KRISIS EKONOMI AS LEWAT HANCURNYA LEHMAN BROTHERS


Berita dari Eramuslim

Bangkrutnya Lehman Brothers, perusahaan sekuritas berusia 158 tahun milik Yahudi ini menjadi pukulan berat bagi perekonomian AS yang sejak beberapa tahun terakhir mulai goyah. Para analis menilai, bencana pasar keuangan akibat rontoknya perusahaan keuangan dan bank-bank besar di Negeri Paman Sam satu per satu, tinggal menunggu waktu saja. Inikah tanda-tanda kehancuran sebuah imperium, negara adi daya bernama Amerika Serikat?
Krisis Terburuk
Pernyataan bangkrutnya Lehman Brothers hari Senin kemarin, langsung mengguncang bursa saham di seluruh dunia. Dalam pembukaan perdagangan hari Selasa (16/9), bursa saham di kawasan Asia seperti di Jepang, Hongkong, China, Asutralia, Singapura, India, Taiwan dan Korea Selatan, mengalami penurunan antara 2 sampai 7 persen. Termasuk bursa saham di kawasan Timur Tengah, Rusia, Eropa, Amerika Selatan dan Amerika Utara. Tak terkecuali di AS sendiri, para investor di Bursa Wall Street mengalami kerugian besar, bahkan surat kabar New York Times menyebutnya sebagai kerugian paling buruk sejak peristiwa serangan 11 September 2001.
Mantan Kepala Federal Reserve Alan Greenspan mengatakan, krisis keuangan yang terjadi di AS merupakan krisis keuangan terburuk yang pernah ia saksikan dan masih berlangsung dalam jangka waktu lama. Ia meyakini krisis ini akan makin mendalam yang bisa mengakibatkan resesi ekonomi di AS. “Kemungkinan AS bisa lolos dari resesi ekonomi sangat kecil, di bawah 50 persen, ” kata Greenspan dalam wawancara dengan ABC News hari Minggu kemarin.
Pernyataan Greenspan bertolak belakang dengan pernyataan-pernyataan Presiden AS George W. Bush dan jajaran pejabat perekonomiannya. Bush mengatakan, apa yang terjadi saat ini cuma penyesuaian kecil dan ia akan bekerja keras untuk meminimalkan dampaknya guna mencegah terjadinya kekacauan ekonomi.
“Saya percaya perekonomian negeri ini akan bergairah kembali. Dalam jangka pendek, penyesuaian di pasar finansial akan terasa sangat menyakitkan. Tapi dalam jangka panjang, saya percaya pasar modal kita sangat fleksibel dan mampu menyesuaikan diri dengan penyesuaian ini, ” kata Bush yakin.
Sementara Menteri Keuangan AS Henry Paulson mengatakan, dirinya akan bekerjasama dengan dewan legislatif AS dan otoritas keuangan di berbagai negara untuk memulihkan “stabilitas dan ketertiban” di pasar modal AS setelah krisis yang menimpa.
Namun para analis bersikap skeptis dengan optimisme Bush dan para pejabat perekonomiannya. “Orang-orang di pemerintahan tidak paham apa yang dialami rata-rata rakyat Amerika. “Mereka saat ini dalam kondisi sangat tertekan. Rumah-rumah mereka sudah tidak ada harganya lagi, mereka terlilih hutang kartu kredit, ” kata Israel Adelman, seorang trader dari perusahaan Fordham Financials di Wall Street.
Kepala ekonom di The Saudi British Bank (SBB), John Sfakianakis mengatakan, krisis perbankan yang terjadi di AS menunjukkan bahwa tak ada satu pun institusi finansial yang sempurna dan AS perlu segera memperbaiki regulasinya.
Ia juga mengatakan bahwa sentimen negatif akibat krisis itu akan berlanjut dan tantangan bagi insitusi keuangan adalah bagaimana mereka menjaga kesehatan finansial perusahaannya.”Waktu akan menunjukkan apakah sebuah institusi keuangan bisa keluar dari krisis ini, ” kata Sfakianakis.
“Mereka yang pesimis meyakini situasi pasar modal akan lesu sampai tahun 2009 nanti dan baru akan bangkit kembali pada tahun 2010. Harus diakui, menyeimbangkan antara kepanikan dengan kepercayaan pasar bukan hal yang mudah. Sikap pemerintah AS yang menolak memberikan kucuran dana buat Lehman menunjukkan bahwa otoritas AS tidak mau menolong perusahaan-perusahaan yang bermasalah, ” sambungnya.
Krisis keuangan yang terjadi saat ini juga memicu tanda tanya soal moralitas para bankir dan pemegang saham. Ketika kondisi sedang bagus, mereka jor-joran memberikan modal pada masyarakat kelas atas, menerima gaji, bonus dan keuntungan yang sangat besar. Tapi ketika kondisi keuangan sedang dilanda krisis, para bankir dan pemegang saham seolah lepas tangan dan membebankan tanggung jawabnya pada pembayar pajak.
