Riset (tak boleh) ber-Ruh Tuhan?


Pertanyaan yang menggelitik penulis sejak lama, setelah membaca baik itu Aliran Positif maupun Kritis, apakah ada titik temu antara Positivisme dan Marxisme? Setelah menelusuri lebih jauh kedua aliran tersebut, penulis memiliki jawabannya. Jawaban itu adalah, YA. Titik temu antara keduanya bukan pada value turunan materialisme, karena value turunan materialisme membedakan, Positivisme itu obyektif, selalu berpikiran pragmatis serta menekankan orientasinya pada ego pribadi atau self interest. Marxisme di sisi lain, berada di sisi subyektif, berpihak pada yang lemah, tersisih, dan selalu berorientasi pada social interest. Titik temu Comte dan Marx ada pada Saint Simmon, yang merupakan guru mereka berdua, yaitu pada Materialisme Ilmiah ber-“core value” Materialisme Descartes dan Naturalisme Yunani.

Materialisme Descartes menjelaskan bahwa realitas adalah empirisasi kemanusiaan dalam kesemestaan di mana Tuhan Ada, mencipta dan kemudian pensiun. Manusia pusat realitas dan mampu berkreasi di Alam Semesta tanpa campur tangan Tuhan. Descartes menegaskan bahwa Tuhan kemudian pensiun. Dengan pensiunnya Tuhan, maka Common Sense, pikiran, nalar, yang matematis, aritmatis, aljabaris, geometris, fisis, adalah kemustian dari simbolisasi Descartes mengenai Cogito Ergo Sum, Aku Berpikir Maka Aku Ada.

Pencapaian pikiran terstruktur dan mekanistik seperti itu dapat dilakukan manusia baik itu lewat berpikir logis, maupun (nah ini yang penting, Descartes tetap mempercayai) kekuatan intuisi, mimpi, bahkan meditasi, sebagai salah satu produk Tuhan paling dahsyat yang diberikan “hanya” ke dalam jiwa manusia sebagai puncak kekuasaan manusia untuk dapat melakukan eksperimen, pencarian ilmiah, melalui potongan-potongan “materi” semua yang ada di semesta ini dan apabila perlu merubah aturan-aturan yang bahkan sudah menjadi Sunatullah, bahkan lebih jauh bila “harus” dengan melepaskan kebenaran Iman. Ujungnya adalah agar manusia dapat memahami realitas dan menemukan jawaban keilmuan atas dunia, serta yang terpenting adalah menjadi Le Maitres et Possesseurs de la Nature, Sang Tuan dan Penguasa Alam.

Naturalisme Yunani di sisi lain, menjelaskan bahwa realitas adalah semua yang dapat dipahami sebagai materi apa adanya. Spirit adalah bangunan yang muncul dalam kesadaran setelah proses atau energi akibat perubahan materi.

titik temu positif-marx

Jadi? Apakah kita perlu melakukan perubahan sesuai dengan logika seperti di atas? Memilih melakukan gerakan ilmiah untuk kebaikan masyarakat melalui positivisme atau marxisme saja yang Eropa Sentris dan berorientasi pada materi semata? Keperiadaan segala sesuatu memang hanyalah materi, dan aturan puncak materi adalah kemajuan itu sendiri. Sehingga kita hanya perlu berorientasi pada kemajuan material an sich?

Maka menjadi benar Materialisme Historis atau Materialisme Positif adalah representasi Darwinisme Sosial, yang percaya bahwa realitas adalah realitas tercandra apa adanya dan berasal, berproses dan hilang di dalam realitas itu sendiri. Sedangkan di luar materialitas atas realitas tidak dimungkinkan ada, karena memang segala sesuatu yang berada di luar materi hanya ada karena hasil interaksi dan kompleksitas materi itu sendiri. Energi, progres, kejadian dan apapun itu tidak ada tanpa adanya materi.

Jadi, kita tidak boleh berharap bahwa realitas di luar realitas, seperti keyakinan atau keimanan Islam, Iman kepada Allah, Malaikat, Kitab Suci dari Langit, Kenabian, Takdir, Hari Akhir adalah realitas tanpa realitas, alias “HOAX”. Sekali lagi, jadi? Masih ingin menjalankan aktivitas riset dalam koridor tanpa “Ruang Keimanan” di dalamnya ? Atau memang kita telah sangat terinspirasi oleh Descartes, Tuhan Memang Ada, tetapi Tuhan Pensiun, dan Kita adalah Penguasa Semesta yang dapat meng-“apa-apa”-kan Semesta ini bak Materi Tanpa Ruh?

