JANG OETAMA 2016 – TULANG BAWANG


Kota ke 30, Palopo Sulawesi Selatan, yang biasanya disebut pusat Luwu Raya, sudah diselesaikan, perjalanan berikutnya, Tulang Bawang Lampung, Banjarmasin Kalsel, Kulonprogo DIY dan terakhir Ambon Maluku. Kepulangan dari Palopo menuju Tulang Bawang, melewati tiga kota transit utama, yaitu Makassar, Jakarta, dan Tanjungkarang. Keberangkatan ke Makassar diantar naik mobil kampus Universitas Cokroaminoto Palopo (UNCP), mulai Sabtu malam 16 April 2016 pukul 21.00, sampai Minggu 17 April 2016 pukul 05.00 pagi waktu Indonesia Tengah, diselingi istirahat sebentar di perjalanan sekitar 1 jam. Sesampai di kawasan bandara Sultan Hassanudin kami berhenti di Masjid bandara untuk Shalat, setelah itu meluncur ke terminal keberangkatan.

13048206_10207453499108651_6152138879757105257_o

Seperti biasa suasana di Masjid di bandara, mayoritas musafir dan pengantar/penjemput, banyak juga yang persiapan menuju maupun selesai dari perjalanan umroh. Ngomong-ngomong umroh, ukuran kebaikan religius masyarakat Indonesia bisa dikatakan luar biasa, karena setiap kali aku di bandara selalu saja bertemu rombongan seperti itu. Pertanyaan dan kontradiksi sering mengganggu pikiranku adalah “ketaatan melaksanakan umroh sebagai ritus ibadah patut diacungi jempol, tetapi kok aku merasa ada kekeringan spiritual dalam relung religiusitasnya ya? Entah apakah itu karena simbol umroh saat ini aku rasakan bukan sebagai bagian dari kesadaran sosial, ataukah ini hanya bagian dari kesadaran individual ya, sehingga dampaknya hanya menyentuh aspek kebaikan pribadi dibanding kebaikan sosial? Buktinya negeri ini aku merasa sudah benar-benar berselimutkan “egoisme komunal” daripada “solidaritas komunal”, kebaikan hanya untuk nafsi-nafsi dan dengan itu pula cuek berpihak pada keresahan-ketidakadilan, fitnah-penjarahan-kerusuhan sosial, politik bermental manusia karton, korupsi berjamaah sampai penghancuran lingkungan menjadi kebenaran sosiologis”. Astaghfirullahaladzim, semoga itu hanya fikiranku saja, tetapi bila dihubungkan dengan tulisan almarhum Ali Mustafa Yakub mantan Imam Besar Masjid Istiqlal berjudul  “Haji Pengabdi Setan” yang juga melakukan kritik keras atas masyarakat dalam menjalankan ibadah haji dan atau umroh berkali-kali sebagai bentuk kesesatan mirip setan karena tidak berdampak maupun memiliki empati sosial sepertinya mengamini kegalauanku dengan perilaku masyarakat saat ini. Berikut kutipan penting dari beliau:

“Jumlah jamaah haji Indonesia yang tiap tahun di atas 200.000 sekilas menggembirakan. Namun, bila ditelaah lebih jauh, kenyataan itu justru memprihatinkan, karena sebagian dari jumlah itu sudah beribadah haji berkali-kali. Boleh jadi, kepergian mereka yang berkali-kali itu bukan lagi sunah, melainkan makruh, bahkan haram. Ketika banyak anak yatim telantar, puluhan ribu orang menjadi tunawisma akibat bencana alam, banyak balita busung lapar, banyak rumah Allah roboh, banyak orang terkena pemutusan hubungan kerja, banyak orang makan nasi aking, dan banyak rumah yatim dan bangunan pesantren terbengkalai, lalu kita pergi haji kedua atau ketiga kalinya, maka kita patut bertanya pada diri sendiri, apakah haji kita itu karena melaksanakan perintah Allah? Ayat mana yang menyuruh kita melaksanakan haji berkali-kali, sementara kewajiban agama masih segudang di depan kita? Apakah haji kita itu mengikuti Nabi SAW? Kapan Nabi SAW memberi teladan atau perintah seperti itu? Atau sejatinya kita mengikuti bisikan setan melalui hawa nafsu, agar di mata orang awam kita disebut orang luhur? Apabila motivasi ini yang mendorong kita, maka berarti kita beribadah haji bukan karena Allah, melainkan karena setan. Sayangnya, masih banyak orang yang beranggapan, setan hanya menyuruh kita berbuat kejahatan atau setan tidak pernah menyuruh beribadah. Mereka tidak tahu bahwa sahabat Abu Hurairah pernah disuruh setan untuk membaca ayat kursi setiap malam. Ibadah yang dimotivasi rayuan setan bukan lagi ibadah, melainkan maksiat. Jam terbang iblis dalam menggoda manusia sudah sangat lama. Ia tahu betul apa kesukaan manusia. Iblis tidak akan menyuruh orang yang suka beribadah untuk minum khamr. Tapi Iblis menyuruhnya, antara lain, beribadah haji berkali-kali. Ketika manusia beribadah haji karena mengikuti rayuan iblis melalui bisikan hawa nafsunya, maka saat itu tipologi haji pengabdi setan telah melekat padanya. “