Dampak paling nyata dari bangkrutnya Lehman Brothers adalah meningkatnya jumlah pengangguran di AS, bahkan di berbagai belahan dunia. Di seluruh dunia, jumlah pegawai jaringan perusahaan Lehman Brothers mencapai 25.000 orang. Pada bulan Agustus 2008, Lehman sudah mengumumkan akan memecat 5 persen dari jumlah pegawainya atau sekitar 1.500 orang.
Sebelum Lehman, sejumah perusahaan di AS sudah melakukan pemangkasan karyawan. Misalnya perusahaan penerbitan koran Gannett Co. Inc. menyatakan akan merumahkan 600 karyawannya dan Ford Motor Co. akan megurangi 300 orang karyawannya. Para analis mempekirakan tingkat pengangguran AS sampai pertengahan tahun 2009 akan meningkat dari 5, 7 persen menjadi 6, 5 persen. Bertambahnya pengangguran berarti bertambahnya beban perekonomian pemerintah.
AS Diambang Kehancuran?
Setelah Lehman Brothers, kebangkrutan masih menghantui perusahaan-perusahaan di Wall Street. Apalagi sejumlah perusahaan finansial yang selama ini dipercaya kuat juga mengalami kesulitan keuangan. Perusahaan pesaing Lehman, Merrill Lynch misalnya, sudah diambil oleh pemerintah AS. Perusahaan raksasa lainnya, American International Group (AIG)-salah satu perusahaan asuransi terbesar di dunia-saat ini juga sedang mencari pinjaman sebesar 40 milyar dollar.
Sejumlah analis berpendapat, inilah detik-detik kehancuran ekonomi negara adidaya AS. Negara yang menganut sistem ekonomi neo-liberal dan menancapkan ekonomi imperialisnya ke berbagai belahan negara, akhirnya ambruk juga.
”Esensinya, riwayat Amerika Serikat sebagai kekuatan ekonomi global sudah tamat, ” kata Max Keiser, seorang analis pasar di Paris.
”Sejarah dollar AS sebagai mata uang cadangan dunia sudah selesai dan kita akan melihat negara lain yang akan muncul sebagai kekuatan baru, yang paling memiliki peluang besar adalah negara China, ” papar Keiser.
Menurutnya, krisis keuangan yang menghantam AS sebenarnya sudah diprediksi. AS yang menganut sistem keuangan neo-liberal secara bebas memberikan kredit. Tiba-tiba, ketika kredit tak tersedia sejak musim panas kemarin, bank-bank mulai kelimpungan.
Tapi, kata Keiser, skenario ”kiamat” ini tidak akan terjadi di negara-negara berkembang yang memiliki sumber minyak seperti di Timur Tengah atau negara-negara yang masyarakatnya memiliki dana simpanan yang besar, seperti di China.
”Skenario kiamat ini hanya akan terjadi di AS dan Inggris, di mana masyarakatnya hidup dari uang pinjaman dari generasi ke generasi, ” tukas Keiser.
Hal serupa diungkapkan Andrew Critchlow, redaktur pelaksana Dow Jones Timur Tengah yang berbasis di Dubai. ”Saya pikir ini adalah saat-saat yang menentukan bagi perekonomian dunia, bagi AS, bagi kita semua, yang akan selalu diingat sepanjang hidup kita, ” kata Andrew.
Ia menyamakan krisis keuangan di AS saat ini dengan kondisi era tahun 1920-an, ketika masyarakat dunia mengalami apa yang disebut Great Depression. Secara teknis, bisnis perbankan dan keuangan sudah tidak berjalan.
”Yang paling mengkhawatirkan jika kondisi ini benar-benar menghantam perekonomian riil, menghantam orang-orang di jalan. Mereka tidak punya uang lagi, tidak punya pekerjaan dan berpotensi akan kehilangan rumah-rumah mereka juga, ” sambung Andrew.
Allister Heath, editor surat kabar finansial London’s City A.M menambahkan, ketika bank-bank besar seperti Lehman mengalami kebangkrutan, yang terkena dampaknya juga masyarakat kecil, termasuk para pensiunan yang mempercayakan uang pensiunnya diinvestasikan di bursa-bursa saham yang kebanyakan ditanamkan di sektor perbankan. Selain itu, kata Heath, ribuan orang juga akan menjadi pengangguran.
Pada akhirnya, situasi ini akan menimbulkan ketidakpercayaan masyarakat pada lembaga keuangan termasuk pada pemerintah dengan sistem perekonomian neo-liberalnya yang ternyata rapuh. Sebuah gambaran yang tragis bagi sebuah imperium bernama AS, yang selalu sesumbar dengan sistem perekonomian kapitalis yang disebarkannya ke seluruh dunia, ternyata tak mampu menolong perekonomian di negerinya sendiri ketika terancam kebangkrutan. Bagaimana, masih silau dengan gemerlapnya Amerika Serikat?(ln/berbagai sumber)

