JALAN BARU POLITIK ISLAM


4 NOVEMBER:  JALAN BARU POLITIK ISLAM UNTUK NKRI?
Aji Dedi Mulawarman
Hari-hari ini Indonesia sedang berada pada situasi yang sangat memanas, terutama menjelang tanggal 4 November 2016. Umat Islam setelah lama tidur dari kesabaran dan kearifannya dalam menjaga persatuan dan kesatuan negeri, rupanya mulai terbangun, ketika pusat dari keyakinannya terganggu, Al Qur’an dan Ulama’. Kita ketahui beberapa waktu lalu Basuki Cahaya Purnama, Gubernur DKI mengucapkan beberapa kalimat berkenaan dengan QS. Al Maidah ayat 51, pengucapan kalimat yang dianggap kalangan umat Islam telah mengganggu keyakinan dan kesucian agamanya. Tuntutan kepada Gubernur DKI yang akrab dipanggil Pak Ahok oleh Umat Islam rupanya tidak cukup hanya permintaan maaf saja, dianggap sebagai penistaan terhadap agama sehingga mengarah pada keinginan pada tuntutan bukan hanya umat Islam di Jakarta, tetapi telah merambah pada tuntutan nasional. Masalah Al Maidah 51 telah menjadi bola salju, bukan lagi urusan Pilkada tetapi lebih dari itu, kehormatan agama.

Bila kita lihat dari perjalanan sejarahnya, umat Islam di Indonesia sebagai penduduk mayoritas, per hari ini di kisaran 85-87% dari jumlah penduduk nasional, memang tidak kemudian tidak memiliki peran dominan dalam perubahan-perubahan negeri ini. Indonesia sebagai sebuah negara kesatuan yang dimulai secara formal tahun 1945 seperti kita ketahui telah mengalami perubahan-perubahan penting hingga kini. Tiga perubahan besar dapat kita ikuti sepanjang sejarahnya, yaitu tahun 1945 biasa kita sebut dengan awal kemerdekaan, 1965 perubahan menuju Orde Baru dan 1998 Orde Reformasi. Di antara tahun-tahun itu kita tahun terdapat peristiwa penting seperti di masa Orde Lama yaitu Pemilu Pertama 1955 dan Dekrit Presiden kembali ke UUD 1945 pada tahun 1959 dan dimulailah masa Demokrasi Terpimpin. Di masa Orde Baru terdapat peristiwa Malari 1974, NKK-BKK 1978, Peristiwa Asas Tunggal 1985. Puncaknya adalah tahun 1998 ketika Orde Reformasi. Tetapi dari banyak peristiwa tersebut, peran Umat Islam tidak serta merta tidak penting, bahkan selalu saja sebagai penduduk mayoritas punya peran sangat signifikan di dalam perubahan negeri ini, terutama di tiga periode tersebut, 1945, 1965, dan 1998.
Apakah peran umat Islam kemudian hanya dilihat sebagai peran pemicu atau peran ikutan dalam tiga peristiwa besar itu? Pertanyaan inilah yang selalu mengganggu penulis beberapa waktu, dan makin menguat setelah peristiwa Al Maidah di Jakarta. Yang jelas kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945 tidak mungkin peran umat Islam tidak dominan, meski dalam sejarahnya karena kearifannya, harus mengalah dengan dicabutnya 7 kata sakral di Pembukaan UUD 1945 demi menjaga keutuhan dan persiapan kemerdekaan. Apakah kemudian tokoh-tokoh yang muncul pada saat Juni sampai Agustus 1945 itu memang karbitan, berkumpul dan kemudian bersama entitas lain dari golongan nasionalis dan agama lain sampai kemudian terjadi Proklamasi Kemerdekaan?
