3. Mikir Mudah Ekonomi Islam: Membumilah… !!!


Menuju Ekonomi Pertanian Islami Ala Indonesia: Menggagas Implementasi Muzara’ah-Musaqah Indonesianis

Mau tahu bagaimana ekonomi syari’ah atau ekonomi Islam bisa berperan secara aktif di Indonesia? Tengoklah pola dasar masyarakat Indonesia melakukan aktivitasnya. Jangan hanya berkutat di perkotaan untuk menampung perputaran uang dan menggunakan “logika” intermediasi. Indonesia sampai saat ini masih merupakan negara agraris, penghasil produk pertanian dan sumber daya alam yang melimpah ruah. Jangan terkooptasi oleh pemikiran bahwa modernitas adalah bentuk industrialisasi yang harus meninggalkan fase agraris menuju fase “industri”. Itu sih pandangan ekonomi “modern” yang “kuno”, atau dalam bahasa Tukul Arwana, ekonomi modern “katrok”. Tidak membumi… ekonomi yang benar ya ekonomi yang membumi, yang bermanfaat bagi masyarakatnya, bagi “buminya” sendiri… jangan menjadi makhluk asing di negerinya sendiri…

Logika ekonomi sederhana, jelas harus mengikuti tiga pola keseimbangan “produksi-intermediasi-retail”. Tidak ada lain. Semua negara yang ingin maju perekonomiannya, jelas harus mempertimbangkan keseimbangan ketiga pola ekonomi tersebut.

Ekonomi syariah kita ternyata masih didominasi pola intermediasi (perbankan, asuransi, dan jasa lainnya) saja, itupun intermediasi yang hanya mengakomodasi kepentingan produksi ataupun retail “kota”. Indonesia kan 70-90% masyarakatnya ada di “desa”. Hehehehe….

Hari-hari ini, ketika gara-gara harga kedelai naik, maka masyarakat “tradisional” Indonesia seperti petani, industri kecil, sampai pedagang gorengan kelimpungan, karena tidak bisa menggelar “expo” dan “pameran” hasil tani/produksi /dagangan mereka di depan para khalayak konsumen TAHU/TEMPE. Mereka mulai kelimpungan, mengurangi kuantitas/kualitas, sampai “gulung tikar”. Yang terjadi malah “ekspo”, “pameran” atau katakanlah yang lebih katarsis “demonstrasi” meminta kejelasan ketegasan treatment ekonomi nasional untuk memberi perlindungan bagi para petani kedelai, industri kecil tahu/tempe dan pedagang gorengan….

Sama kasusnya dengan gula, beras, minyak kelapa sawit, dan produk-produk pertanian lain. Rupa-rupanya pertanian Indonesia sedang mengalami degradasi yang sangat luar biasa dan belum pernah terjadi sepanjang sejarahnya. Entah ini karena Indonesia “sok bergaya cerdas” mengikuti pola liberalisasi pasar dunia atau mungkin teledor melakukan “politik pertanian”. Atau pemerintah melakukan sinergi kesalahan keduanya? Atau kesalahan multidimensional. Atau apa?

Saya memimpikan kebenaran dan keberhasilan pola dakwah ekonomi Rasulullah di awal hijrah ke Madinah, yaitu Back to Nature Economic, Ekonomi Kembali Ke Fitrah, Ekonomi Idul Fitri , ketika Rasulullah mempertemukan masyarakat “Muhajirin/Mekkah” yang ahli “intermediasi dagang” dengan masyarakat “Anshor/Madinah” yang ahli “produksi”. Lewat pola terkenal “MUZARA’AH & MUSAQAH”!!! Rasulullah seakan menunjukkan bahwa untuk membangun ekonomi syariahnya haruslah selalu seimbang “produksi-intermediasi-retail”, berdagang itu harus diimbangi dengan kegiatan produktifnya, yaitu seperti bertani/beternak/bertambang/berindustri, dan juga aktivitas retailnya.