Ya sudahlah, cerita perjalanan berlanjut aja, selesai shalat subuh aku ditemani Mas Andi Karman menuju terminal keberangkatan, bahkan beliau sempat mengantar sampai selesai loket check in. Selama menunggu keberangkatan aku sempat mandi, ganti baju dan sarapan di bandara. Unik memang di bandara ini, punya khusus kamar mandi, mirip dengan bandara di luar negeri, tapi yang mana ya, heee lupa aku. Dulu waktu sebelum sampai lulus Program Doktor Ilmu Akuntansi (2008) di kampus di mana kemudian aku menjadi dosen, Universitas Brawijaya, tahun-tahun 2006-2012 merupakan hobiku menulis artikel untuk dipresentasikan di forum nasional-internasional. Dari situ pula aku sedikit menjelajah bandara dalam maupun luar negeri, salah satunya bandara yang pernah aku kunjungi punya kamar mandi kecil.

Panggilan boarding terdengar setelah 15 menit selesai sarapan, melangkahlah aku memasuki pesawat menuju transit kedua, yaitu Jakarta sebelum ke Tulangbawang. Di bandara Sukarno Hatta Cengkareng, Jakarta, Azwar, wakil ketua Yayasan Rumah Peneleh sudah menunggu di terminal 1B, kita berdua memasuki loket check in bersama, menunggu cukup lama, sekitar 4 jam di samping memang jadwalnya mundur. Yang sering aku dapati ketika berpesawat ria, salah satunya menggunakan pesawat Lion Air. Kebiasaan Lion itu kalau sudah terlambat, pas di dalam pesawat akan terdengar pramugari menyenandungkan kalimat merdu: “mohon maaf atas keterlambatan penerbangan ini dikarenakan alasan operasional”. Sepertinya Lion Air punya semacam “Corporate Culture” mengucapkan kalimat “sakral” di atas di hampir setiap penerbangannya. Mungkin karena pula selama setahun ini mengunjungi lebih dari 30 kota, yang sebagian besarnya menggunakan lior air, heee maklum ini kan banyak penerbangan yang harus membiayai sendiri penerbangannya, tidak seperti standar pembicara atau undangan kampus. Meskipun dibayaripun aku biasanya minta dibelikan tiket pesawat yang relatif murah, dan hanya lion yang biasanya paling murah. Ada sih maskapai lain, seperti citilink atau sriwijaya, tetapi jangkauan kota-kota di nusantara kadang kedua maskapai tersebut belum memiliki jalurnya. Seperti ke Palopo dan Ambon, keduanya dibelikan tiketnya oleh Universitas Cokroaminoto Palopo dan Universitas Darussalam Ambon tetap saja aku minta dibelikan tiket murah, dapatnya ya Lion Air heheee. Bila dilihat dari murah atau tidaknya itu memang pilihan Lion Air lebih berani dalam penetapan harga, bagiku itu bisa menolong institusi dalam hal pengendalian biayanya. Tetapi bila ingin menikmati kenyamanan, pastilah Garuda Airlines pilihan terbaik, baik itu penerbangan dalam maupun luar negeri, meskipun rupiah harus dikeluarkan dua kali lipat dari itu. Kalau bicara nasionalisme bisa lain lagi, terutama penerbangan luar negeri, tetapi itupun atas nama nasionalisme kita harus keluar rupiah yang juga dua kali lipat. Tetapi makna nasionalisme yg seharusnya memang bukan pada harga, katanya sih, yaitu pada keberpihakan terhadap simbol2 dan entitas yg patut dibanggakan oleh negeri ini. Tetapi masalahnya berkenaan dengan pencitraan Garuda Airlines sendiri, baik pemerintah dan manajemen BUMN sepertinya mempertimbangkan nasionalisme dalam konteks status sosial dan pertimbangan profit. Jadi semakin sulit kita melakukan legitimasi maskapai milik negeri yang nasionalis, karena keliatannya masalah penerbangan telah terhinggapi penyakit mental kapitalistik di tengah masyarakat yang belum memiliki status sosial kemampuan ekonomi, jadi? Heeee… apa ini ya mungkin yang disebut dengan kontradiksi nasionalisme.

