AYAT-AYAT POLIGAMI: MENGAPA NORMATIF OKE, TAPI EMPIRIS REJEKTIF?


Oleh: AJI DEDI MULAWARMAN

 

POLIGAMI… kata yang tak pernah habis dibahas dan dijalankan sepanjang sejarah kebudayaan manusia. Mengapa misalnya Islam sampai memberikan legitimasi “ayat” mengenainya, itu bukanlah wacana yang mengada-ada. Meskipun, ayat tersebut juga tetap memiliki pemaknaan yang beragam. Tetapi bila ditarik pada garis yang tegas, poligami memang merupakan takdir “unik” kemanusiaan.

Mengapa kemudian masyarakat mengalami dualisme pikiran dan realitas memahami poligami?

  

Kalau media televisi dan film dapat dilihat sebagai representasi realitas, maka kita dapat melihat misalnya sitkom “Suami-suami Takut Istri” atau film “Berbagi Suami” . Belum lagi yang terbaru, “Ayat-ayat Cinta” yang fenomenal itu. Semuanya adalah representasi realitas masyarakat Indonesia.

Macam-macam bentuk penerimaan poligami. Lihat saja, salah satu kiai kondang terjerembab, mantan wakil ketua DPR-RI terguling dari posisinya, mantan wapres tetap menjalaninya dengan mekanisme “bayang-bayang”, atau bahkan pemilik warung makan ayam goreng franchise teguh menjalankannya,dll.

   

Poligami bahkan telah menjadi alat untuk pembunuhan karakter seseorang dalam “ketokohan sosial”. Seorang yang memiliki reputasi sosial “baik” akan masuk dalam “kubangan” celaan, cemoohan, dakwaan negatif, dan lain-lain, ketika mereka mendeklarasikan poligami. Poligami dapat menjadi alat menggulingkan saingan politik. Poligami dapat menjadi alat “bulan-bulanan” seseorang lewat media karena dianggap tidak menjunjung persamaan gender. Poligami dapat menjadi “senjata makan tuan” siapapun yang mendekatinya.

Akhirnya, yang terjadi adalah maraknya perselingkuhan, pologami terselubung, perzinahan, ramainya lokalisasi, sampai pernikahan sirri, dan berbagai mekanisme – yang katanya – pelampiasan syahwat laki-laki mengatasnamakan poligami. Begitulah nasib poligami yang terakomodasi dalam Al qur’an kita yang suci.

Secara umum sebenarnya masyarakat kita secara empiris selalu berpendirian “abu-abu” melihat obyektifitas poligami. Pada posisi resmi untuk kepentingan wacana publik, rejeksi terhadap poligami tetap terjadi bahkan mendekati “virus”, tetapi pada posisi resmi untuk kepentingan publik yang marjinal, poligami diterima.

Bila ditarik lebih jauh, gagasan poligami, dalam domain Islam, merupakan bagian normatifitas nilai yang diterima. Tetapi, pola penerimaannya menjadi bias ketika telah menjadi realitas empiris masyarakat Muslim. Apakah kemudian konsumsi publik maupun tradisi, poligami diposisikan pada “ruang abu-abu”? Dalam Islam, posisi abu-abu biasanya diletakkan pada koridor subhat.

Pertanyaannya kemudian, apakah benar realitas menjadi peran utama pergeseran makna poligami yang berada pada koridor “kebaikan” menjadi “subhat“? Ini yang saya juga masih tidak berani menjawabnya, mungkin saya salah menangkap “tanda-tanda” realitas maupun spiritualitas. Dan lebih penting lagi, saya “ternyata belum berani menerobos “tembok abu-abu” itu.🙂 Ya karena saya belum punya kemampuan “nekat” kali ya… AstaghfirullahaladzimWallahu’alam...

10 thoughts on “AYAT-AYAT POLIGAMI: MENGAPA NORMATIF OKE, TAPI EMPIRIS REJEKTIF?

  1. Kalau saya seeh, memandang poligami sebagai penegasan dominasi kaum “Adam” dalam kontek domain yang lebih luas. Bisa kita lihat ayat AQ yang berhubungan dengan soal bagi waris.
    Cacatan:
    Domain yang lebih luas bukan berarti bentuk penjajahan dari kaum pria.
    Uraian menarik mas, menambah persepsi soal poligami.
    Salam kenal, Haniiifa

  2. menurut saya poligami itu termasuk kebebasan berekspresi. wong pelaku “samen leven” atau seks bebas saja minta kegiatannya jangan dikutak-kutik dng alasan itu merupakan hak atau kebebasan. gitu lho…

  3. ak perempuan dan sekarang masih tidak menolak tuh.nothing wrong with poligami. tidak semua perempuan benci poligami, lihat saja, yg menjadi istri kedua pasti nyantai, ga ada yg protes. masalah muncul ketika istri pertama merasa tersaingi, cinta yg diterima tdk lagi 100%, tidak lagi menjadi the one n only. that’s my opininon,tengkyu
    *bakal byk protes dari kaum feminis kayanya neh gw*

  4. orang harus benar-benar memahami dan memaknai poligami sebagai ajalan akhir jika tidak ada pilihan lain. islam mengajarkan mionogami. silahkan cek korelasi ayat surat annisa dengan ayat lain…anda akan menemukan jawabnnya…

  5. poligami?????
    bagaimana kalau laki-laki dibalas dengan poliandri???pasti nga trima…

    qt posisikan diri kita pada orang lain…jangan menghukumi sesuatu dengan cara pandang kita sendiri,yang ada subyektivitas…

  6. sebagai ummat islam tentunya kita harus betul2 beriman dan yakin akan Allah dan Rosul nya,”poligami”termasuk hal yg di halalkan oleh agama islam…jadi ga ada alasan bagi siapapun utk mengharamkan nya…!!

    yg tidak setuju dengan poligami silahkan,tapi jangan sampe ketidak setujuan nya itu menjadikan kita mengharamkan sesuatu yg di halalkan oleh Allah swt…!!

    ingat…sebagai ummat islam,kita di larang mendahului Allah dan rosul nya…kalo Allah dan Rosul nya saja menghalalkan poligami,kenapa kita mengharamkannya??

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s