Kontroversi, Kontradiksi, Antitesis: Dimana Kebenaran?


Dunia kita, yang bernama bumi ini, memangkah menyediakan tiga perangkat agenda kemanusiaaan, kontroversi, kontradiksi dan antitesis? Kontroversi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti perdebatan, pertentangan, persengketaan. Kata kontroversi dengan demikian mengandung arti ketidaksepakatan atas satu hal. Kontradiksi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti pertentangan antara dua hal yg sangat berlawanan atau bertentangan. Bila dilihat kata kontroversi dan kontradiksi sebenarnya memiliki makna sama, yaitu ketidaksepakatan atas satu hal yang sedang diperbincangkan. Sedangkan kata antitesis menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia lebih tegas berkenaan dengan pertentangan, yaitu pertentangan yg benar-benar.

Kata kontroversi, kontradiksi dan berujung pada antitesis merupakan kata yang jelas-jelas merupakan realitas serta menjadi simbol bahasa atau komunikasi manusia. Artinya, ketiga kata itu sebenarnya adalah kata-kata yang merepresentasikan realitas perbedaan. Realitas perbedaanpun sebenarnya merupakan hal lumrah menurut tradisi-tradisi kebudayaan manusia sejak manusia hadir di dunia. Adam as. sebagai manusia suci sebelum turun ke bumi bahkan pernah melakukan langkah kontroversial, yaitu memakan buah khuldi. Dua Anak Adam as. di bumi pun juga telah melakukan langkah kontradiktif dengan norma kemanusiaannya. Dan saat inipun setiap manusia yang terganggu dengan kemapanan selalu melakukan penyeberangan pemikiran dengan pemikiran lainnya. Jadi, perbedaan itu adalah fitrah manusiakah? Atau harus ada di setiap realitas sosiologis?

Kalau dunia memang memberikan wadah bagi terjadinya kontroversi, kontradiksi dan antitesis segala sesuatu, apakah kita harus menghindarinya? Atau kita harus menembus ketiganya, untuk mendapatkan kebenaran hakiki? Atau memang kebenaran yang hakiki adalah kontradiksi, kontroversi dan antitesis itu sendiri? Atau dibalik ketiganya terdapat kebenaran hakiki? Atau bahkan tidak ada kebenaran hakiki? Tetapi yang ada adalah ketidakbenaran hakiki?

Yang jelas, mengapa Allah menegaskan kepada kita bahwa setiap muslim harus dapat memegang 6 (enam) hal berkenaan dengan keyakinan yang tidak dapat dipertentangkan menjadi kontroversi, kontradiksi maupun antitesis. Itulah yang disebut dengan Keimanan Muslim, Keyakinan Muslim. Keyakinan tentang Tuhan, Keyakinan tentang Malaikat, Keyakinan tentang Kitab-kitabNya,  Keyakinan tentang Kerasulan, Keyakinan tentang Akherat, Keyakinan tentang Qada dan Qadar. Kebenaran mutlak di dunia ini ternyata masih ada, kalau kita percaya atas enam point keimanan tersebut. Kebenaran mutlak seperti ini memang harus bebas dari kontroversi, kontradiksi dan antitesis. Enam hal itulah yang dijaga oleh Allah untuk tidak diperdebatkan, tetapi harus menjadi keyakinan dan kebenaran mutlak itu sendiri.

Artinya ada enam hal dalam realitas kemanusiaan, yang tidak dapat dipertentangkan. Di luar keyakinan itu kontroversi, kontradiksi dan antitesis dapat dilakukan. Di luar keenam hal itu, dapat dilakukan perdebatan untuk menunjukkan kebenaran lain selain kebenaran itu sendiri. Kalau begitu apakah di luar enam keyakinan itu pasti terdapat kontroversi, kontradiksi dan antitesis yang dapat dibenarkan? Benarkah begitu? Apakah pertanyaan tentang “benarkah begitu” inipun telah memunculkan kontroversi, kontradiksi dan antitesisnya sendiri? Apakah penegasan atas enam hal itu juga merupakan kontradiksi, kontroversi dan antitesis pula? Bagi saya enam hal itu jelas final sebagai kebenaran mutlak. Menurut anda?

8 thoughts on “Kontroversi, Kontradiksi, Antitesis: Dimana Kebenaran?

