bila kesombongan dan keangkuhan menghinggapi para pemegang kuasa hukum dan ketertiban sosial, bahkan menjadi tuhan-tuhan baru, sampai menghancurkan sendi-sendi norma sosial yang seharusnya menjadi tiang utama pentingnya hukum dan ketertiban, maka masyarakat berhak memilih kebenaran berdasar metafisika sosialnya sendiri…berhak menghancurkan berhala hukum dan ketertiban sosial yang bebas kesombongan dan keangkuhan…

IFRS: SEKULARISASI DAN NEOLIBERALISME AKUNTANSI

Oleh: Aji Dedi Mulawarman

diambil dari sebagian  buku Akuntansi Syariah: Teori, Konsep dan Laporan Keuangan, yaitu “kata pengantar” (halaman xvii) dan Bab 4 (halaman 98-100); serta makalah penulis pada seminar di STEI TAZKIA tanggal 10 Januari 2009 berjudul Perubahan Melalui Akuntansi Syariah di Era Neoliberalisme (lagi…)

simponas

Menurut Pew Forum on Religion and Public Life US tanggal 9 Oktober jumlah penduduk dunia (populasi 6, 8 miliar) berdasarkan pembagian agama adalah Islam 1,57 miliar; Nasrani 2,25 miliar; Hindu 1,4 miliar; Sekuler 1 miliar; Lainnya 0,6 miliar

Khusus agama Islam, mayoritas Muslim ada di Asia sebesar 61,9%, disusul Timur Tengah (20,1%),  Sub Sahara Afrika 15,3%, Eropa 2,4%, dan Amerika 0,3%. Di Asia penduduk Muslim terbanyak di Indonesia, yaitu berjumlah 202,9 juta, kemudian disusul Pakistan 174 juta, India 160 juta, Bangladesh 145 juta. Bila dilihat dari alirannya, Aliran Sunni berkisar 87-90% sedangkan Syiah 10-13%.

Survey ini dilakukan di 232 negara selama 3 tahun. Survey mengerahkan 50 ahli demografi, untuk mempelajari 1500 data sensus penduduk sampai dengan survey populasi.

Materialitas kejujuran dan kebaikan itu bagai air jernih
Aliran dan ketenangannya menunjukkan semua yang bersamanya
Materialitas air akan memberi kesegaran dan kesejukan
Itulah mengapa kita diminta mencari kesejukan air untuk kehidupan

Immaterialitas kejujuran dan kebaikan itu bagai keringnya gurun
Panas terik dan hamparan kering pasir menunjukkan semua yang bersamanya
Oase dan pepohonan hanyalah fatamorgana di tengah gurun
Itulah mengapa kita diminta menikmati kekeringan dalam berpuasa

Siapa yang ingin menunjukkan kejujuran dan kebaikan?
Dia yang dapat menikmati kejernihan gurun dan keringnya air
Dia yang dapat menikmati sejuknya gurun dan teriknya air
Dialah yang dapat menikmati keduanya dalam ketenangan dan ketegaran hidup…

Sebenarnyalah jangan meminta kenikmatan an sich
Jangan melihat semua dari perspektif ego diri,
Yang lebih penting memang bukanlah kesegaran dan kesejukan atau panas dan kering,
Yang lebih penting itu adalah apa adanya, tanpa basa basi, tanpa prasangka
Kejujuran dan kebaikan karena mencari Ridho adalah kuncinya
Itulah makna asasi dari kejujuran dan kebaikan

Indahnya Islam adalah indahnya petani, peladang dan pekebun
Yang selalu menyeru nama Allah
Saat berinteraksi dalam harmoni alam semesta-Nya
Sejuknya Islam adalah sejuknya para pedagang dan bankir
Yang selalu membersihkan jiwa
Dengan kejujuran dan kebaikan asali Nur Muhammad
Damainya Islam adalah damainya para pemilik modal dan penambang
Dalam keikhlasan cipta-proses-saluran nilai tambah
Sembari menjunjung kebesaran-Mu
NIAT-kanlah untuk membangun…
Back To Nature Economics, Ekonomi Kembali Ke Fitrah..
Itulah Ekonomi Islam yang suci dan penuh kilauan rahmat dan barakah Allah…
Insya Allah….

