PRAGMATISME KUASA MACHIAVELLI


…Seorang raja harus mengetahui bagaimana bertindak menurut sifat dari baik manusia maupun binatang dan ia tidak akan hidup tanpa keduanya. Dengan demikian, karena seorang raja terpaksa mengetahui cara bertindak seperti binatang, ia harus meniru rubah dan singa; karena singa tidak dapat membela diri sendiri terhadap perangkap dan rubah tidak dapat membela diri terhadap serigala. Karena itu orang harus bersikap seperti rubah untuk mengetahui adanya perangkap dan seperti singa untuk menakuti serigala. Mereka yang hanya ingin bersikap seperti singa adalah orang bodoh. Sehingga, seorang penguasa yang bijaksana tidak harus memegang janji kalau dengan demikian ia akan merugikan diri sendiri dan kalau alasan yang mengikat sudah tidak ada lagi — (IL PRINCIPE MACHIAVELLI)
Hari-hari ini pilkada DKI telah menyedot energi tidak hanya masyarakat Jakarta sendiri. Indonesia rasanya sedang digoyang dengan isu hangat tersebut. Tidak main-main memang, menurut cara berpikir mainstream kekuasaan, katanya kalau mau menguasai negeri ini ya kuasai dulu Jakarta. Karena Jakarta adalah pusat kekuasaan, pusat keputusan politik penting negeri dilakukan, perputaran ekonomi negeri selalu berpusat di Jakarta pula. Seluruh lembaga kenegaraan ada di sana, pusat bisnis ada di sana, termasuk lembaga sosial politik, dan katanya tokoh nasional hampir semua tinggal di Jakarta. Pokoknya kalau mau jadi tokoh besar, jangan pernah dan suka ngendon di daerah, nanti cuma jadi tokoh lokal. Begitu yang tersiar kabar di seantero negeri.
Ya mainstream begini memang ndak salah, meski itu tidak sepenuhnya benar. Pandangan begini ini ya perlu dimahfumi atas logika segala kekuatan dan kekuasaan selalu ada di pusat. Meski jangan lupa, Islam tidak pernah bisa menang ketika menggunakan mainstream berpikir begitu. Pusat kekuasaan Mekkah dulu ternyata tumbang akibat perlawanan dari daerah pheriperal Madinah. Salahuddin Al Ayubi juga begitu ketika menguasai Yerusalem yang katanya kekuatan pusat. Muhammad Al Fatih atau Mehmed II juga dari Edirne yang pinggir masuk ke Konstantinopel, pusat dari Bizantium. Tapi ya itu ndak penting memang dari mana mau berkuasa. Yang penting benernya itu adalah bagaimana perspekti atas kuasa dan politik itu sendiri. Ya ini benernya masalah perspektif, cara pandang, atau paradigma, world view. Ya, world view atas kuasa, kekuasaan, dan keinginan berkuasa.

Baca lebih lanjut

MUNAFIK, SYARAT JADI KANTOR AKUNTAN BESAR?


Tulisan menarik Michael West ini mempertanyakan seberapa jauh “mentalitas dewa” Empat Besar Kantor Akuntan Publik Internasional, PwC, Delloite, E&Y dan KMPG yang dianggaapnya “remain hypocritically inscrutable”. Apakah memang bila ingin menjadi KAP besar sekelas BIg Four kita harus menjadi manusia munafik, organisasi munafik, KAP munafik? Silakan baca lebih lanjut tulisannya di thesaturdaypaper.com di bawah ini:

News, Aug 13, 2016
Who audits the Big Four auditors? By Michael West Baca lebih lanjut

SIAPA BERKUASA, UPPER ATAU UNDERWORLD?


silk road baru.001.jpeg.001.jpeg

1. Pendahuluan: Gemuruh Upperworld: Jakarta Saja?

Hari-hari ini kita masih disuguhi perseteruan dahsyat antara pengelola negara yang menganggap dirinya adalah representasi kebenaran berdasarkan hukum positif, dengan para ulama dan rakyat yang pro ulama dalam melihat negeri. Puncak pertarungannya, seperti demo 1410, 411, 212 kemudian mengerucut pada sidang pengadilan Ahok atas dugaan penistaan agama sekaligus penggiringan opini penghinaan lambang negara pada Habib Rizieq Syihab serta banyak tokoh kritis yang dikriminalisasi, ditahan dan ditangkap. Paling gres adalah ribut isu negatif SBY dan KH. Ma’ruf Amin melalui penyadapan pembicaraan mereka yang terungkap di persidangan Ahok. Ndak pakai lama pihak kepolisian, TNI dan Menko Luhut Binsar Panjaitan harus tergesa-gesa ke rumah KH. Ma’ruf Amin untuk yang katanya hanya safari politik biasa. Serasa masalah Indonesia hanya berkutat di dunia atas (upperworld). Bahkan upperworld sepertinya disempitkan hanya pada masalah pilkada DKI, sedang pilkada Jabar, serta 100 daerah lain (baik propinsi maupun kota dan kabupaten) di luar Jakarta bukan merupakan peristiwa yang terkoneksi dengan partai politik. Baca lebih lanjut

212: PINTU MASUK HIJRAH UNTUK NEGERI


212: PINTU MASUK HIJRAH UNTUK NEGERI

 Oleh: Dr. Aji Dedi Mulawarman

Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya

Ketua Dewan Pengurus Nasional Forum Dosen Ekonomi dan Bisnis Islam

Koordinator Keluarga Besar Alumni HMI MPO

 

PENDAHULUAN

Selalu saja mendengarkan lagu-lagu kebangsaan sarat nilai kesadaran bahwa kita diminta

merawat negeri dengan kemandirian membuncahkan jiwa kita. Coba lihat lirik lagu Rayuan Pulau

Kelapa, nyanyikan, resapi, apa yang terayun di kedalaman ruang batin kita: Baca lebih lanjut

GELOMBANG PUSARAN: DARI BARAT KE YELLOW RIVER


GELOMBANG PUSARAN DARI BARAT KE YELLOW RIVER

Aji Dedi Mulawarman

Dulu kita berjibaku mati-matian melawan Belanda, Inggris, Perancis, pokoke Eropa dan terakhir Jepang sampai apa yang kita kata katakan itu Merdeka dari Penjajahan. Proses kemerdekaan bertahan sampai tahun 1965, ketika Orde Baru berinteraksi dengan Amrik dan Inggris menumbangkan kekuatan Orde Lama. Kata kunci dari 1945-1965 adalah menghadang habis-habisan pengaruh Barat Sentris atas nama Kapitalisme Liberal, terlepas itu ada tarik menarik dari Komunisme yang ingin merangsek masuk mulai 1926 dan 1948. Artinya kita di awal kemerdekaan itu tidak mau terbaratkan, tetapi ingin merdeka menjadi Indonesia sesungguhnya. Baca lebih lanjut