Kenapa perbankan syariah sekarang bingung “ekspo” dan “memamerkan” produknya untuk memenuhi targer 5% market share yang “agak materialistik 90 triliun itu” dan sebenarnya tidak diketahui “logikanya” oleh masyarakat awam Indonesia? Kenapa bingung mengembangkan Kartu Kredit Syari’ah atau merayu para investor luar untuk buka bank syariah baru di Indonesia? Atau juga bingung membuka pasar non emosional? Itu namanya tidak berpijak di bumi. Masih ingat pepatah lama, dimana kita berpijak di bumi, di situ langit dinjunjung?

Mudahnya, ekonomi syari’ah, membumilah…Kenapa tidak mengembangkan pola lainnya yang lebih Indonesianis, natural dan tidak plagiasi “kapitalisme perbankan”? Seperti misalnya mengembangkan pola ‘MUZARA’AH & MUSAQAH’ untuk mengembangkan alternatif industris pertanian Indonesia yang sedang kacau balau ini? MUZARA’AH & MUSAQAH ALA INDONESIA untuk KEDELAI, BERAS, GULA, MINYAK KELAPA SAWIT, DLL….? Bukan hanya menyusun pola/skim pembiayaan untuk perbankan saja, tetapi lebih kompleks lagilah, mendesain model ekonomi Islam yang pro kerakyatan, ekonomi Islam untuk masyarakat agraris Indonesia. Bagaimana misalnya mendesain Blue Print Ekonomi Pertanian Islami ala Indonesia? Bagaimana menerapkan keseimbangan trilogi produksi-intermediasi-retail ala Islam Indonesia yang altruistik dan pro lingkungan, sekaligus bertani-beragro industri untuk kepentingan ibadah mahdah-sekaligus ibadah muamalah?

Alhamdulillah kalau itu malah bisa jadi solusi bagi pemerintah Indonesia menyelesaikan masalah ekonominya? Ini contoh saja lo, berandai-andai, belum tentu benar, kalo salah ya sudah, namanya juga usul…🙂 maaf bila ada salah…dan kurang berkenan…

wassalam…

3 thoughts on “3. Mikir Mudah Ekonomi Islam: Membumilah… !!!

  1. Assalamu’alaikum. Wr.Wb
    Kepada mas aji yang terhortmat, saya sangat sependapat dengan jenengan, Ekonomi syari’ah kita masih identik dengan Perbankan, sungguh sangat menghambat perkembangannya, misal yang sangat sederhana, munculnya BMT di indonesia sangat adoptif banget dengan pola perbankan, padahal BMT sangat cocok untuk pengembangan sektor riil di indonesia, jadi klo menurut hemat saya ni BMT bukan lembaga keuangan syari’ah tapi bisa menjadi lembaga Investasi Syari’ah, ato bisa juga BMT adalah sebuah perusahaan.

    o ya basik saya kebetulan ekonomi syari’ah yang baru rancang-rancang untuk pemberdayaan masyarakat lewat masjid, pesantren. di daerah gempa di Bantul, Yogyakarta.
    mudah-mudahan perkenalan ini dapat berlanjut, matur nuwun
    Wassalamu’alaikum. Wr.Wb.

  2. assalamualaikum wr wb.
    sepakat mas…
    ekonomi syariah-perbankan syariah indonesia harus lebih indonesiais, ga perlu sibuk mengikuti apa yang ada pada bank konvensional(kartu kredit dll) harus lebih punya identitas.

    saya pernah dengar indonesia akan segera membentuk bank pertanian, sebenarnya isunya sudah dari tahun lalu tapi sampe skarang belum terdengar lagi perkembangannya……….

    di malaysia sudah lama ada bank yang khusus bergerak di wilayah pertanian. kenapa indonesi begitu terlambat. indonesia yang selalu mengatakan negara agraris namun kebijakannya belum ada yang jelas2 mendukung pengembangan sektor pertanian.

    saatnya perbankan syariah untuk mengambil peran dalam mengembangkan sektor pertanian ini, mengingat perbankan syariah seharusnya lebih mengarah pada riel sector secara nyata.

    jihad
    mahasiswa Ekonomi islam
    UIN syarif haidayatullah jakarta

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s