IBN KHALDUN TENTANG KEMAKMURAN, POLITIK DAN KUASA


IBN KHALDUN TENTANG KEMAKMURAN, POLITIK DAN KUASA 1)

Oleh: Dr. Aji Dedi Mulawarman
Ketua Yayasan Rumah Peneleh
Direktur Eksekutif CSIL 2)
Dosen Universitas Brawijaya

maxresdefault

Pendahuluan
Selama ini kemakmuran selalu dipandang penting secara ekonomi, termasuk dalam pandangan politik dan kekuasaan. Pandangan itu dapat dilihat misalnya dari cara kemakmuran dipotret dalam ruang Institusi Ekonomi dan Politik Inklusif ala Acemoglu dan Robinson yang juga mirip dengan pemikiran Fukuyama, yaitu sebagai bentuk Kapitalisme dan Demokrasi Liberal dari akhir sejarah dan rancangan untuk manusia terakhir ber-ruh Nietzshe-Hegel. Apakah memang proyek monumental liberalisme modern yang berbasis masyarakat manusia-manusia penuh hasrat untuk diakui secara bersama-sama, berpaku pada nilai-nilai universal (thymos) – bukannya hasrat yang diakui sebagai superior (megalothymia) yang menghancurkan? Apakah Thymos merupakan landasan hasrat yang lebih aman untuk mencapai Demokrasi Liberal melalui serangkaian susunan institusional kompleks seperti prinsip kedaulatan baru, penetapan hak-hak, aturan hukum, pemisahan kekuasaan, dan semacamnya, semuanya tidak lagi berdasarkan pada tuntunan agama yang terlalu sesak, sekaligus mendorong model ekonomi modern yang membebaskan hasrat dari seluruh pembatasan atas keserakahan dan menggabungkannya dengan akal dalam bentuk sains alam sebagai motor utama dalam segala hal desain dan rekayasa sains teknologinya? Jadi ingat duo grup band dari Inggris, Tears for Fears, judulnya, Everybody Wants to Rules the World, pas kan hee :), gini nih lirik lagunya:
Welcome to your life
There’s no turning back
Even while we sleep we will find
You acting on your best behavior
Turn your back on mother nature
Ev’rybody wants to rule the world
It’s my own desire
It’s my own remorse
Help me to decide
Help me make the most
Of freedom and of pleasure
Nothing ever lasts forever
Everybody wants to rule the world
There’s a room where the light won’t find you
Holding hands while the walls come tumbling down
When they do
I’ll be right behind you
So glad we’ve almost made it
So sad they had to fade it
Ev’rybody wants to rule the world
I can’t stand this indecision
Married with a lack of vision
Everybody wants to rule the world
Say that you’ll never, never, never, need it
One headline, why believe it?
Everybody wants to rule the world

Atau, kita tetap melakukan perubahan sosial, tetap mengakomodasi realitas-realitas yang berkembang dari dunia luar, sistem demokrasi, ekonomi, insitutisi, pendidikan, hukum dan apapun itu, tetapi dengan tetap mengedepankan nilai-nilai kebangsaan kita? Apakah itu bisa? Yakin? Atau memang kita harus mencoba menengok sejarah kemanusiaan kita sendiri, sejarah nusantara misalnya dengan kejayaan Sriwijaya atau Majapahit yang sangat genuine menggagas sistem peradaban yang kompleks? Atau Islam sebagai sistem universal tetapi telah mendarah daging di negeri ini sebagai sistem nilai mayoritas dan saat ini telah terinstitusionalisasikan maupun kultural bahkan dalam sistem kebangsaan dan tata nilai Keindonesiaan, Pancasila, dapat menjadi proyek besar bersama untuk memajukan negeri ini?

Memang, muncul, bangun dan jayanya sebuah peradaban di manapun, saya menyetujui statement Acemoglu dan Robinson, pasti muncul “momentum emas”, yaitu kejadian-kejadian luar biasa yang menggoyahkan equilibrium politik-ekonomi pada satu atau kelompok bangsa, tidak hanya itu, untuk tidak menyepakati ideologi Neo-Liberalisme, situasi sosial serta kebudayaan, seperti filsafat, nilai sampai seni yang muncul, bukan hanya di masa lalu dan masa kini juga berubah. Bahkan, mana yang lebih mendahului merubah desain peradaban sebuah bangsa, tergantung dari mana setiap peradaban memaknai realitas sebagai bagian kehidupannya.

