November 21, 2009
HANCURKAN BERHALA HUKUM DAN KETERTIBAN SOSIAL
Posted by ajidedim under UncategorizedLeave a Comment
November 19, 2009
TARGET MARKET SHARE 5% BANK SYARIAH: on SCRIBD
Posted by ajidedim under ekonomi islam | Tag: bank syariah, market share |Leave a Comment
November 19, 2009
MENGEMBANGKAN KOMPETENSI INTI PERILAKU BISNIS KOPERASI: on SCRIBD
Posted by ajidedim under koperasi | Tag: bisnis koperasi, koperasi |Leave a Comment
November 8, 2009
IFRS: SEKULARISASI DAN NEOLIBERALISME AKUNTANSI
Posted by ajidedim under Akuntansi | Tag: Akuntansi, IFRS, neolib, neoliberalisme |1 Comment
IFRS: SEKULARISASI DAN NEOLIBERALISME AKUNTANSI
Oleh: Aji Dedi Mulawarman
diambil dari sebagian buku Akuntansi Syariah: Teori, Konsep dan Laporan Keuangan, yaitu “kata pengantar” (halaman xvii) dan Bab 4 (halaman 98-100); serta makalah penulis pada seminar di STEI TAZKIA tanggal 10 Januari 2009 berjudul Perubahan Melalui Akuntansi Syariah di Era Neoliberalisme (lagi…)
Oktober 24, 2009
Oktober 21, 2009
AGAMA-AGAMA DUNIA 2009
Posted by ajidedim under Kebudayaan, agama, peradaban | Tag: agama, agama dunia, agama-agama dunia, hindu, islam, nasrani, sekuler, statistik agama-agama dunia, statistik dunia |1 Comment
Menurut Pew Forum on Religion and Public Life US tanggal 9 Oktober jumlah penduduk dunia (populasi 6, 8 miliar) berdasarkan pembagian agama adalah Islam 1,57 miliar; Nasrani 2,25 miliar; Hindu 1,4 miliar; Sekuler 1 miliar; Lainnya 0,6 miliar
Khusus agama Islam, mayoritas Muslim ada di Asia sebesar 61,9%, disusul Timur Tengah (20,1%), Sub Sahara Afrika 15,3%, Eropa 2,4%, dan Amerika 0,3%. Di Asia penduduk Muslim terbanyak di Indonesia, yaitu berjumlah 202,9 juta, kemudian disusul Pakistan 174 juta, India 160 juta, Bangladesh 145 juta. Bila dilihat dari alirannya, Aliran Sunni berkisar 87-90% sedangkan Syiah 10-13%.
Survey ini dilakukan di 232 negara selama 3 tahun. Survey mengerahkan 50 ahli demografi, untuk mempelajari 1500 data sensus penduduk sampai dengan survey populasi.
September 16, 2009
Materialitas kejujuran dan kebaikan itu bagai air jernih
Aliran dan ketenangannya menunjukkan semua yang bersamanya
Materialitas air akan memberi kesegaran dan kesejukan
Itulah mengapa kita diminta mencari kesejukan air untuk kehidupan
Immaterialitas kejujuran dan kebaikan itu bagai keringnya gurun
Panas terik dan hamparan kering pasir menunjukkan semua yang bersamanya
Oase dan pepohonan hanyalah fatamorgana di tengah gurun
Itulah mengapa kita diminta menikmati kekeringan dalam berpuasa
Siapa yang ingin menunjukkan kejujuran dan kebaikan?
