ZELFBESTUUR: Proklamasi 18 Juni 1916


ZELFBESTUUR – PEMERINTAHAN SENDIRI: HOS TJOKROAMINOTO DAN INDONESIA
Lahirnya Sang Raja Tanpa Mahkota – Lahirnya Negeri Ini 1)
Oleh: Aji Dedi Mulawarman 2)

Zelfbestuur, atau Pemerintahan Sendiri, dikumandangkan pertama kali oleh Hadji Oemar Said Tjokroaminoto pada tanggal 18 Juni 1916 di lapangan alun-alun kota Bandung, di hadapan puluhan ribu peserta Rapat Akbar (Vergadering) se-Nusantara. Hari itu, merupakan acara hari kedua dari perhelatan akbar, agenda Voordracht dari H.O.S Tjokroaminoto, Voorsitter, Ketua CSI, Sang Raja Tanpa Mahkota, atau oleh Belanda disebut “De Ongekroonde Koning van Java” (Raja Jawa yang Tak Dinobatkan), dari seluruh rangkaian delapan hari Kongres Nasional Pertama Central Sarekat Islam atau disebut 1e Nationaal Congres Centraal Sarekat Islam, mulai tanggal 17-24 Juni 1916. HOS Tjokroaminoto, salah satu tokoh nasional muda saat itu yang berani mengumandangkan kata magis “Kebangsaan (Natie)” dan “Zelfbestuur (pemerintahan sendiri)”, sebagai kata lain dari Kemerdekaan Nasional, pertama kali di hadapan publik. HOS Tjokroaminoto telah menggemakan kekuatan maha dahsyat, seakan menandai dimulainya kesadaran pergerakan di Jawa, Madura, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, bahkan Ambon, tak terhidarkan sudah merangsek ke seluruh lapisan rakyat se-antero nusantara. Suasana Kongres sangat meriah. Di samping Rapat Akbar, acara Kongres juga dilaksanakan agenda Pawai keliling titik-titik keramaian kota Bandung, Pesta Rakyat dan Kegiatan Kongres Central Sarekat Islam, dihadiri ratusan utusan dari 80 Cabang/Afdeling SI yang mewakili 360.000 anggota, dari total 800.000 anggota.

Sarekat Islam bukanlah gerakan biasa, tetapi merupakan Gerakan Raksasa! Organisasi pertama di negeri ini sekaligus organisasi modern yang memiliki anggota terbesar saat itu, mencapai 4 juta orang per tahun 1919, menurut catatan organisasi, meski dicatat hanya 2,5 juta orang oleh Pemerintah Belanda. Dibandingkan dengan organisasi lain yang juga dianggap sebagai representasi gerakan priyayi di Jawa saat itu seperti Boedi Oetomo misalnya, tahun 1909 hanya mempunyai anggota 10.000 orang. Partai Komunis Indonesia sampai dengan 1938 hanya memiliki anggota mencapai 250.000 orang. Gerakan raksasa SI melalui tangan dingin Pak Tjokro mengundang kekaguman luar biasa dari berbagai kalangan, misalnya Sosiolog Belanda WF. Wertheim 3):

“Salah satu fenomena paling menarik perhatian adalah ekspansi yang cepat dari gerakan Sarekat Islam di kalangan petani Jawa. Jumlah besar yang berhasil dikumpulkan organisasi ini dalam beberapa tahun (disebut di atas dua juta) merupakan tanda bahwa ikatan-ikatan kolektif baru suatu jenis organisasi sejalan dengan suatu kebutuhan mendalam yang dirasakan di antara banyak desa. Corak keagamaan dari ikatan yang baru ini pada level bawah di kalangan petani mengajukan appeal kepada sistem nilai yang ada. Sebagai gerakan pranasionalis, Sarekat Islam pada waktu yang sama memberikan saluran kepada suatu keinginan umum di kalangan petani untuk mengidentifikasi dirinya dengan mereka yang mempertahankan sistem nilainya sendiri melawan pemerintah kolonial dan wakil-wakilnya.”

