jump to navigation

TERBANG DENGAN MANDALA AIRLINES: TIDAK MEMUASKAN PELANGGAN Maret 31, 2008

Posted by ajidedim in ekonomi.
Tags: , , , , , , , , ,
trackback
            Berikut ini saya menuliskan pengalaman tidak mengenakkan dari Ayah saya yang sudah berumur 70 tahun dengan menggunakan maskapai penerbangan nasional, Mandala Airlines. Pengalaman terbang Ayah saya menggunakan Mandala memang tidak sekali ini. Tetapi yang saya dapat catat lebih detil datanya ya pas hari ini, ketika ayah saya terkatung-katung di bandara selama lebih dari dua jam. Informasi teknisnya adalah sebagai berikut: 
1. Pesawat Mandala Airlines rute Malang – Balikpapan
2. Flight Number RI 260
3. Rencana berangkat pukul 12.35.
4. Tanggal berangkat 31 Maret 2008
Jadwal ternyata tinggallah jadwal tanpa konfirmasi yang seimbang. Informasi yang diterima Ayah saya bahwa pihak Mandala menunda penerbangan selama dua jam (delay). Artinya, pesawat berangkat pukul 14.35. Yang jadi pertanyaan adalah mengapa bila penumpang menunda jadwal penerbangan harus menambah biaya dengan jumlah tertentu, minimal Rp 150.000,- (seratus lima puluh ribu rupiah)?
Kebijakan yang semena-mena ini seperti kebijakan ala Orde Baru, hehehe, yang kuat yang berkuasa. Ya karena pikiran Mandala sama persis dengan model perusahaan yang masih melihat produktivitas dan capaian organisasi bisnis perusahaan sebagai head line dan berujung pada bottom line laba. Head line Produktivitas dan Bottom line Laba jelas merupakan simbol self-interest perusahaan untuk kepentingan pemilik dan atau pemegang saham. Sedangkan masyarakat atau pelanggan? Ya itu hanya eksternalitas saja.
Ritmik kehidupan seperti ini jelas bertentangan dengan ritmik biologis yang selalu mempertimbangkan keseimbangan alam semesta. Kesalahan bottom line laba sebenarnya berakar pada head line produktivitas merupakan capaian ritualitas yang kering dan bermakna keserakahan sebagai antitesis keseimbangan dan menegasikan keseimbangan alam semesta dan menegasikan realitas “dalam” maupun “luar” kecuali realitas “kekuasaan”, yaitu pemilik serta pemegang saham.
Model perusahaan seperti ini adalah gaya bisnis yang sudah kuno, sekarang gaya bisnis lebih mengarah pada kepuasan pelanggan dan green image. Ya kalo gitu, Mandala Airlines berkacalah, ayo… ini abad 21, serangan neoliberalisasi dunia sudah di depan kita, masak gayanya masih gaya abad 20.


Ritme kehidupan produktif sebagai head line seharusnya mulai diorientasikan pada bottom line nilai tambah perusahaan untuk kepentingan penggiat organisasi, lingkungan di luar organisasi baik langsung maupun tidak langsung, berujung pada pertanggungjawaban kepada Allah SWT. Bottom line nilai tambah sebagai bentuk ritmik kehidupan dapat dicapai ketika ritmik produktivitas memang “menyenandungkan” keseimbangan dan bukan keserakahan. Ritmik produksi sebagai “head line” harus menggambarkan “cinta” dan “kehormatan” perusahaan dari realitas “dalam” dan “luar” secara utuh, dan bukan hanya realitas pemilik serta pemegang saham. Cinta adalah kepedulian mendalam dari lubuk jiwa perusahaan ketika mengelola perusahaan untuk menghasilkan produk dan selalu mengedepankan kekuasaan yang penuh kehormatan dan bukan kekuasaan penuh keserakahan.

Komentar»

1. infogue - April 19, 2008

Artikel di blog Anda sangat menarik dan berguna sekali. Anda bisa lebih mempopulerkannya lagi di infoGue.com dan promosikan Artikel Anda menjadi topik yang terbaik bagi semua pembaca di seluruh Indonesia. Tersedia plugin / widget kirim artikel & vote yang ter-integrasi dengan instalasi mudah & singkat. Salam Blogger!

http://www.infogue.com
http://www.infogue.com/bisnis_keuangan/terbang_dengan_mandala_airlines_tidak_memuaskan_pelanggan/

2. Anonymous - Oktober 15, 2008

Wah aku baru pesen tiket Mandala neh…, mudah-mudahan kita ga dapet musibah kayak gitu yaa…

3. iyank_ - Februari 7, 2009

mungkin benar mandala dulunya seperti itu, tapi tidak dengan mandala yang sekarang….. coba lagi naik mandala dengan armada baru, dijamin ketagihan euy….hehehehe