ISENG BROWSING: DAPAT ARTIKEL REPUBLIKA ONLINE DAN MALANG RAYA ONLINE


2008-07-02 09:56:00

Perbankan Syariah Harus Perbanyak Produk

  MALANG – Untuk meningkatkan raihan market share, perbankan syariah harus memperbanyak produk. Jika tidak, menurut pakar dan praktisi Perbankan Syariah DR Aji Dedi Mulawarman, tidak mungkin Perbankan Syariah bisa meraih market share itu hingga 5 persen. ”Target untuk bisa meraih 5 persen dari market share perbankan secara nasional itu dalam setahun ini tidak logis. Bahkan, menurut saya sangat tidak mungkin,” jelas Aji Dedi Mulawarman ini kepada wartawan usai meraih gelar doktor di Universitas Brawijaya Malang, kemarin (1/7). Menurut dia, pada tahun 2008 ini, market share perbankan syariah bisa mencapai 3 persen saja sudah bagus. Alasannya, berdasarkan portopolio dari 0 hingga mencapai 2 persen saja dibutuhkan waktu sekitar 10 tahun. Makanya, kata dia, meski Undang-undang Sukuk dan Perbankan Syariah sudah ada, gejala ekonomi yang ambruk sangat terasa. Sementara, akar produk asli perbankan yariah di Indonesia selama ini masih pada murabaha dan mudharabah. Sedangkan produk ijarah masih belum banyak. Seharusnya, kata dia, produk ijarah yang menyentuh sektor riil itu diperbanyak lagi. Dia sebutkan, seperti akar-akar ekonomi sektor riil yang jsutru bisa dijadikan andalan, karena memiliki potensi luar biasa. Dia contohkan, seperti sektor riil di bidang pertanian, prtambangan, perikanan dan sektor-sektor informasl lainnya. ”Produk-produk tersebut, harus pro rakyat. Salah satu indikatornya ya dalam syarat akad itu tanpa jaminan,” jelasnya. Menurut dia, perbankan syaraiah itu sudah seharusnya mengurus petai, pedagang dan pengusaha-pengusaha kecil di sektor riil dan informal. Begitu juga dengan produk qorbul hasan. ”Itu seharusnya dijadikan simbul sebagai produk unggulan,” katanya. Untuk itu, Adi Dedi Mulawarman ini mengatakan bahwa dalam akuntansi yang diterapkan harus menggunakan aliran idealis, yang pro rakyat. Selama ini, kata dia, akuntansi yang dipakai perbankan syariah masih banyak  yang pragmatis. Menyinggung soal pengeterapan akuntansi tersebut juga diakui Prof Dr Iwan Triwiyono. Menurut dia, Akuntansi Syariah di Indonesia itu memang ada dua aliran. Aliran pertama adalah aliran idealis sedangkan aliran kedua adalah aliran pragmatis yang standartnya menggunakan PSAK nomor 59 dan SAK 101-106. ”Itu merupakan konsep akuntansi modern yang dimodifikasi dengan memasukkan nilai-nilai syariah. Jadi, sifatnya hanya tambal sulam,” jelasnya. Sedangkan Aji Dedi Mulawarman, kata dia, menggali konsep akuntansi itu yang ideal. Sehingga, kata dia, apa yang dihasilkan memberikan kontribusi untuk kemaslahanan bersama. Alasannya, bukan persoalan capital yang ditonjolkan. Namun, dalam konsep nilai-nilai Islam, seperti masalah moral dan kejujuran. Dia menjelaskan, konsep semacam itu mensimulasi bangkitnya kesadaran pada Tuhan. Sehingga, dalam konsep akuntansi yang dipakai  berusaha untuk mendekatkan pada Allah. ”Sebab, bank syariah itu akan jebol, kalau tidak jujur dan bermoral,” jelasnya. Karena itu, kata dia, bukan capital sebagaimana bank konvensional yang diprioritaskan dan lembaga keuangannya. Namun,  kata dia, yang harus dikembangkan adalah ekonomi syariahnya. Sehingga, keberadaan perbankan syariah itu benar-benar berpihak pada rakyat, yang tidak mengharuskan adanya agunan dalam akad kerja sama antara pihak lembaga keuangan Perbankan Syariah dengan nasabahnya.   http://malangraya.web.id/2008/07/02/raih-doktor-berkat-laporan-keuangan-syariah/

2 JULI 2008…11:22 PM

Raih Doktor Berkat Laporan Keuangan Syariah

Laporan Keuangan Syariah yang disusun dari nilai-nilai syariah Islam belum dipraktikkan di Indonesia. Lembaga syariah yang ada masih mengadopsi laporan keuangan konvensional, yang sebenarnya tidak pas dengan prinsip syariah. Karena itu, Aji Dedi Mulawarman, mahasiswa program pascasarjana Universitas Brawijaya (UB) Malang mengangkatnya sebagai tulisan disertasi, dengan judul Laporan Keuangan Berbasis Tazkiyah: Mengembangkan Teknologi Akuntasi Syariah dari Realitas Masyarakat Muslim Indonesia. “Hasil disertasi ini rencananya akan diminta BMT center Jakarta untuk bisa diaplikasikan di BMT yang ada di Indonesia. MoU nya sudah dibuat minggu lalu,” ungkapnya. Pria yang juga menjabat sebagai Direktur Masjidil Ilm Bani Hasyim Singosari ini menuturkan laporan keuangan konvensional sebenarnya belum mengakomodir prinsip syariah. Perbedaan pokok adalah selama ini keuangan syariah baru mengeluarkan biaya untuk zakat, halal, dan toyib setelah laba diperoleh. Sehingga pengeluarannya dikeluarkan sebagai biaya. Padahal zakat ini digunakan untuk tujuan pensucian harta. Sehingga seharusnya sesuai prinsip syariah, zakat dikeluarkan terlebih dahulu sebelum dibelanjakan. Keuntungan yang didapatkan jika menggunakan laporan keuangan syariah menurut pria yang juga menjabat Direktur Lembaga Riset Keuangan Syariah Tjokro Aminoto Yogyakarta ini perusahaan tidak hanya mendapatkan keuntungan saja. Tapi, juga rezeki yang barokah, dan bisa mempertanggungjawabkan kepada Tuhan. “Laporan konvensional tidak sesuai dengan nilai syariah, dan yang diuntungkan hanya pemilik perusahaan saja,” tegasnya. Dedi kemarin mendapatkan gelar doktor dengan predikat cumlaude. Dengan promotor Prof Iwan Triyuwono SE Ak Mec Phd, dan ko promotor Gugus Irianto SE Ak MSA Phd, dan Dr Unti Ludigdo SE Ak Msi. (oci/udi) (Rosida/malangpost)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s