ASHOYA MUSA


DI MANA ASHOYA (TONGKAT) MUSA SEKARANG?: 

Belajar dari Ambiguitas Bani Israil di Masa Firaun

Nabi-Musa-kisah88.blogspot.com_

Menelusuri kisah Nabi Musa AS. melalui Qur’an maupun ngaji tafsir dari Ibnu Katsir, KH. Sya’roni Ahmadi Kudus, Nouman Ali Khan di Amrik sana, atau Quraish Shihab, selalu saja membuat saya terhenyak dan berdecak kagum. Decak kagum atas realitas kesejarahan beliau kanjeng Nabi Musa AS., semangat hidupnya dan perjuangan melawan ketidakadilan dan kezaliman Fir’aun, simbol tiran. Satu hal penting, setiap Qur’an selesai menceritakan kisah beliau, di Surat Al Baqarah, Al Qashash, Al A’raf dan Thaha (empat surat ini adalah surat yang banyak menceritakan perjalanan beliau), pasti muncul refleksi tentang persiapan dan terjadinya perang Badar di masa Rasulullah, Nabi Muhammad SAW. Penjelasannya terdapat di surat itu sendiri maupun surat selanjutnya.

Peristiwa penting awal adalah pada saat bertemunya Musa dengan Allah. Salah satu yang disoroti KH. Sya’roni Ahmadi adalah mengenai keajaiban di luar nalar manusia. Menurutnya, di level kenabian, bantuan dari Allah disebut dengan mu’jizat, sedangkan di level wali disebut karomah, di level muslim yang taat disebut ma’unah. Nah, yang unik itu adalah keajaiban yang dilakukan oleh seorang “kafir”, disebut sebagai istidroj. Ya, kita mau berupaya nglakoni apa ndak itu urusan lain.

Memang, kita tahu bahwa refleksi historis kenabian selalu jadi siklus pengingat, setelah tanda-tanda mukjizat terjadi. Masalahnya kita mau mengambil peran atau tidak sebagai tindakan ma’unah atau karomah? Apabila tidak, apakah memang kita berserah pada istidroj yang mengambil peran sejarah? Kebahagiaan duniawi tanpa peran agama sekali atau bisa jadi kebahagiaan yang berorientasi pada agama yang dimanfaatkan untuk legitimasinya? Seperti misalnya seorang istri bilang pada temannya: “Alhamdulillah suami saya bisa naik pangkat, jadi kita lebih dapat menikmati hidup, bisa beli rumah yang lebih besar (lagi), umroh yang ketujuh, dan nganu… nganu…”. Atau bisa juga istidroj terjadi karena pemimpin yang tidak menggunakan legitimasi agama tetapi malah atas nama sekularisme bahkan kekafiran nyata, seperti melaksanakan agenda berlabel liberalisme atau komunisme atau apalah itu ideologi lain di luar referensi keberagamaan. Kemudian, atas nama kesesatan, misalnya karena dianggap ngrecoki “agenda” mereka ditangkapi itu para ulama dan tokoh umat yang jelas-jelas melindungi agama dan negerinya.

Bila mau lebih mendalam memahami peristiwa munculnya mu’jizat kenabian Musa AS. di Thuwa sebagaimana tertulis dalam QS Thaha (20): 9-24 (pada saat perjalanan Musa ditemani keluarga dari Madyan ke Mesir), maka sebenarnya representasi kesiapan Musa menghadapi Firaun dapat dilihat melalui dua pemfungsian tongkat (ashoya). Pertama, sebagai tongkat berkekuatan manusiawi dan kedua tongkat berkekuatan Ilahiyyah.

Ashoya manusiawi, bisa jadi merupakan tongkat pemandu, untuk mencari makan ternak dan pengarah penggembalaan, atau juga sebagai penguat diri dalam berjalan, dan lain sifat tongkst sebagai alat bantu. Kekuatan ashoya manusiawi bila dilihat lebih dalam maknya, pasti bukan hanya seperti itu, tetapi bisa jadi tongkat adalah simbol “alat” penting bagi setiap manusia dalam ngelmu. Nabi Musa AS. selama di madyan melakukan penggembalaan dan secara tidak langsung sebenarnya diajarkan oleh mertuanya untuk “ngelmu” di alam, mencari makna kehidupan selama proses penggembalaan, menjadi sosok suami dan kepala keluarga sekaligus mendidik mereka dalam kebersahajaan. Selain “ngelmu”, dengan tongkat itu pula proses perkaderan berlangsung, hal ini dapat dilihat dari perjalanan beliau dan keliarga ke Mesir dan juga jalinan persaudaraan dengan Nabi Harun di Mesir maupun dengan beberapa kawan terpercaya. Di sana terjadilah proses interaksi, perkaderan, ideologisasi serta konsolidasi kekuatan ummat di Mesir.

Ashoya Ilahiyyah ketika atas kehendak dan perintah Allah SWT tongkat kemudian berubah menjadi ular dan bercahaya, serta puncaknya membelah laut. Yang seru lagi ternyata ashoya Musa AS. menurut cerita yang berkembang adalah tongkat milik Nabi Adam AS. Tongkat peninggalan Nabi Adam AS. selama ini disimpan mertua Nabi Musa AS., yaitu Nabi Syuaib AS., dari banyak tongkat milik para nabi koleksi beliau. Kekuatan ashoya Ilahiyyah dalam Qur’an sebenarnya menekankan pada bagaimana kemudian Nabi Musa AS dengan tongkat tersebut melakukan perubahan kekuatan ummat menjadi gerakan yang menyatu dalam kecepatan perlawanan kuasa ketika berhadapan dengan rezim Firaun di Mesir.

