KISAH ABADI DALANG DAN WAYANG


KISAH ABADI DALANG DAN WAYANG:
Mendendangkan Lagu SWAMI di Masa Baru
Kasian memang, di tengah memanasnya politik menjelang mengerucutnya calon-calon Presiden yang akan dipilih oleh ratusan juta masyarakat dalam Pilpres 2019 mendatang kita masih jadi mainan para dalang yang rajin menyorongkan para wayang. Model dalang dan wayang bertebaran di media sosial sekarang sepertinya hanyalah pengulangan dominasi historis tak habis-habisnya. Pesan moral beginian sepertinya juga pernah muncul di negeri kita, bahkan sudah pernah didendangkan SWAMI. SWAMI adalah grup kolaborasi musisi Indonesia kritis kawakan seperti Iwan Fals, Sawung Jabo, Naniel, Nanoe, dan Innisisri, plus Jockie Surjoprajogo.

Baca lebih lanjut

Iklan

2024 bukan 2030


Pasrah di tahun 2030 mengikuti novel yang ujungnya berkeping-keping atau analisis ekonomi yang katanya jadi 7 negara hebat dunia padahal jadi pasar asing, sama saja para pemimpin di negeri ini mengajari rakyatnya jadi pemalas dan sub-ordinat bangsa lain seumur hidupnya.

Desain 2024 Hijrah Untuk Negeri yang terbit 2016 dan masuk cetakan kedua ini tidak melihat kedua skenario itu penting.

2024 memandang lebih pada membangkitkan jati diri negeri, bukan jadi buih tapi jadi ombak yang menggulung lautan di 20 kota 24 tempat…WhatsApp Image 2018-03-30 at 00.17.20.jpeg

SINOPSIS BUKU 2024


2024 HIJRAH UNTUK NEGERI: Kehancuran atau Kebangkitan Indonesia dalam Ayunan Peradaban

Gegap gempita perbincangan akhir-akhir ini tentang simbol “2030” rasa-rasanya memang menggoda sekaligus mengganggu pikiran kita sebagai Bangsa. Tetapi, apakah benar tesis itu? Apakah benar 2030 adalah kehancuran atau kebangkitan negeri ini? Perbincangan peradaban kenusantaraaan, keindonesiaan kita, pada saat buku ini diterbitkan tahun pertengahan 2016, merupakan kemewahan bagi masyarakat negeri ini, karena tema seperti ini tak dapat dijadikan “pasar”. Tetapi sejak munculnya aksi 411 dan 212 yang menggoncang negeri ini, putaran perbincangan politik tahun 2018 apalagi 2019 menjadi tema terhangat hari-hari ini. Ya begitulah sifat manusia Indonesia di negeri ini, selalu saja berpikir jangka pendek, terganggu dengan isu-isu hangat, dan tak pernah melihat realitas negeri ini dalam konteks yang lebih panjang, apalagi dikoneksikan dengan sejarah masa lalu, masa kini, hingga jauh ke depan. Baca lebih lanjut

KITALAH TUHAN BARU “HOMO DEUS”


Hari-hari ini kita saksikan kemajuan dunia bergerak tak henti, seharian tak cukup, ekstensi lebih bagus lagi menuju semalaman, detik ke detik, di seluruh pelosok negeri-negeri berpenghuni yang katanya hasil evolusi homo erectus menjadi homo sapiens ini, bahkan sudah ingin mencapai apa yang dikatakan Yuval Noah Harari dalam bukunya yang juga sebagai narasi besar kemanusiaan hari ini, Homo Deus, Manusia Tuhan, dengan narasi besar anti Iman itu: “Our Future will be shaped by the attempt to overcome death”. Homo Deus memang sebuah kemustian bila manusia ingin tetap eksis sebagai penguasa di dunia lewat evolusi kemanusiaan mutakhir, human brain, karena bagi Michio Kaku di bukunya berjudul The Future of the Mind, “Brain is the power being God”. Toh, Jared Diamond dalam bukunya The World Untill Yesterday menganggap masa depan agama hanyalah masalah evolusi otak akibat makin meningkatnya kecanggihan otak dalam mengenali penjelasan penyebab dan dalam membuat prediksi, sedangkan agama hanyalah produk sampingan kemampuan otak yang semakin canggih. Baca lebih lanjut