siapa bilang angka BPS itu benar? Setiap hari yang namanya di kampung – kampung selalu ada saja pengangguran baru, karena PHK atau karena usahanya gulung tikar; pantes hari-hari ini banyak maling dan kejahatan bertebaran. Siapa bilang Inflasi kita normal?
Siapa bilang internasionalisasi harga minyak tanah bisa menyelamatkan kecukupan energi Indonesia (kalo ini sih memang udah jadi agenda banyak kepentingan yang bukan kepentingan masyarakat banyak kecuali kepentingan “uang banyak”)? Siapa bilang LPG adalah alternatif, wong dimana-mana telah menghancurkan banyak rumah rakyat, tabung LPG berkurang isinya alias nyusut
, belum lagi pembagian tabung tidak punya koordinasi yang konrit dan jelas, yang mapan dan punya tabung LPG dan tidak lagi menggunakan minyak tanah malah dapat (se RT lagi) yang belum punya tabung LPG dan memang masih menggunakan minyak tanah malah gak dapat blas (se kampung lagi). Siapa bilang menaikkan harga PLN dengan berbalut diskon tagihan (ini namanya kebijakan ndesani dan kekanak-kanakan seperti orang Indonesia ini goblok-goblok semua, yang pinter hanya yang bikin aturan aja) bisa menyelesaikan masalah? Gini ini siapa bertanggung jawab, Pak Menteri ESDM atau siapa, wis gak jelas blasssss?
Kalo logika makro ekonomi kita seperti ini, tidak berpihak sama sekali pada kepentingan rakyat, ya sudah tinggal tunggu tanggal mainnya, ikut masuk jurang 2010 apa ya? Untung saya bukan tukang prediksi makro ekonomi, hehehe…jadi jangan percaya sama saya…saya juga boong ya? keliatannya gak lo, saya cuma ngitung-ngitung kemungkina aja kok…mosok cuma Bu Menteri aja yang bisa, Pak Menko aja yang bisa atau bahkan Gubernur BI aja yang bisa prediksi dan kecerdasan tak konkrit itu? HAHAHAHA…
Kalo Ekonomi Islam katanya mau bikin yang lebih baik, ya jangan juga “jadi pengekor”, cuma “ndompleng” kecerdasan juga. Itu namanya “malas” dan “tidak kreatif” blassss. Gitu kok mau maju?
Selamat berjuang ya… kalo ditanya saya sudah usul apa tentang ekonomi Islam atau syariah? siapa bilang gak ada usul…kalau saya sih gak “omong doang” dan bukan “tukang tiru”. silakan klik di sini hehehe
KATA KUNCINYA, BERDAYAKAN PERTANIAN DAN ASPEK PRODUKTIF MASYARAKAT… jangan jadikan masyarakat kita hanya konsumen aktif
BERIKUT JEJAK-JEJAK MENJELANG …
BERITA PERTAMA: Dari Bisnis Indonesia Online
Gejolak bursa ancam IPO
JAKARTA: Ambruknya pasar saham domestik yang terseret oleh pusaran negatif bursa global berpotensi menghambat penawaran umum perdana (initial public offering) saham dan obligasi tahun ini senilai total Rp45 triliun.
Dengan peluang mundurnya jadwal penerbitan saham dan surat utang itu, korporasi yang ingin memanfaatkan dana segar dari pasar modal untuk ekspansi dan melunasi utangnya perlu memikirkan alternatif pembiayaan lain.
Embusan sentimen buruk di pasar saham terjadi seiring dengan ambruknya hedge fund Bear Stearns yang diakuisisi JP Morgan Chase senilai US$236,2 juta atau US$2 per saham.
The Fed bereaksi cepat dengan memangkas bunga diskonto 25 basis poin menjadi 3,25% Minggu malam (waktu AS).