TAZKIYAH SAINS DAN TEKNOLOGI:

KELUAR DARI CARUT MARUT SAINS-TEKNOLOGI MODERN[1]

Dr. Aji Dedi Mulawarman[2]


Bagian ketiga dari artikel dengan judul yang sama.

3. KEBERADAAN SEGALA SESUATU:

DARI EMPIRIS-ANTROPOSENTRIS MENUJU EMPIRIS-EKOSENTRISME

Pandangan empiris yang mendominasi alam pikiran ontologi masyarakat ilmiah modern sebenarnya dibangun dari tradisi pemikiran natural science ala Descartes. Descartes memandang segala sesuatu di dunia dan alam semesta ini bagaikan sebuah mesin yang terbangun dari bagian terpisah-pisah. Alam semesta adalah sebuah sistem mekanis yang tidak lebih dari sekedar mesin. Tidak ada tujuan, kehidupan atau spiritualitas di dalam materi. Alam bekerja sesuai dengan hukum mekanik, dan segala sesuatu di alam materi dapat diterangkan dalam pengertian tatanan dan gerakan-gerakan dari bagiannya. Pandangan mekanistik Descartes telah memberikan persetujuan ’ilmiah’ pada manipulasi dan ekploitasi yang menjadi karakteristik peradaban Barat (Capra 1997, 61-67). Reduksionis gaya Descartes atas realitas bersifat ruhaniah/abstrak menurut Qadir (2002, 3) adalah bentuk desakralisasi pengetahuan dan berdampak pada filsafat yang hanya mengakui produk rasio. Sekularisasi pemikiran semacam ini menurut Qadir (2002, 4) telah melahirkan pandangan mekanistik mengenai realitas. Realitas menurut Whitehead seperti dikutip Qadir (2002, 4) direduksi menjadi proses, sedangkan waktu hanya menjadi bentuk kuantitas, dan sejarah  menjadi proses enthelekheia transenden.

Pandangan ontologi mekanistik Descartes bukan hanya menjadi dasar pengembangan ilmu alam (baik fisika, kimia maupun biologi) tetapi juga telah merasuk dalam ilmu sosial (social science). Tidak terkecuali ilmu ekonomi, hukum, pendidikan dan hingga sekarang merambah seluruh ilmu. Penekanan ini kemudian membatasi penilaian kualitatif (yang sebenarnya sangat menentukan pemahaman pada dimensi ekologis, sosial dan psikologis. (Capra, 1997, 256-7).

Lebih jauh dalam dunia empiris sendiri masih terdapat perbedaan yang sangat besar antara dunia empiris yang obyektif dan subyektif. Seperti dijelaskan Burell dan Morgan (1979, 4) bahwa realitas dapat berada diluar individu atau merupakan hasil bentukan kesadaran individual atas lingkungan luar atau lingkungan didalam kesadaran individu itu sendiri; apakah realita merupakan bentuk obyektif atau hasil pengakuan individu, baik realita ini berada di luar atau produk dari pikiran seseorang (1). Pemikiran ontologis empiris obyektif disebut Burell dan Morgan (1979, 4) sebagai pemikiran realism. Sedangkan pemikiran ontologis yang melihat dunia empiris dari pandangan subyektif disebut sebagai pemikiran nominalism (4). Aliran nominalism digambarkan Burell dan Morgan (1979, 4) mendasarkan diri pada asumsi bahwa dunia sosial berada diluar individu dan tidak lebih dari nama, konsep dan label yang digunakan untuk membentuk realitas. Realism, lanjut Burell dan Morgan (1979, 4) pada sisi yang lain menyatakan bahwa dunia sosial yang berada diluar individu adalah suatu dunia nyata yang terbuat dari struktur yang keras, nyata dan relatif kuat, dan realitas dunia ini eksis sebagai suatu entitas empiris. Bagi aliran realisme dunia sosial eksis hanya karena apresiasi individual terhadapnya. Selain itu, dunia sosial memiliki eksistensi yang keras dan konkrit seperti dunia nyata.

