ESQ BERBASIS SPIRITUAL COMPANY: UNTUK KEPENTINGAN SIAPA?


 

ESQ BERBASIS SPIRITUAL COMPANY: UNTUK KEPENTINGAN SIAPA?

Oleh: Aji Dedi Mulawarman

 

1. PENDAHULUAN

Model spiritual company saat ini banyak mempengaruhi perusahaan baik Barat maupun Indonesia. Sebut saja model-model Spiritual company dari Zohar dan Marshall dengan Spiritual Capital-nya atau Ari Ginanjar Agustian dengan ESQ-nya. ESQ model Ari Ginanjar Agustian misalnya, tidak jauh berbeda dengan bentuk spiritual company yang ada. Tujuannya sama, yaitu dikembangkan untuk going concern perusahaan dengan mengadaptasi nilai-nilai universal berbagai agama yang memiliki kesamaan dan bersifat langgeng, seperti kejujuran, ketulusan, rendah hati, menghargai harkat kemanusiaan, rela berkorban demi kemashlahatan orang banyak, dan lainnya.

 

2. SPIRITUAL COMPANY SEBAGAI BAHAN DASAR ESQ

Apabila kita merujuk ke majalah SWA No 05/XXIII/1-14 Maret 2007 menyoroti spiritual company sebagai topik utamanya, menegaskan bahwa merebaknya spiritual company di Indonesia merupakan dampak dari perkembangannya di Barat seperti dilakukan oleh UPS, Southwest, Starbucks dan Timberland untuk melanggengkan perusahaan. Diungkapan Prama (SWA 2007, 38) bahwa jika perusahaan ingin sustainable dan berumur panjang, ia harus menganut nilai-nilai spiritual. Dengan begitu, integritasnya akan teruji dan dipercaya mitra bisnisnya.

Pesatnya penggunaan spiritualitas dalam perusahaan disamping untuk mempertahankan kemapanan perusahaan juga dapat memberikan kenyamanan bekerja bagi perusahaan. Kenyamanan karyawan diyakini dapat memberikan pemahaman kepada mereka bahwa bekerja bukan lagi sekedar untuk mencari nafkah atau bersosialisasi, melainkan ingin memberikan sesuatu yang bermakna bagi kehidupan. Mulai dari memberikan makna bagi teman sekerja, perusahaan, pelanggan, pemegang saham, pemerintah, bahkan bagi masyarakat sekitar perusahaan ataupun masyarakat luas (SWA 2007, 37). Pemikiran spiritualitas dalam perusahaan juga diungkapkan oleh Chappell seperti dikutip Brandt (1996), dengan spiritualitas akan memberikan koneksi secara menyeluruh antar personal, kepada perusahaan, komunitas, customers dan alam semesta. Ukuran keberhasilan Spiritual Company menurut Goenawan (2007) adalah karyawan merasa happy; perusahaan menerapkan pemberdayaan karyawan sebagai manusia seutuhnya; perusahaan memiliki integritas tinggi; proses berbagi tidak hanya dengan karyawan dan shareholders saja, melainkan kepada masyarakat , baik melalui program CSR ataupun kontribusi lain. Ujung akhir kepentingan spiritualitas dalam perusahaan menurut tim riset SWA (2007, 39) adalah untuk menghasilkan nilai-nilai organisasi (Value Based Organization) dengan output sebagai berikut:

1.     Menghasilkan perubahan sikap individu (seperti pencarian makna lebih pada pekerjaan pada karyawan, orientasi pada memberi/pelayanan pada orang lain).

2.     Menurunkan praktik penyelewengan dan pelanggaran wewenang (fraud).

3.     Meningkatkan citra/kredibilitas perusahaan di mata stakeholder.

4.     Mendongkrak performa perusahaan secara berkelanjutan. 

 

Menumbuhkan spiritualitas  dalam perusahaan sebenarnya merupakan mekanisme materialisasi dan spiritualities purposing untuk kepentingan pencapaian keuntungan maupun kebahagiaan. Lihat saja ternyata bentuk tiga level spiritualitas dalam perusahaan diorientasikan mulai pada level pertama, yaitu survival level (tahapan bertahan hidup) untuk meningkatkan keuntungan. Level kedua, ketika perusahaan telah mencapai level pertama, maka perusahaan harus mencapai success level dengan menekankan hubungan (relationship dan networking) serta tumbuh dan berkembang (growing). Level ketiga, yaitu happiness level (level kebahagiaan) dengan cara selalu memberi (giving/services). Artinya spiritualitas dalam perusahaan adalah pendorong nilai moral sebagai penunjang nilai berpikir material untuk meningkatkan kinerja individu dan organisasi (SWA 2007, 36). Berikut ini digambarkan tiga level dalam Spiritual Company:

Gambar 1. Penerapan Nilai-nilai Spiritual dalam Spiritual Company

 

 

Terlihat jelas bahwa dalam tiga level tersebut nilai-nilai spiritual bukan merupakan aspek yang menjadi values utama, tetapi yang menjadi pola untuk mendapatkan value based organization. Nilai-nilai spiritual memang dipergunakan semaksimal mungkin untuk kepentingan going concern dan keuntungan perusahaan, bukan spiritualitas perusahaan itu sendiri.

