SIAPA BERKUASA, UPPER ATAU UNDERWORLD?


silk road baru.001.jpeg.001.jpeg

1. Pendahuluan: Gemuruh Upperworld: Jakarta Saja?

Hari-hari ini kita masih disuguhi perseteruan dahsyat antara pengelola negara yang menganggap dirinya adalah representasi kebenaran berdasarkan hukum positif, dengan para ulama dan rakyat yang pro ulama dalam melihat negeri. Puncak pertarungannya, seperti demo 1410, 411, 212 kemudian mengerucut pada sidang pengadilan Ahok atas dugaan penistaan agama sekaligus penggiringan opini penghinaan lambang negara pada Habib Rizieq Syihab serta banyak tokoh kritis yang dikriminalisasi, ditahan dan ditangkap. Paling gres adalah ribut isu negatif SBY dan KH. Ma’ruf Amin melalui penyadapan pembicaraan mereka yang terungkap di persidangan Ahok. Ndak pakai lama pihak kepolisian, TNI dan Menko Luhut Binsar Panjaitan harus tergesa-gesa ke rumah KH. Ma’ruf Amin untuk yang katanya hanya safari politik biasa. Serasa masalah Indonesia hanya berkutat di dunia atas (upperworld). Bahkan upperworld sepertinya disempitkan hanya pada masalah pilkada DKI, sedang pilkada Jabar, serta 100 daerah lain (baik propinsi maupun kota dan kabupaten) di luar Jakarta bukan merupakan peristiwa yang terkoneksi dengan partai politik.

Coba lihat saja, pilkada serentak tanggal 15 Pebruari 2017 nanti dilaksanakan di 7 provinsi, 76 kabupaten, dan 18 kota. Ketujuh provinsi tersebut yaitu Aceh, Bangka Belitung, DKI Jakarta, Banten, Gorontalo, Sulawesi Barat, dan Papua Barat. Kok bisa hanya “merekalah”, tiga paslon pilkada DKI Agus-Silvy melekat dengan Partai Demokrat, Ahok-Jarot representasi PDIP-Golkar, dan hanya Anies-Sandi representasi Gerindra dan masing-masing dengan partai politik pendukung lainnya. Apalagi namanya pilkada DKI yang tidak segaduh jaman Foke dulu misalnya, sekarang ya ampun itu isu digiring pada urusan gelombang besar migrasi Cina, investasi triliunan dari Tiongkok, dan lainnya bahkan sampai pada representasi bangkitnya PKI Baru.

Emang pertarungan di daerah dan pilkada lainnya tidak? Emang kalau dominasi dan kekuatan ekonomi Jepang, Amerika dan Eropa yang sudah berakar kuat bahkan telah menjadi bagian tak terhindarkan dari mentalitas kapitalistik bawah sadar kita, seperti bercokolnya ladang-ladang migas dominan Amerika dan Eropa, dominasi otomotif Jepang (Honda, Toyota, Suzuki, Izusu, dan lainnya), atau kuasa Unilever atas ratusan juta kebutuhan rutin harian public goods (seperti sabun, shampoo, odol, dan semacamnya), belum lagi perkebunan, kehutanan, pertambangan lain, industri macam-macam yang sudah puluhan tahun memenjara ekonomi kita, dan kita tidak bereaksi apapun?