Berbeda dengan Acemoglu dan Robinson, Jared Diamond dalam buku Collapse 3), sebenarnya memberikan argumentasi yang justru mempertanyakan gagasan Acemoglu dan Robinson, seteru diskursus gagasan menyelesaikan masalah Peradaban, sebagaimana telah membuat jawaban dan melakukan argumentasi penguat lebih lanjut atas sindirian mereka berdua yang mengatakan bahwa Diamond salah memahami perubahan dunia berkenaan dengan konsep geografi dan kebudayaan dalam buku Guns, Germs and Steel. Menarik memang menelusuri tulisan Diamond, dan juga tulisannya yang terbaru mengenai History until Yesterday, sebagai kelanjutan gagasan bagaimana lepas dari runtuhnya peradaban-peradaban dunia dalam buku Collapse.

Penjelasan panjang lebar Diamond kemudian mengarahkan pada beberapa simpulan penting, masalah lingkungan, populasi penduduk, perkembangan teknologi, serta saling terhubungnya dunia bila tidak ditangani dengan tepat, akan menjadi bumerang bagi resiko keruntuhan global dalam beberapa dasawarsa ke depan. Kesemuanya membutuhkan dua hal penting, perencanaan jangka panjang dan peninjauan ulang sistem nilai utama yang dominan, semuanya hanya bisa dijalankan dengan sistem pemerintahan masing-masing kelompok masyarakat dan atau negara serta pengambilan keputusan yang tepat sekarang untuk dapat memberikan dampak yang baik di masa depan. Saling terikatnya keempat masalah di atas, tidak dapat dipecahkan secara parsial, tentang penduduk misalnya, ancaman yang lebih besar sebenarnya bukan pada peningkatan populasi penduduk yang mencapai dua kali lipat pada beberapa dasawarsa mendatang, tetapi pada bagaimana distribusi kesejahteraan itu dapat tercapai. Sama seperti kekhawatiran Lawrence C. Smith, Diamond juga sepertinya mengalami kegamangan, bagaimana meningkatkan kesejahteraan masyarakat di negara-negara berkembang yang juga sedang mengarahkan standar kemakmuran yang sama dengan negara maju. Apabila itu terjadi apakah teknologi dan daya dukung lingkungan seperti ketersediaan sumber daya baik itu pangan, energi, pakaian, perumahan dapat disediakan pada negara-negara berpopulasi penduduk besar yang mayoritas miskin? Diamond mencatat bahwa dari 10 negara dengan populasi penduduk terbesar, yaitu Cina, India, AS, Indonesia, Brazil, Pakistan, Rusia, Jepang, Bangladesh, dan Nigeria. Sedangkan 10 negara dengan kemakmuran tertinggi adalah Luxemburg, Norwegia, AS, Swiss, Denmark, Eslandia, Austria, Kanada, Irlandia dan Belanda. Kenyataannya delapan dari sepuluh negara dengan populasi besar justru sangat miskin, dengan PDB per kapita di bawah $8.000 dan lima di antaranya di bawah $3.000. Sebaliknya, negara-negara makmur memiliki populasi kurang dari 9.000.000 dan dua di antaranya di bawah 500.000. Belum lagi bila data negara-negara makmur ini disandingkan dengan data yang saya sajikan di atas sebelumnya, mereka memiliki standar pendidikan yang baik, tetapi bila dilihat dari sisi nilai-nilai agama, moralitas religiusitas, kejahatan, dan penggunaan obat-obatan terlarang, sangat mengkhawatirkan.

 

Kemakmuran dalam Bingkai Peradaban Ibn Khaldun
Mungkin, akan menarik bila menghadapkan konsep Institusi Inklusif gaya Acemoglu dan Robinson yang mengedepankan Politik dan Ekonomi, atau solusi Diamond yang mengedepankan Perencanaan Jangka Panjang tertata disertai peninjauan ulang Sistem Nilai Utama yang lebih Kontekstual, dengan apa yang digagas oleh Ibn Khaldun dalam bukunya Muqaddimah 4). Apakah desain Institusi Inklusif, katakanlah begitu, meski nanti pola konstruksi Ibn Khaldun akan berbeda, memang berujung pada dua kekuatan Ekonomi dan Politik saja atau berkenaan dengan perencanaan jangka panjang serta perumusan ulang nilai-nilai utama yang lebih adaptif/kontekstual?

