INTELEKTUAL ITU?


Noam Chomsky di buku terbarunya Who Rules the World seakan menohok, mengingatkan kembali peran dan mempertanyakan tanggung jawab para – yang suka disebut – intelektual, mereka berada di garis mana?

Membela tata nilai ideal atau beradaptasi dengan kebijakan negara?

“…those who line up in the service of the state are typically praised by the general intellectual community, and those who refuse to line up in service of the state are punished.”
(Excerpt From: Noam Chomsky. “Who Rules the World?.” iBooks)

Menurutnya, sepanjang sejarahnya intelektual hanya ada dua tipe, yang kompromis sekaligus teknokratis di sisi sana, dan berorientasi nilai yang biasanya “dianggap” pembangkang di sisi lainnya.

Intelektual kompromis/teknokratis punya kecenderungan melayani negara dan biasanya dihormati oleh komunitas intelektual secara umum. Tipe ini biasanya menjadi pendukung kebijakan pemerintah dan mengabaikan atau bisa jadi membuat rasionalisasi praktik jahat pemerintah. Atas posisi tersebut, mereka akan mendapat kehormatan serta posisi istimewa di tengah masyarakat.

Sedangkan intelektual berorientasi nilai ideal dan menolak kebijakan menyimpang yang dilakukan negara biasanya berakhir di penjara… Dan para pembangkang beginian menurut Chomsky dalam lintasan sejarah biasanya merujuk pada peran kenabian.

Para nabi manapun membuat gerah dan amarah penguasa berbasis analisis geopolitik kritisnya. Protes keras dilakukan terhadap apa yang dilakukan pemerintah menunjukkan ketidakadilan. Berdasar aksi kritis itulah para nabi menyeru dikembalikannya keadilan dan kepedulian pada masyarakat yang tergusur dan tertindas. Yang pasti karena tindakan kerasnya itu, para nabi diperlakukan secara kasar, dikejar-kejar, dipenjara, diteror, kalau perlu dibunuh atau disalib. Berbeda dengan para penjilat istana, yang kemudian hari dalam sejarah tercatat dikutuk sebagai nabi palsu.

Bisa jadi masih ada intelektual ketiga, yang kanan kiri oke apa ya? Kalau dalam peristiwa Romawi disebut Brutus, sahabat karib sang Julius Caesar, yang di akhir hayat penikamannya mengucapkan tiga kata kepada sahabatnya itu: “Et tu, Brute” (Dan engkau juga, Brutus?)

Atau intelektual keempat, intelektual yang tidak (atau bisa jadi sebenarnya) paham bahwa dirinya masuk (atau bahkan rela berada di) jebakan – bukan tikus deh… biar keren, kan intelektual (intelektual jarene krik krik gedubrak) sebutlah – arus besar perselingkuhan, persengkunian atas nama kebaikan, pergerakan atas nama by design.

Atau ada tipe intelektual yang lainnya?

Sepertinya, kita perlu menangkap sinyal jaman dengan lurus, menangkap tanda-tanda perubahan bukan dalam keluguan dan kehambaran analisis, dan pilihan-pilihan kebaikan yang terlalu dangkal. Tetapi mata batin jaman, intuisi jaman kata Iqbal… (cie cie cie Iqbal… nggaya men ngutip iqbal)

Astaghfirullahaladzim.

ADM
Singosari, Jumat 16 Februari 2018, pas sudah lumayan bisa bebas berekspresi, bisa baca macem-macem, liburan di rumah aja… damai kang (biar gak nulisnya peace bro…)

Iklan