2. Pemain Besar Baru: Sungai Kuning

Mengapa kita jadi ribut wal gemuruh di negeri atas gelombang sungai kuning? Mungkin karena adanya tiga hipotesis besar yang pernah disampaikan Salamuddin Daeng, peneliti AEPI dalam diskusi publik HIP ke 62 HTO di Jakarta tanggal 24 Pebruari 2016 ya? Menurutnya fenomena Cina di Indonesia sebenarnya berkenaan dengan tiga hipotesis atas kegagalan liberalisme baru ala Cina. Hipotesis pertama, yaitu Over Production MNC’s di dunia termasuk salah satunya Cina. Harga pangan misalnya di dunia turun tetapi beda di Indonesia harga pangan naik karena makelar. Kelebihan produksi industri baja menyebabkan tidak bisa diserap karena pertarungan pasar Jepang Amerika Eropa. Negara-negara tersebut termasuk Cina sedang kelimpungan karena beban besar over production. Hipotesis kedua, yaitu Investasi Infrastruktur. Ketidakmampuan negara berkembang mengakses produksi karena daya beli rendah, di satu sisi perusahaan multinasional sedang over produksi menyebabkan investasi, salah satunya adalah infrastruktur, sebagai bagian dari perebutan pasar produksi yang berlimpah di negara berkembang. Perjanjian dan pemaksaan atas investasi oleh negara-negara berkelimpahan produksi harus dibayar melalui mekanisme hutang oleh negara ketiga. Hipotesis ketiga, berkenaan dengan Bubble Finance Capital. Hutang publik China yang menggelembung akibat over production yang tak sanggup terpasarkan mencapai 28,2 Trilyun Dollar atau lebih dari 240 % dari PDB China (sebagian besar di bidang properti). Hutang ini menyebabkan China sedang berada di ujung keruntuhan. Salah satu yang penting untuk menyelamatkan adalah Indonesia. Indonesia menjadi pelampung penyelamat pasar terbesar, seperti kereta api cepat atau listrik (teknologi sampah cina) misalnya. Salah satu jalan keluarnya dengan membuat kontrak investasi infrastruktur jangka panjang. Kontrak tersebut kemudian diperjualbelikan ke pasar finansial internasional. Mekanisme kontrak: 1- full risk recovery (bayar penuh investasi melalui tiket kereta misalnya); 2- ikatan melalui engineering procurement contracting (seluruh pembangunan dikerjakan cina termasuk); 3- unlocal content karena berkaitan kontrak. Jadi apabila tiga hipotesis itu benar-benar berjalan mulus ya jelas sekali Cina akan selamat karena Indonesia. Bisa dilogikakan bila itu terjadi maka memang benar kuasa Amerika, Eropa dan lainnya termasuk Jepang yang sudah mapan menikmati sedotan energi negeri ini akan terganggu oleh kepentingan Cina.

Masuknya Cina ke Indonesia sebagaimana di forum HIP yang sama dan nantinya mengantarkan pembicaranya Sri Bintang Pamungkas masuk jeruji besi kembali, karena analisis hipotetisnya yang sangat keras. Ya, masuknya Cina ke Indonesia bukan hanya karena alasan krisis global hutang Cina saja, tetapi karena memang Indonesia adalah sasaran Singapura kedua. China ingin masuk ke Indonesia karena alasan pusat sumber daya alam, sejak 1965, meski bisa kita lihat sejak 1200 Kertanegara telah mengusir Cina. Di sisi lain, Jepang masuk ke Indonesia sejak 1942 dan di masa Orba 1970-an karena Indonesia adalah pusat sumber daya alam sekaligus banyak manusianya. Nah Cina sekarang juga melakukan hal yang sama misalnya melalui Pertanian. Pertanian juga sedang diinvestasikan jangka panjang oleh Cina. Indonesia sebagai tempat untuk investasi. Karena Indonesia ramah investasi. Bisa jadi Barat seperti Amerika, Eropa dan Australia adalah bagian dari rekayasa perebutan. Rezim negeri sekarang memang membuka peluang pada China. Bahkan menurut Marwan Batubara, Pemerintahan bukan lugu tetapi memang tidak bermoralnya pemerintahan yang hanya mengedepankan kepentingan rente dan kekuasaan menyebabkan China dapat dengan mudah masuk ke Indonesia.

Pertanyaan besarnya, emang pertarungan besar itu hanya di Jakarta para penjudi bermata sipit memainkan kartunya melalui hutang-hutang di depan dengan kompensasi “berkuasa” atas APBN/D dan proyek kalau mereka menang persabungan politik, sedang di daerah lain tidak? Saya kira mentalitas Narasi Besar dan Representasi Material sepanjang mata memandang bahwa Jakarta adalah gula bagi para semut masih menjadi pola dan menjangkiti perilaku rakus manusia Indonesia deh. Termasuk siapa penguasa atas APBN dan APBD itu sepertinya kok jadi representasi politik ya? Saya kok tidak melihat itu. Masih ada sebenarnya dunia di luar upperworld yang berkuasa atas uang dan aset negeri ini.

3. Underworld: Dunia tak Terjamah

Mengapa demikian? Ya karena dunia yang tak nampak dan tidak lebih menyeramkan dari dunia atas, upperworld. Saya menyebutnya dengan underworld, ya dunia bawah negeri, dunia bawah pasti banyak gelapnya kan, dunia gelap penuh pertarungan yang lebih ganas. Bila mau dijlentrehkan lebih lanjut istilah underworld menurut oxford dictionary memiliki dua arti. Pertama, “the world of criminals or of organized crime”, dunia kriminal atau kejahatan terorganisasi. Kedua, “the mythical abode of the dead, imagined as being under the earth”, ya semacam mitos imajinatif dunia kegelapan, neraka dunia, kehidupan vampir, setan, jin dan segala rupanya. Dunia bagi manusia-manusia yang dapat menjalankan kuasanya tanpa terganggu gaduh upperworld, para gerombolan terorganisasi cerdas yang kongkalikong dengan para pemburu rente, pengusaha kerah putih, serta para budak-budak penjaga yang lebih aktif di bawah tanah, underworld.