Dia yang dapat menikmati kejernihan gurun dan keringnya air
Dia yang dapat menikmati sejuknya gurun dan teriknya air
Dialah yang dapat menikmati keduanya dalam ketenangan dan ketegaran hidup…
Sebenarnyalah jangan meminta kenikmatan an sich…
Jangan melihat semua dari perspektif ego diri,
Yang lebih penting memang bukanlah kesegaran dan kesejukan atau panas dan kering,
Yang lebih penting itu adalah apa adanya, tanpa basa basi, tanpa prasangka
Kejujuran dan kebaikan karena mencari Ridho adalah kuncinya
Itulah makna asasi dari kejujuran dan kebaikan
September 16, 2009
KILAU CAHAYA EKONOMI ISLAM
Posted by ajidedim under ekonomi islam | Tag: ekonomi islam, puisi |1 Comment
Indahnya Islam adalah indahnya petani, peladang dan pekebun
Yang selalu menyeru nama Allah
Saat berinteraksi dalam harmoni alam semesta-Nya
Sejuknya Islam adalah sejuknya para pedagang dan bankir
Yang selalu membersihkan jiwa
Dengan kejujuran dan kebaikan asali Nur Muhammad
Damainya Islam adalah damainya para pemilik modal dan penambang
Dalam keikhlasan cipta-proses-saluran nilai tambah
Sembari menjunjung kebesaran-Mu
NIAT-kanlah untuk membangun…
Back To Nature Economics, Ekonomi Kembali Ke Fitrah..
Itulah Ekonomi Islam yang suci dan penuh kilauan rahmat dan barakah Allah…
Insya Allah….
September 8, 2009
SEJARAH DAN PERKEMBANGAN AKUNTANSI SYARIAH
Posted by ajidedim under Akuntansi, Kebudayaan, agama, akuntansi syariah, ekonomi, ekonomi islam, peradaban | Tag: Akuntansi, akuntansi Islam, akuntansi syariah, AL KHAWARISMI, AL MA'MUN, ekonomi islam, islam, LEONARDO DA PISA, LUCA PACIOLI, PERADABAN ISLAM, PERDAGANGAN ISLAM, sejarah |1 Comment
Agustus 10, 2009
TAZKIYAH SAINS DAN TEKNOLOGI (Bagian 3)
Posted by ajidedim under agama, filsafat, ilmu, islam, teknologi | Tag: agama, filsafat, ilmu, islam, sains, sains dan teknologi, tazkiyah, teknologi |1 Comment
TAZKIYAH SAINS DAN TEKNOLOGI:
KELUAR DARI CARUT MARUT SAINS-TEKNOLOGI MODERN[1]
Dr. Aji Dedi Mulawarman[2]
Bagian ketiga dari artikel dengan judul yang sama.
3. KEBERADAAN SEGALA SESUATU:
DARI EMPIRIS-ANTROPOSENTRIS MENUJU EMPIRIS-EKOSENTRISME
Pandangan empiris yang mendominasi alam pikiran ontologi masyarakat ilmiah modern sebenarnya dibangun dari tradisi pemikiran natural science ala Descartes. Descartes memandang segala sesuatu di dunia dan alam semesta ini bagaikan sebuah mesin yang terbangun dari bagian terpisah-pisah. Alam semesta adalah sebuah sistem mekanis yang tidak lebih dari sekedar mesin. Tidak ada tujuan, kehidupan atau spiritualitas di dalam materi. Alam bekerja sesuai dengan hukum mekanik, dan segala sesuatu di alam materi dapat diterangkan dalam pengertian tatanan dan gerakan-gerakan dari bagiannya. Pandangan mekanistik Descartes telah memberikan persetujuan ’ilmiah’ pada manipulasi dan ekploitasi yang menjadi karakteristik peradaban Barat (Capra 1997, 61-67). Reduksionis gaya Descartes atas realitas bersifat ruhaniah/abstrak menurut Qadir (2002, 3) adalah bentuk desakralisasi pengetahuan dan berdampak pada filsafat yang hanya mengakui produk rasio. Sekularisasi pemikiran semacam ini menurut Qadir (2002, 4) telah melahirkan pandangan mekanistik mengenai realitas. Realitas menurut Whitehead seperti dikutip Qadir (2002, 4) direduksi menjadi proses, sedangkan waktu hanya menjadi bentuk kuantitas, dan sejarah menjadi proses enthelekheia transenden.
Pandangan ontologi mekanistik Descartes bukan hanya menjadi dasar pengembangan ilmu alam (baik fisika, kimia maupun biologi) tetapi juga telah merasuk dalam ilmu sosial (social science). Tidak terkecuali ilmu ekonomi, hukum, pendidikan dan hingga sekarang merambah seluruh ilmu. Penekanan ini kemudian membatasi penilaian kualitatif (yang sebenarnya sangat menentukan pemahaman pada dimensi ekologis, sosial dan psikologis. (Capra, 1997, 256-7).
