ISLAH di HMI: MASALAH POLITIK ATAU KULTURAL?


Oleh: Aji Dedi Mulawarman

Ada “unsur politis menjelang pemilu” yang kalo bagi saya orang HMI MPO lama, alumni HMI MPO yang memang punya tradisi “budaya” daripada tradisi “politis”. Islah tidak penting dan tidak perlu dibesar-besarkan kalo itu masih di masa-masa mendekati pemilu. Karena berdasarkan insting “budaya” saya, kalo islah dikedepankan pada saat menjelang pemilu, itu artinya ada kemasan politiking agar HMI MPO “suka tidak suka” atau “mau tidak mau” tergiring pada Satu HMI, terus untuk politik Pemilu? wiiii…..serem deh. 

Kalo ingin jawaban dalam tradisi “budaya”, ya islah jangan menjelang pemilu deh, nanti aja kalo udah selesai pemilu, dibicarakan lagi, ya kalo memang islah penting monggo, kalo ternyata gak penting, ya gak usah kan. gitu aja kok repot…Hehehehe…siapa mau komentar pake tradisi “politik”? ditanggung, kalo kader atau alumni MPO bikin analisis politik pake tradisi “politik” pasti hasilnya tidak bermutu…atau memang saya yang salah ekspektasi HMI sekarang ya? Atau memang MPO memang sudah bergerak dari tradisi “budaya” ke tradisi “politik”? Who knows…

Beberapa waktu lalu, tanggal 12 Agustus 2008 saya berkesempatan mampir di jogja, tepatnya diminta menjadi salah satu pembicara dalam acara Studium General HMI MPO Cabang Yogyakarta yang diadakan di Gedung Pertemuan FH-UII Jalan Taman Siswa Jogjakarta. Nah berita di balik itu  saja yang saya ceritakan. Kalau mengenai acaranya sendiri, ya gitu-gitu deh, diskusi dan tanya jawab. Hadir dalam acara tersebut di antaranya Ketua Umum PB HMI-MPO Sahrul Effendi Dasopang, Ketua Komisi Pemuda dan Kemahasiswaan PB HMI Azwar M. Syafei, Pengurus Badko dan Formatur HMI Cabang Yogya yang akan dilantik PB. Alumni juga hadir. Yang penting dari acara itu bagi saya adalah salah satu tempat untuk ketemu dengan teman-teman lama dan para penggiat HMI MPO yang semangatnya, dalam bahasa gerakan disebut ghirah (arab atau Islam? tidak penting, yang penting adalah kata ghirah itu selalu menempel untuk memberi suntikan semangat Islami selama kita jadi manusia, ya kan?),😀 , masih tersirat di seluruh wajah mereka. 

Yang unik dan masih tidak hilang dari belasan tahun lalu ketika saya jadi aktivis di HMI MPO adalah, kemiripan dialog baik di dalam forum resmi maupun di luar forum. Perbedaan di luar forum dan di dalam forum resmi ya memang ada. Kalau di dalam forum resmi, diskusinya SERIUS mengenai tema gerakan, tema interaksi dan diskursus intelektual, gerakan kemahasiswaan ekstra dan intra kampus, perubahan budaya, transformasi sosiologis, agenda konseptual yang perlu dilakukan, pentingnya HMI sebagai perubah, sampai agenda konkrit yang perlu dilakukan setelah agenda konseptual digulirkan. Keseluruhan budaya tersebut tercermin baik melalui visi komisariat, visi cabang sampai visi pengurus besar, yang semua lini tersebut biasanya berujung di visi utama pengurus besar dan menjadi payung seluruh visinya. Nah kalau di luar forum, ya karena di luar forum bentuknya mesti beda, apa yang menjadi agenda diformat dalam silaturahmi, budaya diskusi informal ala MPO, diskusi non formal nan renyah, diselingi joke-joke, pokoknya tema tetap muncul tapi formatnya santai, diselingi makan bareng, nongkrong bareng, bercanda bareng, dan lainnya. 