Ya underworld bisa jadi adalah mitos yang tak pernah terjamah siapapun, dunia bawah sebagai mitos imajinatif “neraka” mungkin pembaca pernah nonton film underworld. Ya, film box-office Hollywood bergenre action horor ini telah mencapai sekuel kelima tahun 2016 dengan judul Underworld: Blood Wars (sekuel pertama diputar tahun 2003). Cerita underworld berpusat pada sosok Selene, wanita cantik, cerdas dan tangguh, seorang Death Dealer, Penyebar Kematian, istilah tentara elit kematian dari klan “korup, jahat, dan penguasa dunia bawah”, Vampire Clan. Selene sendiri adalah manusia yang “dipaksa dan terpaksa” menjadi vampir, sekaligus dimanfaatkan sebagai martir prajurit terdepan karena kesetiaan dan kecerdasannya kepada Victor, sang penguasa vampir, penguasa dunia bawah. Tugas Selene membumihanguskan klan lycan. Enam ratus tahun sebelumnya para lycan adalah budak dan pelindung setia tetapi akhirnya berhadap-hadapan dengan para vampir karena Viktor membunuh putrinya sendiri, Sonja, yang memiliki hubungan cinta dengan budak lycan, Lucian. Sejak itulah para lycans berontak dan berhadap-hadapan dengan para vampir. Selene akhirnya harus melawan klannya sendiri, setelah tahu bahwa dirinya hanyalah darah kotor dan martir cerdas, sekaligus sejarah berulang, saat dia jatuh cinta pada Michael, manusia keturunan unik yang digigit Lucian menjadi lycan dan akhirnya menjadi hybrid karena digigit Selene setelah akan dibunuh Viktor. Pertarungan abadi Vampire dan Lycan, dua klan besar adalah pertempuran abadi 600 tahun untuk menguasai “darah” underworld. Keduanya, Selene dan Michael akhirnya berjuang dan bermimpi menghentikan peperangan “berdarah” kedua klan besar itu, bukan mengembalikan simbol tuan (vampir) dan budak (lycan) yang telah berlangsung selama 1400 tahun, tetapi membentuk keseimbangan dunia bawah tanpa perbudakan. Meski kemudian mereka harus jadi buron dan simbol keterasingan di dunianya sendiri, tanpa jalan keluar menuju dunia atas sekalipun.

Bila merujuk pada metafora underworld dengan pertarungan antara kaum vampir dan lycan di atas, bisa jadi penjarah negeri ini adalah para pengendali uang negara ribuan triliunan itu. Ramainya pertarungan di upperworld tidak penting bagi underworld, karena upperworld hanyalah pusat kebisingan tidak penting, hanyalah tempat bagi berkembangnya sains dan teknologi serta perangkat dunia tetapi semua secara terselubung dikendalikan oleh underworld. Kalau begitu, siapa pengendali sebenarnya? Siapa vampir, siapa lycan, siapa Selena, siapa Michael, siapa Victor, Sonja, dan pemeran-pemeran lain di dunia underworld negeri ini? Hal ini dapat dilihat pembangunan negeri yang kasat mata di upperworld tetapi sebenarnya diremote tanpa sadar oleh underworld. Seperti saya tulis di awal buku 2024 Hijrah untuk Negeri, kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Medan, Makassar, Banjarmasin, Jogja, Semarang, apalagi kota-kota yang sedang tumbuh seperti Gorontalo, Palu, Bima, Mataram, dan lainnya – dikejarnya simbolisasi modernisasi kota berdasarkan ukuran makin banyaknya Mall, menggantikan pasar tradisional, berdirinya hotel-hotel bintang tiga sampai lima, berlomba-lombanya pemerintah daerah serta pusat membangun gedung perkantoran mereka, dan lainnya. Pernah suatu waktu saya pulang kampung ke Tenggarong, melewati daerah Loa Janan sampai masuk ibukota. Sepanjang Loa Janan tersebar aktivitas industri ekploitasi batu bara di kiri jalan. Sedangkan di kanan jalan, terdapat tongkang-tongkang yang siap membawa batu bara melalui Sungai Mahakam. Sebagai penghubung, terjulur belalai-belalai conveyor dari kiri ke kanan jalan sehingga bila kita melewati jalanan maka rasanya seakan masuk di terowongan mekanis terbuka. Di sela-sela, rumah-rumah gubuk berjajar sepanjang sungai sampai mendekati ibukota. Memasuki kota, di seberang kiri jalan berjajarlah bangunan megah perkantoran kabupaten Kutai Kartanegara.