Lebih jauh dalam dunia empiris sendiri masih terdapat perbedaan yang sangat besar antara dunia empiris yang obyektif dan subyektif. Seperti dijelaskan Burell dan Morgan (1979, 4) bahwa realitas dapat berada diluar individu atau merupakan hasil bentukan kesadaran individual atas lingkungan luar atau lingkungan didalam kesadaran individu itu sendiri; apakah realita merupakan bentuk obyektif atau hasil pengakuan individu, baik realita ini berada di luar atau produk dari pikiran seseorang (1). Pemikiran ontologis empiris obyektif disebut Burell dan Morgan (1979, 4) sebagai pemikiran realism. Sedangkan pemikiran ontologis yang melihat dunia empiris dari pandangan subyektif disebut sebagai pemikiran nominalism (4). Aliran nominalism digambarkan Burell dan Morgan (1979, 4) mendasarkan diri pada asumsi bahwa dunia sosial berada diluar individu dan tidak lebih dari nama, konsep dan label yang digunakan untuk membentuk realitas. Realism, lanjut Burell dan Morgan (1979, 4) pada sisi yang lain menyatakan bahwa dunia sosial yang berada diluar individu adalah suatu dunia nyata yang terbuat dari struktur yang keras, nyata dan relatif kuat, dan realitas dunia ini eksis sebagai suatu entitas empiris. Bagi aliran realisme dunia sosial eksis hanya karena apresiasi individual terhadapnya. Selain itu, dunia sosial memiliki eksistensi yang keras dan konkrit seperti dunia nyata.
3.1. Evolusi Empiris Antroposentris Ke Empiris Ekosentris
Gagasan dunia yang makin technological ini bukannya tanpa tentangan. Ketika dunia telah dipenuhi oleh sesaknya teknologi yang makin mengalienasi manusia di sudut dunia yang sepi tanpa makna, di sisi lain pula telah terjadi penghancuran sistematis alam semesta akibat dari kekuatan teknologi. Menipisnya ozon, efek rumah kaca, polusi dan penghacuran hutan dan biota telah menggerus alam dan lingkungan menjadi habis hanya untuk kepentingan manusia. Dari kesadaran tamaknya teknologi akibat pikiran manusia yang sangat kering ini telah menggeser pemikiran untuk berpaling pada konsep atroposentris menuju ekosentrisme. Peduli lingkungan mulai merasuki dunia manusia. Ekologi dangkal yang disebut Capra sebagai bentuk antroposentris, bergeser menjadi ekologi dalam yang tidak memisahkan manusia atau apapun dari lingkungan alamiahnya. Melihat dunia bukan sebagai kumpulan obyek yang terpisah, tetapi sebagai jaringan fenomena yang saling berhubungan dan saling tergantung satu sama lain secara fundamental (Capra 1997).
Perkembangan lanjutan dari pemikiran deep ecology digagas para pemikir yang lebih peduli atas kegagalan dunia mekanistik Kartesian. Capra (1997, 36-42) misalnya dengan apa yang disebutnya sebagai pemikiran tentang Sistem, melihat pemikiran sistem yang memiliki kriteria-kriteria umum. Pertama, sistem-sistem hidup adalah keseluruhan yang terpadu yang sifat-sifatnya tidak dapat direduksi menjadi bagian-bagian yang lebih kecil. Kedua, kemampuan mengubah secara bolak balik di antara tingkatan-tingkatan sistem.Di semua bagian dunia yang hidup, dijumpai sistem-sistem yang bersarang dalam sistem lainnya, dan dengan menerapkan konsep yang sama pada tingkatan yang berbeda, setiap kesatuan sistem memiliki kompleksitas yang berbeda. Saling hubungan antar jaringan dan kesatuan antar sistem dipngaruhi pula adanya proses. Artinya, sebagai pengembangan konsep sistem dalam pikiran Capra (2003) dengan adanya the pattern of organisation suatu sistem hidup sebagai konfigurasi hubungan di antara bagian sistem yang paling menentukan ciri esensial sistem tersebut, yaitu struktur sistem sebagai perwujudan materi pola organisasinya dan proses kehidupan sebagai proses perwujudan yang terus menerus. Dalam ranah sosial, karakter sistem ini disebutkan Capra masih terdapat satu perspektif disamping perspektif proses, bentuk dan materi itu sendiri, yaitu yang disebut sebagai perspektif makna. Perspektif makna adalah kesadaran reflektif itu sendiri. Pemikiran Capra adalah bentuk alternatif dari carut marut dunia yang telah digagahi dengan kuat oleh pemikiran Kartesian dan Newtonian, menjadi pandangan dunia yang holistik dan ekologis. Sebuah hubungan-hubungan fenomena psikologis, biologis, fisik, sosial dan budaya serta menciptakan suatu teori holistik sistem hidup.
