DRAMATURGI NEGERI TAK BER-“URAT MALU”


DRAMATURGI NEGERI TAK BER-“URAT MALU”
Aji Dedi Mulawarman

Ada yang sudah hilang di negeri ini sepertinya, urat malu… Baik media, politisi, aparat hukum, pemerintah, dan semua pendendang di pusaran kebijakan negeri ini. Ya urat malu, bahkan mungkin mereka sudah tak punya lagi itu yang namanya kemaluan kecuali berkuasa dan menjarah. Bagaimana itu terderivasi dalam dunia sandiwara media sosial hari-hari ini? Semua tergantung mainannya apa, sandiwaranya apa.

Apa itu memang dalam rangka “sandiwara” atau dalam bahasa Erving Goffman sebagai Dramaturgi? Jadinya makin gemes, apakah memang mereka-mereka ini sadar atau, (semoga tidak) sedang bermain peran ala dramaturgi-nya Erving Goffman atau apa”? Ada istilah menarik dari Dramaturgi Goffman tersebut, yaitu Impression Management, drama tidak cukup hanya berkenaan dengan back stage dan front stage saja, bukan hanya berkenaan dengan panggung depan dan panggung belakang. Tetapi agar sebuah “drama” di masyarakat terkonstruksi diperlukan kesan dan pesan yang harus tersampaikan untuk menguasai atau mengendalikan orang lain. Salah satu caranya dibutuhkan decorum (bentuk komunikasi yang tersimbolkan dalam alat/aksi) yang dipakai oleh penguasa untuk mengendalikan masyarakat. Yang penting lagi dan mungkin mystification, sebuah performance atau aksi dramatis dianggap sukses dan aktor dianggap mampu menyampaikan pesan bila ia telah mencapai celestial qualities and powers, bila si aktor mampu menarik kekaguman penonton karena adanya misteri sang aktor, atau biasa disebut dengan karisma yang penuh misteri. Ayo kita jalan-jalan sejenak.

Drama penting negeri ini adalah pilkada serentak. Nah Pilkada serentak membutuhkan mystification, aksi dramatis yang hanya ditabuh oleh salah satu daerah dominan yang lain terdominasi isunya, ya Pilkada DKI adalah mainan paling “mahal” hari-hari ini. Tokoh-tokohnya memang memenuhi syarat celestial qualities and powers sekaligus memiliki misi decorum. Bahkan karena mahalnya misi, sampai berujung pada pelecehan agama katanya, padahal di ujung negeri ini ada masjid yang sedang berada di ujung tanduk akan dirobohkan tapi tanpa berita memadai. Karena bukan masuk dalam isu penting drama, masjid menjadi tidak penting di ujung negeri itu.

Sedangkan isu pilkada daerah lain, karena dianggap “murah” atau bahkan mungkin (semoga tidak) dianggap sebagai “murahan”, dan hanya sebagai pemain figuran, maka dunia lain di luar jakarta adalah pinggiran, marjinal, tidak penting, tidak ada manusianya bahkan. Hal ini sama seperti guyonan yang sering saya bincangkan di mana-mana, bahwa kebutuhan daging nasional sebenarnya bisa tercukupi dengan satu langkah dahsyat, menghilangkan pasokan daging dari jakarta, karena penduduk Jakarta yang tidak sampai lima persen penduduk negeri butuh pasokan daging mencapai 70-80 persen. Betapa ganasnya masyarakat Jakarta kalau dipikir-pikir. Menjadi wajar kalau beritanya juga ganas.

Belum lagi di tengah isu pilkada, isu Munir karena bukan dalam kerangka panggung depan yang penting, the outside, maka cukuplah itu untuk mengganggu isu Pilkada DKI. Anehnya isu Munir muncul setelah belasan tahun berjumpalitan panggungnya menyeruak katanya berkas TPF ilang, tetapi isunya lebih ganas komedi badut LGBT dan kasus pembunuham mirna yang gak penting-penting amat. Belum lagi berita lain, seperti isu perusakan tambang dan desa yang tak berlistrik menjadi berita nasional pagi ini di metro tv yang katanya di media sosial stasiun ini bermasalah dalam hal kebijakan headline beritanya. Di satu sisi lainnya stasiun ini dipakai kampanya para politisi artis yang bergaya santun ala negarawan…

Kalau di dunia medsos yang tak terlihat di media mainstream atau perbincangan formal negeri ini, banyak bertebaran positioning lainnya, misalnya saya pernah dikirimin foto taipan negeri ini yang lagi di kapal pesiar bersama tokoh-tokoh nasional yang lagi naik daun dan dalam logika waras tidak mungkin mereka dalam satu tempat tertawa gembira. Belum lagi di dunia medsos yang lebih ramai itu, polarisasi yang dapat ditemukan luar biasa, bagi yang ingin ketawa-ketiwi dan kumpul tanpa melihat dunia ini mau runtuh silakan kumpul di grup whatsapp atau telegram alumni SD, SMP, SMP atau perguruan tinggi. Kalau mau serius kerjaan ada di grup kantor yang formal, yang mau serius lainnya ada di grup macem-macem seperti aktivis dan lainnya.

Afala ta’qilun, begitu Qur’an menyindir, ya jadi bisa belajar banyak pada saat hari ini politik negeri ini berjumpalitan seperti Karapan Sapi, bener-bener memang dunia ini hanya gurauan dan mainan tidak bermutu.

http://www.penelehnews.com/id-309-post-dramaturgi-negeri-tak-berurat-malu.html

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s