Tidak sesimpel itu memahami peran umat Islam, karena sejak awal 1900-an bila kita lihat dari periodisasi Indonesia modern peran umat Islam telah bergerak untuk melawan penjajah Belanda waktu itu. Meski sejak sebelum itu umat Islam sangat aktif, lihat saja Demak muncul, Mataram, Samudra Pasai, Aceh, Kalimantan, Sulawesi, Ambon, Ternate dengan tokoh-tokoh perlawanan menghadapi Portugis, Belanda, Inggris, Perancis secara bergantian dengan periode masing-masing. Munculnya Jami’atul Khoir, Sarekat Dagang Islam yang kemudian berubah menjadi Sarekat Islam dan Muhammadiyah di awal-awal telah menjadi tonggak kesejarahan keumatan. Puncaknya adalah 1924, pertemuan nasional, Kongres Al-Islam Ketiga di Surabaya, di mana HOS Tjokroaminoto dan para tokoh umat Islam lainnya, yang berhasil mengumpulkan hampir seluruh perwakilan umat Islam baik dari kalangan modernis dan tradisional membuat sejarah penting. Dari 1924 itulah kesepakatan untuk menggerakkan kemerdekaan kemudian bergerak bersama kalangan di luar Islam makin menguat, memuncak di 1945. Artinya, perjuangan keumatan dengan hasil 1945 adalah bukti kegigihan yang tidak dirancang secara gegabah dan hanya bersifat pendek, tetapi sudah direncanakan dengan sangat matang sejak lama. Periode ini penulis sebut sebagai periode Idealisme Umat.
Apakah itu berulang di tahun 1965 dan 1998? Banyak persepsi atas kedua tahun sakral itu. Meski pemuncakan kedua tahun itu pasti didasari pada perencanaan yang sangat lama pula, yaitu sejak 1955 (keruweten hasil pemilu pertama) hingga 1965 dan 1993 (sidang tanwir Muhammadiyah di Surabaya yang dimotori Amien Rais) hingga 1998 (tokoh utama reformasinya juga Amien Rais), para tokoh Islam di dalamnya telah bergerak untuk mencari pola keseimbangan kesejarahan yang tidak menghendaki negeri ini diperintah oleh sistem kenegaraan bersifat otoritarian, tetapi bagi penulis kedua periode itu adalah periode yang penulis sebut sebagai periode Pragmatisme Umat. Mengapa begitu, ya karena keduanya memandang perubahan untuk kemaslahatan negeri berpusat pada politik praktis yang sangat massif dalam kerangka berpikir tokohnya. Tahun 1955, tokoh-tokoh Masyumi, NU, PSII, dan lainnya tidak terlalu solid mengedepankan kepentingan umat, tetapi lebih mengedepankan kepentingan golongannya. Tahun 1993 Amien Rais misalnya, dengan tidak mengurangi peran ICMI dan Islam lainnya, memandang perubahan negeri ini ada pada perubahan Kepemimpinan Nasional, bukan pada kerangka keumatan yang sangat dalam. Pada waktunya kemudian kita lihat Politik Poros Tengah hanya dijadikan alat untuk mendorong kemenangan Gus Dur sebagai Presiden saat itu. Artinya, baik 1965 dan 1998 adalah buah dari politik praktis para tokoh umat, bukan Islam sebagai semangat untuk perubahan negeri ini menjadi lebih baik.
Pertanyaannya kemudian, apakah peristiwa 4 November akan mengikuti pola Periodisasi Idealisme atau Pragmatisme dalam memandang keumatan untuk perbaikan negeri ini ke depan? Apakah umat Islam dan para tokohnya sebagai representasi akan terjebak pada politik transaksional mengingat partai-partai politik yang menjadi representasi umat Islam saat ini sangat dangkal memahami ketokohan dan kepemimpinannya, hanya pada sekedar transaksi politik. Siapa yang didukung belum tentu itu adalah representasi perwakilan umat Islam. Contoh paling mudah adalah bagaimana partai-partai Islam di DKI Jakarta sepertinya terpecah belah pada tokoh yang disodorkan sebagai calon gubernur dan wakilnya yang memang beragama Islam tetapi jelas sekali mereka bukanlah representasi umat dalam visi membawa Islam menjadi bagian yang memberikan dampak rahmatan lil alamin di negeri ini. Tak terkecuali di propinsi dan kota/kabupaten di seluruh wilayah pada kasus Pilkada serentak 2017 maupun 2018 yang akan datang. Partai-partai Islam juga tidak memiliki kesepahaman atas bagaimana 2019 sebagai ajang untuk konsolidasi keinginan umat Islam melalui partai politik mendorong tokoh Islam sebagai pemimpin negeri ini.