  1. Justru saya sedang mencari arti kebenaran hakiki.
    oleh karena itu saya mencari artikel-artikel supaya saya dapat mengerti apa itu kebenaran yang hakiki?
    Sebelumnya saya telah membaca sedikit artikel yang menyatakan bahwa kebenaran itu terdapat pada diri sendiri tapi anehnya orang mencari kebenaran di luar! Artikel itu berpendapat bahwa kebenaran sering dikaitkan dengan kata pembenaran. Oleh karena itu banyak orang bertanya kepada orang lain “sudah benarkah yang saya lakukan?”
    Mohon untuk menambahkan arti kebenaran yang ada.

  2. buat saya pribadi, kebenaran itu hanya punya tuhan, manusia sumber salah, jadi untuk mencapai kebenaran yang benar2 hakiki itu gak mungkin, soalnya manusia banyak luputnya

    tentang statemen mas nya yang
    Atau memang kebenaran yang hakiki adalah kontradiksi, kontroversi dan antitesis itu sendiri?
    mungkin kalo kontradiksi dkk itu dikatakan kebenaran yang hakiki, gak mungkin menurut saya, antitesis atau kontradiksi dkk itu cuman bahan bakar yang digunakan tesis untuk menuju pemahaman yang lebih baik (syntesis)

    (pemahaman yang saya maksud bukan kebenaran hakiki, namun bisa dibilang kebenaran yang lebih baik dari apa yang kita anggap benar di awal sebelum terjadi kontradiksi)

    kebenaran yang hakiki, sia2 mas kalo dicari, yang manusia bisa perbuat menurut saya hanya berjalan menuju kebenaran yang hakiki, tapi buat mencapai kebenaran yang hakiki saya rasa tidak mungkin,

    trus menurut saya pribadi juga, kalo kita ngotot nyari kebenaran yang hakiki dia tuh orang idealis yang egois, kenapa? soalnya dengan kita mencari2 apa yg dimaksud kebenaran hakiki, kita udah meninggalkan orang2 yang gak paham dengan kebenaran hakiki itu, kita acuh tak acuh sama mereka, kita mau bener sendiri, menurut saya lebih keren kalau kita berada ditengah2 aja, diantara kebenaran dan kebatilan, karena menurut saya, orang yang bijak itu, bukan orang cerdas atau orang sakti, tapi orang bijak ialah orang mampu berada ditengah2 dalam menghadapi masalah, maupun menghadapi orang, mengapa harus ditengah2? karena udah hukum alam kalo ada (-) ya ada (+) kalo ada tesis ya ada antitesis, kalo ada tesis doang tapi gak ada antitesis, si tesis gak bisa dibilang tesis, tiap kebaikan pasti akan menarik kebatilan udah pasti banget kayak gitu, yang hal terbaik bisa kita lakukan hanyalah berada ditengah-tengah, ditengah-tengah bukan berarti hanya diem doang
    (nah ini nih yang jadi pertanyaan saya, kalo udah ditengah2 kita mau ngapain) hehe

    terus saya setuju banget sama kata2 mas yang ini
    Allah menegaskan kepada kita bahwa setiap muslim harus dapat memegang 6 (enam) hal berkenaan dengan keyakinan yang tidak dapat dipertentangkan

    bener banget, semua ilmu pasti ada pengecualiannya, bahasa londonya exception, mungkin kalo dalam filsafat, ada hal yg gak bisa dijelaskan dan dibuktikan, itu adalah tuhan, kita gak berhak menghakimi, ata memperdebatkan tuhan, itu cuman orang2 bego dan sok tau yg memperdebatkan tentang tuhan,
    yang mungkin bisa ditarik kesimpulan kalo kita kebablasan mencari apa yg dimaksud kebenaran hakiki, ending2nya kita bakalan mempertanyakan tentang tuhan, mengapa? karena kebanyakan orang bilang kebenaran hakiki ada dituhan, dan karena yang kita cari adalah kebenaran yang hakiki maka otomatis kita nyrempet2 deh ke wilayah ketuhanan dkk, trus mulai mempertanyakan eksistensi tuhan, trus bingung sendiri, mentok2 kalo misalnya salah kapra, sombong diri deh, trus jadi atheis. yah jadi sia2 deh pencarian kita tentang kebenaran hakiki kalo endingnya nyungsep gitu, haha

    ,monggo, terimakasih, saya lagi tertarik dngn sejarah pergerakan nasional nih, kalo ada yg mau diskusi, atau memberi masukan, mungkin bisa dikirim ke email saya. marii

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s