3.1. Evolusi Empiris Antroposentris Ke Empiris Ekosentris

Gagasan dunia yang makin technological ini bukannya tanpa tentangan. Ketika dunia telah dipenuhi oleh sesaknya teknologi yang makin mengalienasi manusia di sudut dunia yang sepi tanpa makna, di sisi lain pula telah terjadi penghancuran sistematis alam semesta akibat dari kekuatan teknologi. Menipisnya ozon, efek rumah kaca, polusi dan penghacuran hutan dan biota telah menggerus alam dan lingkungan menjadi habis hanya untuk kepentingan manusia. Dari kesadaran tamaknya teknologi akibat pikiran manusia yang sangat kering ini telah menggeser pemikiran untuk berpaling pada konsep atroposentris menuju ekosentrisme. Peduli lingkungan mulai merasuki dunia manusia. Ekologi dangkal yang disebut Capra sebagai bentuk antroposentris, bergeser menjadi ekologi dalam yang tidak memisahkan manusia atau apapun dari lingkungan alamiahnya. Melihat dunia bukan sebagai kumpulan obyek yang terpisah, tetapi sebagai jaringan fenomena yang saling berhubungan dan saling tergantung satu sama lain secara fundamental (Capra 1997).

Perkembangan lanjutan dari pemikiran deep ecology digagas para pemikir yang lebih peduli atas kegagalan dunia mekanistik Kartesian. Capra (1997, 36-42) misalnya dengan apa yang disebutnya sebagai pemikiran tentang Sistem, melihat pemikiran sistem yang memiliki kriteria-kriteria umum. Pertama, sistem-sistem hidup adalah keseluruhan yang terpadu yang sifat-sifatnya tidak dapat direduksi menjadi bagian-bagian yang lebih kecil. Kedua,  kemampuan mengubah secara bolak balik di antara tingkatan-tingkatan sistem.Di semua bagian dunia yang hidup, dijumpai sistem-sistem yang bersarang dalam sistem lainnya, dan dengan menerapkan konsep yang sama pada tingkatan yang berbeda, setiap kesatuan sistem memiliki kompleksitas yang berbeda. Saling hubungan antar jaringan dan kesatuan antar sistem dipngaruhi pula adanya proses. Artinya, sebagai pengembangan konsep sistem dalam pikiran Capra (2003) dengan adanya the pattern of organisation suatu sistem hidup sebagai konfigurasi hubungan di antara bagian sistem yang paling menentukan ciri esensial sistem tersebut, yaitu struktur sistem sebagai perwujudan materi pola organisasinya dan proses kehidupan sebagai proses perwujudan yang terus menerus. Dalam ranah sosial, karakter sistem ini disebutkan Capra masih terdapat satu perspektif disamping perspektif proses, bentuk dan materi itu sendiri, yaitu yang disebut sebagai perspektif makna. Perspektif makna adalah kesadaran reflektif itu sendiri. Pemikiran Capra adalah bentuk alternatif dari carut marut dunia yang telah digagahi dengan kuat oleh pemikiran Kartesian dan Newtonian, menjadi pandangan dunia yang holistik dan ekologis. Sebuah hubungan-hubungan fenomena psikologis, biologis, fisik, sosial dan budaya serta menciptakan suatu teori holistik sistem hidup.