Menurut Hourani 5), gagasan Ibn Khaldun mengenai, kemunculan, kekuasaan dan kejatuhan sebuah kekuasaan (daulah) yang mengerakkan sekaligus membangun peradaban (umran) tidak dapat dibentuk dari sistem masyarakat yang masih awal, seperti masyarakat penghuni padang rumput maupun pegunungan, meskipun mereka sudah menetap dan bertani, apalagi dengan sosok pemimpin (al-Mulk) yang tidak terorganisir. Baginya masyarakat seperti itu memang sangat solid dan memiliki solidaritas sosial tinggi (Ashabiyyah) tetapi belum dapat mendorong kreativitas lebih jauh dalam membentuk pemerintahan yang stabil, berdirinya kebudayaan kota, serta menguatnya perkembangan sains, teknologi, sistem ekonomi, politik, dan bahkan seni yang lebih maju:
“Ibn Khaldun berusaha menjelaskan berdiri dan jatuhnya dinasti-dinasti dalam suatu cara yang dapat menjadi patokan guna menilai kredibilitas narasi-narasi historis. Ia percaya bahwa bentuk paling sederhana dan paling awal dari masyarakat manusia adalah yang dicontohkan oleh masyarakat penghuni padang-padang rumput dan pegunungan, yang bercocok tanam dan menggembala ternak, serta mengikuti para pemimpin yang tidak memiliki kekuasaan terorganisasi. Masyarakat seperti itu memiliki suatu kebaikan dan energi alamiah tertentu, tetapi tidak mampu secara mandiri menciptakan pemerintahan yang stabil, kota-kota, dan budaya yang tinggi. Untuk memungkinkan hal tersebut, harus ada penguasa yang memiliki kewenangan khusus, dan sosok seperti itu dapat membangun dirinya hanya ketika ia sanggup menciptakan dan menguasai kelompok pengikut yang menganut ashabiyyah, yakni suatu semangat bersama yang diarahkan kepada pencapaian dan pemeliharaan kekuasaan…”

Tetapi situasi tersebut adalah bagian awal dari episode tumbuhnya masyarakat menuju masyarakat kota. Ketika mekanisme Ashabiyyah terjalin, seorang pemimpin (Al-Mulk) mampu mengonsolidasi kekuatan secara massif, maka muncullah sebuah Dinasti (Daulah) dari sebuah peradaban (Umran). Umran adalah sebuah tatanan masyarakat dengan seorang pemimpin yang dapat membuat stabilnya sebuah sistem kemasyarakatan, di mana kota-kota akan tumbuh, sistem pengetahuan (sains-teknologi), ekonomi dan sosial berkembang dengan sangat progresif, dan dengan itu maka pasar-pasar tumbuh, ruang-ruang interaksi sosial berkembang, kreativitas produksi, hasil dari temuan-temuan sains, teknologi, dan bahkan kebudayaan, seperti puisi, lukisan, sastra, literasi dan lainnya makin menggerakkan sebuah tatanan masyarakat:
“Seorang penguasa dengan kelompok para pengikut yang kuat dan padu dapat mendirikan sebuah dinasti. Manakala pemerintahan dinasti itu stabil, kota-kota akan tumbuh dan di sana akan muncul spesialisasi-spesialisasi, gaya hidup mewah, dan budaya yang tinggi.”

Tetapi, diingatkan Ibn Khaldun, seperti dijelaskan Hourani, bahwa:
“Namun, setiap dinasti membawa dalam dirinya benih-benih kemunduran. Ia dapat dilemahkan oleh tirani, gaya hidup yang berlebihan, dan hilangnya kualitas-kualitas memerintah. Kekuasaan yang nyata mungkin saja berpindah dari sang penguasa ke anggota kelompoknya sendiri, tetapi lambat laun dinasti itu bisa jadi digantikan oleh dinasti lain yang dibangun dengan cara yang sama. Manakala itu terjadi, tidak hanya sang penguasa, tetapi juga segenap rakyat yang melandasi kekuasaannya, serta kehidupan yang telah mereka ciptakan, bisa jadi sirna, seperti dikatakan oleh Ibn Khaldun dalam konteks lain: ketika terjadi suatu perubahan umum atas kondisi-kondisi, maka itu berarti seolah-olah seluruh makhluk telah berubah dan segenap duniapun tergantikan.”

