REKONSTRUKSI INDEPENDENSI AKUNTAN PUBLIK: Bagian 4


Oleh: Aji Dedi Mulawarman

6. MEMAKNAI INDEPENDENSI MELALUI VESTIGIA DEI

Tugas akuntan publik yang transendental-sosial, bukan hanya memahami laporan keuangan perusahaan sebagai accounting numbers saja, atau bahkan melakukan window dressing (manipulasi data), tetapi tugas akuntan publik dengan menelusuri Vestigia Dei lewat kacamata intuitif dan pengalaman batin serta praktek yang memiliki value kebenaran, kerendahan hati, kritis dan kejujuran, maka akuntan publik dapat memberikan saran cerdasnya terhadap situasi dan proses manajemen perusahaan dalam bentuk atestasi.

Integralitas Akuntansi-Auditing yang berpedoman pada Vestigia Dei, pada tatanan filosofis, Vestigia Dei, seperti yang juga dilakukan dalam Shari’ate Accounting, melakukan langkah-langkah rekonstruksi hakekat manusia (human nature), ontology dan epistemology (Triyuwono 1996; Triyuwono 2000, 297-324).

Mengikuti rekonstruksi dari human nature tersebut, akan muncul tiga koeksistensi, pertama, koeksistensi Tuhan dan manusia, kedua koeksistensi sifat manusia dan alam, ketiga koeksistensi tujuan manusia.

Koeksistensi Tuhan dan manusia.

Allah sebagai sesuatu Yang Mutlak, sesuatu yang Tunggal. Sehingga dengan demikian, maka ciptaanNya pasti tidak mutlak dan tidak tunggal. Sebagaimana Faruqi (1995, 10) menjelaskan, prinsip dualitas yang terkandung dalam makna Tauhid. Bahwa realitas terdiri dari Tuhan dan dan bukan Tuhan, Khaliq dan makhluk.

Kedua jenis realitas selamanya mustahil dapat disatukan, dimasukkan, dikacaukan atau disebarkan ke dalam yang lain. Juga tidak mungkin Sang Pencipta secara ontologis diubah menjadi ciptaan, dan tidak dapat pula ciptaan melampaui dan mengubah dirinya hingga menjadi Pencipta, dalam hal apapun dan dalam pengertian manapun.

Sehingga, wahdatul wujud/kesatuan eksistensi, sebagaimana dijelaskan Al-Attas dalam Wan Daud (2003, 84), adalah Allah itu sendiri, sebagai satu-satunya Realitas Mutlak. Realitas wujud yang partikular senantiasa ada disebabkan oleh dinamika Tuhan yang selalu berkesinambungan (God’s continous dynamic) dan aktivitas Tuhan yang senantiasa menciptakan kembali (constant activity re-creating) sesuatu yang serupa (bukan sesuatu yang sama) dengan sesuatu itu setiap kali dihancurkan. Karakter realitas wujud partikular yang seperti ini sangat berbeda dengan karakter Eksistensi Mutlak yang selamanya qadim, yang oleh Al-Attas diistilahkan sebagai kepermanenan yang terus menerus dan baqa’, yaitu kepermanenan yang tidak berkesudahan (Wan Daud 2003, 83-84). Memang, tasawwuf yang benar, menurut Mahzar (1983, 19-20) jelas tidak akan melanggar ketentuan-ketentuan syari’ah, karena dalam mencapai taraf fana yang didambakan oleh para sufi, mereka bukan saja tidak melupakan ibadah wajib tetapi harus melakukan ibadah yang sunnat yang dicontohkan Rasulullah.

Koeksistensi sifat alam dan manusia.

Manusia menurut Faruqi (1995, 11) sebagai salah satu dari ciptaan, memiliki sifat alam yang teleologis, yaitu bertujuan untuk melayani Penciptanya, dan melakukan berdasarkan rancangan Tuhan. Dari sifat alam yang teleologis ini, muncul koeksistensi yang memiliki sifatnya masing-masing sesuai dengan Iradatnya. Alam semesta memiliki sifat yang teratur, sempurna, dan memiliki ukuran yang sesuai dengannya dan memenuhi suatu tujuan universal tertentu. Di dalamnya kehendak Pencipta selalu terwujud, pola-polaNya terpenuhi dengan adanya kemustian hukum alam. Berbeda dengan alam semesta, yang telah diatur sesuai dengan Iradatnya, manusia adalah satu-satunya contoh dimana kehendak Tuhan diaktualisasikan tidak dengan sendirinya, melainkan secara sengajam bebas dan suka rela. Fungsi fisis dan psikis manusia menyatu dengan alam, dan karena itu mematuhi hukum-hukum alam yang berkaitan dengannya. Tetapi fungsi spiritualnya, yakni pemahaman dan tindakan moralnya, berada di luar ketentuan alam.