Jadi, siapa pengendali tata ruang dan anggaran pembangunan negeri tersebut? Bukan para politisi yang jelas, tetapi birokrat. Para politisi hanyalah korban yang perlu dimasukkan dalam ruang upperworld, kalaupun di underworld mereka hanyalah pasukan yang berperang tanpa memahami siapa itu pemain sesungguhnya, selayaknya Selene dan Michael yang lugu mau-maunya dijadikan pion kuasa tak terjamah dari underworld. Kalau mereka berdua sadar sebagaimana filmnya, maka mereka akan jadi bulan-bulanan dan target yang harus berada di arena pertarungan kuasa sebenarnya.

Menjadi wajar kemudian, di sisi lain, sebagaimana saya tuliskan pula di 2024: Hijrah untuk Negeri, rakyat sepertinya tidak terlalu peduli dengan simbolisasi keberhasilan walikota/bupati setempat, karena menurut mereka banyak yang (tidak persis sama tetapi secara substantif) mengatakan: “itu kan hanya cara para politisi mengembalikan hutang politik pada para cukong terutama bermata sipit yang telah memberi jasa akrual untuk memenangkan pertarungan Pilkada dengan kompensasi proyek pemerintah dan kegilaan para cukong membangun proyek mercusuarnya”. Mereka lo tidak peduli dengan kegaduhan ekonomi mercusuar maupun proyek-proyek miliaran sampai triliunan rupiah. Cukuplah pasar tradisional misalnya bagi para pedagang yang saya banyak pula temui dalam perjalanan di berbagai kota mengatakan: “kalau bisa ya direkonstruksi lebih nyaman, bersih, jalan menuju pasar memberikan akses masyarakat lebih potensial ke situ, asal mereka bisa bertransaksi, berdagang secara rutin, anak-anak bisa sekolah, dapur rumah bisa ngebul, Alhamdulillah”. Di Mall, mereka akhirnya tidak bisa sewa atau beli ruang-ruang baru karena mahal. Maka, yang terjadi adalah masuknya pedagang-pedagang baru yang lebih kuat secara finansial, entah dari mana mereka itu datangnya dan uangnya, menggeser para pedagang tradisional makin ke pinggir perkotaan. Atau, bila mendekati waktu pemilihan kepala daerah, setiap orang memasang tarif puluhan hingga ratusan ribu rupiah per kepala.

Bila kita lihat lebih jauh sebagaimana telah banyak diketahui dan dijadikan sorotan para ahli, desentralisasi politik dan otonomi pemerintahan daerah telah membentuk pemerataan mentalitas rakus tidak hanya di pusat tetapi sampai di seluruh negeri. Ya semua ini saya istilahkan dengan pertarungan politik dan kerakusan-kerakusan material di dunia atas, upperworld. Malah mungkin pasar gelap menjadi lebih penting, karena pasar inilah dunia sebenarnya. Pasar gelap bisa jadi bukan hanya bentuk barang, tetapi pasar gelap transaksi kuasa, politik dan proyek dalam bingkai dana negara, mulai Dana Desa, APBD hingga APBN, bahkan lebih dari itu, hutang-hutang menggiurkan dari para negara besar yang lebih besar dari yang terlihat di permukaan. Itulah yang terjadi di underworld. Bila kita mau memandang lebih jernih, sebagaimana kawan dosen saya di kampus sempat memaparkan secara mudah, ada dunia lain dalam bentuk organisasi raksasa yang dituliskan beliau “Organisasi ini beranggotakan 4 juta orang, membelanjakan dan mengendalikan APBN 2000 T, plus APBD Provinsi (380 T) dan kabupaten/kota (2800 T). Dengan total penguasaan terhadap 5000 T/tahun sementara posisinya sangat stabil nyaris tanpa resiko dari berbagai gejolak dan perubahan politik. Saya curiga, pemilik negeri ini yang sebenarnya adalah birokrat.” Apakah benar tidak bergejolak dan tanpa tarik menarik politik? Saya setuju dengan beberapa hal tetapi tidak sepakat beberapa hal. Tetapi pointer pentingnya adalah, siapa yang berperan di negeri ini? Politisi atau Birokrat yang berada di underworld, dunia bawah, bergerak silent operation puluhan tahun, beranak pinak turun menurun mengendalikan uang negeri, tanpa terganggu gegap gempitanya pertarungan upperworld?