Bersambung…. ke bagian 4. Pengembangan Ilmu


[1] Makalah pernah disampaikan dalam Kuliah Peradaban di Masjidil ’Ilm Bani Hasyim, Singosari,  Malang, 8 Januari 2007 dan Latihan Kader II HMI Cabang Yogyakarta,  30 Juni 2007. Makalah ini merupakan salah satu bagian dari rencana buku yang akan diterbitkan penulis dengan judul Peradaban dan Ilmu Islami: Menggugat Filsafat Ilmu dan Metode Ilmiah

[2] Dosen Program Doktor Ilmu Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Brawijaya, Malang; Direktur Eksekutif Lembaga Studi Ekonomi dan Keuangan Islam, CISFED, Jakarta. Direktur KB-TK-SD Bertaraf Internasional Masjidil ’Ilm Bani Hasyim,  Singosari, Malang, Jawa Timur. Email: ajidedim@yahoo.co.id HP: 081-555-600-745

TAZKIYAH SAINS DAN TEKNOLOGI:

KELUAR DARI CARUT MARUT SAINS-TEKNOLOGI MODERN[1]

Dr. Aji Dedi Mulawarman[2]

Bagian kedua dari artikel dengan judul yang sama.

2. MENCARI AKAR MASALAH

Ilmu adalah hasil perenungan dan proses persinggunggan aktif, dinamis sinergis dari akal, batin dan fitrah spiritualitas yang hanya dimiliki manusia. Seperti akan kita lihat nanti bagaimana sebenarnya ilmu tak dapat lepas dari ketiga hal tersebut. Hal ini sekaligus akan merombak tradisi konvensional saat ini yang sangat parsial, ilmu yang berpisah dengan batin manusia, spiritualitas manusia, etika kemanusiaan bahkan teknologi hasil implementasinya. Tetapi kenyataannya dalam domain ilmu Barat pandangan empiris sebagai basis dasar ontologi ilmu dan pandangan positivisme sebagai basis dasar epistemologi ilmu telah menurunkan bentuk ilmu khas Barat, dan tidak bersesuaian dengan takdirnya sebagai manusia.

Mempertanyakan basis dasar keilmuan pasti berhubungan dengan manusia sebagai sosok pengembang ilmu. Karena ilmu memang khas manusia. Pertanyaan mengenai diri atau manusia sebagai dirinya sendiri telah banyak dilakukan. Bahkan pertanyaan tentang manusia telah dilakukan sejak jaman filsafat Yunani. Pembahasan manusia mengalami perubahan-perubahan sesuai dengan tingkat pemahaman pengetahuan di jamannya. Ketika pemahaman pengetahuan masih diliputi oleh nuansa mistis, maka konsep manusia dihubungkan dengan hal-hal yang berhubungan dengan titisan dewa, setengah dewa dan sebagainya. Ketika manusia telah memahami bahwa alam semesta tidak bersifat mistis tetapi bersifat mekanistis, maka konsep manusia berubah menjadi penciptaan yang bersifat evolusionis. Ketika manusia telah memahami bahwa alam semesta beserta isinya tidak mungkin apa adanya, tetapi terjadi dari sebuah Grand Design yang Super Canggih, maka manusia dipahami sebagai makhluk yang bersifat spiritual sekaligus memiliki kecerdasan untuk merubah alam semesta ini sesuai dengan batas dan kemampuannya serta keinginannya.

Schumacher (1981, 3-5) melihat manusia modern ternyata berpola scientism empiricism/positivism dengan menegasikan integralitas kemanusiaannya. Manusia modern tidak percaya sesuatu yang tak dapat dibuktikan secara empiris, tidak percaya pada masalah yang berhubungan dengan nilai artistik/seni, nilai spiritual, dan kebenaran mutlak. Hal tersebut diperparah dengan penerapan metode ilmiah yang semakin ketat atas nama obyektifitas ilmiah, bahwa nilai-nilai dan makna-makna tidak lain daripada mekanisme-mekanisme pertahanan serta bentukan-bentukan reaksi. Bahwa manusia tak lain daripada suatu mekanisme biokimia pelik yang dimotori oleh suatu system pembakaran yang memberi tenaga kepada computer-komputer dengan fasilitas-fasilitas penyimpanan yang luar biasa guna memelihara informasi bersandi. Hilangnya dimensi vertikal lanjut Schumacher (15) berarti bahwa tak mungkin lagi terdapat suatu jawaban kecuali yang berkaitan dengan kepentingan (utility). Jawabannya dapat bersifat lebih egoistis-individualistis atau lebih sosial-altruistik, tetapi ia tak dapat tidak bersifat utilitarian. Tidak pula mungkin merumuskan fitrah manusia lain daripada tabiat hewan, dan juga hewan yang lebih tinggi yang disebut homo sapiens.