Koeksistensi tujuan manusia.

Dengan itu, maka Allah memberikan manusia dua koeksistensi tujuan manusia agar sesuai Kehendaknya. Mengapa hanya manusia yang diberikan koeksistensi tujuan oleh Tuhan? Hal itu diberikan untuk membedakan koeksistensi alam dan manusia. Ketika manusia memiliki sifat yang sama dengan alam, maka tidak bergunalah koeksistensi tujuan manusia, yang dengan itu maka manusia tidak berbeda dengan ciptaan Tuhan lainnya di alam semesta ini. Ketika manusia memiliki sifat yang berbeda dengan alam, maka menjadi bergunalah koeksistensi tujuan manusia. Dari hal itulah kemudian mengapa Tuhan memberikan kewenangan dan kedudukan yang lebih tinggi dari siapapun ciptaanNya.

Koeksistensi tujuan manusia adalah dalam rangka pengabdian kepada Allah (Abdullah/abdi Allah) dan wakil Allah di bumi (Khalifatullah fil ardh/wakil Allah di bumi). Abdullah (Shihab 2000, 22-23; Jalaluddin 2001, 28-29, 52-60, 119; Rahardjo 1994, 36-43; Hasanah, 2002; Basyir 2001; Rahman 1996, 12; Al-Attas 1981, 205; Chapra 1995, 7) adalah realisasi tujuan Ketuhanan manusia untuk selalu menjalankan ibadah kepada Allah (QS: 51:56), memiliki tujuan hidup yang asali dan akhir untuk mengabdikan dirinya kepada Tuhan (QS. 36:61). Sedangkan Khalifatullah fil Ardh adalah realisasi tujuan kealaman manusia untuk memelihara dan mengelola alam semesta milik Tuhan (QS. 35:39).

Atas koeksistensi human nature, yang berkarakter Abdullah dan Khalifatullah fil Ardh inilah, maka logislah koeksistensi ontologis yang disarankan Triyuwono (2000), yaitu melihat realitas yang obyektif yang didasarkan pada realisme dan realitas subyektif yang didasarkan pada nominalisme sebagai koeksistensi. Demikian pula, koeksistensi epistemologis bahwa tidak ada pemisahan antara keimanan dan akal, agama dan ilmu, dimensi spiritual dan materialistik, dimensi empirik dan transendental.

7. ULIL ALBAB: INDEPENDENSI YANG BERPIJAK PADA VESTIGIA DEI

Implikasi dari seluruh nilai (value) kemanusiaan dan alam semesta beserta isinya dengan Vestigia Dei, maka tiga koeksistensi human nature di atas, akan mengarah pada koeksistensi Abdullah dan Khalifatullah fil Ardh sebagai realisasi tujuan Ketuhanan (Prinsip Tauhid). Dalam diri akuntan publik kemudian, Vestigia Dei mengarah pada konsep diri-Ilahiah dan konsep diri-masyarakat.

Konsep diri-Ilahiah mengarah pada internalisasi tugas; tazkiyah an-nafs (selalu melakukan evaluasi internal), realisasi laporan kualitatif (akuntabilitas laporan audit transendental) dan pemenuhan hak pribadi (hak asasi manusia). Konsep diri-masyarakat mengarah pada realisasi tugas; pertanggungjawaban masyarakat (akuntabilitas publik), realisasi kuantitatif (laporan audit) dan realisasi altruistik (kewajiban asasi manusia).

