HARI INI DAN MIMPIKU NANTI


Hari ini aku seperti biasanya, bercengkerama dengan mahasiswa di kelas. Ya, bukan hanya menyodorkan pengetahuan bagi mereka, tetapi menyodorkan kesadaran. Entah, kadang di persimpangan hari-hariku, jenuh muncul sebelum masuk kelas. Apalagi bila mau berangkat ke kampus, harus mampir dulu di “ruang” lain, ruang realitas bisnis, dan bahkan sebelum itu, harus membaca surat-surat masuk sekolah keluarga yang perlu ditandatangani, suasana hati sebulan ini memang benar-benar dalam kondisi “down under”, alias kayak maunya lari dan tidak masuk kelas.

kelas etbis 7 april 2015

Pikiran nakal yang muncul, “apa sih aku ini, kok cuma gitu aja hari-hari ngajar berulang-ulang dengan tema sama? Apa gunanya bagi diriku? Toh aku ini orang biasa di kampus?” Tapi begitu ingat mahasiswa bukanlah mahasiswa yang sama, mereka bukan mesin yang cukup disodori dengan hal monoton, pengetahuan mekanis, praktik, teknik dan kegiatan pengetahuan lain. Ya, dengan semangat yang ada itulah, setiap kali masuk kelas dan melihat dan mendengar mahasiswa berinteraksi di kelas, “darah penyadaran” seperti menyorong ke depan.

Akhirnya, ya begitulah, bicara di depan kelas setelah mereka berdebat tentang materi kuliah hari ini, bicara bukan hanya pengetahuan, sekali lagi aku luncurkan penyadaran. Setiap huruf, kata, kalimat meluncur dengan energik di depan kelas, memang respon mata dan bahasa tubuh mereka beragam, ada yang ekspresif, mata bersinar, tapi ada juga yang matanya kosong, nah yang lebih membuat sedih (di situ aku merasa sedih hehehe atau sakitnya tuh di sini) adalah respon mencibir implisit. Astaghfirullah ujub ini… ujub kita… ujub semua… Astafghfirullah…

Tapi, itu tidak pernah menyurutkan diri, bahwa negeri ini hanya bisa terselamatkan oleh mereka para penerus bangsa, kader-kader masa depan, yang tidak harus hanya berfikir teknis, akuntansi alat dan untuk mencari kerja dari yang termasuk paling besar bayarannya di antara profesi lainnya. Negeri ini harus diselamatkan dalam konteks yang terang benderang, bahwa peran produktif membangun bangsa adalah kesempatan emas seperti aku katakan di kelas hari ini, mengapa Tjokroaminoto, Soetomo, Hatta, Soekarno, Yamin, dan tokoh-tokoh pergerakan masa perjuangan nasional dulu itu seumur mereka, 20-an telah berfikir visioner, terjun untuk memperjuangkan kebebasan negeri dari penjajahan. Mengapa kalian masih suka dengan berfikir teknis dan dunia baik-baik saja? Mengapa kalian berpikir ini sudah merdeka mengapa mesti repot? Ndak gitu anak-anakku, ndak gitu, beneran ini…

Aku berharap pada mereka, karena umur sudah makin tergerus oleh waktu, tapi umur energik mereka, para kader bangsa, umur produktif, umur bukan berfikir teknis dan praktis, menyederhanakan masalah, bahwa dunia baik-baik saja, bahwa dunia tidak perlu dikhawatirkan, apalagi kalau mereka hanya berfikir untuk kebahagiaan diri sendiri di masa depan nanti. Terus siapa yang akan memikirkan kedaulatan negeri yang makin tak jelas ujungnya, akibat serangan ideologis lewat pikiran dan kurikulum liberal, bahwa hidup adalah pasar bebas, hidup adalah kebahagiaan diri, hidup korporatokratis saja, njarah sana sini asal gak ketahuan gak apa, urusan Tuhan itu urusan taubat dan nanti njarah lagi, taubat lagi, njarah lagi, toh ada fasilitasnya, hidup adalah bekerja di dunia dan menjadi sub-ordinat bagi perusahaan multinasional. Apa ya cuma segitunya to urip kuwi cah?😦

Mengapa tidak berfikir strategis bahwa negeri ini butuh para pejuang baru negeri, di jaman baru, butuh pembuat perusahaan multinasional baru dari negeri ini, para pemimpin negeri yang bersih, para pelaku estafet negeri yang memiliki empati pada masyarakat dan aset milik mereka, seluruh negeri ini harus diselamatkan dan dipergunakan semaksimal mungkin untuk kesejahteraan bersama, dan bukannya diperebutkan lewat freewill apalagi pertarungan siapa kuat dia menang, siapa kaya dia berkuasa, siapa punya harta dia punya kuasa, siapa memiliki apapun maka semua bisa dikendalikan, apalagi kalau hanya mikir bahwa menjadi bagian dari McD, Cocacola, Giant, Toyota, KAP Big Four, IMF, WB, atau semua yang berbau punya tradisi menjarah negeri demi para pemilik modal? Ndak gitu anak-anakku… ayo bangkitkan “fikiran jernih” bukan hanya “teknis”, bangkitkan jiwa pejuangmu, bangkitkan jiwa berpihakmu untuk negeri, bangkitkan jiwa dakwahmu untuk Tuhan…

Di sisi lain, gempuran-gempuran tak henti di luar, cercaan, fitnah, ketaksukaan, penggusuran kepentingan selalu beredar di sekitar siapapun, membuat kadang kejenuhan memandang dunia makin tak kuasa aku pendam. Mimpinya itu memang ya ntar lah mimpiku tak perlu disebut di sini. Tapi yang jelas, ketika di depan laptop malam ini, merenung, lihat realitas lagi, lewat tulisan medsos, berita internet, dan lainnya, darah bergerak, darah berpihak, darah progresif seperti mengalahkan gempuran ombak “ketaksukaan siapapun dan apapun” itu. Astaghfirullah… hapus di otakmu wahai diriku ini, kepentingan, transaksional segala sesuatu, kalau perlu transaksional dengan Tuhan, kalau perlu itung-itungan pahala sama Tuhan… La kok cuma gitu… Ikhlas ya ikhlas, berjuang ya berjuang, untuk Tuhan, untuk Negeri, untuk Rakyat tersisih…

Sudahi itu keinginan suka jadi artis ecek-ecek, politikus artis, negarawan bertopeng kepentingan ego, apalagi negarawan bertopeng liberal, bertopeng kepentingan jadi subjongos liberalis… ah gak gitulah…. Bersikap ksatria untuk negerilah… untuk Tuhanmu… Ya… Toh kata Rasul selalu yang aku ugemi sampai sekarang, Islam berawal dari keterasingan dan akan kembali ke keterasingan, membuatku tidak surut. Wahai siapapun di sana, ayo kita bersama istighfar, bertekat untuk berbuat baik “substantif” dan bukannya baik “sumir”, ayo kita selesaikan seluruh ketidakadilan, ketimpangan, dan ketidakbaikan dalam ruang dakwah di manapun kita berada… Kalaupun hanya bisa menyuarakan kebaikan di ruang paling kecil di keluargapun toh semua masih dalam koridor kebersahajaan untuk selalu memberikan yang terbaik atas nama Negeri dan Tuhan… tak apalah itu… khoirunnas anfauhum linnas… peace… jangan jadi buih di lautan… jadilah ombak yang menggulung lautan… Ded… Insya Allah… Gusti kulo keparingan sabar nggih…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s