4. Melampaui Upper dan Underworld

Perkembangan terbaru sebagaimana dijelaskan oleh Parag Khanna dalam buku Connectography dan Peter Frankopan dalam bukunya berjudul The Silk Road: A New History of the World sebagai jawaban atas kegagalan Barat seperti diungkapkan oleh Jared Diamond, Francis Fukuyama, dan Acemoglu-Robinson, bahwa sudah teradi pergerakan liberalisme baru dari barat menuju alternatif jalur sutra baru. “Desain Mereka” bagaimana dunia keluar dari situasi Barat sebagai Negara Gagal. Munculnya “desain mereka” tersebut adalah bentuk jawaban atas Collapse liberalisme murni ala Barat. Menurut “mereka”, sejarah baru muncul dengan sebutan Jalur Sutra Baru yang membentuk Connectography, didesain oleh tiga kekuatan peradaban sebagai Poros Jalur Sutra Baru, yaitu Asia Tengah, China dan India.

Bagi Khanna liberalisme baru tidak lagi berkenaan dengan ideologi besar, karena ideologi besar sudah mati. Tidak ada lagi itu ideologi dan politik, yang ada hanyalah koneksitas ekonomi yang makin mengglobal melalui kota-kota besar dan federasi atau kumpulan-kumpulan kepentingan ekonomi melalui jaringan-jaringan fisik seperti kabel, pipa, rel kereta api, serta jaringan rantai suplai bisnis dan industri. tetapi sudah masuk dalam jalan baru Global Renaissance yang mengikuti tiga pola, yaitu Connectivity, Devolution, dan Tug of War, yang singkatnya adalah sebagai berikut: 1) Konektivitas merangsek ke kota-kota besar sebagai zona ekonomi khusus (special economic zones – SEZs) di seluruh dunia yang terkoneksi melalui jalan kereta api, pipa, kabel internet, dan simbol-simbol lain dari jaringan global peradaban; 2) Devolusi negara menuju agregasi propinsi bahkan kota, serta kompetisi segala sesuatu berbasis global supply chain yang mengarah pada aktivitas ekonomi-bisnis-industri lintas batas negara; 3) Kompetisi geopolitis berevolusi dari perang berdasar teritori menjadi konektivitas, berbasis rantai suplay global, pasar energi, produksi industrial, keuangan, teknologi, knowledge, dan talenta. Ketiganya, kemudian berorientasi pada Megacities yang akan menjadi the New Economic Geography dan SEZs di dunia sebagai the New Nodes.

silk road baru.005.jpeg

Khanna menjelaskan misalnya Gross Domestic Product (GDP) Amerika Serikat (total 10 triliun dolar) dengan kota Boston (5 triliun dolar) dan Los Angeles-San Fransisco (1 triliun dolar) dan China (total 10 triluin dolar) dengan kota Shanghai Ninjiang dan Pearl River Delta (masing-masing lebih dari 1 triliun dolar dan kurang dari 5 triliun dolar), bandingkan dengan kekuatan Indonesia (total 1 triliun dolar) dan Jakarta (500 miliar dolar). Seimbangkah? Belum lagi dengan Inggris dengan kotanya London, Russia dengan kotanya Moskow, India dengan Mumbai, Brazil dengan Sao Paulo, Jepang dengan Tokyo dan Osaka.

silk road baru.003.jpeg

Peter Frankopan mirip dengan Khanna, melihat perubahan peradaban saat ini seperti mengembalikan situasi pada model The “New” Silk Road – Jalur Sutra Baru berbasis Asia Tengah, Cina dan India. Kekuatan The Silk Road masa lalu terwujud dalam model baru berbentuk Railways, Oil Pipelines, Gas Pipelines. Nah di mana Cina berperan? Menurut Khanna:

“China is leading Asia’s westward push to connect the world largest landmass through energy and transportation infrastructures. These “NEW IRON SILK ROADS” may prove more lasting and transformatives than Silk Roads of any previous era.”

silk road baru.004.jpeg

Cina berperan menggunakan “jalur antara” Asia Tenggara, dan Indonesia cuma dijadikan jembatan tidak penting untuk menguasai tanah luas di Afrika. Heee jangan ge-er bahwa Indonesia adalah sasaran utamanya.

silk road baru.006.jpeg

Saya berpikir apakah memang hanya itu masalah kita? Masalah uang, masalah ekonomi? Sekali lagi itu juga hanya masalah Jakarta? Padahal bila kita lihat Indonesia sekarang punya sumber daya alam luar biasa besar potensinya tetapi sumber daya manusianya sangat rendah; sudah begitu hutangnya tinggi tetapi produktivitasnya rendah sekaligus punya hobi konsumtif rendah; bahkan yang katanya negeri ini adalah negeri berpenduduk religius Islam tertinggi dunia nyatanya Islam Sekulernya lebih banyak daripada yang Islam Integralis Holistik.