Kabar buruk itu memicu pemodal melepas saham secara masif, sehingga indeks harga saham gabungan (IHSG) terpangkas 71,1 poin (2,98%) ke 2.312,32, atau mendekati level terbawah pada tahun ini di posisi 2.294 pada 22 Januari. Berdasarkan data Bloomberg, pemodal asing menarik dananya senilai US$25,7 juta dalam sehari perdagangan kemarin.
Indeks Dow Jones hingga pukul 22:31 WIB langsung dibuka melemah 63 poin pada level 11.888,81. Bursa Australia kemarin terkoreksi 2,18%, Hang Seng terjungkal 5,18%, Nasdaq turun 2,76%, Shanghai turun 3,6%, dan STI Singapura melemah 1,8%.
Nikkei terjun 3,71% ke posisi 11.787,51 yang merupakan posisi penutupan terendah sejak 2005. “Koreksi terjadi karena sentimen global yang sangat negatif, sehingga saham yang memiliki fundamental positif pun harganya ikut terkoreksi,” tutur Kepala Riset PT UBS Securities Indonesia Joshua Tanja kemarin.
Secara umum, menurut dia, pemodal masih apresiasi terhadap bursa nasional, karena fundamental emiten masih cukup menjanjikan. “Namun, saya tidak bisa memastikan tren penurunan berlangsung sampai kapan.”
Lonjakan harga minyak mentah dunia yang hampir menyentuh level US$112 per barel, rekor tertinggi baru, memperburuk bursa saham global. Harga emas juga kembali melejit hingga rekor barunya mencapai US$1.032 per ounce.
Kenaikan harga minyak itu langsung menekan rupiah hingga level terendahnya dalam tujuh pekan dan menjadi mata uang berpenampilan terburuk ketiga dibandingkan dengan valuta di Asia. Rupiah terdepresiasi menjadi Rp9.343 per dolar AS, terendah sejak 29 Januari, dan akhirnya ditransaksikan pada level Rp9.265 pada sesi sore, turun 35 poin dari posisi akhir pekan.
VP Research and Analyst PT Valbury Asia Futures Nico O.J. mengatakan rupiah tertekan, karena meningkatnya permintaan dolar AS untuk membeli minyak, ditambah lagi capital outflow pada Bursa Efek Indonesia.
Jual saham
Di tengah ambruknya bursa saham, perusahaan seperti PT Indika Inti Energi, PT Bayan Resources, dan PT Metropolitan Kentjana Tbk justru bersiap-siap menjual saham di BEI dalam waktu dekat ini.
Berdasarkan data yang diolah Bisnis, total dana yang ingin diraih dari IPO saham tahun ini minimal Rp21 triliun, penerbitan obligasi rupiah sedikitnya Rp14 triliun, dan penjualan obligasi dolar Rp10 triliun.
Direktur PT Bahana Securities Andi Sidharta terus memantau kondisi pasar sebelum memastikan pelaksanaan penawaran umum. “Kalau kondisi pasar saham berfluktuasi seperti saat ini, penawaran umum saham bisa mundur ke triwulan ketiga. Kami sebagai penjamin emisi masih menunggu pergerakan arah pasar.”
Head of Investment Banking PT Danareksa Sekuritas Marciano Herman mengatakan gonjang-ganjing bursa saham seperti saat ini memicu sentimen negatif terhadap rencana penawaran umum.
Untuk menyiasati kondisi eksternal itu, menurut dia, strategi pelaksanaan penjualan saham harus diubah. “Penjamin emisi harus mengerti siapa yang memiliki uang. Dana dari Timur Tengah yang masih diparkir di London mungkin masih ada.”
Marciano mengatakan di tengah ketidakpastian pasar saham, persiapan penawaran umum saham dan obligasi harus dilanjutkan seraya menunggu waktu yang tepat untuk dilaksanakan. “Jangan sampai tiba-tiba timing muncul, tetapi ketinggalan karena tidak ada persiapan.”
