JANG OETAMA 2016 – BANJARMASIN


Kota ke 32, Banjarmasin, aku di sana tanggal 20-22 April 2016. Mungkin lebih dari tiga kali aku mengunjungi kota ini. Kali ini merupakan catatan reflektifku yang lebih mendalam di Banjarmasin, tidak seperti beberapa kunjunganku beberapa waktu lalu, aktivitasku di sini terbilang formal dan mengikuti protokoler birokrasi dan institusional dari kampus ke kampus. Memang aku sekarang juga mengunjungi kampus, menghadiri undangan melantik sekaligus menjadi pembicara dalam rangka Pelantikan Pengurus Forum Dosen Ekonomi dan Bisnis Islam (FORDEBI) Korwil Kalimantan Selatan, tetapi suasananya menjadi berbeda, ketika kawan-kawan pergerakan dari KAHMI Kota Banjarmasin juga mengundang membicang tentang Kalimantan. Sebenarnya, yang lebih menarik batinku adalah perjalanan menyusuri sungai dan melihat aktivitas pasar terapung…

20 April 2016, perjalanan ke Banjarmasin kali ini ditemani Azwar, titik temunya di Bandara Syamsoeddin Noer Banjarmasin, aku berangkat dari Bandara Juanda Surabaya sedangkan Azwar berangkat dari Bandara Soekarno-Hatta Jakarta. Malam itu kami berdua dijemput Pak Hid (Hidayatullah Muttaqin) salah pengurus DPN FORDEBI yang juga mendapat mandat pembentukan FORDEBI Korwil Kalsel dan Mas Rizki calon Sekum FORDEBI Korwil Kalsel. Setelah bertemu dan memasuki mobil, kami keluar dari bandara. Sudah lama, aku dan Pak Hid tidak bertemu muka langsung, sekitar empat tahun lebih kira-kira. Komunikasi kami hanya via BBM ataupun WA, baik just say hello maupun saling mengisi mengembangkan DPN. Salah satu komunikasi penting kami bagaimana Pak Hid dapat membantu pengembangan website organisasi (http://fordebi.or.id). Alhamdulillah beliau sangat tangguh, mulai dari konstruksi awal sampai maintenance selama kurang lebih 2 tahun. Dananya? Nah ini beliau tidak pernah mau dibayar untuk pengembangan website, jempol untuk pak Hid deh. Di tengah perbincangan kangen-kangenan bak saudara yang lama tak pernah jumpa, mulai dari aktivitas kampus masing-masing sampai dengan bagaimana mendorong dibentuknya Korwil Kalsel, Pak Hid dan Pak Rizky menawari kami mau makan malam apa? Saya jawab yang penting makanan yang khas Banjar dan tidak pakai mahal, tidak bernuansa resto, warung pinggir jalan asal itu top markotop ok aja.