silk road baru.002.jpeg

Bisa jadi salah bila negara dianggap gagal nantinya dan pertarungan di atas hanya masalah ekonomi saja. Acemoglu dan Robinson dalam bukunya Negara Gagal misalnya memandang bahwa diperlukan Institusi Politik dan Ekonomi Inklusif agar yang bersifat Ekstraktif (konspirasi kelompok kecil yang rakus) penyebab kehancuran peradaban dapat dihindari; atau Francis Fukuyama, yang melihat bahwa kehancuran negara itu karena pembusukan politis dalam praktik birokrasi. Fukuyama menyebutnya dengan Political Decay atas sistem Liberalime yang akut terdapat pada proyek Insitusi yang mengedepankan demokrasi, pertumbuhan ekonomi dan mobilisasi sosial; atau Jared Diamond yang melihat bahwa kehancuran peradaban dalam bukunya Collapse akibat proyeksi kebijakan pembangunan politik ekonomi yang tidak mengindahkan aspek lingkungan.

5. Catatan Akhir: Kebudayaan Berintuisi Langit, Bisakah?

Jadi, mau ke mana kita? Bermain di dunia upperworld atau underworld, bermain di ranah ekonomi yang dibalut kepentingan ideologi sebagai kuda tunggangan dan lebih mengerucut di Jakarta saja? Ah yang bener? Bisa jadi mentalitas kita memang hanya baru sampai di situ, cara berpikir ideologis itu politik dan dipraksiskan dalam konteks ekonomi, sebagaimana berulang di jaman Orde Lama (politik), Orde Baru (ekonomi), dan Reformasi (ekonomi-politik). Mengapa kita tidak keluar dari itu semua, ekonomi dan politik hanyalah bagian kecil dari rekayasa masa depan yang kita impikan itu sendiri? Negeri aman sentosa, gemah ripah loh jinawi itu bukan hanya masalah ekonomi politik. Negeri ini memang butuh untuk sadar diri bahwa kita perlu merancang masa depan secara tertata dengan basis kekuatan ada di desain kebudayaannya, di mana ekonomi dan politik hanyalah bagian kecil dari itu. Bisakah kita berencana? Atau memang negeri ini sudah salah kaprah karena mentalitas jalan pintas, mentalitas jangka pendek, kegaduhan liberalisme baru ala Cina yang akan melibas liberalisme lama ala Barat dilawan dengan politik ekonomi pula yang jelas tak sebanding pada masa ketika sekarang kita berhadapan, head to head, face to face? Apa memang kita bisa jadi seperti Nabi Daud melawan Jalut, David lawan Goliath? Jangan lupa Nabi Daud yang suka berpuasa daud itu bisa melawan Jalut bukan karena besar dan kecil, bukan material yang di depan. Tetapi Daud sebenarnya besar dalam ruang batin karena menahan nafsu beringas lewat puasa sehingga memuncaklah intuisi langitnya, dan dengan itulah Nabi Daud dapat memenangkan peperangan.

Sekali lagi bukan head to head lugu seperti sekarang kita melakukannya. Nabi Musa juga melakukan hal yang sama, Nabi Ibrahim, apalagi Rasulullah SAW yang memberi kita ushwah untuk hijrah ke Madinah, bukannya berbondong-bondong melakukan perlawanan material di Mekkah/Jakarta serta merta. Semua harus dilakukan lewat hijrah dan membangkitkan intuisi langit, bukan membangkitkan ekonomi politiknya, bukan dengan sombong mengumpulkan jutaan orang melakukan persatuan umat saat ini atau jutaan orang melalui koperasi untuk melawan kuasa ribuan triliun yang sudah kadung kita kalah jauh. Ekonomi politik ya dibangun, tetapi tidak instan detik ini jalan, tetapi bangunlah pendidikan dan kebudayaan, bangunlah konsolidasi batiniah yang tinggi. Dengan demikian insya Allah ekonomi politik pasti akan terbangkitkan nantinya dengan sadar dan membesar dengan sendirinya, ketika bangunan nilai-nilai langit menjadi pusat pembangunan peradaban negeri. Wallahua’lam.

Singosari, 4 Pebruari 2017

Dr. Aji Dedi Mulawarman

Ketua Yayasan Rumah Peneleh

Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya

Ketua Umum Dewan Pengurus Nasional Forum Dosen Ekonomi dan Bisnis Islam

Iklan

4 respons untuk ‘SIAPA BERKUASA, UPPER ATAU UNDERWORLD?

