Teori Akuntansi: Mathematical Constructions?


Sterling (1990) pada saat melakukan kritik atas Positive Accounting Theory dari dua begawan akuntansi positif, Watts dan Zimmerman (1978 dan 1990), memandang Teori Akuntansi yang dihasilkan mereka hanyalah berbasis pada reduksi informasi akuntansi menjadi mathematical constructions. Nah di sini yang mengasyikkan, ketika akuntansi saat ini telah direduksi sedemian rupa menjadi mathematical constructions, maka hilanglah apa yang menjadi basis dasar akuntansi itu sendiri, yang menurut Sterling (1990) berhubungan dengan things dan events.

Bila memang asumsi akuntansi telah bergeser pada rumusan matematis seperti itu, logis bila akuntansi sudah berubah dan “ingin” masuk dalam ruang science sebenarnya, yaitu Sains Alam. Isu pentingnya adalah diperlukannya penggeseran tradisi keilmuan akuntansi menjadi cabang ilmu matematika dan teknik. Konsekuensi logis lanjutannya , akuntansi perlu dan mungkin sudah wajib ‘ain melakukan metamorfosis melalui teori penting sains alam paling mutakhir, yaitu S-Matrix Theory. 

S-Matrix Theory dari Geoffrey Chew merupakan gagasan teknis dari Filsafat Bootstrap. Filsafat Bootstrap sebagaimana dijelaskan Capra (2000) adalah teori puncak fisika kuantum dan relativitas, dengan kesadaran kesalinghubungan esensial dan universal, sekaligus memperoleh unsur dinamisnya dari teori realitivitas. Semuanya kemudian  dirumuskan dalam konteks probabilitas reaksi  melalui S-Matrix Theory. S-Matrix Theory yang menggabungkan konsep Kuantum dan Relativitas layak dipertimbangkan untuk memahami sifat-sifat informasi akuntansi sebagai representasi simbolik reaksi partikel (investor) yang dideskripsikan dalam konteks kecepatan (momentum) investor ‘bermain’ di bursa saham.

Tetapi, masalahnya, apakah mungkin S-Matrix Theory kemudian hanya terpakai secara parsial dalam Teori Akuntansi Positif, seperti yang terjadi dalam pemakaian asumsi dasar teoritis ekonomi Neo-Klasik yaitu konsep utility maximization dari Chicago School, MIT, Harvard ataupun London School of Economics. Utility maximization hanya dipakai akuntansi sampai pada taraf kepentingan pemilik modal dan menegasikan asumsi lanjutan yang bersifat Keseimbangan Pareto? Padahal, S-Matrix Theory mensyaratkan empat postulat (prinsip umum) yang membatasi kemungkinan matematis untuk mengkonstruksi elemen matriks S sehingga memberikan suatu struktur tertentu pada matriks S.

Prinsip pertama, berasal dari teori relativitas, yaitu bahwa probabilitas-probabillitas reaksi mesti tak tergantung (independensi) pada perpindahan peralatan eksperimental dalam ruang dan waktu, tak bergantung pada orientasinya dalam ruang dan tergantung pada keadaan gerak dari pengamat. Independensi suatu reaksi partikel terhadap orientasi dan perpindahannya dalam ruang dan waktu menyiratkan kekekalan jumlah total rotasi, momentum dan energi yang terlibat dalam reaksi. Simetri ini sangat mendasar bagi aktivitas ilmiah.

Artinya, tidak mungkin akuntansi menerapkan matematisasi realitas empiris dalam ruang eksperimental ruang dan waktu seperti mekanisme pasar saham. Karena pasar saham jelas sekali tidak merefleksikan reaksi things and events akuntansi secara nyata, kecuali pergerakan angka di layar bursa saham. Artinya lagi, angka-angka pergerakan bursa saham tidak pernah dapat memahami realitas bisnis sebagaimana adanya. Angka-angka akuntansi yang didasarkan pada “keimanan” papan data di lantai bursa jelas sekali menegasikan peran akuntan maupun realitas bisnis serta pertarungan para direksi ketika sedang melakukan laporan tahunan untuk persiapan RUPS di hadapan pemegang saham misalnya. Akuntan, realitas bisnis yang dikelola manajemen, pertarungan para pemegang saham, bahkan para direksi, adalah bentuk rotasi, momentum dan energi yang terlibat dalam reaksi probabilitas, dan dengan itu membentuk kekekalan.