Akuntan publik menjadi sebuah profesi yang diarahkan pada sebuah proses yang memiliki nilai (value) benar dan baik, yang dapat memberi manfaat pertanggung jawaban bagi masyarakat, sekaligus yang lebih tinggi, yaitu pertanggungjawaban Ilahiah. Dalam kacamata Islam, misalnya, yang perlu dilakukan bukan hanya dalam tataran syar’i[1], tetapi harus mengarah pada perubahan masyarakat yang lebih baik. Akuntan publik sebagai pelaku dan penanggungjawab kebenaran serta kesahihan Interkoneksi dan Integralitas Akuntansi-Auditing yang menjadi bagian Tamaddun[2]/Peradaban yang dibangun atas dasar Nilai Ilahiah. Ismail Al Faruqi dan Lois Lamya’ Al Faruqi (1996, 43), menyatakan esensi Peradaban Islam adalah agama Islam, sementara esensi ajaran Islam sendiri adalah Tauhid.

Dalam karakter Tauhid, Independensi yang bertanggungjawab disebut dalam Al Qur’an sebagai Ulil Albab, atau dalam bahasa Syaria’ati disebut sebagai Rausyan Fikr. Ulil Albab adalah konsep kebebasan di bawah payung nilai-nilai Tauhid. Konsep kebebasan atau independensi yang bertanggungjawab, yaitu bertanggung jawab kepada Tuhan Semesta Alam (Abdullah) dan seketika itu pula, berjalin berkelindan, terintegasi, dalam amanah religius untuk menjadi pemimpin di muka bumi atas nama Allah (Khalifatullah fil ardh).

Independensi yang mendatangkan Visi Kenyataan yang sempurna, menurut Iqbal, sebagai cerapan penginderaan yang dilengkapi persepsi yang oleh Al Qur’an disebut Fuad/Qalb/Hati (Iqbal 1966, 17). Atas dasar itu, maka Iqbal membagi ego manusia, dalam dua ego, yaitu Ego Efisien dan Ego Apresiatif. Ego Efisien berhubungan dengan materi, berhubungan dengan kekinian dan kedisinian, mencacah keadaan-keadaan yang masuk dalam ruang dan waktu. Sedangkan ego apresiatif, berhubungan dengan batin, kesatuan keadaan yang tak tersekat dalam ruang dan waktu (1966, 48-51). Seperti terungkap dalam Qur’an Surat As Sajdah ayat 9, manusia dilengkapi disamping pendengaran, penglihatan serta hati.

Seperti Iqbal (1966, 12) mengatakan, hanya orang yang sekapasitas seperti dalam Al-Qur’an Surat Ali Imron ayat 190-191, yang dapat mencerap visi Ilahiah dengan tanda-tanda Nya melalui Vestigia Dei di alam semesta, yang disebut sebagai Ulil Albab. Ulil Albab merupakan ciptaan Allah yang paling tinggi derajatnya di mata Allah, yang selalu berpikir dan menyelami makna penciptaan siang dan malam (prinsip Khalifatullah fil ardh), sekaligus (prinsip integralitas) selalu mengingat Allah dalam keadaan berdiri, duduk dan tidur (prinsip Abdullah), sambil menyatakan kebesaran Tuhan: “O Tuhan kami! Tidaklah sia-sia Kau ciptakan semua ini” (prinsip Tauhid-Keesaan Tuhan).

Sehingga cinta yang dimaksudkan dalam Kohlberg adalah orientasi religius yang berisi cinta. Bukan hanya cinta dalam konteks yang bersifat duniawi saja, tetapi lebih dari itu, seperti yang didefinisikan oleh Tasmara (2001, hal 2), sebagai Takwa. Muatan takwa yang tidak didominasi rasa takut kepada Allah, tetapi lebih pada rasa cinta, dikoneksikan sebagai tanggungjawab yang dilaksanakan dan menunjukkan amal prestatif di bawah semangat pengharapan ridha Allah.

Qalb atau hati nurani, kemudian menjadi pusat dari seluruh perasaan moral. Dan tentu saja, perasaan moral yang berpusat pada qalbu, tidak terlebih dahulu melewati jenjang-jenjang perkembangan moral dalam teori Kohlberg. Hurlock (1990, hal 77) menjelaskan bahwa, secara tradisi, setiap anak dilahirkan dengan hati nurani, yang oleh Triyuwono (1997) disebut sebagai hati nurani yang selalu cenderung pada kebenaran. Artinya, sejak awal, manusia telah memiliki hati nurani dan moral religius.

