PARTIKULARITAS & BERHALA BARU: EKONOMI


Dunia partikularitas cartesian telah menjadi bagian dari kenyataan menyejarah dalam menyikapi realitas. Sekarang partikularitas menyempit di ruang segala sesuatu dalam bentuk urusan yang di masa lalu tidak pernah dikenal istilahnya, yaitu ekonomi.

Bahkan karena uniknya, ekonomi telah menjadi bagian terbesar dari kesibukan kehidupan kemanusiaan. Negara sibuk menjadikannya sebagai referensi keberhasilan pembangunan, termasuk pemimpin perlu punya keahlian dan atau minimal pemahaman atas itu pula. Kalau ndak punya dia harus ngumpulin para ahlinya. Nah kalau jadi ahli atau tokohnyapun sekarang adalah simbol kecerdasan dan kemumpunian memahami permasalahan negara.

Sak jane bro, Ekonomi itu kan istilah yang sebenarnya hanyalah bagian “sangat kecil” dan ndak penting banget. Ekonomi benernya juga hanya masalah mentalitas pandangan duniawi dan segala sesuatu selalu berkenaan dengan ukuran material di peradaban manapun di dunia. Kecuali peradaban “kering” sekarang ini yang malah karena teori-teori cadas dan praktiknya telah menyengsarakan banyak manusia alih-alih menghancurkan alam semesta ini. Dampaknya ekonomi telah membunuh dirinya sendiri dan sepertinya juga mau runtuh.

Umurnyapun, Peradaban berorientasi Ekonomi ini baru seumur jagung dibanding peradaban-peradaban besar sebelumnya yang umurnya mencapai lebih dari 500 tahun. Konsepsi terlalu simplistis dan sangat teknis pragmatis antroposentrik itulah yang digempur habis oleh semua penugasan kenabian dan para wali, “berhala” yang mendorong manusia masuk dalam ketamakan sejarah. Tetapi dunia saat ini sepertinya sedang kembali memutar roda sejarahnya, kembali ke manisnya berhala dunia yang ditolak semua agama, bahkan menegakkannya menjadi sebuah adagium paling utama dalam kehidupan manusia.

Untuk mendapatkan manisnya kesejahteraan yang disebut ekonomi itu kalau perlu moralitas yang dihadirkan adalah “kebaikan itu ya rakus itu“, Greedy. Masih ingat misalnya film Wall Street (1987), yang menampilkan tokoh kontroversial bernama Gordon Gecko? Salah satu scene menarik yang menampilkan statements tegas Gecko tentang rakus, yaitu pada saat Rapat Umum Pemegang Saham Teldar Paper. Scene ini ternyata telah jadi rujukan tren training-training forex trading di dunia hingga saat ini. Kalimat penting mengenai Greedy dapat dilihat di bawah berikut ini:

“The point is, ladies and gentleman, that greed, for lack of a better word, is good. Greed is right, greed works. Greed clarifies, cuts through, and captures the essence of the evolutionary spirit. Greed, in all of its forms; greed for life, for money, for love, knowledge has marked the upward surge of mankind. And greed, you mark my words, will not only save Teldar Paper, but that other malfunctioning corporation called the USA. Thank you very much.”

 

Mengapa bisa begitu? Ya untuk menata ketamakan Ekonomi perlu mengembangkan apa itu yang disebut dengan Agency Theory, aturan penting bagi para perakus-perakus asset, liability, equity, revenue, expense dan income, dalam strata principle dan agent. Principle yang dianggap pemilik sah keserakahan harus dapat membagikan kerakusan dalam konteks pelimpahan hak atas pekerjaan yang dilakukan sang agent, yang juga karena ketamakannya itu dalam bentuk kontrak-kontrak.

Mekanisme aturan pembagian ketamakan bahkan dalam teori tersebut berakar dari game theory dengan metafora “prisoners dilemma” dari seorang matematikawan penemunya, Albert W. Tucker. Menurutnya, hitungan matematis prisoners dilemma itu dirasionalisasi berbentuk matriks, dari contoh sebuah kasus  kawanan penjahat yang tertangkap dan sedang diinterogasi pengakuannya di ruang berbeda. Berikut penjelasannya:

Two members of a criminal gang are arrested and imprisoned. Each prisoner is in solitary confinement with no means of communicating with the other. The prosecutors lack sufficient evidence to convict the pair on the principal charge. They hope to get both sentenced to a year in prison on a lesser charge. Simultaneously, the prosecutors offer each prisoner a bargain. Each prisoner is given the opportunity either to: betray the other by testifying that the other committed the crime, or to cooperate with the other by remaining silent. The offer is:

  • If A and B each betray the other, each of them serves 2 years in prison
  • If A betrays B but B remains silent, A will be set free and B will serve 3 years in prison (and vice versa)
  • If A and B both remain silent, both of them will only serve 1 year in prison (on the lesser charge)

Kalau mau lebih jauh mendiskusikan prisoners dilemma dalam konteks ekonomi dan bisnis silakan lihat misalnya: “advanced game theory strategies decision making”

La yang lebih kacau lagi malah sekarang agama-agama dan pemahaman atas kemenangan atau perubahan negeripun kalaupun itu adalah bagian dari kebangkitan dunia religius juga ngikut mikirin ekonomi sebagai sentral pembangunan peradaban. Maka nanti kalau ekonomi sudah mapan, bisnis sudah menggurita maka masalah bisa diselesaikan Lak ya kewalik-walik to…

Apa para pembaharu masa lalu yang salah memahami berhala atau para pembaharu dan gerakan kebangkitan masa kini yang sudah terhuyung-huyung memang sudah ndak bisa keluar dari mindset hingga me-lahir-batin berhalanya alias mendarah daging ya? Apa saya yang salah konstruksi mikirnya ya?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s