Bila kita lanjutkan lagi lebih dalam, konsep materialime ala Darwinisme Sosial, kata kuncinya adalah pada materialisasi evolusionis dalam ilmu Sosial. Proses evolutif dunia ilmu (sosial) tidak dapat dielakkan ketika memang “garis darah” sosiologi ala Darwinisme Sosial menjadi bagian penting “nilai” Positivisme dari Bapak Sosiologi Modern, Auguste Comte (1798-1857).

Bangunan utuh pengetahuan dan masyarakat, bagi Comte, tidak lagi berdiri sendiri dan berjalan sesuai “pintunya” masing-masing, tetapi  keduanya telah menjadi satu kesatuan dan berproses dalam bingkai transisi evolusioner, membentuk realitas yang berujung pada “New Social Order”. Untuk mewujudkan tatanan sosial baru yang tentunya lebih baik itulah evolusi pengetahuan manusia dan tatanan masyarakat berproses melalui tiga jenjang perkembangan rasionalisasi atas realitas.

Tiga jenjang tersebut bagi Comte (1896/2000: 27-28) merupakan The Progressive Course or the Human Mind, yang bersifat evolutif, yaitu pertama; dari teologis atau fictitious (Theological State); kedua metafisis atau abstrak (Metaphysical State); menuju ketiga, puncak pengetahuan dan masyarakat modern, saintifik atau positif (Positive State)[1]. Artinya, pengetahuan dan masyarakat di awal perkembangan pra modern, yaitu Theological State, disebutnya sebagai “primitive philosophy”, yaitu akal selalu dipengaruhi pikiran mistis, agamis, religius, termasuk dunia pengetahuan yang dibentuk kemudian selalu berorientasi “transenden”. Baginya, pada tingkatan teologis  yang primitif tersebut, akal, berupaya mencari  the essential nature of beings, kausa prima dan kausa final, asal muasal dan tujuan, dari segala efek, – yaitu Pengetahuan Absolut, – diandaikan  semua fenomena diproduksi oleh aksi perantara dari “Supernatural Beings”.

Pada tahapan selanjutnya, Metaphysical State, kepercayaan pada pengetahuan dan dunia magis/religius/transenden mulai tergantikan oleh pemikiran metafisis/abstrak. Tahapan ini, lanjutnya, hanyalah modifikasi tahapan pertama, akal tidak lagi berorientasi pada supernatural beings, tetapi mengarah kekuatan abstraksi (abstract forces), pada entitas  personified abstractions, yang melekat pada segala sesuatu (inherent in all beings), dan mampu memproduksi semua fenomena. Apa yang disebut dengan penjelasan fenomena, pada tahap ini, lebih mereferensikan pada entitas yang sebenarnya (proper entity). Apa itu proper entity pengganti absolute entity? Bagi Comte, rasionalisasi substitutif atas penyebab segala fenomena adalah Alam Semesta (Universe or Nature).

Puncaknya, dunia yang terdesain oleh kekuatan manusia, bukan lagi oleh “Realitas Absolut” di luar manusia, termasuk abstraksi metafisis atau Alam, tetapi apa yang disebut Comte yaitu Positive State, Akal Rasional, adalah puncak kekuasaan manusia itu sendiri, tidak lagi bergantung pada Realitas Absolut ataupun Alam Semesta, tetapi pada Realitas Empiris berdasarkan hasil Penalaran (Reasoning), Observasi (Observation) yang Terukur (Measured), Obyektif (Objective) dan apa adanya.

Kebenaran berbasis empiris dengan pengaruh Evolusionisme telah memunculkan pemahaman yang mengarah pada reduksi besar-besaran pemikiran modern atas Realitas Absolut menuju Realitas Relatif. Realitas Relatif merupakan pusat dari Visi Comte atas dunia yang didasarkan pada rasionalitas ilmiah berdasarkan pada “Well Regulated Social Order” dan bukan lagi pada “Aturan Normatif Langit”.

positivisme comte

 

Penjelasan Comte atas realitas sebenarnya juga merupakan penegasan atas logika Rene Descartes. Meskipun, Descartes sendiri masih memercayai atas adanya Realitas Absolut, tetapi Realitas Absolut baginya hanyalah dalam proses penciptaan. Setelah penciptaan, tugas Realitas Absolut telah selesai alias pensiun, sedangkan realitas berkembang dalam mekanismenya sendiri. Sedangkan Comte, lebih jauh dari itu, baginya Realitas Absolut hanyalah angan-angan, karena dengan peran Realitas Absolut, maka realitas evolutif tidak pernah terbangun, maka yang paling penting bagi Comte, realitas yang konkrit, apa adanya, relatif sesuai dengan kenyataan sosial, terukur, dapat diobservasi dan dinalar sesuai kekuatan utama manusia, pikiran dan kreativitas teknis.

