SHALAT IS ABOUT BEYOND MEDITATION


Meditasi dalam tradisi-tradisi agama budaya sebelum Islam adalah bentuk peribadatan yang dilakukan oleh agama-agama Hindu dan Budha. Shalat dalam tradisi Islam sebenarnya merupakan bentuk yang paling pungkas dan bahkan melampaui meditasi itu sendiri. Bahkan shalat sebenarnya pula bukan meditasi itu sendiri. Karena shalat bukan merupakan aktivitas egoistik, aktivitas pribadi yang lebih cenderung untuk kepentingan pribadi itu sendiri. Shalat hakikatnya adalah aktivitas pengabdian, ketundukan dan kepasrahan kepada Allah yang juga memiliki orientasi sosial dan lingkungan yang tak terpisahkan. Inilah yang disindir Al Qur’an dalam Surat Al-A’raf ayat 28-29:

 

Mereka yang tidak beriman itu, bila mengerjakan sesuatu kejahatan, berkata, ”Beginilah yang telah biasa dikerjakan oleh nenek moyang kita. Ini memang diperintahkan kepada kami oleh Allah. ”Katakanlah: Allah tidak meyuruh kamu berbuat jahat. Mengapa kamu berani mengatakan atas nama Allah sesuatu yang kamu tidak tahu?”. (28)

Katakanlah pula, ”Tuhanku menyuruh (manusia) berlaku adil, dan hendaklah kamu hadapkan segenap jiwa ragamu kepada-Nya, pada tiap-tiap kali berada dalam Masjid (bersembahyang). Berdo’alah kepada-Nya dengan mengikhlaskan ibadah kepada-Nya, karena sebagaimana kamu diciptakan semula, begitulah kiranya kamu akan kembali (kepada-Nya). (29)

Bukan hanya shalat, aktivitas lain dalam Islam-pun berbeda dengan substansi pentingnya meditasi. Beberapa perbedaan shalat (serta aktivitas lain) dengan meditasi antara lain :

  1. Aktivitas shalat selalu memiliki koneksi dengan realitas. Khusyu’ dalam shalatpun bukannya melakukan ritual meditasi yang harus meninggalkan realitas dan memasuki dunia lain di luar realitas. Tetapi menuju Allah adalah melakukan ritual dalam realitas dan sekaligus di luar realitas.
  2. Tidak terdapat pantangan berkaitan dengan makanan/minuman dan pakaian, kecuali yang dihalalkan plus thoyib (tidak melewati batas dalam mengkonsumsi atau memakainya). Konsep halalan-thoyiban inipun sebenarnya bukan semata-mata dalam aktivitas makan minum saja, tetapi berlaku di dalam kehidupan sehari-hari (Al-A’raf 31-32).

8 thoughts on “SHALAT IS ABOUT BEYOND MEDITATION

  1. menurut pendapat pikiran saya SHOALAT = MEDITASI karena keduanya cuman dibedakan dengan kata tapi substansinya, kualitas dan kauntitasnya sama… keduanya sama sama mencari pencerahan dan kebahagiaan sejati… dalam meditasipun tidak ada pantangannya juga… ya semua dikembalikan pada pikiran dan hati kita… karena ALLAH SWT… lebih menyukai manusia yang berpikir Universal… makasiii

  2. Sdr Adjie, klaim anda yang mengatakan bahwa sholat “lebih tinggi derajatnya” ketimbang meditasi adalah klaim subjektif tak berdasar. Orang Hindu dan Buddha pun bisa saja mengatakan sebaliknya. Orang Katolik bisa saja mengatakan doa Salam Maria lebih tinggi daripada ayat kursi dan seterusnya.

    Pada hakikatnya, sholat sebagai salah satu “praktik spiritual” (saya lebih suka menyebutnya begitu, lebih netral), PADA TINGKAT TERTENTU (yang lebih tinggi) memiliki nilai spiritual yang sama dengan apapun jenis praktik spiritual, termasuk meditasi. Yang membeda-bedakan, meninggi-ninggikan yang satu dan merendahkan yang lain hanyalah orang yang belum paham esensi dari sebuah praktik spiritual. Masih terjebak pada kulit dan “syariat” dari praktik tersebut.

    Meditasi dan sholat merupakan upaya penenangan dan harmonisasi pikiran (minds), konsentrasi, dan sebagainya yang tentunya jika dilakukan dengan benar dan berhasil, secara otomatis akan berdampak pada kehidupan sosial di masyarakat.

    Soal spiritual, belajarlah pada kebijaksanaan Timur yang fleksibel, yang mengutamakan balance dan keharmonisan (otak kanan) daripada “syariat” dan dogma baku (otak kiri).

  3. apabila shalat dan meditasi adalah bentuk kesamaan praktik spiritual, maka sebenarnya ada kemubaziran mekanisme pencapaian spiritual yang harus dengan berbagai cara dan itu juga sebenarnya telah meletakkan sejarah menjadi proses dan lintasan yang tidak penting, kecuali hanya sebagai urutan dan jatah tiap orang untuk hidup di dunia.
    satu lagi, apakah praktik spiritual hanya masalah balance, harmoni, ketenangan, kebahagiaan, konsentrasi, dan sosiologis? saya kira saya tidak pernah bisa mempercayai bahwa Tuhan hanyalah seperti yang diucapkan oleh Fritjof Capra sang pengagum spiritualitas Timur sebagai spiritualitas kebumian… Tuhan saya kira lebih “mulia” dari itu…dan Tuhan juga lebih “tinggi” daripada hanya ada di bumi…atau bahkan alam semesta…atau bahkan alam yang melampaui alam itu sendiri…itulah sebabnya Tuhan tidak bisa hanya sosiologis maupun ekologis.