http://www.eramuslim.com/berita/int/8916225047-analisa-bangkrutnya-lehman-brothers-dan-nasib-perekonomian-as.htm

8 thoughts on “KRISIS EKONOMI AS LEWAT HANCURNYA LEHMAN BROTHERS

  1. jadi ingat Konosuke Matsushita, pemilik Panasonic yang kaya raya dna baik hati di IMPERIUM itu. Ketika terjadi depresi ekonomi tahun 1929, perusahaan bangkrut, ia memilih untuk mengurangi produksi menjadi setengah daripada memberhentikan karyawannya, bahkan gaji tidak dikurangi sedikitpun. ia menganggap karyawan seperti keluarga, ia melakukan pengorbanan besar untuk itu. hmm baik ya…akan tetapi ia mendapatkan sesuatu yg lebih besar dan bernilai yaitu kesetiaan dan dedikasi karyawannya yang tdk tertandingi. bahkan Jend. Douglas Mac Arthur sempat dibikin terkejut karenanya….Amerika harus belajar dari Jepang tuh, orientasi perusahaan Amerika adalah untung,beda sama Jepang. Kebahagiaan adalah kegembiraan dlam bekerja dan kepuasan dari menciptakan sesuatu yang bermanfaat utk orang lain. Konfusionis banget…

  2. mari kita jaga kebutuhan jangka panjang dan jangka pendek.
    sebaiknya pemerintah perlonggar sektor riil, korupsi disektor ril
    jangan disikat, supaya pengusaha bisa main mata ama pejabat untuk kepentingan perluasan tenaga kerja.
    Kali ini jika kita kenak dampaknya akan sulit untuk bangkit, karna tidak ada dewa penyelamat.

    Sebaiknya KB diperketat untuk mejaga pertumbuhan dan kebutuhan, perluasan lahan untuk rakyat kecil lewat koperasi di galak kan dan dengan pola tanaman cepat bukan tanaman keras.
    kita masih banyak lahan tidur yang tidak bisa digunakan oleh rakyat.

