jump to navigation

Kontroversi, Kontradiksi, Antitesis: Dimana Kebenaran? Juli 28, 2008

Posted by ajidedim in agama, islam.
Tags: , , , , ,
trackback

Dunia kita, yang bernama bumi ini, memangkah menyediakan tiga perangkat agenda kemanusiaaan, kontroversi, kontradiksi dan antitesis? Kontroversi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti perdebatan, pertentangan, persengketaan. Kata kontroversi dengan demikian mengandung arti ketidaksepakatan atas satu hal. Kontradiksi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti pertentangan antara dua hal yg sangat berlawanan atau bertentangan. Bila dilihat kata kontroversi dan kontradiksi sebenarnya memiliki makna sama, yaitu ketidaksepakatan atas satu hal yang sedang diperbincangkan. Sedangkan kata antitesis menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia lebih tegas berkenaan dengan pertentangan, yaitu pertentangan yg benar-benar. 

Kata kontroversi, kontradiksi dan berujung pada antitesis merupakan kata yang jelas-jelas merupakan realitas serta menjadi simbol bahasa atau komunikasi manusia. Artinya, ketiga kata itu sebenarnya adalah kata-kata yang merepresentasikan realitas perbedaan. Realitas perbedaanpun sebenarnya merupakan hal lumrah menurut tradisi-tradisi kebudayaan manusia sejak manusia hadir di dunia. Adam as. sebagai manusia suci sebelum turun ke bumi bahkan pernah melakukan langkah kontroversial, yaitu memakan buah khuldi. Dua Anak Adam as. di bumi pun juga telah melakukan langkah kontradiktif dengan norma kemanusiaannya. Dan saat inipun setiap manusia yang terganggu dengan kemapanan selalu melakukan penyeberangan pemikiran dengan pemikiran lainnya. Jadi, perbedaan itu adalah fitrah manusiakah? Atau harus ada di setiap realitas sosiologis?

Kalau dunia memang memberikan wadah bagi terjadinya kontroversi, kontradiksi dan antitesis segala sesuatu, apakah kita harus menghindarinya? Atau kita harus menembus ketiganya, untuk mendapatkan kebenaran hakiki? Atau memang kebenaran yang hakiki adalah kontradiksi, kontroversi dan antitesis itu sendiri? Atau dibalik ketiganya terdapat kebenaran hakiki? Atau bahkan tidak ada kebenaran hakiki? Tetapi yang ada adalah ketidakbenaran hakiki?

Yang jelas, mengapa Allah menegaskan kepada kita bahwa setiap muslim harus dapat memegang 6 (enam) hal berkenaan dengan keyakinan yang tidak dapat dipertentangkan menjadi kontroversi, kontradiksi maupun antitesis. Itulah yang disebut dengan Keimanan Muslim, Keyakinan Muslim. Keyakinan tentang Tuhan, Keyakinan tentang Malaikat, Keyakinan tentang Kitab-kitabNya,  Keyakinan tentang Kerasulan, Keyakinan tentang Akherat, Keyakinan tentang Qada dan Qadar. Kebenaran mutlak di dunia ini ternyata masih ada, kalau kita percaya atas enam point keimanan tersebut. Kebenaran mutlak seperti ini memang harus bebas dari kontroversi, kontradiksi dan antitesis. Enam hal itulah yang dijaga oleh Allah untuk tidak diperdebatkan, tetapi harus menjadi keyakinan dan kebenaran mutlak itu sendiri. 

Artinya ada enam hal dalam realitas kemanusiaan, yang tidak dapat dipertentangkan. Di luar keyakinan itu kontroversi, kontradiksi dan antitesis dapat dilakukan. Di luar keenam hal itu, dapat dilakukan perdebatan untuk menunjukkan kebenaran lain selain kebenaran itu sendiri. Kalau begitu apakah di luar enam keyakinan itu pasti terdapat kontroversi, kontradiksi dan antitesis yang dapat dibenarkan? Benarkah begitu? Apakah pertanyaan tentang “benarkah begitu” inipun telah memunculkan kontroversi, kontradiksi dan antitesisnya sendiri? Apakah penegasan atas enam hal itu juga merupakan kontradiksi, kontroversi dan antitesis pula? Bagi saya enam hal itu jelas final sebagai kebenaran mutlak. Menurut anda?

Komentar»

1. Idham G - September 15, 2008

Justru saya sedang mencari arti kebenaran hakiki.
oleh karena itu saya mencari artikel-artikel supaya saya dapat mengerti apa itu kebenaran yang hakiki?
Sebelumnya saya telah membaca sedikit artikel yang menyatakan bahwa kebenaran itu terdapat pada diri sendiri tapi anehnya orang mencari kebenaran di luar! Artikel itu berpendapat bahwa kebenaran sering dikaitkan dengan kata pembenaran. Oleh karena itu banyak orang bertanya kepada orang lain “sudah benarkah yang saya lakukan?”
Mohon untuk menambahkan arti kebenaran yang ada.

2. Andra - April 18, 2009

Saya sndiri belum terlalu bisa menangkap arti dari kebenaran itu sendiri dari artikel di atas.