Bertakwa kemudian, sebagai prinsip moral yang sesungguhnya, seperti adanya nyala api dalam qalbu yang mendorong penuaian amanah, yang berwawasan pencapaian amal prestasi sebagai rasa tanggung jawab yang mendalam dan bersifat responsibility atas kewajiban sebagai seorang muslim (Tasmara 2001, hal 2).

8. PENUTUP

Hilangnya Islam Peradaban yang berkebudayaan, ketika Islam hanya diterjemahkan secara literal dan egois, hanya sebagai pesan-pesan Ketuhanan yang kaku dan menjerat pelaku Islam untuk menjalankan perintah Allah berkaitan pahala dan dosa manusia dalam ritual formal, terpisah dari realitas, terpisahnya jiwa Abdullah dan Khalifatullah fil ardh.

Makna Independensi Akuntan Publik dalam Islam, dengan demikian tidak dapat lepas dari makna Tauhid itu sendiri, yang merupakan ikatan pertama dan esensi Islam itu sendiri, yaitu persaksian ultimat tentang Keesaan Allah, sebaliknya juga menafikan dan menggugurkan semua ilah-ilah di seluruh alam semesta. Pengakuan hanya Allah yang meliputi segala sesuatu, menguasai seluruh kekuatan di alam semesta, penciptaan alam semesta beserta isinya tak terkecuali manusia.

Penegasan bahwa Akuntan Publik, sebagai bagian proyek besar bagi terwujudnya kebudayaan Islam dan peradaban Islam yang memiliki esensi pengetahuan, Tauhid, yang dapat dianalisis dan diuraikan. Terwujudnya peradaban yang berkebudayaan ini merupakan kesatuan yang utuh, yang harus ditempuh akuntan publik sebagai muslim dalam ber-Islam. Memaknai Islam adalah kewajiban yang melekat sepanjang sejarah kehidupan dan realitas tiap-tiap muslim, menjadi bagian tak terpisahkan dari pembentukan peradaban yang berkebudayaan. Insya Allah.

Lihat sebelumnya:

1. Rekonstruksi Independensi Akuntan Publik: Pandangan Islam
2. Rekonstruksi Independensi Akuntan Publik: Bagian 1
3. Rekonstruksi Independensi Akuntan Publik: Bagian 2
4. Rekonstruksi Independensi Akuntan Publik: Bagian 3

 

DAFTAR PUSTAKA

Arens, Alvin A., James K. Loebbecke, 1996. Auditing. Pendekatan Terpadu. Terjemahan. Penerbit Salemba Empat. Jakarta.

Al-Attas, Syed M. Naquib. 1981. Islam dan Sekularisme. Terjemahan. Penerbit Pustaka. Bandung.

Al-Faruqi, Ismail Raji. 1995. Tauhid. Terjemahan Indonesia. Penerbit Pustaka. Bandung

Al-Faruqi, Ismail, Lois Lamya’ al Faruqi. (1986). The Essence of Islamic Islamic Civilization. Terjemahan Indonesia dan disadur oleh Choirul Fuad Yusuf dari buku The Cultural Atlas of Islam, Macmillan Publishing Company, New York, 1986. Jurnal Ilmu dan Kebudayaan Ulumul Qur’an Edisi 1/VII/96.

Basyir, Ahmad Azhar. 2001. Falsafah Ibadah dalam Islam. UII Press. Yogyakarta.

Belkaoui, Ahmed Riahi. 2000. Teori Akuntansi Jilid 1 (Terjemahan), Jakarta. Penerbit Salemba Empat

Chapra, M. Umer. 1995. Islam dan Tantangan Ekonomi. Terjemahan. Gema Insani Press. Jakarta.

Citron, David B. 2000. The Framework Approach to Akuntan publik Independence and the Commercialization of the Accounting Profession. Six Interdiciplinary Perspectives on Accounting Conference. University of Manchester. 10-12 July.

Daud, Wan Mohd Nor Wan. 2003. Filsafat dan Praktik Pendidikan Islam Syed M. Naquib Al-Attas. Terjemahan. Penerbit Mizan Media Utama. Bandung.

Falk, Haim., Bernadette Lynn., Stuart Mestelman., Mohamed Shehata. 1999. Auditor Independence, Self Interested Behavior and Ethics: Some Experimental Evidence. Journal of Accounting and Public Policy. 18. pp 395-428.