Mobil berhenti di warung Nasi Itik Gambut. Mengapa dinamakan Nasi Itik Gambut, katanya sih masakan itik terkenal dari warung pinggir jalan tiada lawannya, di daerah jalan raya Gambut seberang SPBU Pertamina. Begitu turun dari mobil, memasuki warung yang terbuka perasaan saya mulai bertanya-tanya dan agak was-was, waduh warungnya kumuh bener, sampah sisa makanan bertebaran di mana-mana. Meja kursi dan tampak fisik warung ini kayak “serem”, langsung mbatin deh, “mateng aku, kalau murus perut gimana, kalau gak enak gimana, sudah kadung bilang ke mereka “pokoknya santai aja pak, ini namanya menikmati perjalanan tidak penting kemewahan, yang penting adalah rasa kulinernya Banjar Banget”. Setelah pesan, tidak berapa lama, makananpun segera tersaji , sepiring nasi penuh dengan racikan bumbu dan daging itik khas, plus teh manis panas . Mataku memandang Pak Hid dan Pak Rizky dengan senyum penuh “gimana gitu”, sesekali merubah raut ketika memandang Azwar yang lagi sibuk telpon dengan kawan beliau di Banjar. Serius sekali Azwar, sejak turun mobil hingga nanti selesai kami makan, telepon tak henti-hentinya nempel di telinga dan menjauh dari warung. Agak gemes kok gak ngerti pandangan mataku nanar seakan memanggil dirinya, “tolong War sini dong, tolong…”. Tak ada jalan keluar dah, there is no way out, tangan sudah memegang sendok penuh berisi Nasi Itik Gambut, begitu tersentuh lidah, mmm… wow ternyata wuenak pol, tak berhentilah akhirnya sendok mendulang hidangan memasuki ruang-ruang mulut, habis sudah fikiran dan suasana batin tentang segala hal yang berkecamuk, yang ada hanyalah enak dan enak banget. Pak Hid santai seakan tahu jalan fikir dan batinku beberapa waktu lalu, “enak kan Pak?” hampir berbareng dengan Pak Rizky. Bersihlah hidangan di piring, bermigrasi ke badan. Jadi memang benar itu suasana batin akan menyelesaikan seluruh pandangan material – fisikal, suasana batinlah puncak dari apapun yang terjadi pada relung fikiran kemanusiaan. Tidak penting itu bersih atau tidak, selama itu memang suasana batin memberi sinyal akan keindahannya.

Aku juga manusia, mungkin aku sometimes terjebak penjara modernitas, selama ini selalu sibuk menarikan pandangan mata dan fikiran akan kebersihan, keindahan, ya benar itu namanya keindahan akan tergiring pada tatanan sosial maupun arsitektural penuh seni, apalagi suasana modern penuh simbol simplifikasi, kaku tetapi sarat akan presisi, sentuhan artistik minimalis, penuh kesantunan kebersihan. Dunia kita di masa lalu di sisi lain, hanya tinggal realitas marjinal penuh lekuk, melingkar, lentur dan mengikuti pola kelembutan serta memerlukan irama lambat, berbeda dengan masa kini yang penuh kecepatan, taktis, simpel, tidak bertele-tele.

Makanan dan juga simbol arsitektural modern yang seperti itu dapat kita temui di hotel-hotel yang sekarang banyak berkembang, smart hotel misalnya. Hal ini memang merujuk pada desain modern yang praktis dan simpel, gaya muncul berbasis keutamaan fungsi dalam menentukan bentuk, ukuran, dan bahan. Gaya hidup modern penuh dengan bangunan arsitektural yang berbeda dari yang tradisional,  praktis, bersih, fungsional,  meninggalkan kesan sederhana, tidak berhias, dan apa adanya, jernih, memiliki ketegasan geometri, struktur maupun bahan bangunan, bukan seperti desain tradisional yang lebih banyak ornamen, hiasan, lekukan, pernik rumit. Tetapi dunia kini juga sudah tidak lagi di masa modern, tetapi memasuki ruang posmodern, termasuk arsitektur juga telah banyak diisi oleh suasana posmodern pula.

Arsitektur posmodern sebagaimana ditulis dalam buku fenomenal Robert Venturi berjudul “Complexity and Contradiction in Architecture” tahun 1966 yang mengedepankan “elemen gaya hibrida dengan keutamaan inkonsistensi serta bentuk-bentuk distorsi dibandingkan keutuhan bentuk. Bila didetilkan lagi, kita dapat merujuk pada penjelasan Charles Jenks, yang memotret gaya arsitektur posmodern memberikan kebebasan secara luas, baik itu dari elemen apapun dalam desain arsitektur. Kata kuncinya adalah menembus realitas tradisi dan anything goes dengan tetap mengedepankan kesederhanaan dan materialisasi fungsi. Meski kita tahu bahwa Arsitektur modern memang sudah melepaskan diri dari aturan-aturan modernisme, tapi keduanya masih eksis, karena Posmodern adalah anak dari Arsitektur Modern. Keduanya masih memiliki sifat/ karakter yang sama, bahkan Posmodern melakukan Koreksi terhadap kesalahan Arsitektur Modern dengan tetap menggunakan kebenaran Arsitektur Modern selama itu sesuai.