Yang jelas, munculnya ashoya baik sebagai representasi kemanusiaan maupun Ilahiyyah tidak dapat hanya dilihat secara praktis, tetapi sebagaimana sifat firman Allah SWT pasti memiliki makna mendalam atas apa yang terjadi di masa lalu, representasi masa kini dan proyeksi masa depan. Yang pasti, pesan Qur’an tidak pernah melepaskan realitas dan segala tindakan pada tiga sinergitas dan embededness (kemenyatuan kemelekatan tanpa jarak dan keterpisahan), yaitu Ketauhidan (keimanan/kepercayaan mutlak pada Allah dan segala yang Ghaib termasuk hari akhir), laku Syariah (ibadah shalat dan menjaga kesucian diri), serta Akhlak Ilahiyyah.

Hal penting lainnya, berdasarkan peran kerasulan, Musa adalah titik ketiga (pusat) estafet perubahan religiusitas kemanusiaan dari Adam-Ibrahim-Musa-Isa-Muhammad. Pesan cerita kenabian Musa AS juga selalu dan sangat kuat sebagai referensi dalam periode terumit perjuangan kenabian Muhammad terbanyak di Qur’an, dibanding nabi-nabi lainnya. Muhammad seperti dituntun oleh Allah lewat cerita Bani Israel mengenai mentalitas kerumitan kemanusiaan yang abadi.

Puncak mu’jizat ashoya pada saat Musa menggunakannya untuk membelah laut merah, jalan mustahil bagi Bani Israel lepas dari kejaran Firaun dan pasukannya. Berdasarkan penelusuran tahapan kenabian Musa terlihat jelas peristiwa ashoya memukul laut merah tidak mungkin terjadi apabila  tahapan ashoya kemanusiaan belum dilalui. Bisa jadi apabila kita ingin mendapatkan pelajaran dari metafora keajaiban ashoya, maka sebenarnya tahapan Ashoya Ilahiyyah bisa jadi adalah simbol kekuasaan yang bersifat Ilahiyyah. Kekuasaan Ilahiyyah tidak akan pernah terjadi dalam kesejarahan negeri ini selama ashoya kemanusiaan (ngelmu, perkaderan dan konsolidasi ummat) tidak dilalui terlebih dahulu. Ashoya bisa pula sebagai alat untuk memotret siapa itu Firaun dan konco-nya, mentalitas serta operasi ideologis sampai istidroj yang muncul di masa kini, juga siapa itu Musa maupun masyarakat ber-Tauhid beserta mentalitas dan kekuatan karomah-maunah hingga orientasi perjuangan di masa kini, dan sebagainya, dan sebagainya, dan sebagainya.

Setelah Musa mendapatkan tugas kenabian dan menemui Firaun sebagaimana diminta Allah SWT (QS 20:24), muncul beberapa peristiwa penting. Pertama, para tukang sihir akhirnya beriman kepada Allah setelah tongkat dan tali mereka dirontokkan ashoya Musa. Akibatnya kemudian mereka disalib oleh Firaun. Mentalitas dan praktik perdukunan tukang sihir masa lalu bisa jadi merupakan representasi menjadi kumpulan pakar positivistik-pragmatis yang mengerumuni negara dan membawa ide liberal dalam mengelola negara.

Kedua, Qorun, sosok orang kaya dari Bani Israil yang berkolaborasi dengan Firaun dalam memfitnah Musa melalui wanita seksi. Wanita bayaran itu mengaku berhubungan badan dengan Musa. Artinya, bisa jadi konspirasi atas peristiwa-peristiwa masa lalu dan masa kini selalu dibalut oleh keserakahan konglomerat, komprador, korporatokrasi, termasuk di dalamnya ilmuwan, akademisi yang tercocok hidungnya, maupun wanita-wanita penyaji maksiat, adalah realitas yang sangat nyata. Bagaimana di masa Firaun muncul manusia-manusia hipokrit dan berorientasi keduniaan bekerjasama menjalin keserakahan menjarah uang negara lewat APBN dan proyek-proyek mega insfrastruktur atas nama kemajuan dan ekonomi sentris. Sedangkan rakyat, bila perlu sengsara, miskin dan tanpa daya, tidak penting itu, dan seterusnya, dan seterusnya, dan seterusnya.

Belum lagi kejadian-kejadian percobaan pembunuhan Musa melalui tokoh kepercayaan Firaun, Hamam, lewat taktik dan para petinggi Mesir lainnya; atau ketika masyarakat Mesir termasuk bani Israel masih mendua, antara beriman pada Allah dan masih tergoda berhala-berhala dunia, hingga muncul paceklik, gaduh ekonomi serta kejadian alam yang membuat mesir amburadul. Baru setelah kesengsaraan komunal membuat resah masyarakat Bani Israil, sehingga setelah itu Musa membawa Bani Israil keluar dari Mesir membelah laut.

Apakah negeri kita sedang melalui masa-masa “Ke-Fir’uan-an” pula? Di mana ashoya negeri ini?

Wallahu’a’lam bishshowab.

Singosari, 1 Dzulhijjah 1438 H – 24 Agustus 2017

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s