REKONSTRUKSI INDEPENDENSI AKUNTAN PUBLIK: Bagian 3


Oleh: Aji Dedi Mulawarman

4. INDEPENDENSI DAN SEKULARISASI

Pandangan dunia Kapitalisme/Barat menurut Al-Attas (1981, 19) dirumuskan tidak di atas pengetahuan yang diwahyukan ataupun kepercayaan agama, tetapi di atas tradisi kebudayaan yang diperkuat dengan dasar-dasar filosofis, renungan yang berkenaan dengan kehidupan duniawi, yang berpusat pada manusia sebagai makhluk fisik dan satwa rasional. Hal inilah yang disebut dengan sekularisasi.

Secular, berasal dari kata latin saeculum, menurut Kartanegara (2003, 120) memiliki arti yang bersifat duniawi (worldly). Al-Attas (1981, 19) mendefinisikan secularization/sekularisasi sebagai pembebasan manusia, pertama dari agama, kemudian dari metafisika yang mengatur nalar dan bahasanya. Ini berarti, lanjut Al Attas (1981, 20) terlepasnya dunia dari pengertian-pengertian religius dan religius semu, terhalaunya semua pandangan dunia yang tertutup, terpatahkannya semua mitos supranatural dan simbol-simbol suci. Atau lebih singkatnya, sekularisasi berarti memisahkan kepentingan dunia dari seluruh kepentingan religius.

Bila kita tinjau lebih jauh makna dari sekularisasi seperti didefinisikan Peursen (1965) dalam Al Attas (1981, 21-22), bahwa sekularisasi memiliki tiga komponen integral, yaitu Disenchantment Alam, Desakralisasi Kekuasaan dan Dekonsekrasi Nilai. Disenchantment Alam, istilah yang dipinjam dari istilah Max Weber, sebagai pembebasan alam dari nilai-nilai religius. Desakralisasi Kekuasaan adalah penghapusan legitimasi sakral kekuasaan politik, yang merupakan prasyarat perubahan sosial yang memungkinkan terjadinya proses sejarah. Dekonsekrasi Nilai, adalah pemberian makna sementara dan relatif kepada semua karya-karya budaya dan setiap sistem nilai termasuk agama serta pandangan hidup yang mutlak dan final, sehingga dengan demikian sejarah dan hari depan menjadi terbuka untuk perubahan dan manusiapun bebas untuk menciptakan perubahan-perubahan itu serta menceburkan dirinya dalam proses ‘evolusioner’ tadi.

Dalam pandangan dunia seperti itu, independensi manusia menurut Kartanegara (2003, 9) sebagaimana alam semesta yang telah dibebaskan dari campur tangan agent luar, seperti Tuhan atau malaikat, dan diyakini telah diatur oleh sebuah hukum alam yang mandiri, tetap dan tidak bisa diubah; sebuah hukum alam yang tercipta dengan sendirinya, dan bukan ciptaan di luar dirinya, dunia itu sendiri. Manusia dipandang sebagai makhluk fisik dengan system saraf yang rumit, tetapi yang tidak cukup menghasilkan jiwa sebagai sebuah substansi material, lebih sebagai hasil dari sebuah kebetulan sejarah di alam semesta. Manusia biologis yang memiliki bentuk sama dengan sekedar persenyawaan yang lebih rumit dari makhluk hidup lainnya, dapat direduksi ke dalam daya-daya fisik-kimiawi, seperti alam semesta; yang hidupnya ditentukan oleh faktor genetik, yang didalamnya DNA merupakan bagian hukum mekanika, dan matinya berada di dunia ini pula, tidak ada yang transenden. Singkatnya, manusia adalah realitas independent atau otonom, yang memiliki kebebasan dan kehendak memilih sesuai pikiran yang rasional atau logis, observatif, empiris, ilmiah dan filosofis, yang juga terefleksi secara sosial dalam bentuk kaidah-kaidah “positif” baik etis ataupun hukum.