  4. […] SHALAT IS ABOUT BEYOND MEDITATION Meditasi dalam tradisi-tradisi agama budaya sebelum Islam adalah bentuk peribadatan yang dilakukan oleh agama-agama Hindu dan Budha. Shalat dalam tradisi Islam sebenarnya merupakan bentuk yang paling pungkas dan bahkan melampaui meditasi itu sendiri. Bahkan shalat sebenarnya pula bukan meditasi itu sendiri. Karena shalat bukan merupakan aktivitas egoistik, aktivitas pribadi yang lebih cenderung untuk kepentingan pribadi […] Posted by bebas Uncategorized Subscribe to RSS feed […]

  5. @ Adjidedim,

    Nampak jelas opini anda berangkat dari pemahaman akan “Tuhan” yang berpribadi, yang patut disembah, dllsb…

    Ini menyebabkan, opini anda mengenai “spiritualitas” cenderung menekankan pada praktik “worship” kepada Tuhan, dan bukan “harmony” dllsb itu.

    Saya berpendapat sebaliknya, justru praktik worship itu sendiri adalah “praktik spiritual primitif” yang tiada guna. Pada level intelektual tertentu, worship ditinggalkan, dan manusia beralih ke praktik spiritual murni (non worship).

    Tuhan adalah sesuatu yang Trancendent, dan justru karena itu, Tuhan TIDAK RELEVAN disembah, dipuji, dan dipuja, dan bahkan tidak relevan dihina sekalipun.

    Tak ada sesuatu di alam jagat ini, selain daripada kepentingan manusia. Karena manusia adalah subjek terutama dari alam jagat ini.

    Apapun persembahan anda kepada Tuhan, tidak relevan dengan Tuhan itu sendiri. Ini yang seringkali tidak disadari banyak orang. Tetapi apapun persembahan anda kepada manusia, termasuk kepada diri anda sendiri, sekecil apapun, selalu relevan.

    Di sinilah kekuatan konsep agama Timur, terutama Buddha yang saya pahami. Agama Buddha tidak bermula dari teologi, tetapi bermula dari “problem-problem manusia”.

  6. Pagi,

    Saya stumble tulisan ini setelah browsing mengenai hubungan Shalat dan meditasi.

    Kebetulan saya bekerja dengan orang asing yang jauh dari informasi mengenai Islam. Beberapa saat setelah dia melihat saya Sholat, dia mulai bertanya soal Sholat. Dalam menjelaskan kepadanya, saya suka memberikan penjelasan ke bentuk yang sederhana. Saya jelaskan kepada dia bahwa Shalat adalah bentuk meditasi yang dilakukan 5x sehari. Sedangkan makna 5x sehari itu bisa di analogikan sebagai check point atau “laporan” 5x sehari.

    Saya pikir tidak perlu mendikotomi pemahaman Sholat dan meditasi. Mungkin bagi pemikir yang sudah mendalami pemahaman Sholat bs memahamai bahwa Sholat bukanlah meditasi. Tapi jika dalam konteks kita menjelaskan kepada orang yang belum mengerti Sholat (apalagi mengerti Islam), maka penjelasan Sholat adalah meditasi bisa menjadi jawaban yang masuk akal bagi mereka. Jika kita menjelaskan Shalat adalah berbeda dengan meditasi, dan semata-mata aktivitas ritual kepada Tuhan maka orang tersebut akan enggan mendalami lebih dalam soal Shalat, terlebih lagi soal Islam.

    Jika kita berpikir sebagai non muslim, kita pasti akan berpikir apa manfaat Islam (termasuk Shalat) bagi kehidupan kita dan seluruh dunia. Hal tersebut harus lebih jelas sebelum masuk ke pemahaman manfaat Shalat di dunia Ketuhanan. Jika dari awal penjelasan bahwa seluruh aktivitas ibadah di Islam hanyalah ketuhanan semata tanpa ada manfaat di keduniaan (sosial), maka saya rasa akan banyak orang berpikir bahwa Islam adalah agama non sense. Sementara Islam adalah “Rahmatan lil Alamiin”, yang dengan sendirinya berarti bermanfaat bagi seluruh alam. Maka akan lebih baik menjelaskan Islam dan manfaatnya di sisi keduniaanya (sosial) dahulu, sebelum masuk ke sisi Ketuhanannya.

    Wallahu’alam bisawaab..

  7. agama bumi > berangkat dari kesadaran diri dan alam semesta.
    agama langit > berangkat dari wahyu dari tuhan.
    pilih saja yang anda sukai. keduanya mempunyai aplikasi dan sasaran berbeda.
    meditasi > menuju kesadaran maha tinggi.
    shalat > menghadap tuhan menembus 7 lapisan langit.
    keduanya mempunyai makna dasar yang sama, apa perlunya membandingkan keduanya? reklame bahwa agama anda lebih baik?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s