INDONESIA KITA GAGAP TRADISI?


Hari ini saya kebetulan mengikuti rangkaian acara pembukaan pelatihan guru di lingkungan Sekolah Internasional Bani Hasyim, Singosari, Malang, Jawa Timur. Pelatihan guru ini diadakan selama liburan semester ganjil 2007-2008. Acara pembukaan kebetulan dihadiri oleh Al Mukarram Haji Sayyid Abbas Baraghbah. Ucapan beliau yang paling berkesan adalah ketika beliau nyentil,

“…guru-guru sekalian, sekolah kita ini sudah megah, guru-guru dan murid di lingkungan Bani Hasyim juga sangat canggih, mmm…telah melalui penguasaan teknologi…tapi ada yang hilang…kita ini sebaliknya sudah tidak gagap teknologi…tetapi kita gagap tradisi…ingatlah bahwa dimana kaki kita berpijak di situ langit dijunjung…”

Gagap tradisi, ya itulah yang terjadi di Indonesia sekarang, kita telah lari dari kenyataan…kita tidak punya tradisi sendiri.

Tetapi di satu sisi, Bapak Presiden Yang Terhormat, menegaskan kepada kita, “kita harus memiliki kemandirian”. Apa itu memang sudah dijalankan? Kalau memang belum, perlu ada implementasi dari para Menteri kan? Tetapi apa memang kita punya kemandirian, kita punya tradisi? Kemandirian itu kan ya harus memiliki tradisi sendiri.

Coba kita lihat, mau naik kendaraan saja harus menggunakan Honda, Toyota, Suzuki, Izusu, Mercedes Benz, dan lain-lain. Mau nonton TV mereknya Toshiba, Politron, Samsung, dll. Kita mau berkomunikasi harus menggunakan misalnya telepon genggam Nokia, Sony-Ericson, Samsung, O2, dan lain-lain. Kita mau mandi, sikat gigi, keramas juga begitu, harus menggunakan Lifebuoy, Lux, Pepsodent, Clear, Pantene, Sunsilk, dll. Kita mau minum susu atau coklat harus beli Dancow, Milo, Nestle dan banyak lainnya. Ini baru bersifat konsumtif. Belum yang produktif, alat-alat kantor hampir semuanya asing. Alat berat, perangkat laboratorium, mesin pabrik, bahan, material untuk bangunan, dan banyak lagi, banyak lagi. Itukah tradisi kita? Itukah kemandirian kita? bersambung…

Wallahualam

2 thoughts on “INDONESIA KITA GAGAP TRADISI?

  1. masalahnya Indonesia belum ada yg sepinter dan se’kuat’mereka. kalo benda-benda di rumah kita diperiksa mugkin ga ada yang tertinggal.Orang desa mungkin, karena mobilitas dan aktivitas nya tidak setinggi bisnismen atau aksekutif. ga’ mandi karena ga ada sabun, ga gosok gigi,anak kurang gizi, kemana-mana telat, gaptek–hanya karena kita ga’ mau pake’ produk mereka. Memang hidup adalah pilihan, tp kondisi saat ini masih imposible utk dijalankan se-ideal itu. Mungkin sudah ada satu, dua produk tapi kepercayaan konsumen belum dapat–karena kualiatasnya sangat dipertanyakan. Orang beras, kedelai aja impor, apalagi barang mewah. Kaya’ mobil, sepertinya harus berpikir beribu-ribu kali utk beli produk lokal, siapapun ya milih honda atau toyota. Eh, tapi masih ada ga’ ya produk itu–terakhir aku tau sih Timor sama Bimantara..
    Tapi biar optimis, nothing is imposible in the world. Mungkin terwujud kok. KIra-kira butuh berpa tahun..puluhan, atau ratusan…

  2. hmm, menarik,jika memang ‘keberadaban’ dipandang dari sisi produksi, kita memang minim. produk pendidikan kita tidak menjadikan peserta didik untuk kreatif. lantas apa yang diharapkan. juga ‘tradisi’, jika ditinjau dari perspektif dangkal cuma sebagai tata pergaulan-tata penampilan (gaya hidup dan lifestyle), ‘tradisi’ berpikir disini jumud sehingga tidak ada yang ‘hadist’atau kebaruan . aku jadi ingat bahasa al quran-tidak ada barat, tidak ada timur, kemana pun kamu menghadap maka tampaklah wajahKU. Globalisasi ‘iptek’ dan ‘imtaq’ sudah ada sejak awal Hijriah tampaknya, dan hijriah ada kebaruan. tradisi apa yang ingin kita junjung? ketika aku tengadah, cuma ada satu langit.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s