PARTIKULARITAS & BERHALA BARU: EKONOMI


Dunia partikularitas cartesian telah menjadi bagian dari kenyataan menyejarah dalam menyikapi realitas. Sekarang partikularitas menyempit di ruang segala sesuatu dalam bentuk urusan yang di masa lalu tidak pernah dikenal istilahnya, yaitu ekonomi. Baca lebih lanjut

Iklan

My Journey Begins Again


my story is begin again!

Setelah ada tuma’ninah, jeda selama lebih kurang setahun ini sepertinya panggilan melakukan perjalanan dan petualangan kembali muncul di relung-relung kalbu. Ya, perjalanan 2017 lebih banyak terjebak pada rutinitas formal organisatoris di Rumah Peneleh, FORDEBI, CSIL, termasuk nglakoni ngajar di kampus Universitas Brawijaya. Meskipun perjalanan ke Palu, Kendari, Bandung, Jakarta, Semarang, Jogjakarta, Gresik, Surabaya, Palopo, Aceh, dan banyak kota lain terjadi, tetapi ada yang berbeda. Sangat berbeda. Hampir seluruh perjalanan tidak memiliki jejak apapun kecuali formalitas dan silaturrahim dengan banyak pihak. Perjalanan itu sepertinya “kering”. Kering akan interaksi yang entah itu seperti hilang. Mungkin karena perjalanan sangat padat acara dan formalitas. Apalagi selama 2017 memang aktivitas rutin Jakarta-Malang lebih mendominasi, aktivitas-aktivitas lainnya. Suasanyanya beda pol. Aktivitas yang banyak bersentuhan dengan suasana kota dibanding suasana desa itu hilang.

Perjalanan 2006-2016 bagi saya adalah perjalanan spiritual yang banyak menanggalkan aktivitas organisatoris, meski juga berbalut dengannya, tetapi sarat suasanya batin. Perjalanan puluhan kota di nusantara, hingga menembus Malaysia, Thailand, Yunani, Turki, Amerika Serikat, Australia, Mekkah-Madinah-Jeddah. Ya, perjalanan itu banyak memberi perspektif terdalam dari suasana batin masyarakat dunia. Hasilnya memang menakjubkan bagi saya pribadi (semoga juga demikian bagi pembacanya heeee), yaitu dalam bentuk  dua buku penting, Jang Oetama dan 2024. Buku Jang Oetama: Jejak dan Perjuangan HOS Tjokroaminoto, sebuah rekaman kesejarahan tokoh besar negeri, Hadji Oemar Said Tjokroaminoto, Sang Raja Tanpa Mahkota; sedangkan 2024 Hijrah Untuk Negeri: Kebangkitan atau Kehancuran Indonesia dalam Ayunan Peradaban, merupakan gagasan saya mengenai masa depan negeri yang lebih baik. Di samping dua buku penting itu, beberapa buku seperti Menyibak Akuntansi Syariah (tesis yang kemudian menjadi buku genuine pertama saya 2006), Akuntansi Syariah: Teori, Konsep dan Laporan Keuangan (dari disertasi), serta beberapa buku hasil kolaborasi dengan banyak kawan dan sahabat, puluhan artikel nasional maupun internasional, serta tulisan lepas yang tersebar di media nasional dan media online resmi maupun milik pribadi.

Nah, sepertinya panggilan spiritual kembali meningkat hari-hari ini, “Ded, ayo jalan lagi ya, galilah religiusitas batinmu, dekatkan pada celoteh rakyat, celoteh alam, celoteh apapun di negerimu”. Kegundahan itu makin menguat, dan sepertinya pula, panggilan itu ada takdir yang mengikutinya, acara-acara yang dirajut secara organisatoris baik itu melalui FORDEBI di Semarang, Purwokerto dan Padang maupun Rumah Peneleh di Makassar, Jogjakarta, bahkan bisa jadi Mataram, Nganjuk, Kediri, dan banyak kota lainnya yang akan mengembang kemudian dapat menjadi trigger menuliskan memoar perjalanan.

Silakan lihat profil saya di Griyo

Bismillah…