GOING CONCERN DALAM AKUNTANSI: Masih Perlu Dipertahankan?


Oleh: Aji Dedi Mulawarman

Going concern merupakan salah satu konsep penting akuntansi konvensional. Inti going concern terdapat pada Balance Sheet perusahaan yang harus merefleksikan nilai perusahaan untuk menentukan eksistensi dan masa depannya. Lebih detil lagi, going concern adalah suatu keadaan di mana perusahaan dapat tetap beroperasi dalam jangka waktu ke depan, dimana hal ini dipengaruhi oleh keadaan financial dan non financial. Kegagalan mempertahankan going concern dapat mengancam setiap perusahaan, terutama diakibatkan oleh manajemen yang buruk, kecurangan ekonomis dan perubahan kondisi ekonomi makro seperti merosotnya nilai tukar mata uang dan meningkatnya inflasi secara tajam akibat tingginya tingkat suku bunga.

Bahkan, going concern dalam akuntansi telah menjadi postulat akuntansi. Sebagai postulat, going concern menyatakan bahwa entitas akuntansi akan terus beroperasi untuk melaksanakan proyek, komitmen dan aktivitas, yang sedang berjalan. Going concern mengasumsikan bahwa perusahan tidak diharapkan untuk dilikuidasi dalam masa mendatang yang dapat diketahui dari sekarang. Jadi laporan keuangan menyediakan pandangan sementara atas situasi keuangan perusahaan dan hanya merupakan bagian dari seri laporan yang berkelanjutan.
Going concern menetapkan penilaian aset dengan dasar nonlikuidasi dan menyediakan dasar untuk akuntansi depresiasi karena : 1. baik nilai sekarang maupun nilai likuidasi tidak memadai untuk penilaian aset, serta meminta penggunaan kos historis untuk penilaian aset. 2. aset tetap dan aset tidak berwujud diamortisasi selama umur manfaatnya, dan bukan selama periode yang lebih pendek dalam ekspektasi likuidasi.

Pertanyaannya adalah, apakah going concern masih relevan sebagai salah satu konsep penting dalam akuntansi? Kenyataan menunjukkan seperti diungkapkan Jagdhish N. Sheth dalam bukunya yang berjudul 7 Tanda Kehancuran Bisnis Sukses bahwa umur rata-rata organisasi justru menurun di saat usia harapan hidup manusia meningkat. Mengutip karya Arie de Geus dalam The Living Company, mendapati sepertiga dari perusahaan yang terdaftar dalam Fortune 500 tahun 1970 telah lenyap pada 1983, baik karena merger, akuisisi maupun perpecahan. De Geus mengutip hasil survey dari Belanda yang menunjukkan rata-rata usia harapan hidup perusahaan di Jepang dan Eropa adalah 12,5 tahun. Hasil studi lain menunjukkan adanya penurunan usia harapan hidup perusahaan di negara-negara besar Eropa dari 45 menjadi 18 tahun di Jerman, dari 13 menjadi 9 tahun di Perancis, dan dari 10 menjadi 4 tahun di Inggris.

Penyebab utama penurunan tersebut adalah maraknya kegiatan merger dan akuisisi dalam beberapa dekade terakhir. Namun, kegiatan merger dan akuisisi tersebut kebanyakan adalah distress selling banyak perusahaan yang mengalami kesulitan, bukan strategic buying.

Jadi? Kalau kita memang bersikap jernih, perlu adanya evaluasi terhadap konsep going concern akuntansi… betul gak ya?

About these ads

12 thoughts on “GOING CONCERN DALAM AKUNTANSI: Masih Perlu Dipertahankan?

  1. Waduh… ini “beda dunia”.. saya gagap.. untuk soal ini..
    Kalau boleh urung rembug, tentang Konsep ini, sebagai orang awam…, saya berharap.. dapat digunakan sebagai alat untuk melawan berita yang sering terdengar.. yaitu tentang banyak perusahaan besar yang data-data administrasinya gak lengkap.. termasuk PERTAMINA.
    Yup.. kita harus makin maju ya… mas???