Mungkin karena aku memang hidup di dunia tradisional yang sedang berinteraksi dengan modern-posmodern, bahkan di kampus, di pertemuan dan di manapun banyak didominasi oleh yang bukan tradisional, menjadi was-was awalnya di warung tradisional seperti itu. Hehehe, keuntunganku adalah aku punya daya berontak yang luar biasa terhadap realitas modern-posmodern, sehingga wajar, aku akhirnya dapat menikmati dunia perwarungan pinggir jalan yang kata Pak Hid memang sudah lama tidak berubah, meski di sebelahnya ada warung Nasi Itik Gambut sejenis tetapi telah dimasukkan dalam ruang resto, ruang bangunan modernitas, yang nyata-nyata bagi orang Banjar yang paham mana Nasi Itik Gambut yang enak.

Mengapa aku bisa ikut merasakan kenikmatan seperti itu? Apakah ini yang disebut dengan penolakan ideologis atas values yang menempel secara masif dalam realitas yang didesain oleh modernitas dan posmodernitas ya? Mengapa aku menolak mentah modernitas dan posmodernitas, ya jelas karena semua ideologi itu dibawa dari luar yang menurutku tak bisa lepas dari nilai yang dibawanya. Coba to posmodern itu mana bisa aku care dan sepakat, wong menurut Pauline Rosenau dalam bukunya Post-Modernism and the Social Sciences: Insights, Inroads, and Intrusions mengatakan bahwa jiwa Posmodern yang skeptis orientasinya itu pesimistik, negatif dan gloomy assessment, yaitu melihat abad postmodern yang telah terfragmentasi, terjadi disintegrasi, malaise, tak memiliki makna, hilangnya parameter moral dan masyarakat chaos serta tidak ada kebenaran. Bagi Rosenau:
Post-modernism challenges global, all-encompassing world views, be they political, religious, or social. It reduces Marxism, Christianity, Fascism, Stalinism, capitalism, liberal democracy, secular humanism, feminism, Islam, and modern science to the same order and dismisses them all as logocentric, transcendental totalizing meta-narratives that anticipate all questions and provide predetermined answers.

Bahkan ditegaskan Griffin Tuhan telah hilang di dunia posmodern kecuali Tuhan yang telah masuk dalam akal rasional, Tuhan yang empiris. Sedangkan bagi jiwa affirmative, lanjut Rosenau, posmodern merupakan kritik terhadap modernitas, tetapi masih mementingkan harapan, optimis, terbuka pada aksi politik atau konten dengan rekognisi visioner, Non-dogmatik personal, berada pada ring Agama New Age, Gaya Gidup Aliran Baru dan termasuk seluruh spektrum gerakan sosial postmodern. La wong aku aja sudah gak percaya pada modernitas yang dibangun dari positivisme-nya Comte menegasikan tradisionalitas karena dianggap kuno, primitif, terlalu teologis dan tidak tanggap terhadap kemajuan dunia maupun teknologi. Ya begitulah pembelaan ideologis atas tradisionalitas melenyapkan apapun yang ada di hadapanku, yang ada cuma satu, suasana tradisi, kultur dan makanan rakyat itu adalah bentuk perlawanan terhadap modernitas-posmodernitas. Weleh-weleh malah panjang lebar… heee… Selesai makan malam, menelusuri jalan aku diantar ke hotel di tengah kota Banjarmasin, istirahat deh.

