REFLEKSI PENDIDIKAN DI HARI MERDEKA


REFLEKSI PENDIDIKAN DI HARI MERDEKA

Oleh: Aji Dedi Mulawarman

Tulisan ini sebenarnya sudah berumur satu tahun, karena ditulis pada tahun 2007 lalu. Tapi kelihatannya masih relevan dengan kondisi pendidikan saat ini. Karena pendidikan saat ini tidak pernah bergerak dari pusaran utamanya, yaitu sekularisasi. Penyelesaian masalah pendidikan tidak pernah menyentuh akarnya, yaitu sekularisasi. Jadi, ya gini ini sudah 63 tahun merdeka masih amburadul.

Mengapa banyak doktor dan ilmuwan Indonesia tetapi juga banyak korupsi di seluruh kehidupan Indonesia kita? Mengapa terjadi “kooptasi” teknologi informasi, transportasi, energi dan lain-lain oleh asing di tengah membanjirnya teknolog LIPI, Nurtanio, dan konco-konconya yang banyak ide dan penemuan yang tak kalah dengan luar negeri? Mengapa terjadi kesenjangan kepemilikan dana triliunan di tangan 300-an konglomerat dan hanya “receh” bagi lebih 16 juta usaha mikro, kecil, menengah dan koperasi? Mengapa ekspatriat gajinya lebih tinggi dari tenaga kerja kita yang belum tentu kalah keilmuan, kecerdasan dan ketrampilannya? Mengapa Perancis, Jepang atau Korea misalnya ketika buku asing yang masuk harus diterjemahkan dalam bahasa ibu mereka? Mengapa juga mereka sangat bangga berbicara dengan bahasa ibu di forum-forum Internasional?  Tetapi kita bangga dengan membaca dan mengkoleksi ribuan buku asing di rumah dan perpustakaan sekolah atau perguruan tinggi, atau bangga kalau kita telah fasih berbahasa “yes it’s right” itu? Mengapa himbauan almarhum Soedjatmoko untuk menterjemahkan seluruh buku asing dianggap angin lalu? Mengapa hampir seluruh simbol bahasa asing selalu tertempel di sudut rumah, sekolah, kota dan iklan maupun fim-film kita? Mengapa ribuan sekolah (yang katanya tempat membangkitkan moral bangsa) roboh dan ditangani dana minimal dan dibarengi pembangunan mall-mall megah dan beraset miliaran menawarkan kenikmatan materi dan duniawi?  Mengapa ketika eksekutif ditanya realisasi 20% dana pendidikan yang merupakan amanat UUD 1945 dan UU Sisdiknas hal itu masih perlu dipertimbangkan matang-matang? Tetapi ketika gaji ketiga belas dan naiknya “sangu” tiap tahun anggota dewan yang terhormat direalisasikan, mereka menjawab itu amanat peraturan yang harus dilaksanakan segera, padahal peraturan itu sebenarnya tidak ada “giginya” dibanding UUD dan UU? Mengapa banyak yang katanya “oknum” bupati, gubernur, direksi BUMN yang gajinya “wow” tapi masih korupsi dana bencana, dana rehab sekolah, dana abadi umat Islam atau para konglomerat pengemplang utang sulitnya minta ampun diadili dan dipenjara atau dihukum mati sekalian seperti di Tiongkok? Tetapi maling ayam, maling istri orang, copet, garong cepat sekali dipegang atau ditembak kakinya, disel dan “dikuras” hartanya oleh banyak “oknum” aparat?