Bersambung…. ke bagian 3. Keberadaan Segala Sesuatu


[1] Makalah pernah disampaikan dalam Kuliah Peradaban di Masjidil ’Ilm Bani Hasyim, Singosari,  Malang, 8 Januari 2007 dan Latihan Kader II HMI Cabang Yogyakarta,  30 Juni 2007. Makalah ini merupakan salah satu bagian dari rencana buku yang akan diterbitkan penulis dengan judul Peradaban dan Ilmu Islami: Menggugat Filsafat Ilmu dan Metode Ilmiah

[2] Dosen Program Doktor Ilmu Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Brawijaya, Malang; Direktur Eksekutif Lembaga Studi Ekonomi dan Keuangan Islam, CISFED, Jakarta. Direktur KB-TK-SD Bertaraf Internasional Masjidil ’Ilm Bani Hasyim,  Singosari, Malang, Jawa Timur. Email: ajidedim@yahoo.co.id HP: 081-555-600-745

TAZKIYAH SAINS DAN TEKNOLOGI:

KELUAR DARI CARUT MARUT SAINS-TEKNOLOGI MODERN[1]

Dr. Aji Dedi Mulawarman[2]

1. PENDAHULUAN

Perkembangan peradaban dunia dimana kita berada saat ini berjalan merupakan babakan teknologi dengan percepatan yang tidak pernah ditemui progresifitasnya dalam rentang kebudayaan manusia sebelumnya. Kecepatan perubahan teknologi modern dapat disebut –dengan meminjam metafora Giddens– Juggernaut, truk besar yang meluncur tanpa kendali. Kondisi teknologi memang telah melesat kencang tanpa kendali, yaitu dari kendali induknya, ilmu pengetahuan. Begitu berkuasanya teknologi sampai kemudian Naisbitt dan Philips (2001, 21)  menganggap manusia telah masuk dalam Zona Mabuk Teknologi dimana:

…kondisi teknologi telah menjadikan dirinya hukum alam dan memberinya hak dalam kehidupan sehari-hari kita tanpa dapat dicabut, membuat aktivitas formal dan dunia alamiah kita telah ’diatur’ oleh peranti lunak yang kian lama kian canggih. Zona Mabuk Teknologi, adalah kehampaan spiritual yang mengecewakan dan berbahaya, serta mustahil keluar dari dalamnya, kecuali jika kita menyadari bahwa kita memang berada di dalamnya. (garis bawah tambahan penulis).

Mengapa Naisbitt dan Philips berkata seperti itu? Memang teknologi di satu pihak memperbaiki dan mendukung kehidupan manusia, akan tetapi di sisi lain menghancurkan dan bahkan memiliki sifat dasamuka.  Teknologi modern sebagai ’anak kandung’ – hasil dan turunan langsung dari ilmu pengetahuan – saat ini telah menghasilkan paradoksal-paradoksal. Teknologi menurut Jacob (1993) pada gilirannya mempengaruhi perkembangan ilmu pengetahuan. Ada selang waktu antara penemuan ilmiah dan penerapannya, yang makin lama makin singkat. Juga selang antara penemuan-penemuan baru makin singkat, dengan kata lain makin frekuen dan bertubi-tubi. Jacob (1993) menggambarkan bahwa teknologi telah menjadi kultus dan didewa-dewakan, seakan teknologi adalah jimat dan paspor satu-satunya menuju kesejahteraan, kemakmuran dan keadilan. Bahkan pengkultusan teknologi telah menimbulkan masyarakat materialistis konsumtif, yang sayangnya tidak merata karena sumber dunia yang terbatas; seperti kata Mahatma Gandhi, ”sumber-sumber dunia cukup untuk memuaskan kebutuhan manusia, tetapi tidak cukup untuk memuaskan kerakusan manusia”.