Untuk mengetahui minat penjualan saham, lanjutnya, penjamin emisi bisa melihat indikasinya dari pre-marketing. “Kalau zero demand, mau tidak mau ditunda. Kalau masih ada permintaan dan investor minta harga rendah, situasi itu harus dibicarakan dengan perusahaan.”
Direktur PT Mandiri Sekuritas I Wayan Gemuh mengatakan kondisi pasar berpengaruh pada penetapan harga IPO saham dan obligasi.
Dirut BEI Erry Firmansyah mengatakan sejumlah calon emiten masih memproses rencana IPO. “Kami melihat dan menunggu lanjutan rencana tersebut, karena situasi pasar sedang bergejolak,” katanya melalui pesan singkat kepada Bisnis kemarin.
Direktur Perdagangan Fixed Income dan Derivatif, Keanggotaan, dan Partisipan BEI T. Guntur Pasaribu justru menilai calon emiten obligasi sedang menunggu saat yang tepat untuk masuk ke pasar. “Situasi pasar sedang buruk, tetapi kami belum menerima pembatalan penerbitan obligasi.”
Dia menilai pasar obligasi seharusnya tidak mengalami masalah, mengingat dampak yang lebih terasa pada pasar saham. “Sampai semester pertama, jumlah komitmen penerbitan obligasi mencapai Rp10 triliun dan kami perkirakan sampai akhir tahun target Rp40 triliun bisa tercapai.”
Direktur Bank Danamon Vera Eve Lim mengatakan perseroannya menunggu saat yang tepat untuk menawarkan obligasi senilai Rp1,5 triliun. (arif gunawan S., Berliana Elisabeth S. & Nana Oktavia Musliana) (munir. haikal@bisnis.co.id/wisnu.wijaya@bisnis. co.id)
Oleh M. Munir Haikal & Wisnu Wijaya
Bisnis Indonesia
BERITA KEDUA: Dari Bisnis Indopos Online
Indopos online Selasa, 18 Mar 2008,
Saham Terkikis, Rupiah Anomalis
Khawatirkan AS, Pasar Bergejolak
JAKARTA – Ketidakpastian prospek ekonomi AS makin mencemaskan pelaku pasar finansial. Di dalam negeri, mengikuti tren global, indeks saham dan kurs rupiah kembali terpuruk.
Pada penutupan transaksi kemarin (17/3), indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) melemah 71,099 poin (2,98 persen) ke level 2.312,32. Bahkan, pada perdagangan sesi pertama sempat melorot ke level 2.290,47. Tercatat 188 saham turun harga, 27 saham naik, dan 24 saham lainnya stagnan.
Sementara itu, kurs rupiah ditutup pada posisi Rp 9.260 per dolar AS atau melemah 30 poin dibandingkan penutupan Jumat (14/3).
“Mata uang kita sungguh aneh, anomalis. Ketika mata uang regional dan global menguat terhadap dolar, rupiah justru tak berdaya,” kata Farial Anwar, managing director Currency Asset Management kepada koran ini di Jakarta kemarin (17/3).
Farial menyatakan, rupiah juga ikut terseret melemahnya harga saham. Para pemodal mengalihkan investasinya dari saham ke komoditas yang kini harganya sedang melambung. “Kondisi pasar saham kita memang bubble. Sebenarnya ketika indeks naik itu tidak ada fondasi yang kuat, hanya ulah spekulator.”
Di samping itu, melambungnya harga minyak dunia juga ikut memengaruhi. Sebab, permintaan akan dolar meningkat pesat. Kata Farial, momen penguatan rupiah cukup sulit terjadi. Andaikan bisa, tak lama lagi pasti juga akan anjlok kembali.
“Setelah ini bisa jadi menguat, karena akan ada capital inflow seiring aksi beli di pasar saham yang kini harganya di bawah kewajaran. Tapi, setelah itu akan turun lagi begitu investor melakukan aksi profit taking dalam jangka pendek,” ujarnya. Artinya, imbuh dia, rupiah tidak memiliki fundamental yang kuat.(eri/fan)
BERITA KETIGA: Dari Okezone
okezone.com Pasar Keuangan Carut Marut
Senin, 17 Maret 2008 – 16:46 wib
Rani Hardjanti – Okezone
JAKARTA – Pasar keuangan terus mengalami kemerosotan. Pasar keuangan kembali dihentakan kebijakan emergency The Fed.