  1. Argumentasi penulis coba mengingatkan kita pada berbagai macam tulisan para ahli tentang kuasa Kapitalisme barat pada era modern ini, khususnya Rosenau (1991), Tinker (2004), dan Nataatmadja (2010), di mana kekauasaan hegemoni Barat melalui cengkaraman Liberalisme. awas! ancaman di depan mata, over produksi China, dengan alasan Investasi bisa menenggelamkan Indonesia pada lilitan utang yang sangat besar, melalui investasi multiyears.
    inilah yang dikatakan Rosenau (1991), Tinker (2004), dan Nataatmadja (2010) sebagai upaya Kaum Kapitalis untuk menguasai negara berkembang.
    Tinker (2004) pernah menyatakan upaya-upaya untuk memerangi teroris, siapa terorisnya? ya kapitalisme, seperti yang diuangkap oleh penulis.
    kemudian Nataatmaja (2010) juga pernah menyatakan bahwa keterpurukan Indonesia adalah karna membangun ekonomi dengan mencontoh cara kolonial, utang menumpuk, kemudian menindas yang lemah.
    Saya baru terbangun dari mimpi, ternyata yang sangat berbahaya adalah pergerakan para “Underworld”, yang mengendalikan “upperworld” dengan drama Politik tingkat tingginya, sehingga kita terbuai dengan pencurian besar-besaran SDA di 33 Provinsi dan 500 an Kab/Kota.
    inilah yang diramalkan Rosenau (1991) bahwa kegagalan era Modern adalah menyediakan lingkungan yang baik bagi rakyatnya, menyisakan SDA bagi kelangsungan hidup 100 tahun ke depan.
    Inilah teroris sesungguhnya, teoris yang membelit masa depan Indonesia, merampas masa depan Indonesia, akan kah kita seperti Singapura, akankah menjadi New-Spain, peradaban Islam yang hilang akibat tidak bisa menjaga negerinya sendiri…

  2. Jika kita melihat semua kejadian, fenomena yang ada di sekeliling kita rasanya terlalu miris, kenyataannya bahwa dunia sudah terlampau jauh masuk ke dalam ideologi Barat, Neoliberalisme Global, dimana tatanan masyarakat, maupun nilai-nilai yang ada dalam kehidupan maupun, kebudayaan mulai hilang, nilai agamapun telah berkurang, banyak kejahatan-kejahatan formal yang dikemas dalam transaksi politik, kepentingan demi kepentingan telah menciptakan hasil pemikiran baru, kebijakan baru, perundang-undangan baru yang mana kesemuanya itu bertujuan hanya untuk kesejahteraan pribadi maupun golongan, mereka tidak lagi peduli apakah yang mereka lakukan itu merugikan pihak lain. Yang terpenting bagi mereka adalah terpenuhinya ambisi-ambisi mereka untuk menguasai dunia dari berbagai aspek. Segala sesuatunya sudah bersifat transaksional, mereka sudah mengabaikan simbol-simbol agama dan kebudayaan yang ada. Mereka tidak lagi mengenal batas-batas kesucian atas nama normativitas langit, semua itu telah lewat, masyarakat sendiri seolah-olah telah lelah dan tidak mau tau dengan apa yang terjadi, yang terpenting mereka bisa hidup, kalaupun ada perubahan kearah yang lebih baik ya syukur Alhamdulillah, jika tidak ya hidup apa adanya dengan keadaan yang ada walaupun saat ini posisi mereka dalam keadaan terpuruk. Perjuangan untuk menuju ke arah yang lebih baik, kebenaran, kejujuran sudah tidak ada lagi, dikarenakan adanya benturan-benturan tata aturan dalam masyarakat kita, karena itu diperlukan perjuangan dalam bentuk lain yaitu perjuangan yang didasari oleh Agama, Akhlakul Karimah yang baik sehingga menjadi kuat dan bisa menjadi filter bagi siapapun dalam membangun masa depan bangsa ini.