Pertautan akumulatif evolutif dari Materialisme Semesta ala Descartes dan Positivisme Sosial ala Comte dapat ditunjukkan berdasarkan riset Larson dan Witham (1998) berjudul Leading Scientists Really Reject God. Penegasian Realitas Absolut benar-benar telah mendarah daging di kalangan akademisi, saintis seperti tersaji pada tabel di bawah:

Table 1. Comparison of Survey Answers Among Greater Scientists (%)

Belief in Personal God

1914

1933

1998

Personal Belief

27.7

15

7

Personal Disbelief

52.7

68

72.2

Doubt or Agnosticism

20.9

17

20.8

 

Tersisihnya “Tuhan” dalam dunia keilmuan karena memang Tuhan, nilai-nilai religius dan jiwa (subyektif) manusia yang menjadi pusat dan pertemuan “nilai-nilai” Tuhan dan kesadaran akan kebenaran mutlak kitab suci, tidak lagi diperbolehkan masuk dalam ranah semesta dan realitas kemasyarakatan secara ilmiah. Bahkan realitas Mutlak dan keimanan memang dianggap tidak relevan, karena modernitas telah memiliki legitimasi “keimanan dan keselamatan” teologis lain, yaitu kemajuan materi yang dimungkinkan oleh pasar dan sains-teknologi.

Untuk merealisasikan positivisme, lanjut Comte, dibutuhkan Politik Konstruksi Masyarakat yang terstruktur melalui bukunya: Systeme de Politique Positive (1851). Konstruksi Masyarakat atau Sosiologi tidak mungkin hanya diselesaikan dalam konteks Scientific Idea an sich, karena sesungguhnya kenyataan sejarah ada pada perubahan masyarakat menuju kebaikan dan kebahagiaan.

Kebahagiaan adalah kata kunci dari keberhasilan desain dan konstruksi atas Social Order. Caranya dengan melakukan perubahan masyarakat yang penuh cinta dan kasih. Tujuan akhir dari Postivisme, bagi Comte adalah Agama Kemanusiaan atau Humanity Religion. Di era modern seperti sekarang ini, cita-cita positivisme berbasis Agama Kemanusiaan tersebut biasanya masuk dalam aliran New Age Movement. Dapat dikatakan bahwa:

Humanity Religion is a Final Objective of Humanity in the Modern Society, as a part of Secularism, that is needed by Social Constructive Policy of Positivism. Keyword of Positive Sociology is a Secular Society. As Bell (1978; 158) said: thus modernism as a cultural movement trespassed religion and moved the center of authority from the sacred to the profane”

Jadi?…

Tulisan ini merupakan cuplikan-cuplikan dari dua artikel yang disampaikan pada acara Accounting Research Training Series (diadakan oleh PDIA Jurusan Akuntansi FEB-UB); yaitu (1) Nyanyian Metodologi ala Hidayat Nataatmadja: Melampaui Dunia Derridian Mengembangkan Pemikiran Bangsa “Sendiri” (2012); dan (2)  Akuntansi “Tjokro-an” ala HOS Tjokroaminoto (2014). Cuplikan tulisan diambil khusus berkenaan dengan penelusuran tentang Materialisme berorientasi Human Interest yang menurun pada substansi aliran Positivisme (Self Interest) dan Marxisme (Social Interest). Nah, ujungnya ternyata, kedua aliran tersebut ditengarai penulis tidak lagi menghendaki Tuhan ada dalam kerangka, logika, asumsi bahkan substansi berfikir dan riset Ilmiah.


[1] In other words, the human mind, by its nature, employs in its progress three methods of philosophizing, the character of which is essentially different, an even radically opposed: viz., the theological method, the metaphysical, and the positive… The first is the necessary point of departure of the human understanding; and the third is its fixed and definitive state. The second is merely a state of transition (Comte, 1896/2000: 27-28). 

Iklan

6 thoughts on “Riset (tak boleh) ber-Ruh Tuhan?