Nilai tukar rupiah ditutup melemah 72 poin ke posisi Rp9.292 per USD dibanding perdagangan Jumat (14/3/2008) akhir pekan lalu.
Rupiah pada perdagangan sesi pertama hari ini sempat menembus Rp9.310 per USD. Rupiah tersengat kepanikan pasar keuangan yang ramai-ramai menarik dananya. Namun, setelah sesi pertama indeks harga saham gabungan berhasil menanjak ke level 2.300 dari sebelumnya level 2.200.
Pelaku pasar menjadi panik setelah The Fed memangkas tingkat suku pinjamannya sekira 3,5 menjadi 3,25 persen. Sebenarnya kebijakan itu bisa meredam kepanikan pasar. Namun, kebijakan itu diputuskan saat hari libur yakni Minggu 16 Maret kemarin sore, waktu setempat.
“Pasar menjadi ketakutan,” ujar Strategist Meritz Securities Shim Jae-youb, di Seoul, Korea Selatan, seperti dikutip AP, Senin (17/3/2008).
Kebijakan pasar juga mengindikasikan kekhawatiran Bank Sentral AS atas kebangkrutan bank setempat.
Sebelumnya, The Fed juga memutuskan untuk mengantisipasi kebangkrutan Bear Stearns dengan merekomendasikan JP Morgan untuk mengakusiisinya.
Sementara IHSG ditutup melemah 71,099 poin atau 2,98 persen ke posisi 2.312,321. IHSG pada penutupan perdagangan sesi pertama sempat terhempas ke posisi 2.290,472, menurun 92,948 poin atau 3,90 persen. Sebelumnya, IHSG dibuka menurun 141,227 poin atau 5,93 persen ke posisi 2.242,193. (rhs)
















siiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiip. terus kembangkan analisa yang jeli kayak gini. salut buat kamu.
makasih ya mas atas analisis yang sangat membantu ini (salam mahasiswa ekonomi undip)
saya pengujung baru di blog ini. siip isinya.
tentang ekonomi/perekonomian?
resesi ekonomi akan terus terjadi jika masih berprinsip “ada uang, ada barang”.
ekonomi manusia di dunia akan beres kembali jika semua manusia di bumi ini berprinsip “ada barang, ada uang”.
mungkin masih pada bingung dengan dua frasa di atas. Maksudnya sangat berbeda bagai air dengan minyak, ato bumi dengan langit ato beda 180 derajad. alias berbeda berlawanan arah.
frasa yang pertama: jika kita punya uang, maka kita bisa beli barang.
frasa kedua: jika kita punya barang, maka dapat ditukarkan dengan uang untuk nanti uang itu ditukar lagi dengan barang lain yang kita perlukan.
masih belum tahu bedanya?
bayangkan: jika seluruh uang di muka bumi ini dikumpulkan (baik yang berbentuk real, tulisan ataupun catatan senilai uang) dan disamakan mata uangnya, terus uang itu digunakan untuk membeli (mengganti) seluruh barang yang ada di muka bumi ini ini dengan harga yang berlaku saat ini, apakah yang terjadi? kira-kira uang kumpulan itu pas, kurang, atau sisa?
tentunya jika berpinsip pada frasa kedua (ada barang, ada uang), maka uang kumpulan itu akan pas persis tidak kurang atau lebih sedikitpun.
namun jika berpinsip pada frasa pertama (ada uang, ada barang), maka uang kumpulan itu akan tersisa banyak sekali.
Percayalah.
Itulah penyebab yang mendasar dari resesi ekonomi.
ada tanggapan? kirim aja imel ke dwi@dr.com
trims.