Beberapa hal secara teoritis apa yang coba digambarkan oleh Hourani tentang Konsep Peradaban, Kekuasaan, Pemimpin, dan Solidaritas Sosial memang menarik dan sangat kontekstual, dapat dijadikan sebagai patokan dan permodelan tumbuh dan berkembang serta jatuhnya sebuah tatanan masyarakat. Jelas pula di sana terdapat perbedaan menyolok dengan sistem penjelas yang digagas oleh Acemoglu dan Robinson, yang lebih mengedepankan dua hal penting sebagai penggerak kreativitas, yaitu sistem Politik dan Ekonomi. Hampir seluruh gagasan yang dijadikan argumentasi munculnya Institusi Inklusif juga muncul dalam konsep Umran dari Ibn Khaldun, tetapi terdapat perbedaan yang sangat tegas, Ibn Khaldun tidak menekankan hal itu pada Ekonomi, karena sistem ekonomi hanyalah bagian dari proses kebudayaan yang muncul akibat dari terbentuknya Umran. Ya, memang sebuah masyarakat bagi Ibn Khaldun tidak terstigma hanya dari satu sisi atau dua sisi saja, bukan hanya dari Politik dan Ekonomi. Politik, atau dalam bahasa Ibn Khaldun disebut Daulah, memang benar segala sesuatu dapat muncul di awal sebagai bagian dari sistem kepemimpinan yang wajib hadir agar sebuah dinasti kuat dan berkembang, bahkan membentuk sebuah Umran. Tetapi, juga sama dengan ekonomi, politik hanyalah bagian dari semua urusan terbentuknya Umran. Al-Umrân menurut Kasdi 6) memang mempunyai makna lebih luas, meliputi:
“…seluruh aspek aktifitas kemanusiaan, mulai dari geografi peradaban, perekonomian, sosial, politik, dan ilmu pengetahuan.”

Satu hal penting dari gagasan Ibn Khaldun yang tidak ditangkap sebagai hal penting seperti dilakukan Hourani, dan banyak dari cara berpikir Orientalisme Barat bahkan juga pemikir Timur yang sudah menjadi (mungkin berpikir) Orientalis, adalah gagasan penting, bahkan lebih penting dari pendorong utamanya, baik itu sistem politik maupun kepemimpinan, maupun solidaritas sosial. Salah satu saya yang sedikit berbeda dengan kalangan orientalis lainnya, dapat disebutkan salah satu di sini, yaitu Barbara Stowasser, seorang akademisi dari Georgetown University, Washington, DC 7). Baginya, karya Ibn Khaldun seperti dikatakan Arnold Toynbee adalah “the greatest work of its kind that has ever yet been created by any min in any time or place” tetapi, sosoknya bukanlah seorang “the founder of positive or historical or truly scientific social science” atau bahkan disebut “true pragmatist” di dunia Islam. Tetapi, Ibn Khaldun dalam penjelasannya mengenai kemunculan dan kehancuran masyarakat dan kebudayaan dalam Islam, analisisnya tentang negara dalam konteks Islam, manifestasi konkret atas realitas sosial dan politik memang memberikan simbol yang jauh lebih “modern” daripada kebanyakan tokoh Muslim di masanya hidup yang umumnya lebih teokratis bahkan utopis berkenaan ide-ide mereka.

Namun, apabila disandingkan antara koneksitas antara agama dan politik, memang terdapat jarak yang besar antara pragmatisme politik Ibn Khaldun dengan, misalnya, filsafat politik Machiavelli. Machiavelli pada saat memahami naik turunnya bangsa dan budaya dalam karyanya Dicourses dan The Prince, melihat agama sebagai sumber utama munculnya solidaritas sosial. Tanpa agama, negara tidak dapat mengembangkan “kebajikan” (baik dalam hal mengkonsolodasi kekuatan politik maupun solidaritas sosial) karena hanya atas dasar agamalah institusi yang baik dapat dibentuk yang kemudian menahan egoisme individual dan dengan demikian menjamin supremasi kepentingan umum. Namun, Machiavelli tidak melihat agama dalam konteks Kebenaran dan Hukum Tuhan, bahkan tidak melihat delegitimasi maupun penyelewengan agama sebagai akibat dari kelemahan manusia dan dosa. Machiavelli memahami agama hanyalah sebagai fakta sejarah yang dapat diamati. Agama, menurutnya lebih tegas, hanya berguna dan bahkan sangat diperlukan pada aktivitas politik maupun ruang yang lebih besar, peradaban, dan dalam menghalangi kehancuran sistem sosial budaya, tapi tidak melihatnya sebagai bagian dari kebenaran agama yang memusat dari Langit. Berdasarkan hal itulah menjadi benar bila Machiavelli memang beraliran pragmatis dan sangat positivistik. Ibn Khaldun, di sisi lain, memang menempatkan sejarah sebagai akta-fakta dan realitas yang memiliki taste pragmatisme. Pragmatisme ini, bagaimanapun, pada akhirnya dan pada dasarnya tidak berakar pada pemikiran sosiologis dan berujung pada pemahaman filsafat Yunani, karena Ibn Khaldun akhirnya memandang secara utuh dan dengan cara yang unik, mengenai multiplicity dan perubahan dalam masyarakat. Perubahan hanya dilihatnya sebagai awal untuk mendapatkan struktur penting di balik fakta-fakta yang lebih mendalam dalam sejarah. Lebih jauh, Ibn Khaldun melihat agama, setidaknya dalam kasus Islam, tidak hanya merupakan fakta sejarah tetapi berasal dari Kebenaran Mutlak yang menyediakan “prinsip-prinisp mendasari”, standar perubahan yang melampaui semua sejarah dan semua pengembangan politis sistem sosial kemasyarakatan dan kebudayaan. Ibn Khaldun, oleh karena itu, tidak pernah memandang pemerintahan yang otonom, sekuler, dan melakukan aktivitas yang mampu membuat sistem moralitas sendiri, apalagi terpisah dari agama.

