PRO SPIRITUALITAS ATAU RELIGIUSITAS?


Dunia saat ini sedang menunjukkan pergerakan kebudayaan yang makin dinamis. Dinamika tersebut dapat dilihat dari tingkat kejenuhan sosiologis manusia pada ruang benda dan materialitas yang sangat masif. Seminar, traning, workshop, penelitian, buku-buku sampai diskursus wacana keilmuan kontemporer memang menunjukkan perbedaan yang menonjol.

Sejak era renaissance dan revolusi industri siklus yang terjadi adalah dituhankannya empiricism, akal, rasio dan materi sebagai tujuan, ukuran. Sedangkan metafisika, alam batin, dunia “luar” dan realitas dianggap sebagai ruang yang tak penting dan bahkan harus dinegasikan demi kemajuan sains, teknologi bahkan realitas kemasyarakatan. Kalaupun realitas tersebut diakui tetapi ruang untuk itu telah digeser ke ruang privat dan tidak menjadi pertimbangan penting.

Apa yang kemudian terjadi? Yang terjadi adalah sandaran kebenaran, tujuan maupun ukuran ada pada sains, teknologi, serta ruang wacana maupun interaksi sosial yang cenderung antroposentris, materialistik dan konkrit. Dampaknya kemudian adalah tergesernya nilai-nilai luhur, nilai-nilai spiritual, nilai-nilai religius, nilai-nilai lingkungan, nilai-nilai budaya, nilai-nilai interaksi sosial menjadi hilang dalam ruang materialitas an sich. Konkritnya adalah kekayaan materi menjadi tujuan utama, keberhasilan akademis menjadi cara mencapai tujuan, penjarahan dan eksploitasi lingkungan maupun masyarakat menjadi strategi, uang dan kekuasaan menjadi taktik, kekayaan dan kesehatan fisik menjadi potret kemapanan seseorang, kemewahan maupun gemerlapnya keluarga, masyarakat, kota dan negara menjadi ukuran performance.

Abad ke 21 adalah antiklimaks materialitas dan antroposentris diri dan masyarakat. Setiap diri dan masyarakat mulai mempertanyakan kembali apakah penegasian spiritualitas, religiusitas dan nilai-nilai sosial budaya memang telah mengakibatkan kehancuran alam, ekonomi, sosial, politik dan kebudayaan modern? Sudah lazim sekarang bila muncul bak jamur di musim hujan, pencarian diri dan dahaga spiritual merebak di mana-mana. Manusia mulai introspeksi akan keberadaan dirinya yang tidak hanya terdiri dari sosok fisik ataupun sebongkah daging yang mengejar kenikmatan materi dan dunia saja. Setiap manusia sekrang seakan disadarkan akan perlunya makna, nilai luhur, spiritualitas, religiusitas dan interaksi sosial yang lebih santun dan berbudaya.

Tetapi sekarang sedang terjadi dis-orientasi kemanusiaan itu sendiri. Yang dicari di luar materi yang katanya merupakan koeksistensi dari materi itu tidak harus dalam koridor agama atau religiusitas, cukuplah dan lebih baik apabila spiritualitas menjadi penyatu setiap insan dunia untuk membangun makna hidup dan keberhasilannya. Karena religiusitas akan sesak dan penuh dogma, religiusitas akan membatasi interaksi antar kepercayaan berbasis agama tradisional, sehingga diperlukan nilai-nilai yang sama dari tiap agama. Pencarian nilai-niai spritual tidak harus dari agama atau religi, tetapi lebih baik mencari nilai-nilai kebaikan dan makna hidup untuk menuju Tuhan bisa tanpa harus ter-penjara oleh religi. Maka spiritualitas akan menjadi pilihan paling universal dan diterima oleh setiap insan dunia. Jadi gugurlah nilai-nilai religi, gugurlah syariah tiap agama.

Begitukah yang benar? Kalau begitu wow mengerikan sekali… Sumber dari segala sumber kebenaran yang diwahyukan Allah kepada Rasulullah juga harus tergeser… Nilai Tawhid harus gugurkah? Puncak keimanan kita yang ditulis dalam Iqra’ bismi rabbikalladzi kholaq atau qul huwallahu ahad atau dzalikalkitabula roibafih harus tereduksi dalam spiritualitas universal? Ataghfirullah hal adzim… kalau begitu saya lebih baik tidak menjadi orang berkeyakinan spiritualitas deh, saya lebih baik jadi orang kuno tapi masih bisa baca qur’an, shalat 5 waktu, zakat, puasa, haji aja… lebih baik saya dianggap tidak berjiwa sosial dan mementingkan kebersamaan daripada saya harus ikut dalam “dogma baru” atas nama “spiritualitas universal”. Lebih baik saya berpikiran, berhati, berparadigma religiusitas, sehingga saya masih bisa menjadi orang Islam sejati yang punya empati sosial dan lingkungan atas nama Allah…

Jadi spiritualitas yang baik adalah dengan jalan religi. Ya yang benar tetap saja mencari kebenaran dan spiritualitas itu ada dalam bingkai religi. Religi jadi jalan untuk mencapai kebenaran. Religi adalah puncak spiritualitas itu sendiri. Religi yang sebenarnya adalah aspek tertinggi dari spiritualitas… Barakallah…

2 thoughts on “PRO SPIRITUALITAS ATAU RELIGIUSITAS?

  1. Setuju sekali pak…..memang religiusitas adalah jalan yang terbenar.Islam adalah jalan terang. Tetapi jangan sampai salah mengartikan perspektif orang tentang spiritualitas. Jangan-jangan religiusitas itu yang dimaksudkan sesunggungnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s