Keinginan sains dikembangkan dalam bentuk teknologi untuk memberikan kebahagiaan dan kesejahteraan manusia telah berbalik menjadi kesengsaraan umat manusia, hancurnya daya dukung lingkungan dan alienasi manusia dari lingkungannya serta hanya memberikan kesejahteraan bagi segelintir manusia. Kesenjangan kaya dan miskin makin melebar, seperti tak terselesaikannya kasus kemelaratan masyarakat negara-negara berkembang yang mayoritas di bumi ini, dimana kelimpahan sandang, pangan, papan dan kemakmuran-kemakmuran lainnya yang  terkonsentrasi di negara-negara maju yang tidak lebih dari 20 negara dari ratusan negara di dunia.

Hegemoni source sains dengan teknologi mutakhirnya Cyber-technology bahkan dianggap Pilliang (2004) telah meninggalkan Tuhan dan menciptakan Tuhan Digital, yaitu dengan memunculkan kegilaan-kegilaan mentalitas dunia maya. Belum lagi lalu lintas moneter lintas batas dan penguasaan  teknologi serta produksi yang berada pada segelintir perusahaan multinasional, yang otomatis memunculkan hegemoni politik ekonomi dan menggeser kekuatan ekonomi negara berkembang dan Usaha Mikro Kecil dan Menengah menjadi pemain pinggiran yang tak pernah terselesaikan nasibnya kecuali menjadi ’perusahaan jajahan kolonial’ dari perusahaan multinasional dalam bentuk menjadi sub-ordinat dari kekuasaan perusahaan multinasional yang didukung oleh pemerintahan yang juga korup. Bentuk lalu lintas moneter lintas batas dan penguasaan  teknologi serta produksi menurut Capra (2001) bertujuan untuk kepastian aliran atau arus kas perusahaan “bermain monopoli” di berbagai flows of things untuk mengantisipasi “dadu mesin” dari bursa saham disebut Electronically Operated Global Casino (Casino Global Elektronik), atau dalam bahasa Castells disebut Automaton (Capra 2003, 120)[3].

Perusahaan juga telah dikooptasi sinergi politik kepentingan ekonomi pemilik modal (owners) dan manajemen (agent) yang kemudian menegasikan karyawan, buruh, lingkungan sosial serta lingkungan alam (lihat misalnya penelitian yang dilakukan Tinker 1980 dan 1984; Cooper 1980; Cooper dan Sherer 1984; Gray, Owen dan Maunders 1988; Gray, Kouhy dan Lavers 1995; Gray, Owen dan Adams 1996; Lehman 1999; Stadden 2002). Belum lagi kerusakan-kerusakan dan krisis-krisis akut lingkungan alam yang diakibatkan ketamakan manusia dalam eksploitasi teknologi yang tak terukur, mulai dari perlombaan senjata, eksploitasi energi dan pertambangan, penggundulan hutan besar-besaran, pemakaian kosmetik, obat-obatan dan pupuk kimiawi, dan lain sebagainya[4].

Menyelesaikan masalah teknologi tidak dapat dilakukan dengan mengeliminir dampak teknologi saja. Eliminasi dampak sama seperti menyembuhkan pusing akibat dampak dari gangguan asam lambung dengan minum Paramex. Menyembuhkan gangguan asam lambung sebenarnya tidak hanya dengan minum obat maag saja. Menyembuhkan gangguan asam lambung harus disertai dengan perubahan radikal pada beberapa hal seperti pola makan sehat, menjaga keseimbangan pikiran, tubuh dan mental. Menyembuhkan kekacauan realitas akibat teknologi juga semestinya tidak menyelesaikan masalah dengan mereduksi dampak teknologi saja. Menyembuhkan dampak teknologi juga tidak hanya menyelesaikan konsep teknologi, tetapi juga harus masuk lebih jauh pada pembentuk konsep teknologi itu sendiri, yaitu sains atau ilmu beserta atribut-atribut filosofis yang menempel di dalamnya.