Bukti paling nyata ini didukung oleh diam dan bungkamnya para politisi, partai politik yang membawa representasi umat Islam, apalagi calon Gubernur/Wakil Gubernur, calon Bupati/Walikota di seluruh Indonesia serta para Gubernur/Wakil Gubernur dan Bupati/Walikota, termasuk Presiden dan Wakil Presiden yang beragama Islam relatif tidak mau terjebak pada isu yang sangat sensitif menjelang 4 November. Penulis melihat Islam sebagai realitas Politik telah terpisah secara diametral dengan keinginan umatnya. Umat saat ini bergerak tidak dari refleksi partai politik, tidak dari refleksi politisinya, tetapi bergerak karena gerakan akidah, keyakinan dan solidaritas karena agamanya melalui saluran sosial dan budaya.
Jadi? Apakah masih penting itu umat Islam melakukan Hijrah melalui partai politik dan para politisi Islam? Saya kira sudah saatnya para politisi dan partai politik Islam kembali ke fitrahnya, memayungi umat, dan bukannya memperalat umat untuk kepentingan pribadi dan golongannya. Sudah saatnya kita melakukan konsolidasi umat, melakukan hijrah perilaku politik dan sistem politik Islam dalam sistem demokrasi yang sudah carut marut serta tidak dapat memberikan pemihakan yang jelas kepada umat. Saatnya umat menjadi pendorong utama perubahan, pendorong hijrah politik para politisi dan partai politik representasi umat sesuai dengan suara, nurani, suara batin serta ruh umatnya.
Penulis memandang 4 November baru awal kesadaran dapat dikonsolidasikan atasn nama Islam itu sendiri, dan selanjutnya sebenarnya sangat baik bagi upaya awal bagi konsolidasi umat bukan dalam kerangka pragmatisme politik jangka pendek saja. Perlu menata bagaimana Indonesia dan peran keumatan ke depan, melalui penguatan gagasan dan ide besar untuk perubahan negeri, Hijrah Negeri yang lebih baik dan bebas dari korupsi, transaksi politik, semua untuk kemaslahatan umat dan seluruh rakyat. Umat Islam harus memberi contoh pada seluruh entitas bangsa bahwa negeri ini memiliki mayoritas umat yang menginginkan negeri ini tetap berjalan sesuai koridor kesepakatan founding father 17 Agustus 1945.
Umat Islam harus mulai menata hati masing-masing dan sekaligus menata silaturahmi bukan dalam kerangka transaksi politik siapa di depan siapa jadi pemimpin, tetapi bagaimana politik Islam harus menjadi media umat Islam sekaligus media seluruh rakyat negeri ini untuk mendorong perubahan yang lebih baik. Salah satu cara agenda paling penting adalah para partai politik Islam segeralah untuk melakukan konsolidasi dan silaturrahmi untuk kepentingan umat dan negeri bukan untuk kepentingan partai apalagi kepentingan pribadi-pribadi yang kuat menjadi penyandang dananya. Umat insya Allah akan berjiwa lapang untuk kepentingan bersama dan negeri kalau para pemimpin memberi contoh tidak berpikir dan bertindak transaksional. Mungkinkah? Wallahu a’lam.
Singosari, 31 Muharram/Oktober 1438/2016
Penulis adalah Ketua Dewan Pengurus Nasional Forum Dosen Ekbis Islam (DPN FORDEBI); Ketua Yayasan Rumah Peneleh; Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s