Riset (tak boleh) ber-Ruh Tuhan?


Pertanyaan yang menggelitik penulis sejak lama, setelah membaca baik itu Aliran Positif maupun Kritis, apakah ada titik temu antara Positivisme dan Marxisme? Setelah menelusuri lebih jauh kedua aliran tersebut, penulis memiliki jawabannya. Jawaban itu adalah, YA. Titik temu antara keduanya bukan pada value turunan materialisme, karena value turunan materialisme membedakan, Positivisme itu obyektif, selalu berpikiran pragmatis serta menekankan orientasinya pada ego pribadi atau self interest. Marxisme di sisi lain, berada di sisi subyektif, berpihak pada yang lemah, tersisih, dan selalu berorientasi pada social interest. Titik temu Comte dan Marx ada pada Saint Simmon, yang merupakan guru mereka berdua, yaitu pada Materialisme Ilmiah ber-“core value” Materialisme Descartes dan Naturalisme Yunani.

Materialisme Descartes menjelaskan bahwa realitas adalah empirisasi kemanusiaan dalam kesemestaan di mana Tuhan Ada, mencipta dan kemudian pensiun. Manusia pusat realitas dan mampu berkreasi di Alam Semesta tanpa campur tangan Tuhan. Descartes menegaskan bahwa Tuhan kemudian pensiun. Dengan pensiunnya Tuhan, maka Common Sense, pikiran, nalar, yang matematis, aritmatis, aljabaris, geometris, fisis, adalah kemustian dari simbolisasi Descartes mengenai Cogito Ergo Sum, Aku Berpikir Maka Aku Ada.

Pencapaian pikiran terstruktur dan mekanistik seperti itu dapat dilakukan manusia baik itu lewat berpikir logis, maupun (nah ini yang penting, Descartes tetap mempercayai) kekuatan intuisi, mimpi, bahkan meditasi, sebagai salah satu produk Tuhan paling dahsyat yang diberikan “hanya” ke dalam jiwa manusia sebagai puncak kekuasaan manusia untuk dapat melakukan eksperimen, pencarian ilmiah, melalui potongan-potongan “materi” semua yang ada di semesta ini dan apabila perlu merubah aturan-aturan yang bahkan sudah menjadi Sunatullah, bahkan lebih jauh bila “harus” dengan melepaskan kebenaran Iman. Ujungnya adalah agar manusia dapat memahami realitas dan menemukan jawaban keilmuan atas dunia, serta yang terpenting adalah menjadi Le Maitres et Possesseurs de la Nature, Sang Tuan dan Penguasa Alam.

Naturalisme Yunani di sisi lain, menjelaskan bahwa realitas adalah semua yang dapat dipahami sebagai materi apa adanya. Spirit adalah bangunan yang muncul dalam kesadaran setelah proses atau energi akibat perubahan materi.

titik temu positif-marx

Jadi? Apakah kita perlu melakukan perubahan sesuai dengan logika seperti di atas? Memilih melakukan gerakan ilmiah untuk kebaikan masyarakat melalui positivisme atau marxisme saja yang Eropa Sentris dan berorientasi pada materi semata? Keperiadaan segala sesuatu memang hanyalah materi, dan aturan puncak materi adalah kemajuan itu sendiri. Sehingga kita hanya perlu berorientasi pada kemajuan material an sich?

Maka menjadi benar Materialisme Historis atau Materialisme Positif adalah representasi Darwinisme Sosial, yang percaya bahwa realitas adalah realitas tercandra apa adanya dan berasal, berproses dan hilang di dalam realitas itu sendiri. Sedangkan di luar materialitas atas realitas tidak dimungkinkan ada, karena memang segala sesuatu yang berada di luar materi hanya ada karena hasil interaksi dan kompleksitas materi itu sendiri. Energi, progres, kejadian dan apapun itu tidak ada tanpa adanya materi.

Jadi, kita tidak boleh berharap bahwa realitas di luar realitas, seperti keyakinan atau keimanan Islam, Iman kepada Allah, Malaikat, Kitab Suci dari Langit, Kenabian, Takdir, Hari Akhir adalah realitas tanpa realitas, alias “HOAX”. Sekali lagi, jadi? Masih ingin menjalankan aktivitas riset dalam koridor tanpa “Ruang Keimanan” di dalamnya ? Atau memang kita telah sangat terinspirasi oleh Descartes, Tuhan Memang Ada, tetapi Tuhan Pensiun, dan Kita adalah Penguasa Semesta yang dapat meng-“apa-apa”-kan Semesta ini bak Materi Tanpa Ruh?