Bersambung…. ke bagian 2. Mencari Akar Masalah


[1] Makalah pernah disampaikan dalam Kuliah Peradaban di Masjidil ’Ilm Bani Hasyim, Singosari,  Malang, 8 Januari 2007 dan Latihan Kader II HMI Cabang Yogyakarta,  30 Juni 2007. Makalah ini merupakan salah satu bagian dari rencana buku yang akan diterbitkan penulis dengan judul Peradaban dan Ilmu Islami: Menggugat Filsafat Ilmu dan Metode Ilmiah

[2] Dosen Program Doktor Ilmu Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Brawijaya, Malang; Direktur Eksekutif Lembaga Studi Ekonomi dan Keuangan Islam, CISFED, Jakarta. Direktur KB-TK-SD Bertaraf Internasional Masjidil ’Ilm Bani Hasyim,  Singosari, Malang, Jawa Timur. Email: ajidedim@yahoo.co.id HP: 081-555-600-745

[3] Automaton menurut Castells adalah ciptaan inti ekonomi hasil proses globalisasi keuangan yang secara tegas mengatur kehidupan manusia. Bukan robot-robot yang menghilangkan lapangan kerja atau komputer-komputer pemerintah, tetapi mesin-mesin globalisasi berbentuk transaksi keuangan elektroniklah yang mengambil alih dunia manusia. Logika automaton bukanlah aturan-aturan pasar tradisional, dinamika aliran keuangan yang digerakkannya saat ini di luar kendali-kendali pemerintahan negara, perusahaan-perusahaan dan lembaga-lembaga keuangan. Akan tetapi pada keluwesan dan ketepatan teknologi informasi dan komunikasi baru, regulasi ekonomi global yang efektif secara teknis menjadi masuk akal.

[4] Dalam bahasa dan penjelasan yang lebih komprehensif dan lugas misalnya Fritjof Capra dalam bukunya The Hidden Connections (2001); Fritjof Capra dalam The Turning Point yang diterjemahkan Penerbit Bentang tahun 1997; atau yang lebih klasik seperti Lewis Mumford  dalam The Automation of Technology: Are We Becoming Robots? (1964); lihat juga Teknologi dan Dampak Kebudayaannya Volume II yang disunting oleh YB. Mangunwijaya (1985); Masa Depan Islam karangan Ziauddin Sardar edisi terjemahan yang diterbitkan Pustaka Bandung (1987); Bruce Rich dalam bukunya Menggadaikan Bumi edisi terjemahan Indonesia yang diterbitkan oleh INFID 1999; Dunia yang Berlari: Mencari Tuhan-tuhan Digital (2004) karangan Yasraf Amir Pilliang; Manusia, Ilmu dan Teknologi: Pergumulan Abadi dalam Perang dan Damai karangan T. Jacob edisi kedua tahun 1993; dan banyak lagi.

Menuliskan dan menuangkan yang kritis itu memang tidak bisa dihambat. Tidak bisa dihambat oleh siapapun, apapun, kapanpun, dimanapun, bagaimanapun, dan seterusnya, dan seterusnya, dan seterusnya. Kritis atas sesuatu, pasti banyak resistensi. Karena kritis itu selalu memberi penilaian yang menyebabkan sesuatu itu dievaluasi dan diarahkan untuk terjadinya perubahan. Dan perubahan itu pasti berkenaan dengan transisi yang menggoda siapa saja untuk menjadi stagnan, berubah menjadi sesuatu yang baru dengan penyesuaian, atau bahkan baru sama sekali.

Tetapi, kritik tidak juga harus menjadi ekstrim. Kritik juga dapat memberi evaluasi hanya untuk menjadikan sesuatu itu menjadi lebih baik. Biasanya kritik yang seperti ini masih bisa diterima. Meski yang begini ini ada saja yang dikompromikan dan dibuang untuk kebaikan bersama. Kebaikan bersama yang berkepentingan terhadap kritis. Sedangkan kebaikan di luar yang berkepentingan harus digeser dan tak terpikirkan.

