NAIK BIS UMUM LEWAT PORONG


Beberapa hari lalu, tepatnya tanggal 26 Nopember 2008 selesai ngisi acara kuliah tamu dari Unair Surabaya, saya pulang naik bis umum tujuan Malang. Karena saya tergesa-gesa harus mengejar jadwal ngajar di Univ. Brawijaya, maka saya tidak lagi pilih-pilih naik bis patas atau bis umum (meskipun ternyata terlambat juga nyampenya di Malang hehehe). Bis tujuan Malang yang lewat di depan hidung langsung aja di”samber” alias masuk ke dalam. Like always, bis umum itu tidak pake pendingin (AC), panas, bau asap rokok, bau keringat dan bau macam-macam. Bayangkan aja untuk biayanya saja 2x lebih murah dari bis patas dan malahan 10x lebih murah daripada biaya travel. So, bisa diduga yang naik memang benar-benar adalah “realitas sosial” Indonesia kita. Bagiku yang hobi melihat realitas, kondisi ini langsung memberi inspirasi mencatat kejadian-kejadian di dalam bis selama perjalanan, terutama pengamen di bis umum…gaya Paulo Freire gitu deh katanya…hahaha.

Ketika lewat di daerah bencana lumpur porong sidoarjo, mulailah bau busuk dan menyengat masuk dan membuai bis. Wah bener-bener bau, apalagi macet di porong ini 45 menit, jadi selama 45 menit aku dipaksa untuk menikmati bau lumpur porong yang keluar dari hasil “penjarahan” PT. Lapindo. Saya jadi berpikir apakah seperti Purnomo Yusgiantoro Menteri ESDM, Bakri Menko Kesra, dan para jajarannya pernah menikmati dan mennginap minimal tiga hari di daerah lumpur hasil kebijakan dan keserakahan mereka dalam bentuk bau busuk itu ya? Hehehe kalau mereka memang pro rakyat seharusnya mereka mencoba menikmati juga bau busuk itu kan? Biar tidak asal bikin kebijakan yang cenderung menyengsarakan rakyatnya.

Setelah melakukan orientasi kilat, ditetapkan aja yang perlu dicatat di lapangan, yaitu Pengamen. Kenapa pengamen? Karena pengamen adalah ukuran paling gampang untuk menjelaskan realitas telah berubah atau tidak? Ya ini kan ukuran subyektif, gak apa-apa namanya juga katakanlah “on the spot research”, atau bahasa mudahnya “penelitian dadakan” atau lebih mudah lagi “pengamatan seadanya atas realitas” hehehe. Jadi seperti diomongkan dalam penelitian non-positivistik (non-mainstream) itu, yang namanya turun lapangan itu “anything goes” kalau dari perspektif postmo, atau tergantung keinginan atau subyektivitas peneliti dalam perspektif interpretif dan kritis. Atau kalau dalam perspektif religiusitas (bikin paradigma baru ni rencananya hehehe) Islam-ku, ya selama koridor akidah dan syariah tidak terlanggar kenapa mesti membatasi diri yang namanya turun lapangan harus terstruktur (gitu deh…). Ini kan benernya ingin ada justifikasi atau pembenaran bahwa apa yang aku lakukan adalah benar… ya gak juga tapi dengan melihat realitas apa adanya itu tanpa mereka diintervensi, maka subyek yang diamati akan melakukan apapun sesuai dengan ekspresi mereka. Nah ekspresi kondisi sosial-ekonomi-budaya-politik-moral-agama dan lainnya yang mudah terbaca di dalam bis itu keliatannya memang cuma pengamen, karena mereka selain menampakkan diri dalam perspektif fisik, juga menampilkan dalam perspektif oral maupun body-language, bahkan artikulasi nyanyian yang terbungkus dalam metafora atau bahkan sindiran kritis atas realitas yang menimpa dirinya. Berbeda dengan para penumpang, yang paling hanya kelihatan dari fisiknya saja mungkin meski fisik tidak merefleksikan suasana batin dan realitas mereka sesungguhnya.

Ya gitu deh…mulai dari Terminal BUngurasih dicatat berapa orang pengamen yang masuk ke dalam bis. Perasaan waktu aku masih kuliah 15-20 tahun lalu yang namanya pengamen di bis selama perjalanan jogja-malang (waktu tempuh 8-10 jam) maksimal jumlahnya 3-5 orang. Nah aku mau lihat dengan rentang jarak yang pendek ini apakah ada peningkatan jumlah pengamen dari Surabaya-Malang (waktu tempuh 2-3 jam). Secara umum dari jumlah pengamen yang masuk di dalam bis memang relatif makin tinggi. Berikut rincian pengamen yang naik di bis umum yang saya tumpangi:
a. 1 laki-laki sekitar 20-an tahun di Terminal Bungurasih, lagu ST 12 (kontemporer)
b. 2 laki-laki sekitar 30-40an tahun di daerah Lumpur Porong Sidoarjo, lagu panbers (nostalgia)
c. 1 laki-laki sekitar belasan tahun di daerah Lumpur Porong Sidoarjo lagu ciptaan sendiri
d. 1 wanita sekitar 30an tahun di daerah Lumpur Porong Sidoarjo, lagu dangdut lama (nostalgia)
e. 2 laki-laki sekitar 20an tahun di daerah Japanan Pasuruan batas Porong, lagu dewa (kontemporer)
f. 1 wanita tua 50an tahun dan 1 laki-laki 10an tahun di Purwodadi, lagu titik puspa (nostalgia)
g. 2 wanita dan 2 laki-laki akhir belasan tahun di Lawang, lagu dangdut (kontemporer) g tau judulnya😀