Jadi, simpul Stowasser, Ibnu Khaldun tidak berusaha untuk mengembangkan, sebuah ‘filsafat sejarah sekuler maupun ilmu politik dan kemasyarakatan yang benar-benar sekuler’, sebagaimana dilakukan oleh para ilmuwan Barat sejak masa Renaissance hingga kini. Ibn Khaldun tidak pernah mengakui gagasan kekuasaan, negara, bahkan peradaban sebagai kegiatan yang otonom dari agama, bahkan Tuhan. Ibn Khaldun tidak pernah mendesain teori Umran dalam koridor Sekularisme, sehingga tidak mungkin ia mengembangkan gagasan negara yang independen dari agama apalagi melakukan legitimasi dari sumber kontekstual lain dan cocok dalam membuat sistem moralitas sendiri. Oleh karena itu, tegasnya, Ibn Khaldun pada dasarnya tetap dan taat dalam arus utama filsafat politik Islam ortodoks, dan filsafat sejarah yang mencerminkan keyakinannya bahwa untuk mengetahui sifat yang tepat dari manusia dan masyarakat, baik sosial dan politik, pengetahuan tersebut tidak mungkin “tanpa mengetahui akhir sejati manusia dan masyarakat, yaitu Allah Sang Maha Sejati 8).

Untuk mendapatkan ruh yang lebih mengena dari pemikiran Sang Maestro Peradaban “Ibn Khaldun”, ya mesti menelusuri langsung tulisan beliau, there is no way out except from his magnum opus, begitu mungkin… 🙂 Bagi Ibn Khaldun sendiri, mengawali gagasan tentang peradaban yang mapan adalah dari kata kemenangan, solidaritas, dan Tangan Tuhan:
“kemenangan terdapat di pihak yang mempunyai solidaritas lebih kuat, dan yang anggota-anggotanya lebih sanggup berjuang dan bersedia mati guna kepentingan bersama…”

Setelah kekuasaan berdiri, maka muncullah di internal penguasa saling rebut kedudukan, yang dianggap Ibn Khaldun sebagai rasionalitas yang menjadi kenyataan sejarah. Bahkan saling rebut itu akan memunculkan pula solidaritas sosial untuk berjuang bersama melakukan persaingan, peperangan, bahkan runtuhnya kekuasaan-kekuasaan. Bagi rakyat biasanya hal tersebut tidak difahami secara masif dan bahkan akan terlupakan ketika telah berganti masa, padahal bagi Ibn Khaldun, semua itu terjadi juga tidak dalam situasi yang hanya bersifat menyejarah, tetapi “Allah Hadir dan Berkendak” dalam peristiwa-peristiwa itu:
“Mereka tidak tahu sama sekali bagaimana Allah mendirikan dinasti itu. Apa yang mereka saksikan hanyalah raja-raja mereka, yang kekuatannya telah berdiri teguh dan utuh dan tidak lagi menjadi soal yang dipertentangkan, dan tidak lagi merasa perlu mendasarkan pemerintahannya kepada solidaritas sosial. Mereka tidak tahu bagaimana keadaan itu terjadi pada mulanya dan kesukaran apa yang harus dihadapi oleh para pendiri dinasti itu. Allah Maha Kuasa atas apa yang Dia kehendaki. Dia mengetahui segala sesuatu. Dan Dialah cukup bagi kita dan Penolong yang paling baik.”