Bila kita lanjutkan lagi lebih dalam, konsep materialime ala Darwinisme Sosial, kata kuncinya adalah pada materialisasi evolusionis dalam ilmu Sosial. Proses evolutif dunia ilmu (sosial) tidak dapat dielakkan ketika memang “garis darah” sosiologi ala Darwinisme Sosial menjadi bagian penting “nilai” Positivisme dari Bapak Sosiologi Modern, Auguste Comte (1798-1857).

Bangunan utuh pengetahuan dan masyarakat, bagi Comte, tidak lagi berdiri sendiri dan berjalan sesuai “pintunya” masing-masing, tetapi  keduanya telah menjadi satu kesatuan dan berproses dalam bingkai transisi evolusioner, membentuk realitas yang berujung pada “New Social Order”. Untuk mewujudkan tatanan sosial baru yang tentunya lebih baik itulah evolusi pengetahuan manusia dan tatanan masyarakat berproses melalui tiga jenjang perkembangan rasionalisasi atas realitas.

Tiga jenjang tersebut bagi Comte (1896/2000: 27-28) merupakan The Progressive Course or the Human Mind, yang bersifat evolutif, yaitu pertama; dari teologis atau fictitious (Theological State); kedua metafisis atau abstrak (Metaphysical State); menuju ketiga, puncak pengetahuan dan masyarakat modern, saintifik atau positif (Positive State)[1]. Artinya, pengetahuan dan masyarakat di awal perkembangan pra modern, yaitu Theological State, disebutnya sebagai “primitive philosophy”, yaitu akal selalu dipengaruhi pikiran mistis, agamis, religius, termasuk dunia pengetahuan yang dibentuk kemudian selalu berorientasi “transenden”. Baginya, pada tingkatan teologis  yang primitif tersebut, akal, berupaya mencari  the essential nature of beings, kausa prima dan kausa final, asal muasal dan tujuan, dari segala efek, – yaitu Pengetahuan Absolut, – diandaikan  semua fenomena diproduksi oleh aksi perantara dari “Supernatural Beings”.

Pada tahapan selanjutnya, Metaphysical State, kepercayaan pada pengetahuan dan dunia magis/religius/transenden mulai tergantikan oleh pemikiran metafisis/abstrak. Tahapan ini, lanjutnya, hanyalah modifikasi tahapan pertama, akal tidak lagi berorientasi pada supernatural beings, tetapi mengarah kekuatan abstraksi (abstract forces), pada entitas  personified abstractions, yang melekat pada segala sesuatu (inherent in all beings), dan mampu memproduksi semua fenomena. Apa yang disebut dengan penjelasan fenomena, pada tahap ini, lebih mereferensikan pada entitas yang sebenarnya (proper entity). Apa itu proper entity pengganti absolute entity? Bagi Comte, rasionalisasi substitutif atas penyebab segala fenomena adalah Alam Semesta (Universe or Nature).

Puncaknya, dunia yang terdesain oleh kekuatan manusia, bukan lagi oleh “Realitas Absolut” di luar manusia, termasuk abstraksi metafisis atau Alam, tetapi apa yang disebut Comte yaitu Positive State, Akal Rasional, adalah puncak kekuasaan manusia itu sendiri, tidak lagi bergantung pada Realitas Absolut ataupun Alam Semesta, tetapi pada Realitas Empiris berdasarkan hasil Penalaran (Reasoning), Observasi (Observation) yang Terukur (Measured), Obyektif (Objective) dan apa adanya.

Kebenaran berbasis empiris dengan pengaruh Evolusionisme telah memunculkan pemahaman yang mengarah pada reduksi besar-besaran pemikiran modern atas Realitas Absolut menuju Realitas Relatif. Realitas Relatif merupakan pusat dari Visi Comte atas dunia yang didasarkan pada rasionalitas ilmiah berdasarkan pada “Well Regulated Social Order” dan bukan lagi pada “Aturan Normatif Langit”.

positivisme comte

 

Penjelasan Comte atas realitas sebenarnya juga merupakan penegasan atas logika Rene Descartes. Meskipun, Descartes sendiri masih memercayai atas adanya Realitas Absolut, tetapi Realitas Absolut baginya hanyalah dalam proses penciptaan. Setelah penciptaan, tugas Realitas Absolut telah selesai alias pensiun, sedangkan realitas berkembang dalam mekanismenya sendiri. Sedangkan Comte, lebih jauh dari itu, baginya Realitas Absolut hanyalah angan-angan, karena dengan peran Realitas Absolut, maka realitas evolutif tidak pernah terbangun, maka yang paling penting bagi Comte, realitas yang konkrit, apa adanya, relatif sesuai dengan kenyataan sosial, terukur, dapat diobservasi dan dinalar sesuai kekuatan utama manusia, pikiran dan kreativitas teknis.