5. INDEPENDENSI DAN DESEKULARISASI

Sehingga desekularisasi, sebagai antitesis dari sekularisasi, bukan hanya sekedar membalik konsepsi sekularisasi, tetapi lebih pada mengembalikan realitas independensi manusia yang sesuai dengan fitrahnya. kepentingan religius, legitimasi sakral serta pengakuan realitas mutlak.

Realitas Mutlak yang disebut Realitas Independen atau Otonom menurut Kartanegara (2003, 12), adalah Tuhan sebagai Agen Eksternal, yang bertindak sebagai Sebab Pertama (Prima Causa) yang mewujudkan semua yang bias kita saksikan di dunia ini sebagai akibat-akibatnya, atau sebagai Penggerak Utama (Prima Moves) yang menjadi sebab bergeraknya segala sesuatu yang ada dalam alam semesta. Tuhan sebagai sebab langsung dan tak langsung dari segala sesuatu, dengan kekuasaannya yang didelegasikan melalui hukum alam, atau melalui agen-agen lainnya, seperti akal dan jiwa, atau dalam bahasa agama, para malaikat. Tidak memandang realitas independen atau otonom, tetapi sebagai produk yang dirancang dan mempunyai tujuan yang agung (Kartanegara 2003, 13).

Selain itu, lanjut Kartanegara (2003, 13) daya-daya yang oleh para saintis barat disebut sebagai gaya alamiah (seperti gelombang nuklir lemah, elektromagnetik, bahkan gravitasi) oleh para filosof Muslim, seperti Al-Farabi, Ibn Sina dan Ibn Rusyd, selalu dikaitkan dengan daya kosmik (samawi), yang bersifat transenden.

Alam semesta dengan demikian, menurut Kartanegara (2003, 13) bukanlah merupakan realitas yang independen dan ultimate, melainkan “tanda-anda” (signs) kebesaran dan keberadaan Tuhan. Jadi alam semesta adalah petunjuk, yang didalamnya manusia diharapkan menemukanNya. Karena alam semesta adalah tanda, maka mempelajarinya sama dengan mempelajari jejak-jejak Illahi (Vestigia Dei), dan karena itu pengkajian tentang alam akan dapat menambah keimanan kepada Tuhan, dan bukan penolakan terhadap eksistensiNya, seperti yang telah dilakukan oleh sebagian saintis besar Barat, seperti Laplace, Darwin, Freud.

Manusia, menurut Kartanegara (2003, 13) dipandang bukan sebagai makhluk fisika-kimia (ataupun biologi), tetapi disebut sebagai “mikrokosmos”, karena sekalipun secara fisik sangat tidak signifikan, manusia diyakini memiliki atau mengandung segala macam unsur kosmik dari mineral, tumbuhan dan hewan dan bahkan spiritual. Manusia dipandang secara lebih bermartabat sebagai makhluk moral karena manusia merupakan agen yang – sampai taraf tertentu – mempunyai kebebasan berkehendak atau kebebasan memilih dalam bentuk tindakan volunter yang hakiki, bukan kebebasan semu seperti yang digambarkan oleh saintis barat. Manusia yang telah memasuki tataran “filosofis”, tidak hanya memiliki otak atau sel saraf saja, akan tetapi memiliki kesadaran “diri” dan “akal” yang “hakiki”, sebagaimana juga ia memiliki jiwa yang independen dan bersifat spiritual. Sifat spiritual dari akal dan jiwa manusia inilah yang menjamin survival atau kelestarian jiwa setelah kematian, untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya di hadapan Tuhan.

Berbeda dengan Barat, yang mengandalkan observasi indrawi dan filsafat yang mendasarkan pada penalaran rasional atau logis, manusia yang religius memiliki sandaran wahyu, yang berarti pula bersandar pada otoritas, yaitu otoritas dari penerima wahyu (nabi) sebagai utusan Tuhan yang paling dipercaya. Itulah sebabnya agama disebut naqli (transmitted) bukan ‘aqli (rational). Sehingga jelas, seperti yang diungkapkan oleh Ibn Khaldun (Kartanegara 2003, 14) tujuan ilmu adalah untuk menjamin pelaksanaan kehendak syariat, yang berbeda dengan konsepsi ilmu rasional yang teoritis karena ingin mengetahui segala sesuatu sebagaimana adanya.