  1. https://polldaddy.com/js/rating/rating.jsSaya ingin menyoroti kata dari ‘Tuhan Pensiun’. Sebenarnya jika Tuhan itu pensiun, apakah terdapat indikator yang valid bahwa tuhan itu merupakan pekerja maupun tuhan merupakan pelayan bagi ciptaanya sehingga Ia memutuskan untuk pensiun ? Pemikiran yang berasal dari budaya barat ini memang sedikit diluar batas bagi kita yang berasal dari budaya timur. Akan tetapi di era modernisasi sekarang, sudah banyak dari manusia-manusia dengan budaya timur memiliki pola pikir yang menyamai pola pikir orang barat, sehingga kita sebagai manusia dengan seenaknya menggunakan, menghabiskan bahkan merusak nikmat yang telah diberikan oleh tuhan. Lihat dari berbagai bencana-bencana yang terjadi diberbagai negara, dapat dikatakan ini merupakan bentuk nyata dari apa yang telah kita perbuat terhadap alam. Nah, apakah bentuk feedback ini tidak berasal dari tuhan ? masihkah anda bisa menyetujui bahwa Tuhan itu pensiun ?
    Kemudian saya tertarik dengan penjelasan bahwa ‘tersisihnya tuhan dalam dunia keilmuan’. Tidak benar bahwa tuhan itu memang tersisih dari dunia keilmuan. Saya yang seorang muslim sangat tidak setuju dengan apa yang dikatakan oleh Comte ini karena didalam Islam, kita sebagai manusia hanya bisa berencana dan pada akhirnya yang berkehendak ialah Tuhan. Nah dari sepotong kata tersebut bermakna bahwa tidak akan sesuatu terjadi tanpa campur tangan tuhan(Allah).


    • https://polldaddy.com/js/rating/rating.jsMengapa mereka menyoroti bahwa tuhan pensiun? menurut saya karena lebih mempercayai segala bentuk pembaharuan berasal dari kekuatan mereka sendiri, apa yang mereka miliki, apa yang telah mereka observasi secara objektif dan terukur. Bahkan ada kemungkinan bahwa musibah yang terjadi juga akibat dari mereka sendiri, bukan lagi karena campur tangan Tuhan, karna dianggan sudah tidak ada lagi. Meskipun saya juga sangat tidak setuju dengan paham ini, karena saya juga seorang muslim dimana orang tua selalu menceritakan keberadaan Tuhan di setiap aktivitas yang kita lakukan sangat dekat sekali sejak saya masih kecil. Cara berpikir paling sederhana untuk menganggap Tuhan itu ada adalah dengan komunikasi ikhlas dengan kecintaan pada ALLAH SWT. Itulah yang tidak dilakukan paham materialisme descartes karena dianggap tuhan telah pensiun.


  2. https://polldaddy.com/js/rating/rating.jsKemudian terkait dengan tiga jenjang bagi Comte (1896/2000: 27-28) merupakan The Progressive Course or the Human Mind menurut saya memang benar adanya. Tetapi tidak juga seutuhnya terjadi pada semua manusia saat ini secara mutlak loh… Secara telogis masih banyak ditemukan realitas absolut, hal ini setelah melakukan pengamatan secara sederhana bahwa pola teologis banyak terjadi terutama di daerah pedesaan meskipun beberapa juga sudah ada yang meninggalkan keberadan mistis, agama, dan tuhan. Apakah karena posisi mereka masih terisolasi dari berbagai informasi ke-Baratan? Bagaimana menurut kalian? Demikian dengan metafisis yang masih ada ketakutan atas kekuatan abstraksi alam juga masih banyak di daerah pedalaman atau daerah tertinggal. Positivis juga rupanya sudah berakar hampir di seluruh penjuru, dimana pikiran rasional menjadi tolok ukur kemajuan melalui observasi yang terukur dan obyektif dengan meniadakan realitas absolut. Yang terbaik jika positivis masih memperhatikan realitas absolut yang ada di luar realitas mereka untuk memiliki kecintaan kepadaNYA, komunikasi dan kecintaan yang masih terjaga padaNYA. Evolusi tersebut diatas benar-benar akan terjadi dengan cepat melalui peran teknologi informasi, dimana pasti akan ada waktunya banyak manusia yang tergoyahkan dengan kekaguman pada kemajuan dari hasil observasi manusia sendiri dan sepertinya mulai terjadi. Maka dari itu dibutuhkan pertahanan keimanan yang benar-benar kuat untuk memberikan keseimbangan dalam hidup.


