DIRI: CITRA ILAHIAH ATAU EGO?


Diri. Sebuah kata yang tak pernah habis didiskusikan sepanjang sejarah kemanusiaan. Diri adalah refleksi, bagi kalangan yang percaya agama, sekaligus citra Tuhan di dunia. Diri, merupakan citra fitrah kesucian dan kebaikan melalui penciptaan di ruang semesta fana untuk tetap menjalani omen (takdir) selama hidupnya, sampai menuju dan kembali ke Surga lewat kemampuannya berhadapan dengan pertarungan dosa dan pahala. Tuhan, sebagai Citra Ideal tujuan akhir kemanusiaan, mengantarkan diri pada pertarungan abadi implementasi dosa-pahala empiris lewat keseimbangan ego-altruis, kebaikan-kejahatan, materi-nonmateri, fisik-jiwa, dan sebagainya, dan sebagainya. Kitab Suci, sebagai pegangan hidup diri, menjadi ukuran satu-satunya pertarungan abadi ketundukan dan kreativitas manusia, dalam bahasa Islam dapat diterjemahkan sebagai kemampuan manusia menerjemahkan sikap diri abd (ketundukan menjalankan pesan profetik menuju Tuhan) sekaligus khalifah (kreativitas menjalankan pesan profetik menjalani kehidupan) di muka bumi.

Potret diri menjadi berbeda, bagi kalangan yang percaya bahwa manusia adalah eksis dan merupakan bagian dari evolusi historisitas semesta. Diri dalam sentral kemasyarakatan dan kesemestaan adalah sosok makhluk hidup hasil pergulatan evolutif hasil dari, apa yang dikatakan Darwin sebagai, survival of the fittest. Diri manusia adalah bentuk terindah alam yang cerdas, kreatif, unggul, dengan kekuatan pikiran dan intuisinya menebarkan kuasa mengendalikan alam semesta. Teknologi dan Sains kemudian, menjadi kekuatan utama memberikan tawaran alternatif kemana dunia dan semesta ini akan diarahkan. Altruis, kebaikan, nonmateri, jiwa dan antitesis lainnya bagi diri historis menjadi tidak penting, sepanjang ego, kejahatan, materi, fisik dan antitesisnya terpenuhi secara sosiologis, empiris dan bahkan kontekstual. Bahkan oposisi biner antitesis tersebut menjadi hilang di ranah sosiologis, ketika keterpenuhan kebutuhan (needs) dan keinginan (wants) empiris telah hinggap di diri. Orientasi kebutuhan dan keinginan inilah yang kemudian menjadi bagian dari hilangnya Tuhan, kecuali mungkin Tuhan dapat empiris pula, Tuhan dapat nyata pula. Sepanjang Tuhan tak eksis, maka dosa dan pahala menjadi absurd. Wajarlah kemudian pula, self interest, laissez faire, free will adalah kemustian diri, kemanusiaan bahkan kesemestaan… till the end. Wajarlah kemudian pula, Francis Fukuyama menegaskan The End of History adalah diri Manusia Universal yang berpusat pada thymos untuk hasrat pengakuan diri, dan dengan thymos pulalah maka demokrasi liberal adalah puncak pemenuhan hasrat kemanusiaan. Jadi, kalau maunya memandang segala sesuatu yang diri itu hanya hasrat, kok ya kontradiktif antara yang maunya mikir Ilahiah Sentris jadi terjebak pada bias Self Sentris…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s