Hal itulah yang disebut oleh Iqbal (1966, 11), sebagai “ego” dan “dunia” sebagaimana “pikiran” dan “realitas” yang merupakan kesatuan tak terpisahkan. Keduanya memerlukan adanya watak ruhaniah dalam diri manusia. Hanya dengan adanya kesatuan nilai-nilai inilah, dengan mengakui adanya hubungan alam cita dan alam nyata, Islam berkata ‘ya’ kepada dunia materi, dan menunjukkan jalan untuk menguasainya dengan maksud hendak menemui suatu dasar bagi aturan hidup yang realistis. Sesuatu yang tidak bertentangan, dan sikap empiris menurut Iqbal (1966, 16) adalah tingkat yang tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan ruhani manusia, yang menganggap semua bagian sama penting dalam pengalaman manusia sebagai sesuatu yang membuahkan pengetahuan tentang kenyataan terakhir, yang menampakkan tandanya lahir dan batin.

5.1. Desekularisasi Independensi Akuntan Publik

Hal seperti dijelaskan di atas, jelas berbeda dengan pemaknaan yang dilakukan oleh Sara Reiter, mengenai independensi, ternyata tidak dapat menghasilkan makna yang sebenarnya. Karena setiap manusia selalu berinteraksi dengan manusia dan lingkungan sekitarnya. Sehingga yang terjadi adalah pertautan makna, materi dan jalinan kepentingan yang saling mengisi dan saling memberikan makna dan materinya masing-masing. Melihat perusahaan sebagai komunitas yang ada di dalamnya, yang juga merupakan bagian dari lingkungan dan masyarakat sekitarnya (dan bukan hanya bagian dari entitas bisnis yang dimaknai dalam Standar Profesi Akuntan publik). Akuntan publik sebagai entitas juga berada di dalam lingkungan yang seluruhnya saling berinteraksi.

Independensi selalu memiliki makna itu, sehingga yang sebenarnya perlu diluruskan dalam melihat Standar Profesi, bahwa Akuntan publik yang sebenarnya, adalah yang dapat memberikan manfaat informasi, evaluasi dan prediksi, sesuai dengan karakter lingkungan sosialnya, memiliki nilai kemanusiaan, transendental sekaligus. Akuntan publik, dilihat dari perkembangan sejarahnya, selalu tergantung lingkungan dimana Akuntansi dijalankan. Sebagai ekspert, pasti memiliki resonansi keilmiahan dan keahlian. Dalam praktek, pasti memiliki resonansi aktualitas, disamping melakukan analisis dan penilaian secara material-matematis-statistik, juga diperlukan pemahaman terhadap seluruh permasalahan yang bukan hanya hitungan angka saja, pemaknaan dan aspek kualitatif juga harus mendapatkan tempat.

Bukan melakukan kompromi independensi, menjadi independensi audit dan menghilangkan independensi akuntan publik seperti diusulkan oleh Jeppesen (1998). Atau bukan pula hanya menampilkan empati dan cinta kasih seperti dilakukan oleh Lovell (1995) dalam mengadopsi dekonstruksi moral reasoning pada level ketujuh dari kerangka moral Kohlberg. Atau lebih jauh seperti yang dilakukan oleh Reiter (1997) mengajukan pengganti Independensi, yaitu Interdependensi, yang hanya bersandar peduli pada hubungan (caring relationship) yang masuk pada keseimbangan yang abstrak, seperti kepentingan jangka panjang dan kepentingan publik, yang masih berkutat pada mekanisme materialistik dan humanistik.