  3. https://polldaddy.com/js/rating/rating.jsArtikel ini sangat menarik, benar-benar dibutuhkan pemahaman ekstra untuk memahami agar tidak terjadi dual persepsi. Secara pribadi saya ingin mmeberikan tanggapan mengenai statement “Manusia pusat realitas dan mampu berkreasi di Alam Semesta tanpa campur tangan Tuhan. Descartes menegaskan bahwa Tuhan kemudian pensiun”, apakah benar demikian adanya? pernyataan ini bagi saya seorang muslimah cukup mengganggu, karena ketika manusia berkreasi sebesar apapun, akan tetapi jika tidak ada campur tangan ALLAH. its nothing, kita muslimah selalu diajarkan terus campur tangankan Tuhan disetiap usahamu, sangat sombong ketika kita manusia mempunyai sebuah pemikiran akan kebebasan berkreasi tanpa ada campur tangan tuhan, saya mencontohkan 1 peristiwa Nabi Muhammad SAW, Nabi Muhammad saw., saat dalam keadaan yang paling kritis dalam persembunyiannya di Gua Tsur tatkala dalam perjalanan Hijrah dari Makah ke Madinah, Allah menyelamatkannya dengan sarang laba-laba; dan seterusnya. Dengan demikian tak ada kejadian di alam semesta ini baik yang berupa benda ataupun peristiwa yang terjadi tanpa makna; melainkan pasti selalu ada arti yang tersirat dibalik yang tersurat. Hal itu mencontohkan bagaimana peran TUHAN dalam penyelamatan Nabi Muhammad. Menyoroti Kalimat kalau “TUHAN PENSIUN?Mungkinkah demikian? jawaban tegasnya TIDAK. Pernyataan ini benar-benar mampu mengecoh pembaca yang kurang memahami. Secara pribadi saya tidak sejalan dengan pernyataan jika Tuhan Pensiun, sebab TUHAN bukanlah perangkat yang menjabat, TUHAN tidak punya jabatan yang mmepunyai masa aktifnya. Tidak ada yang bisa mendiskripsikan tugas TUHAN, sebab semua tugas yang ada di dunia itu masih dibawah wewenangNYA. Jika Tuhan itu mempunyai Jabatan, jabatan apa yang pas dan sesuai dengan semua keagungan TUHAN???Saya ingin tau siapa yang bisa mendeskripsikan Jobdesk dari TUHAN. Nah budaya barat saat ini mencoba memainkan logika untuk segara aspek, bagi mereka sesuatu yang dilakukan harus diperhitungkan, harus jelas, harus pasti. mereka cenderung melupakan peran TUHAN. Untuk pernyataan yang perlu di soroti adalah “Tersisihnya Tuhan dalam dunia keilmuwan?Mungkinkah demikian? hal i ni menjadikan saya bertanya balik dan satu hal yang perlu dipahami mengenai konteks keilmuwan, mana yang hadir terlenih dahulu, ilmu ataukah manusia itu sendiri? tidak pernah ada pernyataan tentang Tuhan Tersisihkan jika kita mampu melihat peran Tuhan disetiap rencana kita. Manusia diberikan kesempatan untuk berkreasi dalam menentukan sebuah rencana jangka pendek ataupun jangka panjang, namun manusia sering lupa bahwa manusia tidak punya HAK PREROGATIF untuk menentukan apakah semua rencana kita akan sesuai dengan tujuan awal. Hanya orang yang Sombong yanhg menggap bahwa dia tidak perlu TUHAN di setiap tindakanya.