13047669_10207925042997270_519509620479623075_o
Pagi meluncur ke kediaman Gubernur, pelantikan Fordebi Korwil Kalsel. Kehadiran Pak Gubernur, Pak Sahbirin Noor yang baru saja terpilih, dalam acara pelantikan sangat menggembirakan,  hal ini menandakan perhatian terhadap pengembangan Ekonomi dan Bisnis Islam di Kalsel sekaligus simbol pimpinan daerah memberi dukungan agar dapat berkembang lebih masif. Semoga demikian. Aku pikir masalah rentetan formalitas, mulai dari sambutan-sambutan, pelantikan, sampai acara seminar tentang Ekonomi Islam acara tak penting disebutkan di sini, karena itu biasa dan terjadi di manapun. Selamat buat bu Hastin dan kawan-kawan dosen penggiat Ekonomi dan Bisnis Islam di Kalsel ya, selamat mengemban amanah sebagai Ketua Fordebi Kalsel.
13055565_10207486190325911_526938265167681142_n

Bagiku yang penting perjalanan ini merupakan interaksi kemanusiaan,  kebudayaan, sekaligus menyapa kearifan semesta di nusantara,  di tengah gemuruh egoisme,  individuasi akibat melesatnya dua poin penting yaitu teknologisasi dan ekonomisasi segala hal di negeri ini. Saya yakin bukan hanya di negeri ini teknologisasi dan ekonomisasi terjadi,  tetapi telah, merangsek ke banyak negeri di dunia inu di mana keduanya menjadi bagian tak terpisahkan dari agenda modernisaosi maupun liberalisasi. Termasuk isu ekonomi dan bisnis Islam kalau begitu ya heee…  saya fikir ya dan bisa begitu.

Selesai acara Fordebi aku sudah dinanti untuk bincang-bincang dengan kawan-kawan KAHMI Banjarmasin, bincang tentang Kalimantan yang berlimpah kekayaannya tetapi sedang tak punya kuasa apapun. Acara tersebut merupakan diskusi publik, selain aku juga hadir Pak PR 1 Universitas Lambung Mangkurat, yang kebetulan juga senior KAHMI, Dr. Alim Bahri, nah lagi-lagi aku diajak bicara tentang Ekonomi dan Bisnis… heeeeee merenungi nasib negeri borneo, pulau kaya namun terus di miskinkan.. meskipun begitu terbitnya matahari semoga membawa harapan baru di negeri ini, begitu kata mas azwar di facebooknya ketika upload foto-foto jalan-jalan…

13072678_10207487174390512_8111328835484336278_o

Malamnya Alhamdulillah aku dijemput teman-teman Fordebi Kalsel, makan malam. Paginya, ini yang seru, aku dan Azwar dijemput “mruput” sama Pak Hid, Bu Hastin dan suaminya, menelusuri sepanjang sungai martapura. Tapi dipikir-pikir negeri kita ini memang luar biasa, nusantara kaya, apa saja ada, itulah mengapa aku tetap cinta negeri ini, meski sudah sering di*p*s* banyak peristiwa dan orang, tetap saja nusantara is the best… ndak mau banyak ngomong tentang keindahan sepanjang sungai martapura dah, sudah banyak yang ngomongin gini ini. Apalagi para jagoan penjelajahan dan kuliner, pasti ngomongin banyak hal tentang kayak gini ini. Silakan melihat foto-foto itu, interpretasi sendiri, suasana batinku gimana ya itulah enaknya menikmati suasana batin ketika berada di lokasi… gimana gitu… Yang jelas itu di sana ada Wadai Cincin dan Laksa sambil ng-Klothok di pasar apung  melewati rumah pinggir sungai sampai jajaran rumbia dan pepohonan sepanjang sungai martapura, tak lupa sebelum pulang makan soto bawah jembatan… mmmm… Bila ditelusuri lebih jauh, memang tak dapat dipungkiri, terdapat kekuatan besar, Sungai merupakan basis dasar pembentukan peradaban-peradaban di Nusantara. Sungai Martapura salah satunya, saat ini masih terdeteksi sisa-sisa peradabannya. Masa lalu sungai selalu menjadi titik temu perdagangan, sekaligus interaksi ilmu, sastra, menjadi jalur masuk dari arus besar laut, di sana pula kemudian memunculkan kebudayaan khasnya, muncul kota yang jadi pusat kebudayaan. Apakah ini sebenarnya yang menjadi penyangga negeri interaksi antar kebudayaan? Hasil telusur di berbagai kota beberapa waktu yang aku kunjungi menampilkan hal itu.