Lanjut ke perjalanan lagi, waktu keberangkatan ke Tanjungkarang dimulai jreng jreng jreng. Apabila perjalanan Makassar – Jakarta ditempuh lebih kurang dua jam di angkasa, ke Tanjungkarang hanya kurang dari sejam saja. Alternatif shortcut lewat udara kalau dihitung-hitung dengan lama perjalanan sepertinya tidak beda dengan jalan darat, bila dihitung dari waktu tunggu-boarding-takeoff-landing, padahal waktu bincang-bincang dengan teman-teman peneleh dalam merencanakan jadwal perjalananku yang mulai makin memadat lagi setelah sekitar 2 bulan sempat off itu sempat mempertimbangkan jalan darat sekaligus menikmati petualangan melihat interaksi kebudayaan nusantara dan proses sosial via bakaheuni. Rasionalisasi terlalu jauhnya jarak dan energiku yang wajib disimpan untuk ke banjarmasin dan jogja plus kewajiban ngajar di kampus yang mepet waktunya serta sudah ada penumpukan jadwal dua bulan ke depan, diputuskanlah dari jakarta naik pesawat. Shortcut akhirnya memang sama saja capeknya dengan menikmati perjalanan darat bila dilihat dari bagian materialisasi kehidupan dalam ruang dan waktu, tetapi perasaanku menjadi tidak lengkap sih, ndak tau, pokoknya ada kekosongan suasana batin substantif selama di tulangbawang setelah melakukan shortcut itu.

Sesampai di Tanjungkarang, waktu menunjukkan pukul sekitar 17.15, aku dan azwar dijemput Reka Punnata, mantan Ketua HMI MPO Cabang Tulangbawang yang kebetulan sekarang aktif sebagai Ketua KPU dan Ketua KNPI Tulangbawang. Pertemuanku dengannya mungkin kedua kalinya, setelah sekitar dua minggu sebelumnya Reka ikut LK III yang diadakan PB HMI MPO di Jogja, kebetulan aku menjadi salah satu pengisi materi sejak sore jam 15.30 sampai 22.30, aku kira akulah pemateri terlama heeee… Menggunakan innova disopiri sendiri oleh Reka kami bertiga meluncur keluar dari Bandara, di tengah perjalanan Reka mengajak makan terlebih dahulu di warung khas Lampung. Sambil makan kami bercengkerama mulai dari rencana acara di mana aku diundang sebagai salah satu pembicara dalam bincang Buku Jang Oetama perspektif Nasionalisme, bicara tentang situasi politik lokal, sampai HMI baik di Cabang, Badko, sampai PB. Aku seperti biasa lebih banyak menyerap informasi mengenai pembicaraan tersebut. Selesai makan perjalanan dilanjutkan, menelusuri Lampung Tengah sampai ke Menggala, ibukota kabupaten Tulang Bawang. Selama itu pula aku mulai mendapat informasi mengenai Menggala, mulai dari sejarah, politik, sosial ekonomi sampai budayanya.

Menariknya, ternyata Palopo dan Menggala memiliki kemiripan historis, yaitu tempat pertama kali Islam mulai masuk, Palopo itu tempat pertama kali Islam masuk daerah Luwu, bahkan menurut ceritanya Masjid di Palopo adalah Masjid tertua di Sulawesi (bukan hanya di Sulawesi Selatan), sedangkan Menggala tempat pertama kali Islam masuk wilayah Lampung. Ya, tetapi setiap cerita pasti punya heroismenya masing-masing, ketika aku coba komunikasi ke kawan yang asli Liwa, pas pada saat aku melewati pertigaan Lampung Tengah dan Menggala, terdapat jalan menuju Liwa, Mas John Pataria Basri Liwa, via BBM (Blackberry Messenger), beliau bilang ada banyak versi mengenai itu. Lepas dari benar atau tidaknya, dari situ kekuatan bawah sadar Islam sebagai simbol antropologis sangat lekat di Nusantara. Begitu pula ketika aku ke Banjarmasin atau Ambon misalnya, teman-teman di sana juga punya kesadaran antropologis yang sama.