Gambling, Trevor, Rifaat Ahmeed Abdel Karim. 1991. Business and Accounting Ethics in Islam. Mansell. London.

Garvey, Anne. (tt). Some Thoghts on Kohlberg’s “Stage 7”. Download internet.

Gunz, Sally. 1991. Some Unresolved Ethical Issue in Auditing. Journal of Business Ethics.

Hasanah, Nur. 2002. Hakekat Ibadah.: Ditinjau dari Segi Pengertian Hukum dan Hikmahnya. Penerbit Bintang Usaha Jaya. Surabaya.

Hurlock, Elizabeth B. 1990. Perkembangan Anak. Jilid 2. Edisi Keenam. Terjemahan Indonesia. Penerbit Erlangga. Jakarta.

Iqbal, Muhammad. 1966. Membangun Kembali Pikiran Agama dalam Islam. Terj. Indonesia. Penerbit Tintamas. Jakarta.

Irianto, Gugus. 2003. Skandal Korporasi dan Akuntan. Lintasan Ekonomi. Vol. XX, No. 2. Juli.

Jalaluddin. 2001. Teologi Pendidikan. Rajawali Press. Jakarta.

Rahardjo, M. Dawam. 1994. Ensiklopedi Al-Qur’an: Abd. Ulumul Qur’an. Jurnal Ilmu dan Kebudayaan. No. 1. Vol. V. Jakarta.

Jensen, Michael C, William H. Meckling. 1976. Theory of The Firm : Managerial Behaviour, Agency Cost and The Ownership Structure. Journal of Financial Economics 3. pp 305-360

Jeppesen, Kim Klarskov. 1998. Reinventing Auditing, Redefining Consulting and Independence. The European Accounting Review.

Hameed, Shahul bin Hj. Muhamed Ibrahim. 2000. Nurtured by “Kufr”: The Western Philosophical Assumption Underlying Conventional (Anglo-American) accounting. International Journal of Islamic Financial Services. Vol. 2 No. 2.

Harahap, Sofyan Syafri. 2001. Menuju Perumusan Teori Akuntansi Islam. Pustaka Quantum. Jakarta.

Hardjapamekas, Erry Riyana. 2002. Skandal Akuntan: Kecelakaan atau Keserakahan? Kolom. Majalah Tempo. No. 20/XXX1/15-21 Juli.

Hoesada, Jan. 1997. Etika Bisnis dan Etika Profesi Dalam Era Globalisasi. Makalah Konvensi Nasional III Ikatan Akuntansi Indonesia.

Ikatan Akuntan Indonesia. 2001. Standar Profesi Akuntan Publik. Penerbit Salemba Empat. Jakarta.

Kumalasari, Puput Tri., Jose Rizal Joesoef. 2002. Peran Informasi dan Self Serving Bias dalam Auditing Game: Uji Terhadap Independensi Akuntan publik. SNA 5 IAI-KApd, Semarang, 5-6 September.

Kartanegara, Mulyadhi. 2003. Menguak Tirai Kejahilan: Pengantar Epistemologi Islam. Penerbit Mizan. Bandung

Lee, Tom. 1994. Corporate Audit Theory. Chapman & l. London

Lovell, Alan. 1995. Moral Reasoning and Moral Atmosphere in the Domain of Accounting. Accounting, Auditing and Accountability Journal. Vol. 8 No. 3. pp 60-80.

Mahzar, Armahedi. 1983. Integralisme: Sebuah Rekonstruksi Filsafat Islam. Penerbit Pustaka. Bandung

Maryani, Titik., Unti Ludigdo. 2001. Survey Atas Faktor-faktor yang Mempengaruhi Sikap dan Perilaku Etis Akuntan. TEMA. Vol. II, Nomor 1, Maret.

Mautz, RK. Hussein A. Sharaf. 1993. The Philosophy of Auditing. AAA.

Poerhadiyanto, Deny., Tjiptohadi Sawarjuwono. 2002. Menegakkan Independensi Akuntan publik dari Pengaruh Budaya Jawa: Tata Krama, Suba Sita, Gelagat Pasemon. SNA 5. IAI-KApd. Semarang. 5-6 September.