Pertautan akumulatif evolutif dari Materialisme Semesta ala Descartes dan Positivisme Sosial ala Comte dapat ditunjukkan berdasarkan riset Larson dan Witham (1998) berjudul Leading Scientists Really Reject God. Penegasian Realitas Absolut benar-benar telah mendarah daging di kalangan akademisi, saintis seperti tersaji pada tabel di bawah:

Table 1. Comparison of Survey Answers Among Greater Scientists (%)

Belief in Personal God

1914

1933

1998

Personal Belief

27.7

15

7

Personal Disbelief

52.7

68

72.2

Doubt or Agnosticism

20.9

17

20.8

 

Tersisihnya “Tuhan” dalam dunia keilmuan karena memang Tuhan, nilai-nilai religius dan jiwa (subyektif) manusia yang menjadi pusat dan pertemuan “nilai-nilai” Tuhan dan kesadaran akan kebenaran mutlak kitab suci, tidak lagi diperbolehkan masuk dalam ranah semesta dan realitas kemasyarakatan secara ilmiah. Bahkan realitas Mutlak dan keimanan memang dianggap tidak relevan, karena modernitas telah memiliki legitimasi “keimanan dan keselamatan” teologis lain, yaitu kemajuan materi yang dimungkinkan oleh pasar dan sains-teknologi.

Untuk merealisasikan positivisme, lanjut Comte, dibutuhkan Politik Konstruksi Masyarakat yang terstruktur melalui bukunya: Systeme de Politique Positive (1851). Konstruksi Masyarakat atau Sosiologi tidak mungkin hanya diselesaikan dalam konteks Scientific Idea an sich, karena sesungguhnya kenyataan sejarah ada pada perubahan masyarakat menuju kebaikan dan kebahagiaan.

Kebahagiaan adalah kata kunci dari keberhasilan desain dan konstruksi atas Social Order. Caranya dengan melakukan perubahan masyarakat yang penuh cinta dan kasih. Tujuan akhir dari Postivisme, bagi Comte adalah Agama Kemanusiaan atau Humanity Religion. Di era modern seperti sekarang ini, cita-cita positivisme berbasis Agama Kemanusiaan tersebut biasanya masuk dalam aliran New Age Movement. Dapat dikatakan bahwa:

Humanity Religion is a Final Objective of Humanity in the Modern Society, as a part of Secularism, that is needed by Social Constructive Policy of Positivism. Keyword of Positive Sociology is a Secular Society. As Bell (1978; 158) said: thus modernism as a cultural movement trespassed religion and moved the center of authority from the sacred to the profane”

Jadi?…

Tulisan ini merupakan cuplikan-cuplikan dari dua artikel yang disampaikan pada acara Accounting Research Training Series (diadakan oleh PDIA Jurusan Akuntansi FEB-UB); yaitu (1) Nyanyian Metodologi ala Hidayat Nataatmadja: Melampaui Dunia Derridian Mengembangkan Pemikiran Bangsa “Sendiri” (2012); dan (2)  Akuntansi “Tjokro-an” ala HOS Tjokroaminoto (2014). Cuplikan tulisan diambil khusus berkenaan dengan penelusuran tentang Materialisme berorientasi Human Interest yang menurun pada substansi aliran Positivisme (Self Interest) dan Marxisme (Social Interest). Nah, ujungnya ternyata, kedua aliran tersebut ditengarai penulis tidak lagi menghendaki Tuhan ada dalam kerangka, logika, asumsi bahkan substansi berfikir dan riset Ilmiah.


[1] In other words, the human mind, by its nature, employs in its progress three methods of philosophizing, the character of which is essentially different, an even radically opposed: viz., the theological method, the metaphysical, and the positive… The first is the necessary point of departure of the human understanding; and the third is its fixed and definitive state. The second is merely a state of transition (Comte, 1896/2000: 27-28). 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s