2. Kembara Dua


Dalam bangunku aku mulai merasakan bahwa merentangkan pikiran dan batin dalam sebuah area yang tak terbatas akan membawa pada letupan sinar terangku. Ternyata mungkin yang dimaksud kebebasan dan kekosongan adalah tempat menyatunya pikiran yang tak pernah tenang dan batin yang tenang. Dalam kekosongan yang tak pernah kosong adalah substansi adanya diriku. Dan substansi adanya diri adalah tempat paling baik untuk merentangkan gagasan tentang yang aku pikirkan. Batin adalah pusat, pikiran adalah pusat, bersatunya adalah kekosongan, kebebasan adalah rangkaian akhir dari keinginan untuk menggambarkan apa yang kuinginkan untuk tahu lewat kesatuan batin dan pikiran. Tapi kemudian aku berpikir kembali, kemudian apa yang membatasi diriku? Yang pasti batasannya adalah batasan pikiranku dan tak terbatasnya batinku, serta kekuatan yang kata Iqbal itu ”ego”, yaitu ego lain yang senantiasa berpengaruh terhadap diriku. Itulah ego yang lahiriah dan ego yang tak nampak. Artinya batinku akan terbatas ketika ego lain merasuki diriku. Atau mungkin yang terbatas adalah pikiranku? Dan batinku tetap mengembara dalam tak keterbatasan? Itulah yang aku tak tahu. Biarlah itu menjadi rahasiaku sendiri, rahasia pikiranku dan rahasia batinku.

Yang jelas, nampaknya aku dapat melakukan pengembangan tahu dan pengetahuan ketika aku mengembangkan pikiran sampai batas yang aku sendiri tak tahu, dan memang terbatas, serta ketika aku mengasah batinku untuk menggiring hasil tahu dan pengetahuan pikiranku dalam batinku untuk dilakukan pengesahan tahu dan pengetahuanku. Dan ketika itu telah terangkum dalam kesimpulan sementara, pasti akan terjadi pembatasan tahu dan pengetahuan dari ego lain. Ego lain orang di luar diriku, ego lain lingkungan di luar diriku dan ego lain di luar lingkungan dan diriku yang tak tahu itu apa. Serta akhirnya dibatasi oleh Sang Ego Lain yang Mutlak, Allah SWT, baik melalui yang tersurat maupun yang tersirat dalam batinku dan bukan batinku. Nah itulah ego-ego lain itu. Ego Lain Mutlak Tersirat (Allah) dan Ego Lain Mutlak Tersurat (Wahyunya), serta ego lain diri lain, ego lain lingkungan diri dan ego lain lingkungan bukan diri. Kalau begitu keyakinan pasti ada dalam diriku yang berpikir dan berbatin, dan dipengaruhi oleh ego lain-lain itu. Dasar-dasar itulah yang akhirnya dapat mengembangkan ilmu. Dalam hal ini aku yakin dan pasti, bahwa ilmu hanya dapat dikembangkan oleh jalinan dan ramuan yang rumit itu. Mengapa? Karena aku selalu melakukan subyektifitas dan obyektifitas (S-O) ketika akan mengembangkan obyektifitas yang subyektif (O-S). Kesetimbangan S-O dan O-S inilah yang menurutku dapat mengembangkan ilmu. Karena sebenarnya pula aku adalah subyektif dan sekaligus obyektif dan akhirnya menuju obyektif yang sekaligus subyektif. Insya Allah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s