13000178_10207935333774533_8767738157139886577_n 13012730_10207935334334547_6519298402294847944_n 13007118_10207935528779408_6715197355565712674_n 13082582_10207935664022789_643600332514204082_n 13001269_10207491543499737_374937891580546567_n

 

Selama perjalanan menelusuri Sungai Martapura malahan pikiranku bercampur antara melihat realitas dan analisis ngaco. Mengapa ngaco, ya karena begitu melihat keindahan semesta-Nya, sekaligus melihat realitas yang kata ekonom dan departemen keuangan atau analis ekonomi politik biasanya mereka adalah orang miskin, hidup di dunia penuh kejorokan, tidak sehat, seenaknya sendiri, kumuh, ndeso, kuno, tidak beradab, dan bla-bla-bla… Malahan aku mikir lain tentang realitas sepanjang Sungai Martapura ini. Mereka yang di sekitar Sungai Martapura ini, tidak merasa rumit dengan analisis ekonomi politik pembangunan yang sangat positivistik-materialistik dan bahkan cenderung meletakkan mereka pada strata “dikasihani”. Apa bener gitu? Ya kalau dalam term modern, maka Kita dan semesta, bicara manusia, ya manusia masa kini, untuk tidak hanya memahami manusia sebagai manusia modern, karena seperti yang kita diskusikan di atas, kita telah memasuki era posmodernitas.

Malahan, manusia posmo mungkin begitu kita istilahkan, tak lagi memahami perbincangan dengan siapapun sebagai bagian dari interaksi sosial yang membuat siapapun saling menjadi bagian persaudaraan kecuali di dalamnya ada komunikasi ekonomi. Bahkan pembangunan kita, selalu dalam kerangka ekonomi, melihat kekumuhan dalam ukuran ekonomi, melihat nikmatnya mereka yang mandi di pinggir sungai, dihitung sebagai kekumuhan dalam indikator sosial ekonomi, dan lainnya dan lainnya, dan lainnya. Apa gak salah ini? Aku kok liatnya malah seperti cerita lama saya tentang Manusia dan Tuhan mungkin telah ber-evolusi lebih jauh… tentang Lek Salim. Tetapi bukan Lek Salim yang hanya terjebak pada simbol Ekonomisasi, jauh lagi, malahan terjebak pada Ekonomisasi-Teknologisasi sebagai desain untuk Menguasai-sasi (hehehe enak juga nulis kata “sasi” di belakang setiap istilah keren itu ya… krik-krik… lanjut dah)