 

3. IMPLEMENTASI SPIRITUAL COMPANY: PENERAPAN ESQ DI ELNUSA

Implementasi Spiritual Company model ESQ misalnya dilakukan oleh PT. Elnusa. Penerapan ESQ di PT. Elnusa seperti dilansir majalah Human Capital edisi Maret tahun 2005 (http://www.portalhr.com/majalah/edisisebelumnya/strategi/1id155.html) menjelaskan bahwa PT Elnusa selama ini sudah tertuang dalam nilai-nilai perusahaan, yakni clean, respecfull, and synergy. Tiga semboyan itu, menurut Odang Supriatna, HR Manager Elnusa, telah ditanamkan kepada seluruh karyawan. Dengan prinsip itulah Elnusa mencoba mengelola perusahaan secara lebih bersih dan beretika.

Elnusa menurut Odang yang banyak melibatkan subkontraktor dan supplier, Elnusa memang rentan terhadap praktek kolusi, korupsi dan nepotisme. Namun, lanjut Odang, manajemen sudah menetapkan garis batas operasional perusahaan yang secara tegas melarang setiap karyawan menerima komisi dari pihak lain “Di Elnusa sudah tumbuh budaya bahwa menerima komisi merupakan suatu aib yang sangat besar,” kata Odang.

Berangkat dari pemahaman tersebut, lanjut Odang, pihaknya menemukan konsep SQ yang belum ditemukan di pelatihan lain. Awalnya, karyawan Elnusa mengikuti ESQ yang diajarkan oleh Ary Ginanjar pada sekitar 3,5 tahun lalu melalui Elnusa Workover Service. Ternyata, kata Odang materi yang disampaikan sangat bagus. Kemudian, Odang mengusulkan agar seluruh karyawan Elnusa, mulai dari direksi hingga staf mengikuti ESQ.

Spiritualitas di sini bila ditilik lebih jauh berkenaan dengan kepentingan perusahaan dan lebih teknis lagi dalam konteks aliran kas ternyata  bertujuan untuk mencapai aliran kas perusahaan lebih tinggi dengan menetapkan ketentuan syari’ah (zakat) sebagai spirit seperti dilakukan PT. Elnusa. Setelah melalui masa-masa sulit selama lima tahun, PT. Elnusa seperti dikutip SWA (2007, 46) berhasil melakukan turnaround pada 2005 dan mencatat laba usaha tujuh puluh sembilan miliar rupiah atau melonjak 318% dibanding 2004 yang hanya sembilan belas miliar rupiah. Melalui efisiensi sepanjang tahun 2005 perusahaan telah membuktikan dapat meningkatkan labanya. Pada tahun 2009 perusahaan menargetkan peningkatan pendapatan hingga enam triliun rupiah. Penetapan angka enam triliun rupiah menurut Direktur Utama PT. Elnusa Rudi Radjab dengan ide memperbesar nilai zakat 2,5% kepada masyarakat:

Zakat 2,5% adalah tabungan akhirat untuk seluruh karyawan Elnusa. Karena itu, kami ingin memberi zakat double digit dari 2,5% yang ditetapkan… Dengan begitu keuntungan yang harus dicapai perusahaan adalah enam ratus miliar rupiah. Itu mimpi kami. Jika enam ratus miliar rupiah itu merupakan 10% dari revenue, total revenue yang harus dicapai adalah enam triliun rupiah. Tabungan 2,5% itu menjadi dorongan yang kuat hingga ke karyawan lapisan bawah. Karyawan ikut termotivasi mencapai target itu karena mereka merasa bekerja untuk beribadah.

 

Spiritual Company seperti itu berdampak pada pertumbuhan bisnis sebesar  10-15% per tahun. Dari hanya empat karyawan pada saat didirikan, Internusa telah diperkuat empat ratus karyawan dengan duabelas cabang di seluruh Indonesia. Luar biasa. Tetapi, apakah seperti itu spiritualitas dalam perusahaan? Apakah spiritualitas hanya dijadikan alat untuk memperbesar keuntungan perusahaan? Simplistis sekali.