  2. saya setuju dengan pendapat itu. konsep going concern akuntansi perlu dievaluasi karena selain hal-hal yang telah diuraikan mas Aji. Konsep itu digunakan untuk menutup kelemahan konsep historical cost pada akuntansi konvensional yang nyata-nyata sudah tidak dapat digunakan untuk menilai harta perusahaan saat kini sehubungan untuk kepentingan pengambilan keputusan. khususnya zakat. Bener ngga ya mas???

  3. going concern itu perlu dan sebenarnya biasa saja. tidak ada hal yang istimewa dengan going concern. hanya saja memang usia perusahaan itu diharapkan akan selamanya, tetapi hukum Allah mengatakan tidak demikian. sebagaimana manusia, perusahaan tentunya mempunyai umur tertentu. sebagaimana manusia pula diharapkan perusahaan akan merger (berumahtangga) dan kemudian mempunyai keturunan yang melanjutkan perjuangan hidupnya demi mencapai Allah. kalau going concern dimaknai sebagai suatu perjuangan menegakkan “tali” Allah, maka itu adalah makna yang berarti selamanya sempai kiamat kelak. tetapi kalau going concern dimaknai sebagai usia hidup perusahaan, maka semestinya akan mempunyai expired date yang tertentu. wallahu alam.

  4. Saya mau bertanya, perkiraan2 apa saja untuk pertama kali yang harus disorot dalam hal akuntansi untuk suatu perush yang akan diakuisisi? Terima kasih.

  5. Hmm..kalo saya sih blm bgitu byk tau ttg konsep going concern ini,,tp mnrt realitanya,,byk jg perusahaan yg merger agar tetap bs bertahan dimasa dpn..
    Pa konsep going concern ini da hubungannya dgn corporate social responsibility? Krn dilht dr teori going concern faktor non financialnya..

  6. kalo boleh tau, perusahaan apa saja yang menggunakan prisnsip going concern ini pak…… mohon info nya pak, saya lagi ada tugas audit di S2 ni, baik perusahaan sektor publik maupun perusahaan go publik di bei ………….. mohon bantuan nya ya pak

  7. Kalau saya tidak salah, konsep going concern itu ditetapkan tidak hanya karena asumsi bahwa perusahaan akan hidup seterusnya, melainkan juga karena 2 alasan (utama) lainnya:
    1. Kebangkrutan bukanlah sesuatu yang dituju dan atau direncanakan oleh perusahaan. Perusahaan berencana untuk terus hidup. Maka laporan keuangan pun layaknya bisa memberikan informasi yang dibutuhkan untuk perusahaan dapat meneruskan hidup.
    2. Mengenai pengukuran dan evaluasi nilai (aset bersih) perusahaan. Jika konsep going concern tidak digunakan, maka bagaimana cara yang cukup efektif dan efisien untuk mengukur nilai perusahaan? Jika balance sheet tidak menggunakan asumsi going concern, berarti alternatif lain adalah digunakan pengukuran nilai likuidasian. Dan tentu saja itu sangat tidak praktis (efisien) dan (besar kemungkinan) tidak efektif (Apalagi kalau harapan hidup perusahaan masih tinggi).
    Menurut saya, digunakannya konsep going concern bukanlah karena sekedar alasan kesombongan/keangkuhan/overconvidence bahwa perusahaan benar2 akan hidup dalam waktu yang sangat lama (terus hidup). Namun disana ada pertimbangan2 lain yang juga diperhatikan.
    Jika konsep going concern dianggap tidak relevan, maka hendaknya kita bertanya pada diri kita sendiri: Pernahkah membuat rencana hidup untuk masa tua kita nanti? atau pernahkah kita membuat rencana ttg bagaimana Anda nanti pada 10 tahun yang akan datang? atau pada 5 tahun yang akan datang? Atau sekedar rencana tentang apa yang Anda lakukan esok hari / malam ini?
    Padahal setelah selesai membaca komentar ini, boleh jadi malaikat maut datang menjemput.. :)
    CMIIW

  8. mau nanya pendapatnya mas, dalam teori akuntansi ada pendapat yg mengatakan bahwa akuntansi islam harus digali sendiri dan tidak hanya memodifikasi akuntansi konvensional saja. pendapat anda giman?

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s