Prinsip kedua, berasal dari teori kuantum, bahwa hasil reaksi tertentu hanya dapat diprediksi dalam konteks probabilitas, dan lebih jauh lagi, jumlah probabilitas untuk seluruh hasil yang mungkin – termasuk ketika tak terjadi interaksi antar partikel – harus sama dengan satu. Dengan kata lain, kita bisa memastikan apakah partikel-partikel ini akan berinteraksi satu sama lain, atau tidak sama sekali. Prinsip ini dinamakan prinsip uniter yang secara tegas membatasi kemungkinan-kemungkinan untuk menyusun elemen matriks S. Prinsip ketiga dan keempat, terkait dengan gagasan tentang sebab akibat (prinsip kasualitas). Prinsip ini menyatakan bahwa energi dan momentum berpindah melalui jarak-jarak spasial hanya melalui partikel-partikel, dan perpindahan energi dan momentum ini terjadi sedemikian sehingga sebuah partikel dapat tercipta dalam suatu reaksi dan musnah dalam reaksi lainnya hanya jika reaksi yang terakhir terjadi setelah reaksi sebelumnya. Rumusan matematis prinsip energi dan momentum dari partikel-partikel yang terlibat dalam suatu reaksi, kecuali untuk nilai-nilai dimana penciptaan partikel-partikel yang baru menjadi mungkin. Pada nilai-nilai itu, struktur matematis dari Matriks S berubah secara tiba-tiba; menjumpai apa yang disebut matematikawan sebagai singularitas.

Artinya, akuntansi tidak bisa hanya berkaitan dengan approximation dalam bentuk income, cashflow, abnormal return dan ukuran lainnya. Hal ini dapat dipastikan, karena Teori Akuntansi Positif dari Watts dan Zimmerman masih tidak menginginkan adanya bentuk lain dari utility maximization seperti pandangan filantropis, misalnya distribusi kesejahteraan atau value added. Atau mungkin di luar utility maximization yang tidak ter’cover’ dalam asumsi dasar economic based accounting theory. Seperti konsep mandatory-charity atau dalam bahasa budaya asli kita, shadaqah, infaq dan zakat yang tidak (belum) dipahami dengan utuh dalam konsep Kapitalisme, Materialisme dan Anthropocentrism (Self-Interest) yang merupakan substansi dari konsep utility maximization Chicago School, MIT, Harvard ataupun London School of Economics. Jelas sekali, bahwa struktur matematis Matrix S sebagaimana prinsip ketiga dan keempat dapat menghendaki perubahan apapun sekaligus singularitas, dan dimungkinkannya penciptaan realitas-realitas penciptaan energi dan momentum akuntansi “bernilai” baru, seperti distribusi kesejahteraan, keberkahan dan bahkan spritualism and religion. Ini pulakah yang disebut ruang kosong dalam fisika baru itu?🙂 Dan karena itu pula, nilai-nilai lain dapat muncul sebagai bagian dari ketidakmungkinan yang itu dapat diterjemahkan sebagai prinsip uniter dalam prinsip kedua, dan dengan itulah maka kesatuan segala sesuatu akan membentuk Matrix S itu sendiri. Menegasikan salah satu ketidakmungkinan pastinya akan meruntuhkan prinsip S-Matrix Theory.

Jadi? Ya menurut saya sih, ketika akuntansi ingin bergeser menggunakan mathematical constructions maka dapat dipastikan tak ada ruang negasi di luar utility maximization, apalagi hanya sebatas laporan keuangan yang berkepentingan terhadap pihak tertentu. Ruang mathematical constructions dari akuntansi bila itu “menyembah” sekaligus “ingin” bermetamorfosis menjadi bagian dari “keluarga” sains alam, maka tak bisa tidak, harus mengakui keberadaan realitas di luar utility maximization. Akuntansi harus membuka apapun realitas lainnya, sekaligus harus melakukan perubahan paradigmatik atas konsep materialitas misalnya, atau bahkan going concern, akrualisasi, bahkan turunannya yang bisa disebut Financial Statements itu. So, ya ayo… laksanakan, mari kita melakukan perubahan mendasar atas asumsi dasar, sekaligus tujuan pelaporan keuangan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s