 

4. INTUISI SPIRITUAL: ANTITESIS SPIRITUAL COMPANY

Jadi sebenarnya, kepentingan spiritual company dan ESQ merupakan agenda menanamkan nilai-nilai spiritual karyawan dan seluruh potensi internal perusahaan untuk memperbesar keuntungan perusahaan. Caranya, dalam konteks ESQ misalnya adalah dengan melakukan kesadaran spiritual menangkap zakat dan nilai-nilai shadaqah Islam dengan ketundukan setiap pengelola perusahaan untuk memajukan dan membesarkan perusahaan. Mudahnya, zakat dan nilai-nilai kebaikan maupun shadaqah dalam Islam dijadikan alat untuk memperbesar keuntungan dalam perusahaan. Lebih konkrit lagi, mungkin dapat dikatakan spiritualitas Tuhan dijadikan alat untuk kepentingan perusahaan.

Spiritualitas dalam perusahaan seharusnya didekati dengan apa yang saya namakan dengan Intuisi Spiritual. Intuisi spiritual sebagai inti dari perusahaan menekankan pentingnya nilai-nilai spiritual, katakanlah Islam, sebagai tujuan awal, proses dan akhir dari setiap agenda berusaha (baik internal perusahaan, karyawan, maupun perusahaan). Nilai-nilai Islam bukan dijadikan alat untuk memperbesar perusahaan, tetapi nilai-nilai Islam dijadikan sebagai sumber inspirasi perusahaan, karyawan dan internal perusahaan untuk menggapai cita-cita Islam itu sendiri.

Secara konseptual, Intuisi spiritual bukan merupakan pendekatan seperti spiritual company, tetapi pendekatan keseimbangan pilihan bagaimana meraih nilai lebih atas materi berbentuk ekonomi, sosial dan lingkungan dalam lingkup nilai-nilai spiritual. Intuisi spiritual adalah alat bagi setiap individu dan organisasi untuk memberikan keseimbangan nilai lebih ekonomi, sosial dan lingkungan. Intuisi spiritual mengarahkan para individu dalam organisasi bahwa pencarian ma’isyah untuk pencapaian nilai tambah tidak hanya dalam ukuran ekonomi, tetapi pencapaian nilai tambah juga berhubungan dengan ukuran sosial dan lingkungan. Aliran kas yang didapat dari penerapan intuisi spiritual bukan meletakkan aliran kas keutamaannya untuk penilaian nilai tambah dalam bentuk ekonomi, tetapi aliran kas sosial dan lingkungan juga merupakan nilai tambah itu sendiri, yang disebut barakah. Keseimbangan aliran kas di sisi ekonomi, sosial dan lingkungan dalam bentuk barakah merupakan pembagian atas nilai tambah yang didapatkan pada tiga titik tersebut dalam koridor utama, ketentuan syara’. Sekali lagi ditekankan di sini nilai-nilai Islam dan tujuan syari’ah bukan menjadi alat untuk menetapkan tujuan perusahaan, seperti digagas dalam spiritual company. Berikut digambarkan bentuk spiritualitas yang lebih baik dan lebih substansial sebagai awal, proses dan akhir dari seluruh aktivitas:

Gambar 2. Penerapan Nilai-nilai Spiritual dalam Intuisi Spiritual

Ujung penerapan intuisi spiritual mengarah pada akuntabilitas sekaligus apa yang disebut dengan  Rezeki yang Barakah. Rezeki yang Barakah merupakan konsep nilai tambah dari realitas transaksi bukan dalam konteks material bertambah saja, tetapi juga berkaitan dengan transaksi material yang mungkin berkurang secara lahiriah, tidak bisa terlihat langsung secara indrawi dan lahiriah namun terkadang bisa terasakan. Sesuatu yang dirasakan mempunyai nilai tambah padahal lahirnya tidak atau malah berkurang, dikatakan mempunyai barakah. Melakukan seuatu tanpa membaca basmalah secara lahir tidak berbeda dengan melakukannya dengan membaca basmalah, namun dengan basmalah ada nilai tambah yang tidak terlihat tapi terkadang terasakan. Karena barakah sifatnya batin, maka ciri-cirinya tidak semua bisa kita lihat dengan indera. Terkadang keberkahan bisa dirasakan, misal mendatangkan manfaat yang lebih dari pekerjaan yang dilakukan atau sesuatu yang dimiliki. Contohnya seorang yang mempunyai ilmu meskipun sedikit tapi bermanfaat bagi masyarakat, ini termasuk tanda-tanda ilmu tersebut diberkati. Demikian juga harta yang bisa dimanfaatkan untuk kemasalahatan merupakan tanda-tanda diberkahi. Ada harta yang meskipun jumlahnya banyak tapi tidak begitu berguna. Barakah juga tidak hanya bersifat materi dan non materi, tetapi juga bersifat sosial dan lingkungan.

