MENKES: TERSANDUNG TEORI KONSPIRASI atau DOXA PENDIDIKAN?


Oleh: AJI DEDI MULAWARMAN

1. PENDAHULUAN

Saya baru tahu kalau tesis saya (yang sebenarnya masih meraba-raba) mengenai “Konspirasi Virus Flu Burung” hampir pasti ada, ketika baca koran pagi tadi. Beberapa waktu lalu ketika virus flu burung menyerang Indonesia, saya sudah berpikiran ada konspirasi dibaliknya. Meskipun waktu itu saya tidak sepenuhnya yakin, karena saya tidak memiliki pemahaman dan pengetahuan mendalam mengenai kesehatan. Ketika Menteri Kesehatan, Prof Fadilah Supari mengeluarkan bukunya yang fenomenal dan berseberangan dengan kebijakan internasional, jelas sekali terdapat “nuansa konspirasi internasional” di dalamnya. hehehehe… Kalau saya sangat mendukung gerakan beliau, gimana yang lainnya? Berani gak?😀

Coba kita lihat berita di bawah ini yang saya ambil dari http://www.detikinet.com; Jumat, 22/02/2008 11:37 WIB. Silakan dianalisis sendiri, apakah memang teori konspirasi itu menjadi benar, atau memang saya yang terlalu “paranoid”…hehehehe

“Perjuangan mewujudkan perjanjian transfer virus atau material transfer agreement (MTA) yang transparan dengan World Health Organization (WHO) memang tak mudah. Menteri Kesehatan (Menkes) Siti Fadilah Supari mengalami berbagai tekanan, yang paling banyak, via internet.Dalam proses saya berjuang, banyak tekanan dan teror dari luar dan dari dalam. Dan biasanya teror-teror itu dari internet yang menghujat saya, wah sudah seperti apa saja,” ujar Menkes. Hal tersebut disampaikan Menkes menjawab pertanyaan wartawan tentang tekanan yang dialami ketika buku Saatnya Dunia Berubah! Tangan Tuhan di Balik Virus Flu Burung terbit, di kediamannya, Jl Denpasar Raya 14, Kuningan, Jakarta, Kamis (21/2/2008).”

 

2. TEORI KONSPIRASI

Apa itu termasuk teori konspirasi? Bagaimana menjelaskan teori konspirasi? Apakah memang ada? Apakah konspirasi memang terjadi di hampir seluruh ruang hidup kita? Misalnya, ketika gonjang-ganjing Minyak Bumi Indonesia mau diupayakan menjadi ajang para pemain asing dan komprador-komprador untuk jualan “minyuaaak-minyuaaak” melalui pasar bebas. Seperti ketika Soeharto dilengserkan. Atau seperti ketika negara berkembang hanya boleh berperan aktif dalam perdagangan internasional dengan menjual industri mebel dan kerajinan, karena industri berat hanya boleh dijalankan oleh negara maju yang memiliki keahlian dan teknologi (opo iyo😀 ). Atau seperti semua yang bisa diupayakan di Indonesia, pokoknya yang menggiring masyarakat Indonesia yang memiliki pasar konsumen 200 juta, untuk tetap menjadi “konsumen setia” dan negara maju sebagai “produsen berkualitas”. Bagaimana pula (yang menurut saya bangunan teori konspirasinya terlalu “katrok”) dengan berita Mahkamah Konstitusi yang kemudian menyetujui anggaran pendidikan 20% itu termasuk biaya gaji setelah dua orang dari Sulawesi mengajukan keberatan anggaran Pendidikan? Atau para politikus Senayan yang berubah jadi teknokrat dalam kasus penyelesaian Lumpur Sidoarjo dengan statement dan kesimpulannya tentang semburan lumpur dalam koridor bencana alam?

Belum lagi ATPM-ATPM yang menghindari dan mem-“barrier” masuknya prudusen otomotif lokal. Belum lagi konspirasi yang paling besar, yaitu nuklir. Yang namanya rencana pembangunan instalasi nuklir di Indonesia itu munyer (berputar) terus gak berujung, nanti kesimpulannya kan sudah jelas…hehehe… Belum lagi pasar tradisional kita yang harus dibunuh secara perlahan-lahan oleh supermarket modern maupun franchise toko kelontong yang padat modal di setiap desa dan kecamatan. Belum lagi wong bule-bule jualan sekolah internasional maupun yang masih heboh adalah “swastanisasi” perguruan tinggi negeri dan lain sebagainya, dan sebagainya, dan sebagainya…dan lain sebagainya.

 

Menurut Dr. Syafii Anwar, seperti dijelaskan Saiful Haq dalam artikelnya “Intelijen dan Teori Konspirasi” (vhrmedia.net), teori konspirasi menjadi masalah besar ketika masuk pada tiga area. Pertama, ketika teori konspirasi mengarah kepada apa yang disebut sebagai pharanoia within reason. Jadi, selalu ada semacam pharanoia atau ketakutan yang berlebihan yang selalu mengikut dalam akal manusia. Hal ini sesuai dengan yang disebut Freud, pencetus psikoanalis, sebagai penyebab dari mimpi, yakni ketakutan atau keinginan yang berlebihan yang selalu menekan alam bawah sadar manusia. Kedua, teori konspirasi juga mengembangkan apa yang dalam ilmu komunikasi disebut sebagai systematically distortion of information, informasi yang didistorsi sedemikian rupa secara sistematis sehingga sulit untuk dipertanggungjawabkan. Pasti kita juga ingat pepatah yang mengatakan bahwa kebohongan yang diulang seribu kali akan menjadi sebuah kebenaran. Ketiga, teori konspirasi juga selalu mengarah kepada terrorizing of the truth. Karena sulit dibuktikan, maka pernyataan yang berbau konspiratif justru menjadi teror bagi kebenaran.