Masuk Menggala, kami berdua langsung diantar ke Hotel Sarbini, hotel ini lumayan luas, bahkan di belakang pemandangan uniknya adalah di belakang terdapat rawa yang membentang luas, hotel unik memang. Menurut informasi dari Reka, hotel ini milik mantan Bupati Tulang Bawang. Menurutku hotel ini memiliki standar yang lumayan, tetapi mungkin karena kota Menggala relatif sepi, menjadi mungkin tingkat huniannya tidak begitu tinggi, dibanding hotel-hotel baru yang mulai bermunculan. Natural aja sih, manusia itu kan selalu suka hal baru, mungkin saja dulu ketika hotel ini baru dibuka banyak kunjungannya, tetapi begitu muncul hotel lebih baru manusia akan beralih ke sesuatu yang menarik dan bernuansa baru. Kecuali bila kita ke kota-kota dengan tingkat kunjungan tinggi, hotel apapun pasti akan terisi.

Malam hari aku istirahat, sekitar pukul 2.00 pagi bangun, shalat malam dan karena capek aku tidur lagi heee… Pagi, 18 April 2016, aktivitas rutinku mulai dari selesai shalat subuh, mulai melihat-lihat suasana hotel, bincang dengan azwar banyak hal, terutama tentang Rumah Peneleh. Saat-saat menunggu acara yang akan dilangsungkan sekitar pukul 13.00 tersebut, kami berdua biasa membicarakan banyak hal, mulai teknis Rumah Peneleh sampai evaluasi kegiatan yang telah lalu. Pukul 11.30 datang ketua panitia yang juga dulunya aktivis MPO Cabang bersama Reka, dan kami bersiap-siap. Sekitar jam 12.30 Reka mengajak keluar hotel, makan siang di warung khas Lampung lagi, seperti biasa daerah pantai selalu menyodorkan Ikan khas nusantara, kali ini aku lupa apa itu nama ikannya. Yang jelas enak banget. Uniknya kalau di sini makan satu orang satu ikan, dan satu piring sayur-mayur, dengan sambal terpisah. Reka menuturkan bagaimana tradisi makannya, sambal dimasukkan ke mangkok, ditambah air sedikit, dicampur dengan sayuran yang disukai, diaduk, dimasukkan pula ikan bakar yang sudah dilepas-lepas, diaduk, dan jadi deh. Enak memang, rasanya beda…

13055246_10207465233642007_311762960741315012_o

Singkatnya, kami berdua dibawa ke gedung Kartini, tempat berlangsungnya acara. Acara rencananya  di samping aku sebagai pembicara utama, akan menghadirkan pembanding,  Bapak Aminuddin, MA., tokoh sekaligus mantan Ketua Muhammadiyah Tulang Bawang; Bapak KH Dimyati, Ketua PC NU Tulang Bawang; Mas Hendriwansyah, wakil ketua DPRD sekaligus Ketua DPD PAN Tulang Bawang. Acara rencana dibuka Bupati. Pada saatnya ternyata Bupati berhalangan hadir dan diwakilkan kepada Asisten 1 Bupati, Dr. Pahada Hidayat. Menariknya setelah membacakan sambutan Bupati, beliau menambahkan catatan pribadi, menjelaskan tersentuh dengan acara ini sekaligus mengingatkannya pada masa kecil, ayahnya di masa lalu adalah ketua Syarikat Islam awal 70-an. Masa itu, lanjut beliau rumah banyak dikunjungi para aktivis SI, sembari berkaca-kaca mengingat semangat ayah yang berdakwah di bawah panji SI. Bahkan menurutnya kenangan SI selalu tertanama hingga kini, bahkan begitu menerima telpon pagi-pagi tugas pelimpahan mengikuti acara ini dari Bapak Bupati, memorinya langsung retreat seperti ketika masih ada mendiang ayah, ungkap beliau sambil berkaca-kaca. Karena itu pula setelah membaca sambutan tidak seperti pejabat formal yang biasanya langsung pulang selesai membuka acara, beliau malahan duduk dan ikut dalam forum diskusi sampai acara selesai. Sesudah kegiatan ditutup kami masih foto bersama bertukar nomor HP sekaligus bicara informal lumayan lama. Hal yang berbeda tetapi dengan respon kekaguman terhadap sosok Pak Cokro beserta sepak terjang SI datang dari Bapak Aminuddin yang juga memiliki pengalaman terhadap SI. Rupanya pondok pesantren tempat beliau menimba ilmu waktu muda di Banyumas juga merupakan basis SI, bahkan menurutnya pondok tersebut pernah dikunjungi Pak Cokro.