    • https://polldaddy.com/js/rating/rating.jsSangat sering manusia terjebak pada pengetahuan (doktrin) yang mereka peroleh sejak mereka lahir. Mereka menyangka bahwa pengetahuan itu absolut dan tidak bisa diragukan kembali. Akan tetapi mereka juga tidak menyadari bahwa di dunia ini tidak ada yang absolut kecuali Tuhan dan segala aturan-Nya. yang saya pahami, descartes disini tidak meragukan akan keberadaan Tuhan, kehendak dan penciptaanNya. Metode meragukan yang dilakukan oleh Descartes adalah sebuah metode yang bagus dalam menguji pengetahuan, karena tanpa meragukan sesuatu manusia cenderung puas dengan apa yang ada dan menjadi idealistik terhadap pengetahuan yang ia miliki. Akan tetapi pengetahuan tidak semua berasal dari pikiran saja. Ada pengetahuan yang didapatkan dari pengalaman. Seperti manusia harus mengalami sendiri apa yang disebut dengan merasakan, baik itu suka maupun duka, bahagia maupun menderita. Pengetahuan seperti ini tidak bisa didapatkan hanya dari proses berpikir, tapi juga melalui pengalaman. nah..yang salah dari pemikiran descartes adalah “Tuhan Pensiun”. Sangat salah jika pemikiran ini mempengaruhi pendefinisian kita atas keberadaanNYA. Hal ini mengingatkan saya akan satu ayat dalam Al-Qur’an “Allah tidak mengantuk dan tidak tidur.” (QS. Al-Baqarah: 255). itu artinya Allah sangat dekat dan setiap saat mengawasi apa saja yang dilakukan makhluk di Bumi ini. dari sini sudah jelas bahwa Tuhan tidak diperintah untuk memenuhi kehendak manusia. Tuhanlah yang berkehendak atas manusia dan seluruh makhluk serta isi galaxy ini. “Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam. (QS. Al-Araf : 54).


  4. https://polldaddy.com/js/rating/rating.jsMembaca artikel ini membuat saya berpikir berulang-ulang kali. membacanya dengan lekat-lekat. Menakjubkan !!! sebuah pemikiran dari Materialisme Descartes : realitas adalah empirisasi kemanusiaan dalam kesemestaan di mana Tuhan Ada, mencipta dan kemudian pensiun. “Pensiun” ? saya terhenyak dengan kata ini. lalu mengingat nasehat kecil saat dulu belajar ngaji di surau dekat rumah. ketika itu kami ditanya oleh sang ustadz, semuanya sudah mengulang bacaan Qur’annya di Rumah ? serentak menjawab “Iya Ustadz” yang sebenarnya kami berbohong. lalu dengan tegas ustadz merespon jawaban kami dengan kutipan ayat yang selalu diulanginya setiap kali akan memulai proses muroja’ah. “Allah tidak mengantuk dan tidak tidur.”(QS. Al-Baqarah: 255). tersadar sepertinya ayat ini cocok dengan pernyataan “Pensiun” yang dalam pemahaman saya itu artinya Tuhan tak menjabat satu kedudukan yang diciptakan oleh manusia dan Tuhan juga tak menerima tugas (perintah) sebagaimana kehendak manusia. Apakah tidak cukup jelas dengan ayat ini ? bahkan dari kata “Pensiun” hadirlah simbolisasi Descartes mengenai Cogito Ergo Sum, Aku Berpikir Maka Aku Ada. Descartes mengemukakan bahwa Manusia pusat realitas dan mampu berkreasi di Alam Semesta tanpa campur tangan Tuhan. “Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam”(QS.Al-Araf : 54). saya kutip “Mampu berkreasi di Alam Semesta tanpa campur tangan Tuhan”. sangat tidak mungkin dan saya tidak percaya dengan pernyataan ini. kegeniusan manusia dalam menalar alam pikiran sampai ketahap ini, sungguh diluar kemustahilan. saya percaya segala sesuatu yang terjadi di galaxy ini adalah atas kehendakNya ialah Allah sang Penguasa. Ia yang Mutlak dan Absolut. tidak dapat dipersamakan dengan apapun. karena kebebasan berkreasi inilah manusia salah kaprah dan bahkan tersesat dalam berkreasi. Descartes memercayai atas adanya Realitas Absolut, tetapi Realitas Absolut yang dimaksud hanyalah dalam proses penciptaan. Sedangkan Comte, lebih jauh lagi menerangkan bahwa Realitas Absolut hanyalah angan-angan, realitas yang konkrit, apa adanya, relatif sesuai dengan kenyataan sosial, terukur, dapat diobservasi dan dinalar sesuai kekuatan utama manusia, pikiran dan kreativitas teknis. pemikiran filsuf barat seolah menghancurkan nilai-nilai religius dan kepercayaan akan keberadaan Tuhan dan kekuasaanNya yang masih sangat diyakini oleh bangsa Timur. dan akhirnya doktrin-doktrin ini merajah ke keyakinan Timur yang bisa kita lihat saat ini disekitar kita manusia diambang kehancuran. Akibatnya, eksploitasi secara besar-besaran dan kerusakan lingkungan menghantui setiap negara. itulah mengapa keyakinan, kepercayaan atas keberadaaanNya tak bisa kita akhiri dengan kata “Pensiun” sebab kita tak dapat menolak semua unsur keterlibatanNya dalam siklus kehidupan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s