TAZKIYAH SAINS DAN TEKNOLOGI (Bagian 1)


TAZKIYAH SAINS DAN TEKNOLOGI:

KELUAR DARI CARUT MARUT SAINS-TEKNOLOGI MODERN[1]

Dr. Aji Dedi Mulawarman[2]

1. PENDAHULUAN

Perkembangan peradaban dunia dimana kita berada saat ini berjalan merupakan babakan teknologi dengan percepatan yang tidak pernah ditemui progresifitasnya dalam rentang kebudayaan manusia sebelumnya. Kecepatan perubahan teknologi modern dapat disebut –dengan meminjam metafora Giddens– Juggernaut, truk besar yang meluncur tanpa kendali. Kondisi teknologi memang telah melesat kencang tanpa kendali, yaitu dari kendali induknya, ilmu pengetahuan. Begitu berkuasanya teknologi sampai kemudian Naisbitt dan Philips (2001, 21)  menganggap manusia telah masuk dalam Zona Mabuk Teknologi dimana:

…kondisi teknologi telah menjadikan dirinya hukum alam dan memberinya hak dalam kehidupan sehari-hari kita tanpa dapat dicabut, membuat aktivitas formal dan dunia alamiah kita telah ’diatur’ oleh peranti lunak yang kian lama kian canggih. Zona Mabuk Teknologi, adalah kehampaan spiritual yang mengecewakan dan berbahaya, serta mustahil keluar dari dalamnya, kecuali jika kita menyadari bahwa kita memang berada di dalamnya. (garis bawah tambahan penulis).

Mengapa Naisbitt dan Philips berkata seperti itu? Memang teknologi di satu pihak memperbaiki dan mendukung kehidupan manusia, akan tetapi di sisi lain menghancurkan dan bahkan memiliki sifat dasamuka.  Teknologi modern sebagai ’anak kandung’ – hasil dan turunan langsung dari ilmu pengetahuan – saat ini telah menghasilkan paradoksal-paradoksal. Teknologi menurut Jacob (1993) pada gilirannya mempengaruhi perkembangan ilmu pengetahuan. Ada selang waktu antara penemuan ilmiah dan penerapannya, yang makin lama makin singkat. Juga selang antara penemuan-penemuan baru makin singkat, dengan kata lain makin frekuen dan bertubi-tubi. Jacob (1993) menggambarkan bahwa teknologi telah menjadi kultus dan didewa-dewakan, seakan teknologi adalah jimat dan paspor satu-satunya menuju kesejahteraan, kemakmuran dan keadilan. Bahkan pengkultusan teknologi telah menimbulkan masyarakat materialistis konsumtif, yang sayangnya tidak merata karena sumber dunia yang terbatas; seperti kata Mahatma Gandhi, ”sumber-sumber dunia cukup untuk memuaskan kebutuhan manusia, tetapi tidak cukup untuk memuaskan kerakusan manusia”.

Keinginan sains dikembangkan dalam bentuk teknologi untuk memberikan kebahagiaan dan kesejahteraan manusia telah berbalik menjadi kesengsaraan umat manusia, hancurnya daya dukung lingkungan dan alienasi manusia dari lingkungannya serta hanya memberikan kesejahteraan bagi segelintir manusia. Kesenjangan kaya dan miskin makin melebar, seperti tak terselesaikannya kasus kemelaratan masyarakat negara-negara berkembang yang mayoritas di bumi ini, dimana kelimpahan sandang, pangan, papan dan kemakmuran-kemakmuran lainnya yang  terkonsentrasi di negara-negara maju yang tidak lebih dari 20 negara dari ratusan negara di dunia.

Hegemoni source sains dengan teknologi mutakhirnya Cyber-technology bahkan dianggap Pilliang (2004) telah meninggalkan Tuhan dan menciptakan Tuhan Digital, yaitu dengan memunculkan kegilaan-kegilaan mentalitas dunia maya. Belum lagi lalu lintas moneter lintas batas dan penguasaan  teknologi serta produksi yang berada pada segelintir perusahaan multinasional, yang otomatis memunculkan hegemoni politik ekonomi dan menggeser kekuatan ekonomi negara berkembang dan Usaha Mikro Kecil dan Menengah menjadi pemain pinggiran yang tak pernah terselesaikan nasibnya kecuali menjadi ’perusahaan jajahan kolonial’ dari perusahaan multinasional dalam bentuk menjadi sub-ordinat dari kekuasaan perusahaan multinasional yang didukung oleh pemerintahan yang juga korup. Bentuk lalu lintas moneter lintas batas dan penguasaan  teknologi serta produksi menurut Capra (2001) bertujuan untuk kepastian aliran atau arus kas perusahaan “bermain monopoli” di berbagai flows of things untuk mengantisipasi “dadu mesin” dari bursa saham disebut Electronically Operated Global Casino (Casino Global Elektronik), atau dalam bahasa Castells disebut Automaton (Capra 2003, 120)[3].