Salah satu hal penting yang aku catat selain semua pertanyaan lain (relatif sama dengan kota lain) dalam diskusi tersebut adalah pertanyaan dari salah satu penanya: “Bagaimana membangunkan Nasionalisme secara praktis di tengah carut marut negeri ini?” Bagiku ini adalah pertanyaan yang biasanya aku cibir, karena selama perjalananku ke mana-mana hampir selalu muncul pertanyaan berulang seperti ini meski dengan detil berbeda tetapi substansi sama. Aku mencoba memahami realitas pragmatis anak muda tersebut, apa ya memang sudah jamannya gitu mungkin. Tetapi kali ini aku agak berfikir keras sekaligus membuat jawaban praktis tanpa meninggalkan substansi ideologisnya. Hasilnya, terdapat  6 tahap praktis tetapi tetap mengedepankan kekuatan substantif, praksis sekaligus mendorong perubahan sesuai gaya anak muda saat ini, yaitu: 1) belajar dan baca; 2) membangun diskursus; 3) berfikir kritis atas bacaan dan realitas; 4) turun lapang dan melakukan aksi berpihak; 5) membangun cita nasionalisme diri dan kelompok tercandra dengan membentuk koperasi sekaligus advokasi sosial; 6) penyadaran dan aksi institusional proyektif berbasis nasionalisme kontekstual seperti membangkitkan masyarakat produktif, berfikir serta bergerak masif.

13047667_1042682949136496_8908101100484650915_o

Jam menunjukkan pukul 15.30, selesai bercengkerama dengan para pembicara serta aktivis muda Menggala, foto bersama, melayani tandatangan buku Jang Oetama, Reka mengajak meluncur ke Bandar Lampung supaya bisa mengejar pertemuan dengan kawan-kawan di sana.

Sesampai di Bandar Lampung 22.30, setelah sempat shalat maghrib di masjid dan makan malam di kota Lampung Tengah, bertemulah kita dengan Habibi dan Iqbal, kawan Azwar waktu di Jogja, yang kebetulan tinggal di Lampung. Di perjalanan aku sempat bbm Barkah, karibku dulu di Solo, saat ini menjabat sebagai Kepala Kantor Pertanahan Metro. Sayang, Barkah masih di Jakarta, Alhamdulillah dia nitipin bungkusan kripik pisang coklat khas Lampung via kurir. Rejeki memang gak kemana heee… silaturrahim itu luas sekali maknanya di dunia…

Apa yang aku dapat sepanjang interaksi di Lampung? Rasanya memang suasana politik praktis lokal sangat kental di seluruh perbincangan selama di Lampung. Entah, apakah karena memang Lampung seperti itu ataukah karena kebetulan kawan perjalanan selama itu lebih punya sense politik ya? Ada sih bincangan kebudayaan dan keinginan untuk bangkit menggerakkan perbaikan negeri, tetapi sekali lagi sepertinya suasana politik dalam bingkai kekuatan bisnis lokal yang mencengkeram arah kebijakan sosial ekonomi di Lampung tampak mengemuka. Bila ditelaah lebih lanjut memang, banyak kota dan propinsi di negeri ini sudah kabur itu kebijakan politik yang punya idealisme untuk kebersamaan kesejahteraan, intrik politisi baik individual dan atau kelompok dalam balutan partai sekaligus kuasa meneruskan trah-trah keluarga maupun kepentingan mempertahankan bisnis pemilik modal (perusahaan dan hampir banyak yang keturunan Tionghoa kalau tidak memang orang kaya lama sejak Orba) berjiwa kapitalistik rasa-rasanya sudah merangsek ke relung-relung praksisnya. Apakah ini memang sudah jadi kenyataan yang tak lagi dapat ditembus oleh kesadaran politik berkebudayaan bebas korupsi, kolusi dan nepotisme? Hanya waktu dan perjalananku berikutnyalah jawaban dapat aku maknai lebih jauh sekaligus bila mungkin sebagai bagian dari nyari sangu konstruksi utuh demi negeri ini ke depan… Semoga… Terlepas dari itu semua, ucapan terima kasih kepada teman-teman semua di Tulang Bawang, terima kasih telah memberikan pelajaran berharga mengenai dinamika nusantara.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s