Bagian Selanjutnya:

1. Rekonstruksi Independensi Akuntan Publik: Bagian 4

Lihat Sebelumnya:

1. Rekonstruksi Independensi Akuntan Publik: Pandangan Islam
2. Rekonstruksi Independensi Akuntan Publik: Bagian 1
3. Rekonstruksi Independensi Akuntan Publik: Bagian 2

 

7 thoughts on “REKONSTRUKSI INDEPENDENSI AKUNTAN PUBLIK: Bagian 3

  1. Rekonstruksi Independensi Akuntan Publik

    Istilah :

    Rekonstruksi : sudahlah, dapat kita fahami , bahwa kita kurang sreg dengan “construct” akuntan public existing.
    Independensi : ya, kira-kira ngerti, kita sedang di telingkup (covered by) faham secular berbaju ilmiah – hegemony of scientific secular capitalism.
    Dugaan saya akar masalahnya adalah kerancuan pada filsafat ilmu.

    Filsafat ilmu barat (1)
    Ontologi
    !
    Epistemolog
    !
    Aksiologi (ontic)

    Filsafat ilmu islami (2)
    Tauhid
    !
    Epistemologi
    !
    Ontologis engineering
    !
    Aksiolog (ontic)

    Ini berawal dari kebingungan Kant dan Decards mau ditarok mana parameter “moral, kepentingan public “ dalam hierarki filsafat barat.
    Contoh sederhana tahap ontologi : pencarian Einstein tentang apa itu materi (massa), gelombang (wavelet –hv), kecepatan cahaya (c), energy (E) — dalam mereconstruct ilmu pengetahuan sebelumnya – dan proposed teori relativitas , teori umum relativitas.
    Contoh sederhana tahap epistemology : secara konseptual grand theory itu disimplified menjadi rumus terkenal E = mC*C – Energy adalah perkalian massa dengan kwadrat kecepatan cahaya.
    Contoh sederhana tahap aksiologi (ontic) : adalah ketika bom atom meletus pertama kali pada perang dunia kedua.
    Pendekar ilmu itu (Einstein) kemudian frustrasi, karena ilmu pengetahuan digunakan untuk memusnahkan manusia

    Real problemya adalah : hegemony of scientific secular capitalism

    Ilmu pengetahuan islami sedang hadap-hadapan dengan faham, dengan isme yang sangat ilmiah (see your posmo, apa itu ilmiah – imago ilmiah, metaporic ilmiah)

    Apakah independensi yang dimaksud pada tulisan ini berarti kita harus independent dari hegemony of scientific secular capitalism.
    Kalau itu ya, maka poros maslah berikutnya adalah masalah teori ilmu, masalah tauhid – epistemiologi dan ontologism engineering.

    Dalam Islam manusia tidak lahir begitu saja, dia adalah ciptaan : Pencipta.
    Jadi tidak ada pertanyaan apa itu manusia dalam Islam , sudah selesai dengan percaya, tauhid. Jadi pekerjaan yang masih tersisa adalah

    1. bagaimana Ketauhidan terefleksi, terinduksi, terjelma, bermanivestasi dalam Teori Ilmu/Epistemologi.
    2. Ontology yang berada pada step pertama filsafat barat , dalam Islam berubah menjadi tahap ketiga Ontologic engineering, yang termasuk didalamnya adalah moral, society, organisasi, econonmy, akuntansi, tatanegara, waris, zakat , politik.
    3. prinsip kesinambungan dan evolusi ilmu pengetahuan menuju kemaslahatan umum.

    Penutup

    Apabila Akuntan Publik Independen dari berbagai faham non islami , mau kemana kita, bagaimana caranya, scenario apa yang mesti ditempuh, sudah sampai dimana persiapannya, adakah persiapan itu, terlebih penting lagi : Siapa sebetulnya yang memanage “UMMAT” /public?

  2. 1. Substansi dari akuntansi konvensional dan akuntansi Syariah perlu diperjelas untuk jenjang pendidikan menengah, hal ini perlu untuk mengingatkan akan hukum riba yang sudah mewabah dan memakan banyak korban.
    2. Akuntansi Syariah lebih tepat sasaran dalam mendorong sektor rill dibandingkan akuntansi konvensional yang lebih mengutamakan sektor keuangan dan portofolio yang tidak jelas dan penuh dengan spekualasi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s