Bersambung…. ke bagian 4. Pengembangan Ilmu
[1] Makalah pernah disampaikan dalam Kuliah Peradaban di Masjidil ’Ilm Bani Hasyim, Singosari, Malang, 8 Januari 2007 dan Latihan Kader II HMI Cabang Yogyakarta, 30 Juni 2007. Makalah ini merupakan salah satu bagian dari rencana buku yang akan diterbitkan penulis dengan judul Peradaban dan Ilmu Islami: Menggugat Filsafat Ilmu dan Metode Ilmiah
[2] Dosen Program Doktor Ilmu Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Brawijaya, Malang; Direktur Eksekutif Lembaga Studi Ekonomi dan Keuangan Islam, CISFED, Jakarta. Direktur KB-TK-SD Bertaraf Internasional Masjidil ’Ilm Bani Hasyim, Singosari, Malang, Jawa Timur. Email: ajidedim@yahoo.co.id HP: 081-555-600-745
Agustus 10, 2009
TAZKIYAH SAINS DAN TEKNOLOGI (Bagian 2)
Posted by ajidedim under agama, filsafat, ilmu, islam, teknologi | Tag: agama, filsafat, islam, sains, sains dan teknologi, tazkiyah, teknologi |Leave a Comment
TAZKIYAH SAINS DAN TEKNOLOGI:
KELUAR DARI CARUT MARUT SAINS-TEKNOLOGI MODERN[1]
Dr. Aji Dedi Mulawarman[2]
Bagian kedua dari artikel dengan judul yang sama.
2. MENCARI AKAR MASALAH
Ilmu adalah hasil perenungan dan proses persinggunggan aktif, dinamis sinergis dari akal, batin dan fitrah spiritualitas yang hanya dimiliki manusia. Seperti akan kita lihat nanti bagaimana sebenarnya ilmu tak dapat lepas dari ketiga hal tersebut. Hal ini sekaligus akan merombak tradisi konvensional saat ini yang sangat parsial, ilmu yang berpisah dengan batin manusia, spiritualitas manusia, etika kemanusiaan bahkan teknologi hasil implementasinya. Tetapi kenyataannya dalam domain ilmu Barat pandangan empiris sebagai basis dasar ontologi ilmu dan pandangan positivisme sebagai basis dasar epistemologi ilmu telah menurunkan bentuk ilmu khas Barat, dan tidak bersesuaian dengan takdirnya sebagai manusia.
Mempertanyakan basis dasar keilmuan pasti berhubungan dengan manusia sebagai sosok pengembang ilmu. Karena ilmu memang khas manusia. Pertanyaan mengenai diri atau manusia sebagai dirinya sendiri telah banyak dilakukan. Bahkan pertanyaan tentang manusia telah dilakukan sejak jaman filsafat Yunani. Pembahasan manusia mengalami perubahan-perubahan sesuai dengan tingkat pemahaman pengetahuan di jamannya. Ketika pemahaman pengetahuan masih diliputi oleh nuansa mistis, maka konsep manusia dihubungkan dengan hal-hal yang berhubungan dengan titisan dewa, setengah dewa dan sebagainya. Ketika manusia telah memahami bahwa alam semesta tidak bersifat mistis tetapi bersifat mekanistis, maka konsep manusia berubah menjadi penciptaan yang bersifat evolusionis. Ketika manusia telah memahami bahwa alam semesta beserta isinya tidak mungkin apa adanya, tetapi terjadi dari sebuah Grand Design yang Super Canggih, maka manusia dipahami sebagai makhluk yang bersifat spiritual sekaligus memiliki kecerdasan untuk merubah alam semesta ini sesuai dengan batas dan kemampuannya serta keinginannya.