Begini nih versi pertama saya tentang Manusia dan Tuhan versi Ekonomisasi
Lek Salim…sang lugu dari dukuh girirembang…Sosok manusia desa dengan rejeki pas-pasan…Sedang mencari makna keikhlasan dan ketundukan pada Tuhan menjelang Hari Raya Idul Fitri…Mencarilah sang lugu ke sekeliling desa…Tak puas dengan desa…
Mencarilah dia ke kota yang katanya tempat segala sesuatu ada…Termasuk mencari ketundukan dan khusyu’nya ibadah…Di tengah kota dia lihat spanduk bertajuk …Mendekat Kepada Tuhan Lewat Ibadah…atau…Mencapai Ibadah Lewat Khusyu’…Mencari eksistensi dan kekayaan serta spiritualitas melalui Tuhan…
Setelah sang lugu mendekat spanduk…Tak kuasa dia menahan tangis…Seketika itu juga dia kangen suasana desa…Tanpa Uang dan Tanpa Harta…Tetapi setiap Kehadiran Menuju Kesadaran Ketuhanan…Hanya perlu dibayar dengan keikhlasan guru dan murid
Versi kedua Manusia dan Tuhan yang berevolusi bukan hanya dalam konteks Ekonomisasi tetapi juga Teknologisasi bahkan pencitraan utk Vertikalisasi Ego
Lek Salim pulang ke kampungnya, dia mulai banyak merenung
Introspeksi dan menelusuri ruang tarikh Rasul
Dia yakin seyakin-yakinnya berhala itu bukan sekedar patung
Berhala itu substansi dan patung adalah materialisasinya
Berhala itu ya keserakahan kekayaan berdagang yang menjadikan setiap orang sombong dan merasa penting
Dan dengan demikian setiap lokalitas adalah pinggiran dan ibukota yang penuh gemerlap, adalah pusat kekuasaan-uang-komersialisasi bahkan pencitraan sekaligus pusat kepentingan
Gemerlap diperlukan untuk mencitrakan diri menjadi tokoh sentral penuh basa basi di layar kaca yang dapat menipu siapapun di seluruh lini negeri dengan busa Islam dan Kebaikan
Maka di situlah peran uang,
Maka di situlah roda riba substantif dikejar
Lewat akumulasi institusionalisasi keuangan, lewat teknologi keuangan yang makin pesat, maka dana masyarakat tersedot menjadi nomer rekening, dan para pemilik bank dapat mengklaim sebagai capital untuk perluasan finansial dan mengakumulasi kekayaan melampaui besarnya dunia ini… Waduh…
Maka akulah sang penguasa dunia atas nama Islam, yang apabila perlu bernegosiasi dengan siapapun, Dajjal sekalipun, asal akulah pusat dunia…
Maka lembaga-lembaga itu harus hanya dikuasai oleh yang namanya pusat politik Mekkahnya Indonesia – Jakarta
Lek Salim berfikir keras,  mengapa Rasulullah meninggalkan Mekkah dan menuju Madinah? Meninggalkan Ibukota menuju Desa? Meninggalkan kekayaan dan gemerlap kuasa keturunan Quraisy sekaligus jaringan ekonomi sosial politik menuju Aqabah 1 dan 2? iya ya Rasulullah itu kaya sebelum jadi rasul dan menyerahkan seluruh kekayaan untuk perjuangan menegakkan Izzul Islam wal muslimin, malahan ketika di Madinah Rasulullah yang sudah jadi Rasul dan bukan lagi pedagang, rumahnya hanya sepetak dan dibatasi selembar kain tipis dari Masjid Nabawi.
Maka itulah sebenarnya simbol berhala sebenarnya, berhala teknologisasi dan ekonomisasi untuk kuasa diri
Lek Salim kembali menangis tersedu-sedu, tak kuasa dia menahan kesedihan, sembari beristighfar, sembari berujar: Ya Allah mengapa Engkau turunkan aku di masa ketika segala sesuatu tak lagi dapat ditembus dengan kebaikan yang penuh kejujuran, apakah memang aku harus melakukan proses profetik sebagaimana Rasulullah mengajak para sahabat meninggalkan kemewahan dunia menuju kesengsaraan untuk menjemput Kebahagiaan Hakiki?
Selamat menjadi Lek Salim ya… heeee. Ya sudahlah memang begitulah dunia kita,
Udah deh… gitu dulu perjalanan di Banjarmasin. Siangnya, kami berdua diantar Pak Hid ke Bandara. perjalanan selanjutnya adalah ke Jogja…

One thought on “JANG OETAMA 2016 – BANJARMASIN

  1. Pa…aku merinding dan terharu pa…finally ada juga yg memahami dan merasakan betapa sense traditional itu awesome and something banget dan tak tergantikan dgn modernitas.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s