Jadi, sebenarnya, Ibn Khaldun memang tidak pernah sekalipun meninggalkan akar berpikir holistik dan berorientasi Langit. Tidak sejengkalpun lupa akan Tangan Tuhan dalam memotret realitas. Memang, ya, beliau memunculkan realitas pragmatis dalam pertarungan kekuasaan, yang hal itu dianggapnya sebagai sifat kemanusiaan yang muncul pada proses di dalam aksi politik dan kebudayaannya. Tetapi, sekali lagi, Ibn Khaldun tetap meyakini bahwa segala sesuatu yang disebut sebagai Umran akan menjadi abadi, tetap dalam koridor Islam sejati, ketika tidak melakukan proses mengkontekstualisasikan realitas, tetap mendorong kekuasaan ada dalam koridor Ketuhanan, di seluruh proses politik dan kebudayaan. Begitu itu dilupakan, maka yang terjadi adalah kehancuran. Singkatnya, muncul, mapan, dan hancurnya sebuah peradaban ditentukan pada kemampuan sebuah peradaban tetap mendasarkan dirinya pada Ruh Ketuhanan. Tanpa Ruh Ketuhanan, Islam yang lepas dari nilai Tauhidnya misalnya, jelas tidak akan pernah langgeng.

Saya berpikir mungkin, Ibn Khaldun ingin menyampaikan pesan bahwa sudah saatnya realitas tidak hanya disodorkan secara mondial dan profan, tetapi harus tetap pada situasi yang berada pada Kehendak-Nya sekaligus Kekuatan-Nya. Contoh paling baik memang, tidak mendorong model atau sistem yang bebas agama, saya melihatnya pada realitas kesejarahan Islam yang harusnya dilihat secara runtun dari sejak awal Islam dimulai. Pada akhirnya, ketika Islam nanti mulai ditinggalkan dan bahkan diragukan kekuatannya dalam mendesain maupun mengarahkan sejarah, yang terjadi adalah hancurnya Peradaban. Juga, awal munculnya peradaban Islam misalnya, merupakan antitesis dari kekuatan politik-ekonomi yang terlalu mendominasi pola pikir masyarakat Mekkah saat itu.

Apakah ini sebenarnya Revolusi Peradaban paling fenomenal sepanjang sejarah kemanusiaan? Jalan antitesis materialisme ekonomi dan liberalisme demokrasi yang sarat kepentingan individual dan berorientasi dunia an sich ang jelas bertentangan dengan seluruh asumsi Liberalisme apalagi standar kemakmuran Acemoglu dan Robinson?

 

Terus, Bagaimana Negeri Kita?
Jadi sebenarnya, peradaban itu tidak harus sesuai dengan logika jaman yang sama kan? Lebih jauh pula, bahkan seperti dikatakan Yukichi Fukuzawa 9), seorang Civilizationer Jepang pasca Restorasi Meiji 1868, menuliskan buku tentang Peradaban tahun 1893. Menarik memang tokoh satu ini, terutama pendapatnya mengenai momentum emas yang selalu dimulai dari gagasan unorthodox, out of the box, keluar dari logika umum, yang siapapun tak pernah berpikir di masa di mana gagasan itu bergulir. Menurutnya gagasan unorthodox mungkin akan menjadi gagasan dan teori yang umum di masa depan:
“…since ancient times, progressive steps in civilization were always unorthodox at the time they were first proposed… thus the unorthodox theories of the past become the commonly accepted ideas of the present; yesterday’s eccentric notions become today’s common knowledge. Therefore the unorthodox views of today will most certainly become the common ideas and theories of the future. Without fear of public opinion or charges of heresy, scholars should boldly espouse what they believe. Even when another’s thesis does not squarewith your own, try to understand his intention and accept those points which can be accepted. Let those points which do not merit acceptance run their course, and wait for the day when both position can be reconciled, the day when the basis of argumentation will be the same. Do not try to pressure others into your own way of thinking, nor to induce conformity in every discussion, everywhere.”

Tetapi, setiap ummat-Nya yang tetap sami’na wa atho’na pada Sang Guru Tak Lekang Zaman, Rasulullah SAW, sosok manusia pilihan Langit yang unorthodox di jamannya, menekankan kepada kita bahwa dakwah tetap harus disampaikan, meski memang tetap harus dengan kesantunan, dengan akhlaqul karimah, moralitas Langit terbaik, tetapi bila itu adalah sebuah kezaliman yang berseberangan dengan keyakinan, dalam kerangka lakum diinukum waliyadiin, harus tetap tegas. Ketegasan itu adalah penolakan saya pada logika Fukuyama, yang menjadi dasar gagasan mutakhir Acemoglu dan Robinson maupun Laurence Smith, menegaskan bahwa “seseorang yang taat beragama, misalnya, mencari pengakuan-pengakuan atas tuhan-tuhan atau praktik-praktik sakral yang ia lakukan, sementara seorang nasionalis menuntut pengakuan untuk bahasanya, kebudayaan atau kelompok etniknya.” Untuk itu saya lebih baik merujuk pada ketentuan Langit saja, karena sebagaimana Al Qur’an telah mengingatkan kita umat Islam sejak 1400 tahun lebih, agar lebih mengedepankan keseimbangan dan keadilan di semua kehidupan, sekaligus berhati-hati atas tipu muslihat masa depan dunia yang lebih dahsyat gerakannya pada materialisasi, cinta dunia, bahkan menegasikan realitas di luar dunia:
“Mereka hanya mengetahui yang lahir (nampak) dari kehidupan dunia; sedang mereka lalai mengenai (kehidupan) akhirat” (QS ar-Ruum:7).