Schumacher (1981, 3-5) melihat manusia modern ternyata berpola scientism empiricism/positivism dengan menegasikan integralitas kemanusiaannya. Manusia modern tidak percaya sesuatu yang tak dapat dibuktikan secara empiris, tidak percaya pada masalah yang berhubungan dengan nilai artistik/seni, nilai spiritual, dan kebenaran mutlak. Hal tersebut diperparah dengan penerapan metode ilmiah yang semakin ketat atas nama obyektifitas ilmiah, bahwa nilai-nilai dan makna-makna tidak lain daripada mekanisme-mekanisme pertahanan serta bentukan-bentukan reaksi. Bahwa manusia tak lain daripada suatu mekanisme biokimia pelik yang dimotori oleh suatu system pembakaran yang memberi tenaga kepada computer-komputer dengan fasilitas-fasilitas penyimpanan yang luar biasa guna memelihara informasi bersandi. Hilangnya dimensi vertikal lanjut Schumacher (15) berarti bahwa tak mungkin lagi terdapat suatu jawaban kecuali yang berkaitan dengan kepentingan (utility). Jawabannya dapat bersifat lebih egoistis-individualistis atau lebih sosial-altruistik, tetapi ia tak dapat tidak bersifat utilitarian. Tidak pula mungkin merumuskan fitrah manusia lain daripada tabiat hewan, dan juga hewan yang lebih tinggi yang disebut homo sapiens.
Bersambung…. ke bagian 3. Keberadaan Segala Sesuatu
[1] Makalah pernah disampaikan dalam Kuliah Peradaban di Masjidil ’Ilm Bani Hasyim, Singosari, Malang, 8 Januari 2007 dan Latihan Kader II HMI Cabang Yogyakarta, 30 Juni 2007. Makalah ini merupakan salah satu bagian dari rencana buku yang akan diterbitkan penulis dengan judul Peradaban dan Ilmu Islami: Menggugat Filsafat Ilmu dan Metode Ilmiah
[2] Dosen Program Doktor Ilmu Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Brawijaya, Malang; Direktur Eksekutif Lembaga Studi Ekonomi dan Keuangan Islam, CISFED, Jakarta. Direktur KB-TK-SD Bertaraf Internasional Masjidil ’Ilm Bani Hasyim, Singosari, Malang, Jawa Timur. Email: ajidedim@yahoo.co.id HP: 081-555-600-745
Juli 22, 2009
Menuliskan dan menuangkan yang kritis itu memang tidak bisa dihambat. Tidak bisa dihambat oleh siapapun, apapun, kapanpun, dimanapun, bagaimanapun, dan seterusnya, dan seterusnya, dan seterusnya. Kritis atas sesuatu, pasti banyak resistensi. Karena kritis itu selalu memberi penilaian yang menyebabkan sesuatu itu dievaluasi dan diarahkan untuk terjadinya perubahan. Dan perubahan itu pasti berkenaan dengan transisi yang menggoda siapa saja untuk menjadi stagnan, berubah menjadi sesuatu yang baru dengan penyesuaian, atau bahkan baru sama sekali.
Tetapi, kritik tidak juga harus menjadi ekstrim. Kritik juga dapat memberi evaluasi hanya untuk menjadikan sesuatu itu menjadi lebih baik. Biasanya kritik yang seperti ini masih bisa diterima. Meski yang begini ini ada saja yang dikompromikan dan dibuang untuk kebaikan bersama. Kebaikan bersama yang berkepentingan terhadap kritis. Sedangkan kebaikan di luar yang berkepentingan harus digeser dan tak terpikirkan.