Penyadaran Zelfbestuur menuju Bangsa Merdeka yang didorong Pak Tjokro lewat SI memang tak terhindarkan. Salah satu indikator banyaknya masyarakat atau rakyat yang mulai sadar akan nasib dan masa depan dirinya serta keinginan bebas dari kuasa asing, Belanda, di negeri sendiri, dapat dilihat dari makin meningkatnya keanggotaan dan pembukaan cabang-cabang SI baru di daerah-daerah. Berikut tabel perkembangan anggota SI dari tahun 1912-1919.
tabel anggota si

Representasi nasional dari SI juga tidak hanya berkenaan dengan jumlah anggota, cabang-cabang, tetapi dapat dilihat dari struktur pimpinan CSI dalam beberapa tahun secara bergantian keluar masuk. Abdoel Moeis dan H. Agoes Salim dari Padang, Sumatera Barat; Pak Tjokro, Soerjopranoto, Sosrokardono, H. Ahmad Dahlan, Hisam Zaini, H. Sadzili dan Wondoamiseno dari Jawa Timur dan Jawa Tengah; R. Goenawan, D.K. Ardiwinata, Hasan Djajadiningrat, Wignjadisastra dari Sunda dan atau Jawa Barat; serta A.M. Sangaji dari Ambon.

Penggunaan kata “Nasional” pada Kongres Nasional Pertama Central Sarekat Islam sebenarnya juga merupakan semangat yang berbeda dengan organisasi gerakan-gerakan lain seperti Boedi Oetomo misalnya yang berbasis kedaerahan Jawa 4) dan Madura 5)?. Pak Tjokro memang unik, membawa SI melewati batas-batas kedaerahan. Sifat nasionalismenya juga dapat dilihat dari perilaku individual beliau, yaitu setelah menunaikan ibadah haji tahun 1926 beliau tidak lagi menggunakan gelar keningratannya dan lebih suka memperkenalkan diri dengan nama Haji Oemar Said Tjokroaminoto atau disingkat H.O.S Tjokroaminoto. Gelar “Raden Mas” baginya merupakan hak yang dapat biasa saja, tidak begitu penting. sebagaimana ningrat-ningrat lainnya. Bahkan bagi beliau, status sosial “Haji” lebih menunjukkan universalitas dan kemusliman sekaligus simbol perlawanan terhadap dominasi Belanda saat itu.

Berbasis keyakinan Islam yang juga bergerak lintas geografis, Pak Tjokro mengidentifikasi gerakan SI lebih maju dari zamannya, melihat SI sebagai wadah persatuan nasional umat Islam di seluruh nusantara yang masa itu berada di bawah kekuasaan Belanda. Gerakan masif SI disamping memang representasi nasionalisme awal, juga merupakan bentuk kebesaran Islam yang ada di dalamnya. Hal ini diungkapkan sendiri oleh Pak Tjokro:
Kita mencintai bangsa kita dan dengan ajaran agama kita (Islam) kita berusaha sepenuhnya untuk mempersatukan seluruh atau sebagian terbesar bangsa kita.
Ungkapan-ungkapan menggelegar Pak Tjokro baik di acara Pembukaan maupun pada acara Rapat Akbar, seperti mewakili keinginan suara rakyat di seluruh pelosok negeri menembus tebalnya tembok penjara kedigdayaan Belanda. Genderang perlawanan fase baru telah ditabuh, gerakan nasional kerakyatan yang belum pernah dilakukan oleh siapapun. Ungkapan perlawanan untuk membangunkan kesadaran sekaligus keberanian mengambil kembali hak-hak genuine, genetis dan hidup di atas bumi nusantara negeri tumpah darah sendiri, dalam satu bahasa, kemerdekaan umat atau kemerdekaan kebangsaan (nationale vrijheid) 6). Pidato-pidato itu juga bagian dari refleksi kritis atas diri bangsa sendiri yang sudah terlanjur habis pikiran, daya dan upayanya karena ratusan tahun penjarahan, penjajahan dan cengkeraman yang dilakukan Belanda, sehingga rakyat Bumiputera menjadi “minder”, merasa sebagai bangsa hina, bahkan berlebihan dalam menghinakan diri sendiri.

