MENUMBUHKAN KEUTUHAN CINTA: Berguru Pada Al-Ghazali


Oleh: AJI DEDI MULAWARMAN
Love is spiritually ultimate…
merupakan cinta paling mungkin dan rasional…
Bagi yang buta mata hati, cinta kepada selain Allah
adalah satu-satunya cinta paling logis dan rasional…
Bagi yang punya mata hati, cinta kepada Allah

Menurut Al Ghazali, terdapat lima faktor dan tingkatan yang membuat cinta itu tumbuh, yaitu sebagai berikut:

1. Mencintai diri sendiri

Mencintai keberadaan dirinya, kesempurnaannya, dan demi eksistensi dirinya. Cinta seperti ini cinta paling primordial dalam kehidupan manusia. Setiap yang hidup pertama-tama pasti mencintai dirinya sendiri

2. Mencintai orang yang berbuat baik kepada dirinya

Tetapi manusia juga memiliki sifat kebaikan. Hati manusia memang diciptakan Allah dengan watak mencintai orang yang berbuat baik kepadanya dan membenci orang yang berbuat jahat kepadanya. Mencintai orang lain yang berbuat baik kepadanya untuk kepentingan mempertahankan dan meningkatkan, serta mencegah hilangnya eksistensi dirinya. Seperti ilmu dan guru, adalah dua hal yang sama-sama dicintai oleh manusia. Ilmu dicintai karena wujud ilmu itu dapat mengukuhkan eksistensi dirinya, sedangkan guru dicintai karena ia adalah penyebab bagi adanya ilmu. Ia sebenarnya bukan mencintai guru yang berbuat baik itu. Ini jelas hanya respon terhadap salah satu tindakan baik gurunya. Jika kebaikannya habis, maka habis pula cintanya, walaupun guru sebenarnya masih ada. Jika kebaikannya berkurang, maka berkurang pula cintanya. Cinta dapat berkurang atau bertambah sesuai dengan berkurang dan bertambahnya kebaikan yang dilakukan orang lain terhadap dirinya.

3. Mencintai wujud dari yang dicintai itu sendiri

Bukan lagi mencintai orang lain karena ingin memperoleh di balik wujud sesuatu. Inilah cinta yang hakiki dan paling tinggi kedudukannya di dunia. Seseorang mencintai keindahan demi keindahan itu sendiri. Ia mencintai keindahan demi nilai keindahan itu sendiri, karena mengenal keindahan merupakan kenikmatan. Dan kenikmatan itu dicintai karena wujud itu sendiri, bukan karena yang lain, bukan karena kepentingan yang lain.
Mencintai siapapun yang memang berbuat kebaikan, meskipun kebaikan itu tidak untuk kepentingan dan eksistensi dirinya, bahkan tidak berdampak kepada dirinya.

4. Cinta Keindahan dan Kebaikan Substantif

Mencintai keindahan dan kebaikan tidak hanya bersifat lahir, wujud, tetapi juga mencintai keindahan, kebaikan secara batin, substantif. Kebaikan, keindahan, dan setiap yang dicintai selalu memiliki citra lahir dan batin. Citra lahir teridentifikasi melalui mata lahir dan dapat terekstraksi pada panca indera lainnya. Citra batin teridentifikasi melalui mata batin dan terekstraksi pada pengalaman abadi non materi. Inilah yang sebenarnya disebut cinta yang melampaui cinta materi.

5. Mencintai Siapapun dan Apapun yang Memiliki Keselarasan Batin

Seringkali cinta terjalin antara dua orang bukan karena alasan keindahan dan kebaikan, keuntungan, atau manfaat lainnya. Cinta yang lebih tinggi dapat terjalin karena adanya keselarasan jiwa antara keduanya.

Cinta akan benar-benar utuh ketika kelima faktor tersebut menyatu dalam diri seseorang. Dan lima faktor tersebut hanya dapat menyatu secara sempurna dalam pangkuan Allah SWT. Caranya adalah dengan selalu melakukan pemurinuan jiwa, pensucian jiwa, yaitu tazkiyah an-nafs. Seperti disebutkan oleh Sabda Rasulullah saw., bahwa Pensucian Jiwa Adalah Separuh Iman. Tazkiyah an-nafs menekankan laku tawbah, shabr, zuhd, khauf (takut) dan raja’(selalu berharap) secara terus menerus.

Puncak penyucian jiwa itu sendiri sebenarnya adalah pengosongan jiwa dari segala sesuatu selain Allah. Sehingga dengan kondisi seperti itu, hati benar-benar siap menerima makrifat dan hubb Allah (kecintaan kepada Allah). Dengan pensucian itu maka diharapkan memunculkan kekuatan dan keluasan makrifat atas hati. Makrifat atas hati ini akan membuahkan Syawq (rindu), Uns (mesra) dan Ridha kepada Allah SWT.

Disarikan dari Rindu Tanpa Akhir (Al Mahabbah wa al-Syawq wa al-Uns Wa al- Ridha) karya Imam Al Ghazali. Terjemahan Edisi II. Penerbit Serambi. Tahun 2006.

3 thoughts on “MENUMBUHKAN KEUTUHAN CINTA: Berguru Pada Al-Ghazali

  1. cinta itu indah sebenarnya jika kita pandai mencarinya mahupun menjaganya .cinta pertama kepada tuhan cinta lahir dari hati manusia yang beriman .cinta kedua kepada rasullulah .kerana ia adalah kekasih allah dan kerana ia juga mengajar kita untuk beribadat kepada allah .cinta ketiga adalah ‘cinta kepada kedua ibu bapa kita yang patut kita hormat.tetapi ibu yang patut kita kasih mahupun menjaganya.jangan pula kita lupakan bapa kita yang mencari rezeki untuk kita’ cinta keempat . cinta kepada sanak saudara kita ..cinta kelima .cinta kepada kekasih kita .mungkin ia ditentukan jodoh kita harus tidak di persia begitu saja.tetapi ingin saya kongsikan bersama anda kisah cinta saya iaitu ia hanya bermula dengan tersalah mehantar sms .pada esok harinya dia menhahtar semula sms kepada saya.dia cukup saya gelar (MKW)SELEPAS beberapa hari . kami menjalinkan hubungan sebagai kekasih sejati .aku sering berdoa agar aku bertemu jodoh dengan mkw ini.pertemuan pertama adalah di taman taiping.

  2. Cinta hakiki adalah dari kemurnian hati, dari dasar roh rabb yg ada dlm tiap diri manusia. Kecintaan kepada keindahan, kecantikan, kebaikan, dan sbgx adalah manifestasi dari kerinduan kepada Pemilik semua itu. Akhirx apapun yg dicintai hendakx adalah cinta untk menuju kepada Pemilik cinta itu sendiri.(andre)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s