Selama ini, di wordpress ini, sebagai salah satu wadah bagi saya, untuk mengekspresikan pikiran dan wacana kritis saya. Menuliskan wacana akuntansi kritis, ekonomi kritis, peradaban kritis. Dan memang yang saya tulis relatif panjang dan banyak argumentasi. Berbeda dengan ketika nulis di facebook misalnya, kritis tetap ada, tetapi relatif banyak celetukan kritis daripada analisa kritis. Dan kenyataannya beberapa bulan ini, aktivitas saya memang lebih banyak tercermin dalam bentuk celetukan kritis. Saatnya memang saya harus mulai mengedepankan analisa kritis kembali. Semoga yang saya tulis sekarang ini adalah bentuk refleksi untuk kembali menjadi kritis.
TO BE CONTINUED…
Sesuatu yang lain, sesuatu yang baru, sesuatu yang berubah, tidak sama dengan yang ada saat ini…perlukah ada? Pikiran yang lain, baru, berubah, tidak sama atas dunia yang sedang berlangsung ini selalu bertabuh setiap detik, menit, jam, hari, minggu, bulan, tahun dan sampai kapanpun aku masih diberi pikiran dan hidup.
Pikiran seperti itu, lain-baru,berubah-tidak sama, tak akan muncul dalam pikiran siapapun, bila mimpi yang ada di dalam pikirannya adalah kemapanan, melihat dunia saat ini adalah final, ingin hidup dalam dunia kini dan apa adanya. Apalagi kalau kita melihat dunia sekarang ini adalah dunia yang baik dan merupakan peradaban tanpa cela, atau kalaupun ada yang salah, itu hanya proses interaksi sosial yang lazim, dan bukannya memiliki masalah yang sangat “berat”.
Atau mungkin berpikir tentang merubah dunia tidak harus dengan kontradiksi atau antitesis? Pikiran evaluatif, sinergis atau integrasi sesuatu kadang muncul dalam setiap kita. Dunia yang baik menjadi melenceng, dan kemudian perlu pelurusan, perbaikan, berpikir positif dalam melihat dunia adalah kemungkinan lainnya.
Kemungkinan-kemungkinan dunia memang tidak bisa diderivasikan atau diprediksikan dalam tiga alternatif seperti di atas itu. Kemungkinan dunia adalah kemungkinan sejauh mana pikiran dan perubahan realitas dipengaruhi oleh dominasi-dominasi atas realitas itu sendiri. Apakah dunia berada pada posisi berubah dalam “arti” sebenarnya bisa saja terjadi, termasuk tak berubah maupun pergeseran menuju perbaikan tanpa perubahan esesnsial. Atau bahkan terjadi pergeseran selain yang tiga itu, “who knows”
Manusia, ya hanya yang menamakan diri “manusia sebenarnya”-lah yang menyadari dirinya tidak dapat melihat dunia di sekelilingnya tanpa perubahan apabila dunia berkembang dan bergerak tak sesuai dengan gerakan dan yang dilakukannya. Bahkan manusia akan terusik dan paling ekstrim akan marah, bila dia melakukan aktivitas tetapi kemudian terganggu oleh apapun di luar dirinya yang juga bergerak dan menggeser atau melakukan aktivitas yang tidak sesuai dengan jalan pikirannya. “In my opinion”, g mungkin manusia tidak akan terusik aktivitas di luar dirinya yang nyata-nyata tak sesuai dengan apa yang ada dalam pikiran atau kesepakatan pikirannya.
Mei 14, 2009
Revisi perolehan kursi DPR-RI 2009
Posted by ajidedim under politik | Tag: kursi dpr, kursi dpr ri, parpol, partai politik, pemilu, pemilu legislatif 2009 |[2] Comments
Partai Demokrat 150
Partai Golkar 107
PDIP 95
PKS 57
PAN 43
PPP 37
PKB 27
Partai Gerindra 26
Partai Hanura 18
Mei 11, 2009
HASIL PEMILU LEGISLATIF 2009 DALAM ANGKA
Posted by ajidedim under politik | Tag: DPR, dpr-ri, golput, hasil pemilu, parpol, PARTAI, pemilu 2009, politik |1 Comment
Komisi Pemilihan Umum (KPU), di Jakarta, Sabtu (9/5) malam, telah menetapkan hasil pemilu legislatif 2009. Berikut rinciannya: (lagi…)











