STATISTIK KALAH DARI POWER?: KASUS QUICK COUNT


Mungkin yang perlu dievaluasi adalah jangan terlalu banyak tergantung pada hasil teknologi dan statistik untuk kepentingan politik dan kekuasaan. Karena jelas sekali kan yang namanya politik dan kekuasaan itu statistik tidak “kuasa” atas “politik”. Jadi yang menang di Jatim apakah memang kekuasaan? Atau politik yang sebenarnya? Ya silakan dipikir sendiri. Yang jelas dalam kasus Pilgub Jatim  quick count telah kalah, statistik telah kalah. apapun alasannya….. Hidup naturalitas…Back to nature-lah…

Setelah menunggu lama, akhirnya saya mendapatkan bukti empiris bahwa statistik memang dapat dikalahkan dalam politik. Akhirnya agenda legitimasi teknologi telah terkalahkan untuk memberikan stigma kemenangan politik. Hal ini terlihat pada kasus pemilihan gubernur Jawa Timur.

Sebagaimana diketahui, hasil quick count (perhitungan cepat) oleh tiga lembaga “penghasil teknologi” penghitung hasil pemilu telah memenangkan pasangan KAJI MANTEB (Kofifah Indar Parawansa dan Mujiono) menang tipis dari pasangan KARSA (Sukarwo dan Syaifullah Yusuf). Data LSI menunjukkan 50,44% : 49,56%, Lingkaran SN 50,76:49,24, LSN 50,71:49,29, Puskaptis 50,83:49,17% semua memenangkan KAJI.

Tetapi hasil perhitungan manual telah menjadi bukti sejarah bahwa statistik quick count tidak lagi dapat dijadikan alat yang dapat dipercaya untuk memberikan stigma kemenangan, karena hasilnya adalah pasangan KARSA menang tipis. Hasilnya adalah Kaji mendapat 49,8% atau meraih 7.669.721 suara, sedangkan Karsa unggul 7.729.944 suara. Meskipun keunggulan keduanya tidak bisa mengungguli suara Golput yang mencapai 13.469.016 atau 45,68%. Rincian suara sah adalah 29.280.470, total suara sah adalah 15.399.665 dan suara tidak sah 506.343. 

Selama ini kita selalu ter-“bius” oleh penjajahan pikiran secara perlahan-lahan dan pasti sehingga hampir menjadi kepercayaan baru bahwa setiap hasil quick count dari lembaga-lembaga penghitung suara pemilu pasti memberikan “simbol” akurasi hasil pemilu. Dengan quick count dilakukan, maka secara singkat kita akan dapat memiliki kepastian awal hasil pemilu. Secara definisional metode quick count adalah  “a method for verification of election results by projecting them from a sample of the polling stations. Different than the exit poll, voters are not asked who they voted for -projection of results is based on official results of the polling station.” Mudahnya quick count adalah metode untuk melakukan verifikasi hasil pemilu dengan menggunakan proyeksi berdasarkan sampel dari tempat pemungutan suara (TPS). Berbeda dengan exit poll, di sini pemilih tidak ditanya apa yang mereka pilih. Quick count melakukan proyeksi hasil berdasarkan hasil resmi di tempat pemungutan suara (TPS).

Menurut Iqbal Fadil dari detik.com metode quick count akan akurat apabila mengacu pada metodologi statistik dan penarikan sampel yang ketat serta diimplementasikan secara konsisten dilapangan. Caranya, para relawan diturunkan secara langsung untuk mengamati jalannya pemilu, lalu mereka mencatat ke dalam formulir yang telah disediakan proses pencoblosan dan perhitungan suara di TPS yang diamati, termasuk perolehan suara masing-masing kandidat. Setelah selesai barulah mereka melaporkan hasil temuannya ke pusat data.Organisasi yang melakukan Quick Count mengumpulkan data dari tiap TPS, dan berusaha melakukan penghitungan cepat dari daerah pantauan yang dipilih secara acak. Para pemantau berada di TPS, dan melaporkan secara langsung proses pemungutan dan penghitungan surat suara.

Quick count lanjut detik.com dapat memperkirakan perolehan suara Pemilu secara cepat sehingga dapat memverifikasi hasil resmi KPU. Lebih jauh quick count mampu mendeteksi dan melaporkan penyimpangan, atau mengungkapkan kecurangan. Banyak contoh membuktikan Quick Count dapat membangun kepercayaan atas kinerja penyelenggara pemilu dan memberikan legitimasi terhadap proses pemilu.

Selanjutnya agar kita bisa memahami quick count, kita pun harus mengerti metodologi dan cara penarikan sampel yang dipilih penyelenggara. Karena kekuatan data quick count sebenarnya bergantung pada bagaimana sampel itu ditarik. Sebab, sampel tersebut yang akan menentukan mana suara pemilih yang akan dipakai sebagai basis estimasi hasil pemilu. Sampel yang ditarik secara benar akan memberikan landasan kuat untuk mewakili karakteristik populasi.