Menjadi nyata kemudian “kerusakan di muka bumi” tidak terkecuali kita ummat Muhammad, sebagai penyangga utama dan terbesar di negeri ini, yang sedang dibulanmadukan oleh pemikiran maupun kenikmatan negeri makmur atas nama egoisme mereka sendiri:
“Telah nampak kerusakan di darat dan di lautan disebabkan karena perbuatan tangan (maksiat) manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)” (QS Ar Ruum:41).

Bagi saya, seperti Nasr (1986) menuliskan:
“…sejarah adalah rangkaian peristiwa-peristiwa yang tidak sedikitpun mempengaruhi dasar-dasar Islam yang non-temporal. Ia lebih berkeinginan mengetahui dan “menyadari” dasar-dasar ini daripada memperhatikan originalitas dan perubahan sebagai kebajikan intrinsik. Lambang peradaban Islam bukan sebuah sungai yang mengalir melainkan Ka’bah, yang stabilitasnya melambangkan watak Islam yang permanen dan tak berubah. Sekali semangat wahyu Islam melahirkan suatu peradaban dengan manifestasi yang dapat disebut khas Islam, yang berasal dari warisan peradaban terdahulu dan melalui bakatnya sendiri, maka minat utama akan berpaling dari perubahan dan adaptasi. Sebaliknya seni dan sains itu akan memiliki stabilitas dan kristalisasi berdasarkan kekekalan dasar-dasar sumbernya, stabilitas inilah yang diartikan oleh Barat sebagai stagnasi dan sterilitas.”

Ketika Turki sekarang sedang menuju kebesaran yang berulang, menjadi pusat Peradaban Baru, maka sebenarnya pula kita sedang ditampar oleh ingatan akan kebesaran Sriwijaya dan Majapahit atau Demak masa lalu. Atau yang lebih maju dari itu waktunya adalah pada masa ketika HOS Tjokroaminoto membangun rasa kebangsaan untuk kemerdekaan menjelang kemudian di 1945, lewat banyak kadernya, Soekarno salah satunya, di Padepokannya, Rumah Peneleh Surabaya.

Seperti dikatakan HOS Tjokroaminoto ketika membuat tulisan pamungkasnya berjudul Memeriksai Alam Kebenaran, yang penting adalah Negeri Merdeka dengan tetap mendorong Islam sebagai kekuatan utama. HOS Tjokroaminoto dalam tulisannya itu, memang telah beralih haluan tanpa mengedepankan Sosialisme, tetapi jelas dan tegas Islam yang di dalamnya aspek keberpihakan terhadap keadilan dan penindasan menjadi pilar utama Islam itu sendiri. Meskipun, kita sadari bahwa negeri ini sejak awal dibangun berdasarkan pada gagasan Sosialisme Religius, yaitu Sosialisme anti Komunis yang khas Indonesia dengan merujuk pada sistem Agama Utamanya yaitu Islam. Ini adalah cita-cita HOS Tjoroaminoto dan diteruskan Soekarno serta diinterpretasikan Hatta. Sosialisme Religius menurut Soekarno dan Hatta jelas menunjuk pada satu hal penting Sistem Pembangunan Sosial di Indonesia merujuk Agama, Islam, bahkan ditegaskan Soekarno, posisi Islam sebagai r’aison d’tre kemerdekaan Indonesia yang diperjuangkan untuk kemerdekaan, pada tulisannya mengenai Nasionalisme, Islamisme dan Marxisme tahun 1926, seakan menyepakati Gurunya HOS Tjokroaminoto. Hatta-pun demikian pula saat beliau berpidato di Peking, Cina, tahun 1957 10):
“Marxism as a social theory – a scientific theory – is used by non-communist in Indonesia to annalyze social developments. Three objectives factors have strenghthened socialist ideals in Indonesia, namely Marxism, Islamic Religion and the old social pattern of Indonesia.”