Belajar dari Sejarah

Banyak lagi yang tak dapat ditulis dan kita jawab sampai 63 tahun negeri ini merdeka. Saya kira pusat seluruh pertanyaan di atas adalah sistem pendidikan kita yang amburadul. Karena katanya pendidikan dinamis adalah ruh gerakan peradaban. Kata-kata ini sebenarnya tidak berlebihan bila kita memahami lebih jauh. Karena peradaban akan mandeg dan tergilas oleh kekuatan peradaban lain ketika ada gagasan, ide, sains, teknologi, budaya yang berada dalam lingkup masyarakat tidak tertransformasi dengan subur. Pendidikan dinamis memang hakikatnya adalah salah satu media utama transformasi ilmu, spiritualitas dan moralitas melanjutkan kelestarian peradaban. Jatuhnya peradaban salah satu penyebab utamanya adalah mandegnya pendidikan. Yunani telah mengembangkan peradaban yang unggul di bidang keilmuan, dilanjutkan Peradaban Teknologi Romawi yang luar biasa. Tetapi ketika Yunani mulai korup di kalangan elitnya dan Romawi meninggalkan tradisi keilmuan dan menggagas teknologi yang “kering” maka terjadilah kehancuran. Bangkitnya Islam lewat Muhammad dengan pesan religius Iqro’ dengan nama Tuhanmu, proses pendidikan memulai langkahnya dan berujung pada peradaban tak tertandingi siapapun di dunia. Sebaliknya ketika Al Ghazali yang ilmuwan dan praktisi pendidikan di jamannya secara tidak langsung “memukul mundur pasukan dinamis pendidikan” menyebabkan proses ijtihad mandeg. Konsekuensinya pendidikan menjadi jumud, proses tranformasi ilmu menjadi dogmatis dan kering internalisasi aktif para penyelenggara dan peserta didik.

Menggagas sistem pendidikan memang tidak dapat dimulai dari titik tengah sistem pendidikan dari Peradaban yang mapan dan dipaksakan untuk menyesuaikannya dengan “style” lokalitas. Proses seperti itu jelas membuat sistem pendidikan yang terbentuk kemudian menjadi “tambal sulam” dan bahkan dapat mengkoyak-koyak sistem pendidikan itu sendiri. Hasilnya dapat kita lihat di negara kita tercinta ini, ketika terjadi reformasi 1998 sebagai titik kulminasi sistem pendidikan tambal sulam itu. Penjarahan dimana-mana, pemerkosaan, amburadulnya sistem politik, deklinasi ekonomi makro, ribuan triliun hutang, triliunan rupiah korupsi oleh beberapa gelintir orang, turunnya Indonesia menjadi negara miskin dan berujung pada krisis nasional. P4 sebagai ujung tombak dari Moralitas Sistem Pendidikan Pendidikan yang menghabiskan dana ratusan miliaran (atau triliunan rupiah?) tidak membuahkan hasil apa-apa kecuali sertifikat yang sekarang tidak ada gunanya lagi. Mungkin bukan P4 yang salah, tetapi ketika dasar pijakan kurikulum yang berbasis Peradaban Barat tetapi dipermanis dengan filosofi Pancasila untuk menjadi Sistem Pendidikan Nasional (apakah itu Kurikulum 1984, KBK atau Kurikulum 2006), yang terjadi adalah bubrahnya moralitas bangsa kita. Pembuatan kurikulum yang tidak pada tempatnya, pasti merusak kepribadian bangsa ini.

Sekularisasi Pendidikan

Sekali lagi pusat kurikulum dan sistem pendidikan kita hanyalah adopsi dan mencontoh habis-habisan tanpa menilik jauh ke dalam filosofi dan pandangan hidup sistem pendidikan Barat yang katanya telah menjadi Peradaban Superior itu. Gagasan pendidikan Barat adalah Sekularisasi yang tidak mau mengakui agama sebagai bagian penting sistem pendidikan, agama hanya sebagai pelajaran moral di rumah dan untuk kepentingan individu. Sistem Pendidikan Barat memang berbasis Kapitalisme yang mementingkan kekayaan dan kesejahteraan Self-Interest dan dibangun dari gagasan Antroposentristik. Setiap manusia adalah Super di atas segala sesuatu. Tuhan dianggap pensiun atau bahkan dianggap tidak ada.

Kalaupun diterapkannya agama dalam kurikulum pendidikan Indonesia, agama hanya 2 sks dari total 160-an sks setiap jurusan di perguruan tinggi, agama hanya 2 jam pelajaran dari total 30 sampai 40-an jam pelajaran di sekolah dasar dan menengah. Kalaupun agama juga dijajar dengan sks atau jam pelajaran yang banyak dari beberapa sekolah yang mulai sadar kesalahan filosofi sistem pendidikan nasional, malah memberi muatan otak manusia Indonesia penuh sesak. Toh tetap seja agama dan moralitas merupakan kotak dan bagian tersendiri dari sains sosial, sains alam, akuntansi, ekonomi, teknik mesin, elektronika, budidaya pertanian, budidaya kehutanan, teknologi informasi, pertambangan umum, perminyakan, geologi, dan lain-lain bahkan materi moralitas atau psikologi-pun. Tidak ada sinergi apapun disana.

