BERITA DARI WEBSITE TETANGGA

Atasi Krisis Dengan Ekonomi Islam
Oleh: Humas STEI Tazkia
14 Januari 2009
http://tazkia.ac.id/

STEI Tazkia-Tiada hari tanpa seminar! Itulah barangkali gambaran dari kondisi sekolah tinggi ekonomi islam Tazkia ini. Belum genap seminggu seminar tentang Peran Legislatif dalam Peningkatan Kualitas Pendidikan berlalu, kali ini Tazkia kembali mengadakan seminar dengan tema Krisis Keuangan Global: Solusi Konkrit Ekonomi Islam.

Bertempat di Aula Ibnu Khaldun, seminar yang dilaksanalan pada hari sabtu (10/01) ini mendatangkan pembicara gaek dan pakar di bidang masing-masing, Dr. Aji Dedi Mulawarman seorang Doktor di bidang akuntansi syariah, Dr. Masyhudi, Muqorobbin Doktor di bidang ekonomi islam, dan Mukhamad Yasid, M.Si seorang pakar Manajemen yang juga menjabat Pembantu Ketua I STEI Tazkia. Sementara ketua STEI Tazkia, Dr. M. Syafii Antonio memberikan keynote speech pada acara tersebut.

Dalam paparannya, Syafii Antonio mengatakan bahwa selama krisis dunia saat ini bukan yang pertama kali. Krisis global seakan menjadi siklus dan bom waktu yang senantiasa meledak setiap saat. Menurutnya, sistem kapitalis yang dianut dunia saat ini terbukti rapuh dan tidak bisa menyelesaikan masalah. Bahkan sebaliknya, sistem inilah sumber masalah yang sebenarnya.

Lebih lanjut, salah satu Dewan Pengawas Syariah di Dubai ini memaparkan faktor-faktor yang menyebabkan goncangan krisis saat ini. Faktor-faktor itu antara lain, split personality (individu yang memisahkan nilai-nilai moral dalam kehidupan), kebiasaan berhutang, riba, fiat, money, dan tidak diperhatikannya sektor UMKM.

Sementara Dr. Aji Dedi banyak bercerita tentang konsep akuntansi syariah yang ada saat ini. Menurutnya, konsep yang disusun oleh IAI (Ikatan Akuntan Indonesia) masih banyak yang perlu dikritisi. Konsep akuntansi syariah yang dibuat oleh IAI (Ikatan Akuntan Indonesia) belum menyentuh substansi. Keberadaannya masih membebek pada akuntansi konvensional. Salah seorang dosen pasca sarjana Unibraw ini lantas mencontohkan akun Zakat yang dimasukkan sebagai ekspense (beban), penggunaan konsep accrual basis, dan lain sebagainya.
“Oleh karena itu, kita harus merombak PSAK 101 sampai 106 itu. Kita harus berpindah dari akuntansi pragmatis ke akuntansi idealis. Kalau tidak, IAI telah melakukan dosa besar” tegasnya dihadapan ratusan mahasiswa yang memadati ruang Aula Ibnu Khaldun. (Mahbubi)