GELOMBANG PUSARAN: DARI BARAT KE YELLOW RIVER


GELOMBANG PUSARAN DARI BARAT KE YELLOW RIVER

Aji Dedi Mulawarman

Dulu kita berjibaku mati-matian melawan Belanda, Inggris, Perancis, pokoke Eropa dan terakhir Jepang sampai apa yang kita kata katakan itu Merdeka dari Penjajahan. Proses kemerdekaan bertahan sampai tahun 1965, ketika Orde Baru berinteraksi dengan Amrik dan Inggris menumbangkan kekuatan Orde Lama. Kata kunci dari 1945-1965 adalah menghadang habis-habisan pengaruh Barat Sentris atas nama Kapitalisme Liberal, terlepas itu ada tarik menarik dari Komunisme yang ingin merangsek masuk mulai 1926 dan 1948. Artinya kita di awal kemerdekaan itu tidak mau terbaratkan, tetapi ingin merdeka menjadi Indonesia sesungguhnya. Baca lebih lanjut

411 – KEIKHLASAN SEJUTA UMAT


KEIKHLASAN SEJUTA UMAT DI TENGAH TERGADAINYA KUASA

Kasian sejuta umat dan para ulama’ yang tak pernah diprediksi sebelumnya oleh siapapun. Mereka ikhlas, benar-benar ikhlas, merasakan solidaritas saling berbagi apapun. Ya suasana batin dan denyut umat di tengah represi aparat dan kepongahan pemimpin negeri ini hanya karena pertarungan segelintir elit saling berebut kuasa demi mengamankan posisi dan transaksi yang terlanjur tergadai.

Baca lebih lanjut

JALAN BARU POLITIK ISLAM


4 NOVEMBER:  JALAN BARU POLITIK ISLAM UNTUK NKRI?
Aji Dedi Mulawarman
Hari-hari ini Indonesia sedang berada pada situasi yang sangat memanas, terutama menjelang tanggal 4 November 2016. Umat Islam setelah lama tidur dari kesabaran dan kearifannya dalam menjaga persatuan dan kesatuan negeri, rupanya mulai terbangun, ketika pusat dari keyakinannya terganggu, Al Qur’an dan Ulama’. Kita ketahui beberapa waktu lalu Basuki Cahaya Purnama, Gubernur DKI mengucapkan beberapa kalimat berkenaan dengan QS. Al Maidah ayat 51, pengucapan kalimat yang dianggap kalangan umat Islam telah mengganggu keyakinan dan kesucian agamanya. Tuntutan kepada Gubernur DKI yang akrab dipanggil Pak Ahok oleh Umat Islam rupanya tidak cukup hanya permintaan maaf saja, dianggap sebagai penistaan terhadap agama sehingga mengarah pada keinginan pada tuntutan bukan hanya umat Islam di Jakarta, tetapi telah merambah pada tuntutan nasional. Masalah Al Maidah 51 telah menjadi bola salju, bukan lagi urusan Pilkada tetapi lebih dari itu, kehormatan agama.

Baca lebih lanjut

DRAMATURGI NEGERI TAK BER-“URAT MALU”


DRAMATURGI NEGERI TAK BER-“URAT MALU”
Aji Dedi Mulawarman

Ada yang sudah hilang di negeri ini sepertinya, urat malu… Baik media, politisi, aparat hukum, pemerintah, dan semua pendendang di pusaran kebijakan negeri ini. Ya urat malu, bahkan mungkin mereka sudah tak punya lagi itu yang namanya kemaluan kecuali berkuasa dan menjarah. Bagaimana itu terderivasi dalam dunia sandiwara media sosial hari-hari ini? Semua tergantung mainannya apa, sandiwaranya apa.

Baca lebih lanjut

ZELFBESTUUR: Proklamasi 18 Juni 1916


ZELFBESTUUR – PEMERINTAHAN SENDIRI: HOS TJOKROAMINOTO DAN INDONESIA
Lahirnya Sang Raja Tanpa Mahkota – Lahirnya Negeri Ini 1)
Oleh: Aji Dedi Mulawarman 2)

Zelfbestuur, atau Pemerintahan Sendiri, dikumandangkan pertama kali oleh Hadji Oemar Said Tjokroaminoto pada tanggal 18 Juni 1916 di lapangan alun-alun kota Bandung, di hadapan puluhan ribu peserta Rapat Akbar (Vergadering) se-Nusantara. Hari itu, merupakan acara hari kedua dari perhelatan akbar, agenda Voordracht dari H.O.S Tjokroaminoto, Voorsitter, Ketua CSI, Sang Raja Tanpa Mahkota, atau oleh Belanda disebut “De Ongekroonde Koning van Java” (Raja Jawa yang Tak Dinobatkan), dari seluruh rangkaian delapan hari Kongres Nasional Pertama Central Sarekat Islam atau disebut 1e Nationaal Congres Centraal Sarekat Islam, mulai tanggal 17-24 Juni 1916. HOS Tjokroaminoto, salah satu tokoh nasional muda saat itu yang berani mengumandangkan kata magis “Kebangsaan (Natie)” dan “Zelfbestuur (pemerintahan sendiri)”, sebagai kata lain dari Kemerdekaan Nasional, pertama kali di hadapan publik. HOS Tjokroaminoto telah menggemakan kekuatan maha dahsyat, seakan menandai dimulainya kesadaran pergerakan di Jawa, Madura, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, bahkan Ambon, tak terhidarkan sudah merangsek ke seluruh lapisan rakyat se-antero nusantara. Suasana Kongres sangat meriah. Di samping Rapat Akbar, acara Kongres juga dilaksanakan agenda Pawai keliling titik-titik keramaian kota Bandung, Pesta Rakyat dan Kegiatan Kongres Central Sarekat Islam, dihadiri ratusan utusan dari 80 Cabang/Afdeling SI yang mewakili 360.000 anggota, dari total 800.000 anggota. Baca lebih lanjut