Perusahaan juga telah dikooptasi sinergi politik kepentingan ekonomi pemilik modal (owners) dan manajemen (agent) yang kemudian menegasikan karyawan, buruh, lingkungan sosial serta lingkungan alam (lihat misalnya penelitian yang dilakukan Tinker 1980 dan 1984; Cooper 1980; Cooper dan Sherer 1984; Gray, Owen dan Maunders 1988; Gray, Kouhy dan Lavers 1995; Gray, Owen dan Adams 1996; Lehman 1999; Stadden 2002). Belum lagi kerusakan-kerusakan dan krisis-krisis akut lingkungan alam yang diakibatkan ketamakan manusia dalam eksploitasi teknologi yang tak terukur, mulai dari perlombaan senjata, eksploitasi energi dan pertambangan, penggundulan hutan besar-besaran, pemakaian kosmetik, obat-obatan dan pupuk kimiawi, dan lain sebagainya[4].

Menyelesaikan masalah teknologi tidak dapat dilakukan dengan mengeliminir dampak teknologi saja. Eliminasi dampak sama seperti menyembuhkan pusing akibat dampak dari gangguan asam lambung dengan minum Paramex. Menyembuhkan gangguan asam lambung sebenarnya tidak hanya dengan minum obat maag saja. Menyembuhkan gangguan asam lambung harus disertai dengan perubahan radikal pada beberapa hal seperti pola makan sehat, menjaga keseimbangan pikiran, tubuh dan mental. Menyembuhkan kekacauan realitas akibat teknologi juga semestinya tidak menyelesaikan masalah dengan mereduksi dampak teknologi saja. Menyembuhkan dampak teknologi juga tidak hanya menyelesaikan konsep teknologi, tetapi juga harus masuk lebih jauh pada pembentuk konsep teknologi itu sendiri, yaitu sains atau ilmu beserta atribut-atribut filosofis yang menempel di dalamnya.

Bersambung…. ke bagian 2. Mencari Akar Masalah


[1] Makalah pernah disampaikan dalam Kuliah Peradaban di Masjidil ’Ilm Bani Hasyim, Singosari,  Malang, 8 Januari 2007 dan Latihan Kader II HMI Cabang Yogyakarta,  30 Juni 2007. Makalah ini merupakan salah satu bagian dari rencana buku yang akan diterbitkan penulis dengan judul Peradaban dan Ilmu Islami: Menggugat Filsafat Ilmu dan Metode Ilmiah

[2] Dosen Program Doktor Ilmu Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Brawijaya, Malang; Direktur Eksekutif Lembaga Studi Ekonomi dan Keuangan Islam, CISFED, Jakarta. Direktur KB-TK-SD Bertaraf Internasional Masjidil ’Ilm Bani Hasyim,  Singosari, Malang, Jawa Timur. Email: ajidedim@yahoo.co.id HP: 081-555-600-745

[3] Automaton menurut Castells adalah ciptaan inti ekonomi hasil proses globalisasi keuangan yang secara tegas mengatur kehidupan manusia. Bukan robot-robot yang menghilangkan lapangan kerja atau komputer-komputer pemerintah, tetapi mesin-mesin globalisasi berbentuk transaksi keuangan elektroniklah yang mengambil alih dunia manusia. Logika automaton bukanlah aturan-aturan pasar tradisional, dinamika aliran keuangan yang digerakkannya saat ini di luar kendali-kendali pemerintahan negara, perusahaan-perusahaan dan lembaga-lembaga keuangan. Akan tetapi pada keluwesan dan ketepatan teknologi informasi dan komunikasi baru, regulasi ekonomi global yang efektif secara teknis menjadi masuk akal.

[4] Dalam bahasa dan penjelasan yang lebih komprehensif dan lugas misalnya Fritjof Capra dalam bukunya The Hidden Connections (2001); Fritjof Capra dalam The Turning Point yang diterjemahkan Penerbit Bentang tahun 1997; atau yang lebih klasik seperti Lewis Mumford  dalam The Automation of Technology: Are We Becoming Robots? (1964); lihat juga Teknologi dan Dampak Kebudayaannya Volume II yang disunting oleh YB. Mangunwijaya (1985); Masa Depan Islam karangan Ziauddin Sardar edisi terjemahan yang diterbitkan Pustaka Bandung (1987); Bruce Rich dalam bukunya Menggadaikan Bumi edisi terjemahan Indonesia yang diterbitkan oleh INFID 1999; Dunia yang Berlari: Mencari Tuhan-tuhan Digital (2004) karangan Yasraf Amir Pilliang; Manusia, Ilmu dan Teknologi: Pergumulan Abadi dalam Perang dan Damai karangan T. Jacob edisi kedua tahun 1993; dan banyak lagi.

One thought on “TAZKIYAH SAINS DAN TEKNOLOGI (Bagian 1)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s