Tetapi kasus di Jawa Timur adalah kasus yang langka, dengan propinsi yang jumlah pemilihnya tergolong besar di Indonesia, malah hasil quick count “memble”. Ada apa? apakah memang quick count tidak bisa dipakai pada daerah yang jumlah penduduknya relatif besar? Kenyataannya di Amerika Serikat, quick count bisa memberikan prediksi awal kemenangan Obama atas McCain misalnya.

Atau seperti dikatakan oleh detik.com bahwa apabila Pemilu berjalan lancar tanpa kecurangan, akurasi quick count dapat disandarkan pada perbandingannya dengan hasil resmi KPU? Tetapi apabila Pemilu berjalan penuh kecurangan, maka hasil quick count dapat dikatakan kredibel meskipun hasilnya berbeda dengan hasil resmi KPU?  

Atau alasan quick count benar bahwa apabila selisih prosentase suara masing-masing calon (gubernur) kurang dari dua persen maka LSM penyelenggara tidak bisa menentukan siapa yang menang? Kasus di Sumsel malah menunjukkan kekacauan hasil quick count karena tipisnya suara. Dari tiga penyelenggara quick count Puskaptis memiliki hasil berbeda. Kemenangan ternyata sesuai dengan 2 penyelenggara quick count non-puskaptis. Nah, yang lebih unik adalah kasus Maluku Utara yang hasil quick count-nya memenangkan Thaib Armayn dengan hasil sangat tipis seperti di Jatim, tetapi hasilnya tetap juga Thaib Armayn yang dilantik menjadi gubernur. 

Mungkin yang perlu dievaluasi adalah jangan terlalu banyak tergantung pada hasil teknologi dan statistik untuk kepentingan politik dan kekuasaan. Karena jelas sekali kan yang namanya politik dan kekuasaan itu statistik tidak “kuasa” atas “politik”. Jadi yang menang di Jatim apakah memang kekuasaan? Atau politik yang sebenarnya? Ya silakan dipikir sendiri. Yang jelas dalam kasus Pilgub Jatim  quick count telah kalah, statistik telah kalah. apapun alasannya…..

4 thoughts on “STATISTIK KALAH DARI POWER?: KASUS QUICK COUNT

  1. Menurut saya perbedaan hasil prediksi QC dengan penghitungan suara resmi yang terjadi di pilgub Jatim ini tidak terlalu aneh. Hal ini karena beberapa hal.
    Pertama: perbedaan perolehan suara dua pasangan hasil perhitungan QC sangat tipis dan kalo kemungkinan kesalahan atau standar deviasi diterapkan memang ya tidak mungkin bisa ditentukan secara pasti siapa yang akan unggul. Masalah akan jadi lain kalo QC menunjukkan perbedaan jumlah perolehan suara sangat besar dan diluar ambang batas kemungkinan kesalahan.
    Kedua: Biarpun digembar – gemborkan tentang independensi dari lembaga2 survey pelaksana QC, namun apa benar demikian. Mohon diingat bahwa ini Indonesia – yang kata orang semua bisa diatur -jadi semua kemungkinan bisa terjadi. Indonesia gitu lho…Bukan berarti saya berburuk sangka atau skeptis, tapi untuk saat sekarang ini kondisinya memang masih demikian.
    Ketiga: Memang Pilpres AS langsung, tapi bukankah sistemnya berbeda? Jadi mestinya tidak bisa jadi acuan perbandingan. Apalagi kualitas independensi di sono dan di sini PASTI berbeda.
    Buat pasangan Cagub/Cawagub Jatim dan para pendukungnya, monggo kito samiyo ngoco dhateng Ameriko ho…ho….

  2. Indonesia memang belum siap untuk mengadakan pilihan langsung toh siapapun yang mencalonkan pemimpin masih diatur oleh penguasa bukan murni dari hasil rakyat contohnya seperti pilgub jatim, pemilu hanyalah formalitas belaka dan kebanyakan orang memilih golput

  3. Quick Count Jatim Itu benar secara Statistik. Yang tidak boleh adalah pernyataan bahwa pasangan Ka-Ji yang memenangkan pemilihan. Kalau kondisinya seperti di Jatim, harus ada disclaimer dari penyelenggara QC, bahwa selisih perolahan suara sangat tipis dan pemenangnya tidak bisa dipastikan melalui QC.

    Trus, koreksi. Di Amrik ga ada Quick Count. Adanya Exit Poll. Pollster menanyakan pilihan pemilih setelah selesai memberikan suara. Ini tentu saja sangat berbeda dengan QC. Exit Poll membuka kemungkinan responden berbohong soal piilihan politik yang sudah diberikan.

    Salam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s