Transfer ilmu dipenuhi intervensi dogma, repetisi, memorisasi dan aplikasi empiris-materialistik untuk diterapkan habis-habisan di seluruh peri kehidupan kita. Kalau ada perubahan seperti interpretasi, kritik dan rekonstruksi itu hanya bersifat empiris-materialistik saja. Hasilnya banyak lulusan kita, berdemo ketika nilai UAN tidak meluluskan mereka, banyak pembalakan liar hutan kita oleh para praktisi bisnis, banyak penipuan dan korupsi para teknokrat dan “blue collar” kita, banyak para kepala desa, bupati, gubernur dan seluruh aparat yang menggerus uang negara. Atau semua aktivitas kehidupan kita dihitung dengan keuntungan yang ukurannya uang. Yang tidak kalah serunya, makin banyak penghuni sel-sel yang sudah tidak tertampung sarana prasarana penjara kita. Tetapi mereka-mereka ternyata masih suka berdoa, ke masjid, gereja, berhaji, berzakat, menyumbang korban bencana, dan kebaikan lainnya. Aneh kan? Ya masih banyak sih orang Indonesia kita, pengusaha, pejabat, orang biasa yang punya nurani dan bersih hatinya. Tapi apa daya mereka adalah bagian terkecil dari lulusan sistem pendidikan kita yang amburadul itu.

Masuk Pada Inti Sistem Pendidikan

Kenapa tidak melakukan penggalian dan penerapan keilmuan yang memiliki nilai-nilai yang kata Schumacher bersifat holistik dalam diri manusia yang tidak terpotong-potong, yaitu potensi manusia yang bersifat materi, hidup, memiliki conciousness dan awareness, atau dalam bahasa mudahnya bersifat materi, intelektual, rasa, batin-intuitif dan spiritual kata para ilmuwan pendidikan seperti Wan Daud, Al-Attas, Abuddin Natta, Mujamil Qomar, Nasr, Ahmad Dahlan, Hasyim Asy’ari, HOS Cokroaminoto, Natsir dan banyak lagi?  Itu yang juga dikatakan UUD 1945 kita atau Sisdiknas, untuk menjadi manusia yang beriman, bertakwa, bermoral, cerdas, terampil secara utuh dan bukan terpisah-pisah atau bukan menekankan potensi tertentu dan meng’anak-tirikan’ yang lain. Kiranya penting berpikir melakukan perubahan mendasar sistem pendidikan yang memang dari realitas kemasyarakatan kita yang religius dan penuh nilai-nilai moral hakiki. Tujuan pendidikan harus diterapkan dengan benar pada sistem pendidikan dan kurikulum yang segaris dengan UUD dan UU Sisdiknas kita, serta dipahami para guru kita. Kalaupun ingin meniru ya jangan “nyontek” punya orang to? Tetapi mempelajari dan membangun dari nilai kita sendiri. Itulah hasil kita “nyontek” sistem pendidikan orang. Hasilnya dianggap tidak ngerjakan tugas dan diberi nilai E, F atau Nol. Merdeka!!!

3 thoughts on “REFLEKSI PENDIDIKAN DI HARI MERDEKA

  1. saya sangat terharu ketika membaca tulisan anda dan saya juga ingin bertanya bagaimana dengan perubahan iain menjadi uin bukankah itu termasuk sekularisasi pendidikan,apa yang akan terjadi apabila iain jadi uin penggeseran nilai-nilai agama yang ada di iain akan dibunuh dan dibenamkan oleh pendidikan umum..

  2. kalau pendidikan di IAIN yang kemudian berubah menjadi UIN tetap memposisikan pendidikan umum dan agama dalam kotaknya masing-masing, ya memang itu maksud dan tujuan sekularisasi pendidikan. memisahkan agama dan lainnya….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s