Jadi jelas, saya lebih percaya Pak Cokro, Soekarno, Hamka, atau pendahulu kita (dengan catatan khusus tetap kritis pada pandangan Sosialisme Soekarno atau Hatta sebagai basis utama, tetapi tetap tidak mencontek cara kerja Belanda) meski mempelajari ilmu Barat pula, mereka tetap kembali kepada jati mereka bangsa beragama Langit dan bukan realitas kontekstual pragmatis. Sepertinya jelas, benang hijau Islam sebagaimana pemikiran gamblang dari Ibn Khaldun ada dalam semua garis pemikiran beliau-beliau, bahwa kemakmuran hanya dapat dicapai melalui kemerdekaan politik dan kuasa, dengan Islam sebagai ruh, nyawa, sekaligus senjata pamungkas, kunci pembuka pintunya.

Semoga, kita semua, tidak sedang meninggalkan jatidiri sebenarnya, bukan hanya menangkap pesan kebesaran masa lalu masa kini dan masa depan di permukaan, tetapi lebih dari itu, sampai jauh ke dalam sanubari terdalam negeri ini. Bagi saya pula, seperti puisi Muhammad Iqbal, dalam buku antologi Javid Nama:

Hidup ini diakhiri kematian
Sekaligus dapat menembus kematian
Hidup ialah kreativitas dan semangat
Maka bila kau benar-benar hidup
Hiduplah penuh krativitas dan gairah
Jelajahi seluruh alam semesta
Tumpas hingga tuntas segala yang nista
Lalu ciptakan dunia baru
Sebagai penjelmaan imajinasimu
Bagi yang bebas
Sungguh membosankan
Untuk hidup di dunia orang lain
Mereka yang tak mampu mencipta
Tidak berharga di mata kita
Sederajat dengan yang tidak bertuhan
Sederajat dengan yang tidak berpengalaman
Ia tak sempat turut menikmati keindahan
Ia tak sempat turut menikmati buah dari pohon kehidupan
Wahai manusia yang berakal
Jangan jadikan dirimu majal!
Asah dirimu setajam pedang
Tentukan sendiri arah hidup yang hendak kau jelang

Bukannya sedang melawan pragmatisme jaman, dan, karena juga, dan tetap yakin, Tauhid tak bisa bercanda dengan jamannya, Tauhid selalu tegas menegasikan ilah-ilah, berhala-berhala dunia, sekaligus menegaskan Ilah yang Esa. Allah pasti memberikan Cahaya Maha Cahaya-Nya pada setiap abdi-Nya, selama tetap mengikhlaskan diri sebagai umat Muhammad yang istiqomah dan terdepan, bak ombak yang menggulung lautan, bukannya buih di lautan.

Catatan kaki:

1) Tulisan ini merupakan bagian dari buku 2024 Hijrah Untuk Negeri: 1 Kebangkitan atau Kehancuran (?) Indonesia dalam Ayunan Peradaban.

2) Centre of Study for Indonesian Leadership, Jakarta

3) Diamond, J. 2014. Collapse: Runtuhnya Peradaban-peradaban Dunia. Terjemahan. Penerbit KPG. Jakarta.

4) Ibn Khaldun. 2001. Muqaddimah. Terjemahan. Cetakan Ketiga. Pustaka Firdaus. Jakarta.

5) Hourani, A. 2004. Sejarah Bangsa-bangsa Muslim. Terjemahan. Mizan Media Utama. Bandung.

6) Kasdi, A. 2014. Pemikiran Ibn Khaldun dalam Perspektif Sosiologi dan Filsafat Sejarah. Fikrah, Vol. 2, No. 1, Juni. hal 291-307.

7) Stowasser, B. 1984. Ibn Khaldun’s Philosophy of History: The Rise and Fall of States and Civilizations. Guest Lecture on Januari, 5 at the Faculty of Political Science, Ankara University.

8) Sebagai pendalaman mengenai karya Ibn Khaldun dan koneksitasnya dengan modernitas, masa Renaissance Barat, maupun orientalisme, buku yang menarik karangan Aziz Al-Azmeh berjudul “Ibn Khaldun in Modern Scholarship: A Study in Orientalism” terbitan Third World Centre For Research and Publishing, London terbitan tahun 1981, dapat dijadikan rujukan bacaan lanjutan.

9) Fukuzawa, Yukichi. 2009 (1893). An Outline of a theory of Civilization. Columbia University Press. USA.

10) Abdulgani, R. 1960. Perkembangan Tjita-tjita Sosialisme di Indonesia. Kuliah Umum di Perguruan Tinggi Hukum dan Pengetahuan Masyarakat, Malang, 2 Juli.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s