Selama ini, di wordpress ini, sebagai salah satu wadah bagi saya, untuk mengekspresikan pikiran dan wacana kritis saya. Menuliskan wacana akuntansi kritis, ekonomi kritis, peradaban kritis. Dan memang yang saya tulis relatif panjang dan banyak argumentasi. Berbeda dengan ketika nulis di facebook misalnya, kritis tetap ada, tetapi relatif banyak celetukan kritis daripada analisa kritis. Dan kenyataannya beberapa bulan ini, aktivitas saya memang lebih banyak tercermin dalam bentuk celetukan kritis. Saatnya memang saya harus mulai mengedepankan analisa kritis kembali. Semoga yang saya tulis sekarang ini adalah bentuk refleksi untuk kembali menjadi kritis.

TO BE CONTINUED…

Sesuatu yang lain, sesuatu yang baru, sesuatu yang berubah, tidak sama dengan yang ada saat ini…perlukah ada? Pikiran yang lain, baru, berubah, tidak sama atas dunia yang sedang berlangsung ini selalu bertabuh setiap detik, menit, jam, hari, minggu, bulan, tahun dan sampai kapanpun aku masih diberi pikiran dan hidup.

Pikiran seperti itu, lain-baru,berubah-tidak sama, tak akan muncul dalam pikiran siapapun, bila mimpi yang ada di dalam pikirannya adalah kemapanan, melihat dunia saat ini adalah final, ingin hidup dalam dunia kini dan apa adanya. Apalagi kalau kita melihat dunia sekarang ini adalah dunia yang baik dan merupakan peradaban tanpa cela, atau kalaupun ada yang salah, itu hanya proses interaksi sosial yang lazim, dan bukannya memiliki masalah yang sangat “berat”.

Atau mungkin berpikir tentang merubah dunia tidak harus dengan kontradiksi atau antitesis? Pikiran evaluatif, sinergis atau integrasi sesuatu kadang muncul dalam setiap kita. Dunia yang baik menjadi melenceng, dan kemudian perlu pelurusan, perbaikan, berpikir positif dalam melihat dunia adalah kemungkinan lainnya.

Kemungkinan-kemungkinan dunia memang tidak bisa diderivasikan atau diprediksikan dalam tiga alternatif seperti di atas itu. Kemungkinan dunia adalah kemungkinan sejauh mana pikiran dan perubahan realitas dipengaruhi oleh dominasi-dominasi atas realitas itu sendiri. Apakah dunia berada pada posisi berubah dalam “arti” sebenarnya bisa saja terjadi, termasuk tak berubah maupun pergeseran menuju perbaikan tanpa perubahan esesnsial.  Atau bahkan terjadi pergeseran selain yang tiga itu, “who knows”

Manusia, ya hanya yang menamakan diri “manusia sebenarnya”-lah yang menyadari dirinya tidak dapat melihat dunia di sekelilingnya tanpa perubahan apabila dunia berkembang dan bergerak tak sesuai dengan gerakan dan yang dilakukannya. Bahkan manusia akan terusik dan paling ekstrim akan marah, bila dia melakukan aktivitas tetapi kemudian terganggu oleh apapun di luar dirinya yang juga bergerak dan menggeser atau  melakukan aktivitas yang tidak sesuai dengan jalan pikirannya. “In my opinion”, g mungkin manusia tidak akan terusik aktivitas di luar dirinya yang nyata-nyata tak sesuai dengan apa yang ada dalam pikiran atau kesepakatan pikirannya.

Partai Demokrat 150
Partai Golkar 107
PDIP 95
PKS 57
PAN 43
PPP 37
PKB 27
Partai Gerindra 26
Partai Hanura 18

Komisi Pemilihan Umum (KPU), di Jakarta, Sabtu (9/5) malam, telah menetapkan hasil pemilu legislatif 2009. Berikut rinciannya: (lagi…)

Halaman Berikutnya »