Saya rasa teori konspirasi kurang dapat dimengerti dan menjadi absurd ketika dihadapkan pada realita. Teori konspirasi menjadi tidak nyata, karena tidak dapat dibuktikan secara konkrit ada, kecuali kita hanya tahu ekses atau indikator yang muncul kemudian.

 

3. HABITUS, DOXA DAN CULTUURSTELSEL GAYA BARU

Jadi, apa yang bisa kita lakukan sekarang? Apakah memang benar kata Pierre Bourdieu bahwa setiap manusia dan realitas sosial dipengaruhi oleh Habitus? Menurut Bourdieu setiap individu dalam realitas (practice) tidak semata-mata menjalankan produk sosial tetapi juga dipengaruhi kerangka pikir dan menterjemah dalam perilaku individu. Habitus dapat dikatakan sebagai “blinkering perception of reality”. Artinya, habitus merupakan hasil pembelajaran lewat pengalaman, aktivitas bermain dan pendidikan masyarakat dalam arti luas. Pembelajaran terjadi secara halus (disebut doxa oleh Bourdieu), tidak disadari dan tampil sebagai hal wajar, sehingga seolah-olah sesuatu yang alamiah, seakan-akan terberi oleh alam.

Ketika tesis Sritua Arif benar bahwa masyarakat Indonesia telah terkooptasi secara “turun-temurun” oleh budaya cultuurstelsel Belanda selama 350 tahun, maka menjadi logislah kita semua masih senang didominasi oleh gerakan “tanam paksa” neoliberal. Cultuurstelsel telah menjadi habituss rakyat Indonesia lewat doxa kapitalisme, neoliberalisme ekonomi, sosial, politik, hukum, ilmu, budaya dan apapun yang ada di Indonesia. Ekonomi, sosial., politik, hukum, budaya dan apapun yang muncul dalam Pancasila dan UUD 1945 kita ternyata pula telah tergerus oleh doxa neoliberalisme. Siapa bilang bahwa neoliberalisme itu hanya ekonomi?

Neoliberalisme telah merambah kemana-mana, bahkan telah menjadi (dikatakan oleh Bourdieu) sebagai symbolic violence, kejahatan simbolis dari doxa. Jadi kalau gitu yang salah apa? Padahal kita ini punya profesor dan doktor serta pakar-pakar yang luar biasa banyaknya. Mungkin seperti dibilang abahku, “yang namanya profesor, doktor dan orang pinter di Indonesia ini kalau mau dijejer masuk gerbong kereta api dari Jakarta ke Surabaya, gak cukup” Tetapi kenapa penjarahan, pembunuhan, korupsi, konspirasi, komprador tetap jalan ya? Mau-maunya kita ini jadi “budak” dari cultuurstelsel baru…

Atau yang salah pendidikan kita, pendidikan nasional kita? Kurikulum Nasional kita yang terlalu sekuler dan bertentangan dengan Tujuan Pendidikan Nasional bahkan UUD 1945 kita? Karena pendidikan kita hanya mengajarkan ilmu, tapi kering dengan keteladanan? Atau, mungkin gak ya, Pendidikan kita malah yang sudah terkena konspirasi untuk menjadikan anak bangsa ini jadi budak-budak dari bangsa Barat? Kalaupun bukan para pendidiknya, tapi mungkin kurikulum yang tak sadar telah “terjajah”? Kalau begitu yang jadi weapon utama sebenarnya apa? Konspirasi ada di mana? Waduh makin gak ngerti dunia ini…

4 thoughts on “MENKES: TERSANDUNG TEORI KONSPIRASI atau DOXA PENDIDIKAN?

  1. teori konspirasi?

    secara prinsip apa yg dilakukan oleh fadilah supari patut didukung, karena terlepas itu benar atau salah yg jelas kita diuntungkan dg apa yg dilakukannya. memang ada kemungkinan adanya teori konspirasi, akan tetapi itu terlalu susah untuk dibahas secara umum, terlebih lagi bila itu menyangkut presepsi. Terlalu kompleks!

    titik serangnya jelas sekali, bahwa flu burung berasal dari daerah china dan sekitarnya, sementara itu amerika jelas diuntungkan dg adanya masalah di china karena pada prinsipnya mereka tidak mampu membendung cina yg begitu cepat menggoncang dominasi amerika.

    terlepas dari semua hal itu tidak ada salahnya bila kita kembali membaca sebuah buku yg berjudul Il principe karangan machiavelli, sebagai dasar pemikiran awal bahwa konspirasi busuk memang ada!

    dari sinilah sebenarnya “bisa” dimbil langkah awal adanya teori konspirasi.

  2. ini baru flu burung….

    Bagaimana dengan SARS?
    atau imunisasi,suntik menyuntik yang amat sangat di tuhankan para dokter anak?
    bayi lahir ma ALLOH SWT dah dikasih antibodi super, mestikah kita rusak sendiri?
    Lagu lama…..HIV AIDS

    Engak pa-pa, semuanya cuma seleksi ras manusia saja.
    Oh, ngomong-ngomong apa gak lebih kejam dari kerjaannya Hitler dulu itu?
    ………..
    …………
    Kawan-kawan, ……
    LAWAN !!!
    apapun kekuatanmu !

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s