Gerakan Radikal Pak Tjokro melalui SI/CSI melakukan revitalisasi organisasi SI berbasis Islam yang sebelumnya lebih banyak pada perlawanan dagang/ekonomi. Hal ini terlihat dari nama awal serta penggagas awalnya, yaitu H. Samanhoedi dan pengurus lainnya melalui Sarekat Dagang Islam yang dibentuk pada 16 Oktober 1905 di Surakarta, berubah menjadi Sarekat Islam tahun 1906, yang pada perjalanannya menjadi lebih luas daripada hanya berkenaan dengan perserikatan pedagang terutama setelah Pak Tjokro mengambil peran sentral. Pembelaan radikal yang demikian kuatnya pada kepentingan masyarakat Bumiputera tak pernah berhenti sejak diminta H. Samanhoedi bergabung tahun 1912, langsung melakukan gebrakan-gebrakan setelahnya. Sentuhan radikal dan revolusioner, kemudian membawa nama harum Pak Tjokro. Keberanian melakukan perlawanan terbuka kepada Belanda sampai terjadi anggapan berlebihan dari masyarakat, terutama masyarakat Jawa, yang masih kental dengan pemahaman milenarism, Pak Tjokro-lah Sang Heru Tjokro, Ratu Adil yang ditunggu-tunggu 7). Bahkan karena namanya yang memiliki kemiripan atas sebutan ramalan Ramalan Raja Jayabaya dari Kediri (1135-1157), pada saat terjadi gonjang-ganjing, sebuah negeri porak poranda, ditandai dengan penindasan terhadap rakyat, akan muncul sosok penyelamat, yaitu Ratu Adil Heru Tjokro. Dampaknya rakyat berbondong-bondong ingin melihat dari dekat Pak Tjokro dalam setiap kegiatan atau kongres yang diadakan oleh SI.

img_0723-1

Footnote:

  1.  Tulisan ini diambil dari Buku Jang Oetama: Jejak dan Perjuangan HOS Tjokroaminoto
  2.  Ketua Umum Dewan Pengurus Nasional Forum Dosen Ekonomi dan Bisnis Islam (DPN-FORDEBI); Ketua Yayasan Rumah Peneleh; Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya
  3.  Maarif (2006, 82)
  4.  Berdasarkan Surat Edaran Tentang Berdirinya Boedi Oetomo tanggal 20 Mei 1908 sebagaimana dicatat oleh Sowarno, Sekretaris I, dari hasil Pengumuman Afdeling Bestuur Boedi Oetomo, Weltevreden, 1908 (Suharto dan Ihsan 1981) bertujuan untuk “mengusahakan persatuan kaum Bumiputra yang sedapat mungkin bersifat umum, sehingga akhirnya akan tercapai terbentuknya suatu Persatuan orang Jawa pada Umumnya…”.
  5.  Tirtoprodjo (1961, 12) menunjukkan tujuan Boedi Oetomo sebagai organisasi bukan hanya untuk kepentingan Jawa saja, tetapi juga untuk Madura. Sebagaimana tujuannya disebutkan untuk “de harmonische ontwikkeling van land en volk van Java en Madura” yang artinya: kemajuan yang harmonis untuk nusa dan bangsa Jawa dan Madura.
  6.  H.O.S. Tjokroaminoto. 1958. Tafsir Program Asas dan Program Tandhim Partai Syarikat Islam Indonesia. Halaman 30.
  7.  Untuk perbandingan lihat Lowensteyn (2005) sebagaimana mengutip McVey (1963) mengatakan: The earlier mentioned concept of Ratu-Adil was prominent in the Sarekat Islam where Tjokroaminoto was regarded by many of his followers as the “saviour prince”.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s