 

5. CATATAN AKHIR

Mudahnya, intuisi spiritual menekankan pada satu hal, nilai-nilai spiritual harus menjadi substansi, bukan menjadi alat. Nilai-nilai spiritual menjadi tujuan awal, proses hingga tujuan akhir. Artinya, perusahaan adalah alat dilakukannya penyadaran pentingnya manusia sebagai makhluk Tuhan, berproses menjadi perusahaan yang dikerangka dalam spiritualitas Ketuhanan, untuk mencapai tujuan tertinggi dalam kesadaran, sebagai manusia yang selalu tunduk pada ketentuanNya (sebagai ‘abd Allah) sekaligus lahan untuk menjalankan fungsi manusia sebagai wakilnya (khalifatullah fil ardh).

Aplikasi fungsi ‘abd Allah adalah ketundukan menjalankan perusahaan sesuai ketentuan dan tujuan – katakanlah Islam. Perusahaan harus bebas dari hal-hal yang buruk, tidak sesuai karakter Islam, seperti produk harus halal misalnya, thoyib dan bebas riba. Aplikasi fungsi khalifatullah adalah kreasi menjalankan perusahaan untuk kepentingan diri perusahaan tapi tidak lupa dengan kepentingan sosial maupun lingkungan. Wallahualam bishawab. Billahittaufiq wal hidayah.

3 thoughts on “ESQ BERBASIS SPIRITUAL COMPANY: UNTUK KEPENTINGAN SIAPA?

  1. Saya memahami penjelasan diatas ini mungkin sama konsepnya seperti dengan “corporate culture:, dimana melihat atau diidentifikasi suatu perusahaan sebagai suatu kelompok masyarakat yang mempunyai kebudayaannya sendiri. Ya kalo menurut Spradley, dalam kebudayaan tersebut ada cultural knowledge-nya, cultural behavior-nya, dan cultural artefact-nya. Nah, culture sbg knowledge disini juga berfungsi sbg “mode dari” dan “mode bagi” – sbg absorbsi dan sekaligus guidence bagi perusahaan. Menarik penjelasannya mas dari sudut pandang yg islami

  2. Assalammualaikum WrWb. ESQ untuk kepentingan siapa ?. itu pertanyaan orang orang yang belum mengenal dirinya. saya bukan karyawan tapi saya mengikuti ESQ .disini saya menemukan diri saya ini siapa.ternyata saya adalah hanya hamba Allah yang sedang mempersiapkan diri agar kelak siap bertemu dengan Allah yang merupakan kebahagiaan akhir.mencari nafkah,membimbing keluarga,bermasyarakat,dll itu semua adalah hanya sebuah sarana untuk mepersiapkan diri kita kembali kepadaNya. banyak orang mengerti tentang islam.bahkan sangat ahli tentang pengetahuan islam.tapi banyak yang terjebak dan hanya bisa mengkritisi orang lain dan melahirkan perdebatan perdebatan.mengapa…?..karena pengetahuannya tentang islam hanya ada di otaknya…bukan di hatinya..(bukankah islam adalah agama yang sudah disempurnakan dan diridhoi oleh Allah mengapa masih diperdebatkan?.) ada pepatah, bila durian itu dinilai dari kulitnya maka tidak ada orang yang mau memakannya…..belahlah durian itu walaupun kadang kadang kita sedikit terluka…..wass Billahittaufiq wal hidayah.

  3. islam tidak diperdebatkan, yang diperdebatkan adalah esq. islam jelas merupakan agama sempurna. tapi esq hanyalah satu dari ribuan bahkan jutaan cabang representasi dari islam. jadi esq bukanlah kebenaran mutlak. islam bagi saya adalah representasi peradban untuk membangun peradaban tidak hanya berpikiran untuk kepentingan diri pribadi agar sel;amat di akhirat saja, tapi peradaban itu sesuai tujuan syariat (maqashid syariah) yaitu untuk mashlaha (kesejahteraan) umat. bukan kesejahteraan orang per orang.
    setiap orang belum tentu bisa makan durian, karena durian itu bikin mabuk bagi sebagian orang.😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s