TERBANG DENGAN MANDALA AIRLINES: TIDAK MEMUASKAN PELANGGAN


            Berikut ini saya menuliskan pengalaman tidak mengenakkan dari Ayah saya yang sudah berumur 70 tahun dengan menggunakan maskapai penerbangan nasional, Mandala Airlines. Pengalaman terbang Ayah saya menggunakan Mandala memang tidak sekali ini. Tetapi yang saya dapat catat lebih detil datanya ya pas hari ini, ketika ayah saya terkatung-katung di bandara selama lebih dari dua jam. Informasi teknisnya adalah sebagai berikut: 
1. Pesawat Mandala Airlines rute Malang – Balikpapan
2. Flight Number RI 260
3. Rencana berangkat pukul 12.35.
4. Tanggal berangkat 31 Maret 2008
Jadwal ternyata tinggallah jadwal tanpa konfirmasi yang seimbang. Informasi yang diterima Ayah saya bahwa pihak Mandala menunda penerbangan selama dua jam (delay). Artinya, pesawat berangkat pukul 14.35. Yang jadi pertanyaan adalah mengapa bila penumpang menunda jadwal penerbangan harus menambah biaya dengan jumlah tertentu, minimal Rp 150.000,- (seratus lima puluh ribu rupiah)?
Kebijakan yang semena-mena ini seperti kebijakan ala Orde Baru, hehehe, yang kuat yang berkuasa. Ya karena pikiran Mandala sama persis dengan model perusahaan yang masih melihat produktivitas dan capaian organisasi bisnis perusahaan sebagai head line dan berujung pada bottom line laba. Head line Produktivitas dan Bottom line Laba jelas merupakan simbol self-interest perusahaan untuk kepentingan pemilik dan atau pemegang saham. Sedangkan masyarakat atau pelanggan? Ya itu hanya eksternalitas saja.
Ritmik kehidupan seperti ini jelas bertentangan dengan ritmik biologis yang selalu mempertimbangkan keseimbangan alam semesta. Kesalahan bottom line laba sebenarnya berakar pada head line produktivitas merupakan capaian ritualitas yang kering dan bermakna keserakahan sebagai antitesis keseimbangan dan menegasikan keseimbangan alam semesta dan menegasikan realitas “dalam” maupun “luar” kecuali realitas “kekuasaan”, yaitu pemilik serta pemegang saham.
Model perusahaan seperti ini adalah gaya bisnis yang sudah kuno, sekarang gaya bisnis lebih mengarah pada kepuasan pelanggan dan green image. Ya kalo gitu, Mandala Airlines berkacalah, ayo… ini abad 21, serangan neoliberalisasi dunia sudah di depan kita, masak gayanya masih gaya abad 20.


Ritme kehidupan produktif sebagai head line seharusnya mulai diorientasikan pada bottom line nilai tambah perusahaan untuk kepentingan penggiat organisasi, lingkungan di luar organisasi baik langsung maupun tidak langsung, berujung pada pertanggungjawaban kepada Allah SWT. Bottom line nilai tambah sebagai bentuk ritmik kehidupan dapat dicapai ketika ritmik produktivitas memang “menyenandungkan” keseimbangan dan bukan keserakahan. Ritmik produksi sebagai “head line” harus menggambarkan “cinta” dan “kehormatan” perusahaan dari realitas “dalam” dan “luar” secara utuh, dan bukan hanya realitas pemilik serta pemegang saham. Cinta adalah kepedulian mendalam dari lubuk jiwa perusahaan ketika mengelola perusahaan untuk menghasilkan produk dan selalu mengedepankan kekuasaan yang penuh kehormatan dan bukan kekuasaan penuh keserakahan.

3 thoughts on “TERBANG DENGAN MANDALA AIRLINES: TIDAK MEMUASKAN PELANGGAN

  1. mungkin benar mandala dulunya seperti itu, tapi tidak dengan mandala yang sekarang….. coba lagi naik mandala dengan armada baru, dijamin ketagihan euy….hehehehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s