Jadi selama perjalanan sampai singosari saja dapat dideskripsikan sebagai berikut:
1. ada 13 pengamen yang naik turun…wiii hebat.
2. Dilihat dari jumlah pengamen (13 orang) maka setiap 9,23 menit ada pengamen yang masuk ke dalam bis.
3. Dilihat dari frekuensi naik-turunnya pengamen (7 tahap) baik perorangan maupun berkelompok setiap 17,14 menit ada pengamen yang masuk dalam bis.
4. Dilihat dari jenis kelamin pengamen laki-laki berjumlah 9 orang (69,23%) dan pengamen perempuan 4 orang (30,76%).
5. Dilihat dari tema nyanyian: (a) lagu kontemporer 7 orang (58,33%); (b) lagu nostalgia 5 orang (41,67%); (c) lagu sendiri 1 orang (7,69%).

Sekarang analisis subyektif saya. Secara umum realitas masyarakat kita memang telah termarginalkan, karena tidak ada lagi lahan pekerjaan yang bisa didapatkan secara formal dan memenuhi standar kerja atau standar hidup layak. Hal ini dilihat dari banyaknya pengamen di dalam bis yang hanya berjalan selama 2 jam dari surabaya ke malang. Kalau dihitung penumpangnya naik turun maksimal 100 orang, sedangkan pengamen 13 orang, maka  prosentase pengamen sebesar 11,5%. Banyak juga ya hehehe

Bila dilihat dari materi nyanyian, 7 orang pengamen telah pasrah dalam materi nyanyian yang sudah tersedia di pasar, yang tidak terpengaruh realitas masa kini 5 orang dan yang mandiri dan mengkritisi realitas hanya 1 orang. 7 orang pengamen melantunkan lagu kontemporer inipun bisa dipisahkan menurut ekspresinya masing-masing. Ada 4 orang (30,77%) yang pasrah atas realitas dan cenderung tidak memiliki daya bertahan hidup yang tinggi karena mereka menyanyikan lagu yang menyayat hati, dan hanya menyuarakan suara hati yang pasrah. 3 (23,08%) orang menyanyikan lagunya dengan ekspresif dan lebih bersemangat menghadapi hidup. Sedang yang tidak terpengaruh realitas kontemporer karena menyanyikan lagu nostalgia atau yang sesuai dengan nuansa hatinya ada 5 orang. Dari 5 orang itu ada 2 orang yang ekspresif dan tetap menginginkan realitas masa lalu sejumlah 2 orang (15,38%) sedang yang tidak ekspresif tapi ingin realitas masa lalunya 3 orang (23,08%). Hany satu orang yang tidak terikat oleh masa lalu dan realitas saat ini, karena dia menyanyikan suasana hatinya, ekspresif dan menginginkan perubahan sesuai dengan keingin dirinya (7,69%). Berikut diurutkan prosentasi materi nyanyian bila dihubungkan dengan menghadapi realitasnya:
– 7,69% ingin adanya perubahan sesuai dengan keingin dirinya
– 15,38% tidak ingin adanya perubahan dan memperjuangkan masa lalu
– 23,08% tidak ingin adanya perubahan tapi pasrah dengan hidup
– 23,08% memahami realitas saat ini sebagai potensi untuk tetap hidup
– 30,77% memahami realitas saat ini tetapi pasrah dan tunduk dengan realitas.

Jadi, gimana? Ya gak ada kesimpulan…silakan disimpulkan sendiri aja…

7 thoughts on “NAIK BIS UMUM LEWAT PORONG

  1. ya sih, bener kemarin itu ada lo yang bagus, pake asesoris lengkap, lagu diiringi alat musik gitar, ketipung dan harmonika terus nyanyikan lagu dewa…yang nyanyikan juga berdandan keren meski ngampen…kafe kalah deh… tapi ada yang sudah pake alat standar ngamen (penutup botol dipaku dikayu) ya namakan aja ecek-ecek, terus nyanyinya tanpa ekspresi lagian suaranya fals, wah itu bikin mules pollll…malah ada yang pake nama (empat orang) orkes melayu melayu sak geleme dewe…hehehe
    yang jelas realitas kita memang sudah menjadi miskin saja
    salam
    https://ajidedim.wordpress.com

  2. kita jadi faham realitas pak, dan bila ini merupakan daur hidup yang suatu saat nanti akan jadi legenda (seperti kejayaan romawi dengan colloseumnya yang berkapasitas seperti lap sepak bola kelas internasional sekarang), sampai titik dimana kira-kira sekarang ini…..subhanallah….

  3. Hidup itu pilihan yang harus dipilih. Baik atau buruk, tergantung kita yang memilihnya. Tuhan menciptakan manusia adalah makhluk yang paling sempurna dibanding makhluk yang lain.
    MENGAMEN lebih mulia dari pada KORUPSI
    Berbekal suara hidup mulia, bukan berbekal kemampuan/keahlian untuk korupsi yang membuat sengsara banyak umat. Sebaik-baik manusia adalah manusia yang bermanfaat bagi manusia lain.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s