Contohnya, ya seperti ketika saya nunggu di luar forum, sebelum stadium general berlangsung, dan sekaligus nunggu pelantikan pengurus cabang oleh PB. Di luar forum resmi, ada saya, ada fattah hidayat, ada zubeir, ada mbak shomiyatun, ada azwar, ada sahrul. Waktu nanggapi isu Islah HMI MPO dan DIPO ya dengan diskusi informal nan segar dan renyah, bahkan lebih banyak joke-joke unik. Setiap omongan apapun terus digiring ke satu kata ISLAH (baik istilah “Islah berkonotasi tidak setuju” maupun “setuju Islah dengan syarat”, tapi yang berkembang dan lebih diminati di diskusi informai itu ya tidak ada kesepakatan untuk menyetujui Islah, artinya “Islah berkonotasi tidak setuju” yang lebih diminati)…lucu deh pokoknya. Ya pak Ketum PB memang sempat klarifikasi agak serius, bahwa tidak mungkin terjadi Islah secara organisasi, tapi yang dilakukan adalah Islah untuk saling menghargai masing-masing organisasi. Artinya tidak mungkin ketum PB HMI MPO melakukan  islah secara langsung tanpa persetujuan organisatoris. Tapi karena kita ini alumni MPO, ya kita tidak punya hak apapun terhadap keputusan organisatoris di seluruh tingkatan. Dan sudah jadi tradisi MPO alumni tidak boleh cawe-cawe atau ikut intervensi kebijakan apapun yang dilakukan oleh MPO baik di PB, Cabang, sampai Komisariat. Jadinya, paling kita bisa diskusi renyah aja. Tanpa ada intervensi maupun kepentingan alumni yang perlu dibahas. Ya paling kita kangen-kangenan, saling silaturahmi biar lebih kental hubungan antara alumni dengan aktivis masa sekarang. 

Budaya seperti itu memang khas HMI-MPO, agenda politik tidak pernah jadi panglima di atas segalanya, yang jadi panglima adalah keikhlasan untuk berjuang dengan lapang dada. Artinya kultur HMI-MPO yang lama dan MPO sekarang relatif masih sama, perbedaannya hanya pada orang-orang baru, tantangan baru, ya sense of crisis yang relatif unik di masing-masing jaman, style of movement juga beda. Kesamaannya adalah pada karakter budaya MPO yang tidak mementingkan politik praktis sebagai basis gerakan, politik praktis bagi gerakan teman-teman ya dapat serius ketika menjelang pemilihan senat kampus dan aktivitas kampus lainnya. Ya kalo itu saya pikir itu adalah salah satu agenda kepemimpinan dan pelatihan politik. Artinya, setiap anggota HMI-MPO memang tetap perlu memiliki sense of politics sebagai salah satu “sangu” masa depan ketika berhadapan dengan realitas kemasyarakatan maupun perpolitikan praktis di Indonesia. Atau juga penting untuk masalah kecil seperti Islah seperti sekarang ini, tapi jadi besar, karena ada “unsur politis menjelang pemilu” yang kalo bagi saya orang MPO lama, alumni MPO yang memang punya tradisi “budaya” daripada tradisi “politis” Islah tidak penting dan tidak perlu dibesar-besarkan kalo itu masih di masa-masa mendekati pemilu. karena berdasarkan insting “budaya” saya, kalo islah dikedepankan pada saat menjelang pemilu, itu artinya ada politiking dikemas agar MPO suka tidak suka, mau tidak mau tergiring pada Satu HMI, terus untuk politik Pemilu? wiiii…..serem deh. Kalo ingin jawaban dalam tradisi “budaya”, ya islah jangan menjelang pemilu deh, nanti aja kalo udah selesai pemilu, dibicarakan lagi, ya kalo memang islah penting monggo, kalo ternyata gak penting, ya gak usah kan. gitu aja kok repot…Hehehehe…siapa mau komentar pake tradisi “politik”? ditanggung, kalo kader atau alumni MPO bikin analisis politik pake tradisi “politik” pasti hasilnya tidak bermutu…atau memang saya yang salah ekspektasi HMI sekarang ya? Atau memang MPO memang sudah bergerak dari tradisi “budaya” ke tradisi “politik”? Who knows…

12 thoughts on “ISLAH di HMI: MASALAH POLITIK ATAU KULTURAL?

  1. bukan masalah cerai atau rujuk, tapi politiking di otak setiap kader maupun harus dihilangkan dulu. harus ada pola pikir ikhlas dalm koridor memajukan peradaban dan bangsa. bukan untuk kepentingan pemilu 2009 atau 2014 atau pemilu seterusnya doang-wang-wang-wang….

  2. gimana kalau yang korupsih langsung dihukum seumur hidup!!!
    otomatis bangsa indonesia akan makmur dansejah tera
    ngak bakalan ada yang kurang gizilagi,pengangguran,dan putus sekolah

  3. kalu menurut saya yang korupsih langsung dihukum seumur hidup
    saya berani jamin indonesia pasti akan makmur dan sejahtera
    begitulah jalan satu2 nya supaya indonesia makmur, ngak bakalan ada yg kurang gizi, putus sekolah dan pengangguran otomatis nilai rupiah semakin meningkat dan kuat dan indonesia akan di segani oleh negara lain

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s