Rahman, Fazlur. 1996. Tema Pokok Al-Qur’an. Terjemahan. Penerbit Pustaka. Bandung.

Reiter, Sara. 1997. The Ethics of Care and New Paradigm for Accounting Practice. Accounting, Auditing & Accountibility Journal. Vol. 10 No. 3. pp. 299-324.

Reiter, Sara Ann., Paul F. Williams. 2001. The History and Rethoric of Akuntan publik Independence Concepts. Download Internet.

Scott, William R. Financial Accounting Theory. Second Edition. Prentice l Canada Inc. 2000.

Setiawan, Wawan. Fraud : Suatu Tinjauan Teoritis. KOMPAK. Jurnal Akuntansi, Manajemen dan Sistem Informasi, Fakultas Ekonomi Universitas Teknologi Yogyakarta. Nomor 7, Januari – April. 137 – 154

Shihab, M. Quraish. 2000. Wawasan Al Qur’an. Tafsir Maudhu’I atas Pelbagai Persoalan Umat. Penerbit Mizan. Bandung.

Supriyono, RA., 1988. Pemeriksaan Akuntan (Auditing: Faktor-faktor yang mempengaruhi Independensi Penampilan Akuntan Publik. BPFE. Yogyakarta.

Susilo, Y. Sri. 2001. Mampukah Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) Menjadi Salah Satu “Pillars of Integrity” ? Masyarakat Transparansi Indonesia Online. http://www.transparansi.or.id

Tasmara, Toto. 2001. Kecerdasan Ruhaniah (Trancendental Intellegence). Gema Insani Press. Jakarta.

Triyuwono, Iwan. 1996. Perspektif dan Etika: Merekonstruksi Pengetahuan dan Praktik Akuntansi. Makalah Seminar Series FE Unibraw. Kumpulan tulisan Topik Akuntansi Keuangan : Akuntansi dan Agama.

Triyuwono, Iwan. 1997. Akuntansi Syari’ah dan Koperasi: Mencari bentuk dalam Bingkai Metafora Amanah. Jurnal Akuntansi dan Auditing Indonesia Vol. 1 No. 1, Mei. 3-46

Triyuwono, Iwan. 2000. Organisasi dan Akuntansi Syari’ah. LKis. Yogyakarta.

Vanasco, Rocco R. 1996. Akuntan publik Independence:an International Perspective. Managerial Auditing Journal. 11/9. pp. 4-48.

Vinten, Gerald. 1999. Audit Independence in the UK- the State of the Art. Managerial Auditing Journal. 14/8. pp 408-437.

Wan Daud, Wan Mohd Nor. 2003. Filsafat dan Praktik Pendidikan Islam Syed M. Naquib Al-Attas. Terjemahan. Penerbit Mizan. Bandung.

Wolk, Harry I., J.R. Francis, M.G. Tearney. 1989. Accounting Theory: A Conceptual and Institutional Approach. 2nd Ed.PWS-KENT Publishing Company. Boston.



[1] Kata Syar’i dalam al qur’an ( hanya 1 ayat) terdapat pada S. Al Jatsiyah : 18, yang berarti metode berdakwah. Yang lain adalah dua kata yang selalu beriringan Hukmu-Syariah yang berarti Hukum yang berdasarkan Wahyu.

[2] Kata tamaddun berasal dari kata madani menurut Dawam Raharjo berarti peradaban

5 thoughts on “REKONSTRUKSI INDEPENDENSI AKUNTAN PUBLIK: Bagian 4

  1. accounting cost experience managerial

    To the historic cost lover, the net book value of an asset is appropriately based on historic cost unless future revenues can\’t be expected to recover the carrying amount. It doesn\’t matter whether cost- covering revenues are scheduled for recogn…

  2. […] Mengapa independensi menjadi penting dalam koridor audit dan profesi akuntansi? Artikel ini berupaya melakukan telaah atas Independensi Akuntan Publik dalam Perspektif Islam. Artikel ini dibagi menjadi empat bagian utama sebagai berikut: 1. Pendahuluan (silakan klik di sini) 2. Pergeseran Konseptual Independensi Akuntan Publik (silakan klik di sini) 3. Independensi Akuntan Publik dan Sekularisasi (silakan klik di sini) 4. Desekularisasi Independensi Akuntan Publik (silakan klik di sini) […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s