  3. 7 Gubernur Bank yang dikenal dengan kelompok G7 diantara negara itu adalah Amerika, Jepang Inggris dan 4 negara lainnya…memproklamirkan Basel II mengganti Basel I ..maka keluarlah PBI No:5/8/2003 tentang Penerapan Manajemen Risiko di Bank Umum,bahwa seluruh Bank harus memiliki Satuan Kerja Manajemen Risiko, kisi-kisi tujuan Basel II/PBI : diantaranya Bank dan industri jasa keuangan dapat menghitung kebutuhan modalnya secara fleksible dan dapat menerapkan manajemen risiko di seluruh aktivitas operasional bank untuk melindungi masyarakat, pemegang saham dan harus dapat melakukan identifikasi risiko untuk dapat dikendalikan sejak dini…dari kilasan diatas serta melihat kondisi economic global khusus ke lehman brothers..banyak keganjalan diantaranya 1. G7 itu salah satunya Amerika, 2.penerapan Manajemen Risiko pertama kali adalah negara-negara eropa, 3.mereka orang2 bule dari eropa yg selalu terkesan jadi HEBAT saat memberikan persentasi manajemen risiko yang diselenggarakan oleh BI atau Bank-bank di indonesia,( wah mahal banget ikutan pelatihan dan seminarnya…kata penyelenggara ”aduh maaf’ sebab yg jadi nara sumber orang bule dari negeri sono yang bener-bener paham Manajemen risiko ) ….sekarang lehman ancur pasti kita samasama bertanya MANA MANAJEMEN RISIKO-nya ??…hal yang bisa ditarik menurut hemat saya : 1 Manajemen Risiko yang baik harus didasarkan oleh sifat nabi muhammad Saw yaitu AMANAH (Terpercaya), SIDIQ (Benar) , FATONAH (Cerdas), TABLIGH (Menyampaikan) …maaf bukan agamais tapi hancurnya lehman sudah ada gejalanya sejak 2007 tetapi manajemen maupun SDM yang terkait tidak menyampaikan ke public secara jujur dan benar 2. Berusaha mengelola keuangan maupun aspek kehidupan tidak terkonsentrasi pada satu instrumen ( mungkin kalo saya punya uang banyak, sebagian uang akan saya inveskan untuk membeli emas, sebagain lagi di Bank X, Sebagian lagi Bank Y atau di produk lain dan Bank Lain ) 3.Allah yang abadi dan Maha Benar..tidak ada yang abadi semua di dunia hanya sementara untuk itu bekerja dengan cerdas tidak didasari dengan Niat untuk Ibadah ke ALLAH akan tidak diberkahi dan karunia olehNYA 4. Mulai dari sekarang jangan alergi dengan RISIKO, lakukan mitigasi risiko ; telaah dan jujur terhadap risiko yang kita miliki dan segera lakukan strategi pengendaliannya sehingga risiko dapat diminimalisasi 5. Jangan bangga dengan produk/bisnis berbau Eropa/Amerika, ….. saya percaya pemimpin2 Indonesia maupun pihak2 yang terkait bisa mengatasi kondisi ini melalui kebijakan dan strategi yang dapat mengamankan perkenomonian indonesia yang akhirnya akan berdampak kepada kebaikan dan kelangsungan perusahaan tempat saya dan kita bekerja…

  4. Menurut kami jangan sampai sistem ekonomi yang dipakai seperti yang dimiliki AS, lantas tetap aja dipakai. Padahal sudah jelas-jelas mengalami kehancuran. Kita sebagai pakar ekonomi khususnya yang ada di Indonesia telah banyak mengeluarkan energi baik pikiran ataupun tenaga hanya untuk mencari penyelesaian Krisis ekonomi tersebut, namun kalau standarisasi yang dipakai dalam penyelesaian ekonomi tersebut adalah ekonomi Kapitalis juga so pasti tidak akan pernah terselesaikan. Justru akan tetap bermasalah hingga akhir zaman. Maka itu mungkin ada sistem ekonomi lain sebagai sebuah alternatif dalam menyelesaikan krisis ekonomi tersebut. Ada buku-buku yang sempat kami baca yaitu tentang Sistem ekonomi Islam. Walaupun selalu orang-orang mengatakan hanya sebuah teoritis atau tak jelas atau apalah yang membuat kita jadi psimis dengan sistem ekonomi Islam. Namun coba untuk disimak lebih seksama. Sistem Ekonomi Islam inilah sebagai sebuah jalan keluar terbaik. Sebagai alternatif terbaik. Mari sama-sama untuk mengetahui dan menggali serta merealisasikan Sistem Ekonomi Islam Sebagai Sebuah Alternatif.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s