  3. tapi ada hal yang perlu dicermati, bagaimana upaya negara dalam memberikan Lapangan Pekerjaan kepada Rakyat yang masih cukup banyak berada di bawah kemiskinan, kaua tidak dengan Investasi?
    investasi dari mana? ya dari negara pemilik Modal….
    Rakyat butuh makan,
    tapi menjadi tugas kita memberikan pelajar kepada masyarakat…
    bahwa ada ancaman yang menusuk dalam nadi kita bagai sebuah Aliran Kolesterol Jahat yang setiap saat bisa memporakporandakan urat nadi kita, pecah pembuluh darah…strook…

  4. Hingar-bingar pilkada Jakarta berimbas pada sibuknya punggawa negara yang saat ini dikuasai parpol tertentu, yang notabene mendukung salah satu kontestan pilkada Jakarta. salah satu kementerian mendapat tugas untuk mereduksi kekuatan ulama yang menyuarakan anjuran pilihan melalui khotbah di masjid-masjid, sehingga ada wacana sertifikasi ulama. Bocornya data percakapan melalui WA, disadapnya percakapan telpon yang terjadi juga menjadi sah. kita mengetahui teknologi siapa yang mampu melakukan hal seperti itu, otoritas level apa yang memperbolehkab aktivitas tersebut? Namun hiruk pikuk pilkada Jakarta hanya merupakan laboratorium bagi kepentingan yang lebih besar. Jika eksperimen di Jakarta yang dianggap representasi Indonesia berhasil, maka generalisasi hasil eksprimen akan tinggi dan akan mudah diterapkan di seluruh indonesia. Kita juga mengetahui bahwa perederan uang di jakarta ada di atas 80% dari peredaran keuangan Indonesia,jika sudah mendapatkan jantung dan urat nadi perekonomian Indonesia, maka menguasai seluruh tubuh Bangsa Indonesia adalah tinggal masalah waktu. Siapa yang berpesta pora jika telah menguasai suatu bangsa (seperti Indonesia)?
    Revolusi industri jilid baru yang merangsek secara agresif telah mencapai titik dimana telah terjadi over produksi, terutama ketika daya beli masyarakat dunia menurun akibat krisis ekonomi global. kemudian, mau dikemanakan produk mereka? (berlanjut…..)Kita baca tulisan diatas bagaimana Cina kebingungan menjual hasil produksinya meskipun memiliki rakyat terbanyak di dunia. Industri baja internasional juga butuh pasar pengguna. Sasaran yang mudah dan empuk salah satunya adalah Indonesia. Bangsa dan negara yang sudah mendarah daging untuk lebih suka menjadi orang terjajah baik secara fisik,ideologi, maupun ekonomi. contoh paling mudah, untuk barang yang kecil dan simple seperti jarum dan peniti, indonesia tidak mempunyai pabriknya. Indonesia lebih suka impor jarum dan peniti ke cina. Alasannya adalah lebih murah impor daripada membuat. (belanjut…..)

    Kemudian stagnannya perekonomian global juga memaksa para pemodal besar kebingungan kemana lagi akan “memasarkan” dananya?kita bisa melihat safari Raja Salman keliling dunia yang memukau dengan “rombongan sirkusnya” menghambur-hamburkan dinarnya. (berlanjut…..)

    Jalan setapak yang bisa dirintis oleh anak bangsa yang prihatin dengan kondisi seperti ini adalah dengan perjuangan di ranah pemikiran dan membuat pencerahan melalui sumbangsih kritis keilmuan. Membuat melek masyarakat akan bahaya doktrin yang salah adalah sama dengan usaha giat pemerintah malakukan gerakan anti narkoba dan upaya deradikalisasi terorisme. Paham kapitalisme yang melandasi ide pemuasan kebutuhan materialitas saja sama berbahayanya dengan terorisme dan narkoba, bahkan lebih berbahaya. Bahaya laten yang melekat dari paradigma berlandaskan self interest dan pemuasan kebutuhan materialis akan tertanam di benak anak manusia, melekat di hatinya, beredar meracuni seluruh tubuh. Pikiran, hati dan tubuh yang sudah kecanduan tersebut tentu akan menolak akan kebenaran-kebenaran yang ditunjukkan kepadanya, dan itu akan menyebabkan kondisi jahil murakkab atau kebodohan yang bertingkat. orang yang sudah kecanduan tidak akan mudah dilakukan detoksifikasi, Namun tindakan sekecil apapun namun dilandasi niat untuk memperbaiki umat tentu (Insyaallah) akan berhasil. Gerakan anti tobacco pada beberapa dekade yang lalu adalah suatu gerakan yang dianggap mustahil dan sia-sia, namun kita bisa melihat bahwa ruang gerak perokok hanya dibatasi di area tertentu. Sekarang adalah kelaziman kita melihat gedung dan ruang-ruamg umum menyediakan ruang khusus untuk merokok.
    Jadi upaya kaum akademisi (yang dianggap mewakili kaum intelektual) adalah tetap menyuarakan dan menunjukkan symtoms atau gejala kapitalisme, bahaya, dan berupaya melatih untuk kritis melawan ketidakadilan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s