MODAL SOSIAL DAN NEGERI PARA BEDEBAH


Modal Sosial dan Negeri Para Bedebah

Sedang menikmati tulisan Budi Radjab, sosiolog-antropolog Unpad, berjudul “Modal Sosial dan Kepentingan Ekonomi dan Politik Negara”. Tulisan ini ingin menggambarkan dampak peran negara kolonial Hindia Belanda dan pasca kolonial hingga kini, yang dalam kebijakan politik dan ekonominya cenderung melumpuhkan modal sosial masyarakat. Proses pelemahan modal sosial melalui intervensi negara itulah, masyarakat memformulasikan dan mengartikulasikan sistem sosial dan budaya yang berciri defensif dan formalistik berlebihan. Bagi Radjib, masa depan Indonesia tidak hanya dibangun struktur politik dan ekonominya saja, tetapi lebih penting, menumbuhkan modal sosial sebagai kata kunci berbangsa dan bernegara. Kelompok-kelompok sipil adalah modal sosial terpenting yang harus ditumbuhkan peran sentral kemandiriannya dalam, seperti istilah McLelland (1961), need for achievement (kebutuhan berprestasi), atau istilah Lerner (1958), empathy, kemampuan untuk membayangkan menjadi orang lain yang memiliki keahlian dan ketrampilan serta menjadi orang yang selalu bergerak mobile… menarik… mantap… bin ok banget…

Kalau begitu, ketika terdapat sebuah negeri yang disebut Adhie Massardi sebagai Negeri Para Bedebah, hanya dikendalikan oleh para pemimpin politisi, pedagang dan akademisi yang logika berfikirnya sangat kalkulatif-matematis dalam melihat dan memberi solusi untuk masyarakatnya. Salah satunya, misal lewat struktur, kalau di Indonesia disebut APBN. Apalagi logika APBNnya hanya ngitung-ngitung ngurangi subsidi energi untuk transportasi yang di Indonesia disebut BBM dipindah ke, di Indonesia disebut, BLT, supaya APBN tidak bengkak. Tetapi tetap melanggengkan budaya boros anggaran untuk para amtenar, merencanakan APBN berbasis model defisit dan suka berhutang ke lembaga donor. Melanggengkan kuasa korporasi multinasional lewat regulasi dan pembuatan perencanan pembangunan nasional, misal infrastruktur untuk jadi jalan masuk pasar bebas maupun pembudayaan pola konsumtif barang-barang produksi luar, serta patuh tanpa ampun pada tekanan negara donor. Belum lagi kebijakan pangannya hanya berorientasi ketahanan pangan dan bukannya kedaulatan pangan, dan seterusnya, dan seterusnya.

Maka yang terjadi di Negeri yang dikuasai Para Bedebah adalah pelemahan modal sosial rakyatnya secara berkelanjutan. Mereka makin defensif, tidak kreatif, suka mengikuti, patuh dan pasrah terhadap kuasa ilmu, moral, praktik, dan teknologi barat. Sekaligus makin memotret agama secara formalistik, cuma jadi tukang tadah sekaligus pembeo kecerdasan orang lain.

Kasihan para pengusaha lokal, kasihan petani, kasihan para penambang kecil, pedagang asongan, para buruh… para rakyat… negeri itu…

Ah mengapa kasihan? Kan bukan negeriku…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s