KISAH ABADI DALANG DAN WAYANG


KISAH ABADI DALANG DAN WAYANG:
Mendendangkan Lagu SWAMI di Masa Baru
Kasian memang, di tengah memanasnya politik menjelang mengerucutnya calon-calon Presiden yang akan dipilih oleh ratusan juta masyarakat dalam Pilpres 2019 mendatang kita masih jadi mainan para dalang yang rajin menyorongkan para wayang. Model dalang dan wayang bertebaran di media sosial sekarang sepertinya hanyalah pengulangan dominasi historis tak habis-habisnya. Pesan moral beginian sepertinya juga pernah muncul di negeri kita, bahkan sudah pernah didendangkan SWAMI. SWAMI adalah grup kolaborasi musisi Indonesia kritis kawakan seperti Iwan Fals, Sawung Jabo, Naniel, Nanoe, dan Innisisri, plus Jockie Surjoprajogo.

Baca lebih lanjut

Iklan

2024 bukan 2030


Pasrah di tahun 2030 mengikuti novel yang ujungnya berkeping-keping atau analisis ekonomi yang katanya jadi 7 negara hebat dunia padahal jadi pasar asing, sama saja para pemimpin di negeri ini mengajari rakyatnya jadi pemalas dan sub-ordinat bangsa lain seumur hidupnya.

Desain 2024 Hijrah Untuk Negeri yang terbit 2016 dan masuk cetakan kedua ini tidak melihat kedua skenario itu penting.

2024 memandang lebih pada membangkitkan jati diri negeri, bukan jadi buih tapi jadi ombak yang menggulung lautan di 20 kota 24 tempat…WhatsApp Image 2018-03-30 at 00.17.20.jpeg

SINOPSIS BUKU 2024


2024 HIJRAH UNTUK NEGERI: Kehancuran atau Kebangkitan Indonesia dalam Ayunan Peradaban

Gegap gempita perbincangan akhir-akhir ini tentang simbol “2030” rasa-rasanya memang menggoda sekaligus mengganggu pikiran kita sebagai Bangsa. Tetapi, apakah benar tesis itu? Apakah benar 2030 adalah kehancuran atau kebangkitan negeri ini? Perbincangan peradaban kenusantaraaan, keindonesiaan kita, pada saat buku ini diterbitkan tahun pertengahan 2016, merupakan kemewahan bagi masyarakat negeri ini, karena tema seperti ini tak dapat dijadikan “pasar”. Tetapi sejak munculnya aksi 411 dan 212 yang menggoncang negeri ini, putaran perbincangan politik tahun 2018 apalagi 2019 menjadi tema terhangat hari-hari ini. Ya begitulah sifat manusia Indonesia di negeri ini, selalu saja berpikir jangka pendek, terganggu dengan isu-isu hangat, dan tak pernah melihat realitas negeri ini dalam konteks yang lebih panjang, apalagi dikoneksikan dengan sejarah masa lalu, masa kini, hingga jauh ke depan.
Buku 2024 yang telah mengalami cetakan kedua pada tahun 2018 berbicara di luar logika standar itu. Pesan Islam sebagaimana Saya memahaminya melalui Qur’an dan Sunnahnya banyak bercerita bercerita dan melakukan analisis masa lalu, masa kini dan masa depan, dan dengan itu Saya melakukan hal yang sama pada negeri kita tercinta ini, yaitu melakukan penelusuran masa lalu sekaligus memandang ke depan, di mana masa kini pasti punya keterikatan di antaranya. Sejak lama saya memang gandrung pada gerakan-gerakan negeri dalam konteks diskursus peradaban, karena peradaban adalah kata kunci perubahan sejarah. Sebagaimana Islam pula, Islam, sekali lagi menurut pendapat saya pribadi, dirancang dari langit bukan untuk menjadi pegangan bagi individu-individu menuju surga saja, tema seperti itu hanyalah bagian dari desain besar pesan keumatan yang menyejarah, sebuah keharusan kontekstual untuk diterjemahkan dalam agenda setiap umat Islam yang memahaminya. Fathul Mekkah 629 M bukan hanya keinginan diri kanjeng Nabi Muhammad SAW atau dorongan para sahabat untuk menisbahkan kekuasaan di Jazirah Arab. Fathul Mekkah yang didahului dengan puncak-puncak peristiwa dari Iqro’nya Muhammad SAW menerima pesan langit di Gua Hira’; Isra’ Mi’raj dari dunia menuju langit ke tujuh; Aqabah 1-2 dilanjut dengan Hijrah ke Madinah; serta kemenangan pertama umat Islam di Perang Badar 624 M; adalah pesan-pesan yang sarat kekuatan Invisible Hand asali, Allah SWT, demi menegakkan Izzul Islam wal Muslimin, peradaban manusia yang berkebudayaan bernilai religiousitas.
Membincang peradaban juga bukan sekedar menelusuri sejarah tokoh dan peristiwa-peristiwa penting pada pusat-pusat kekuasaan Yunani, Romawi, China, India, Amerika Serikat, Amerika Selatan, Jepang, Majapahit, Perlak, Malaka, Demak, Mataram Baru, Ternate, dan Tidore, serta pusat-pusat kejayaan lainnya saja. Membincang peradaban juga bukan hanya masalah “makan” dan “kuasa”, ekonomi dan politik saja, dan dengan itu pula maka peradaban bisa hancur, luluh lantak tak berkeping, hilang dari sejarah masa kini dan masa depan. Pandangan tentang peradaban manusia dalam buku ini tidak melihat seperti itu, dan pula tidak melihat bahwa kemakmuran dalam rentang peradaban sejak manusia muncul, menggunakan pandangan orientalisme yang selalu meletakkan Timur sebagai ladang milik Barat yang sah untuk dieksploitasi sesuai kehendak mereka; sedangkan masyarakat di dalamnya perlu dikasihani dan dituntun menuju perbaikan hidup, dan Barat sekali lagi adalah dewa penyelamat di dunia Timur; maka dengan demikian, agama, ekonomi, politik, budaya, dan life style wajib diimpor dari negeri mereka.
Hak sosiologis yang dipaksakan Kristen Barat sejak Revolusi di Inggris tahun 1381 setelah didahului kiamat pes “the Black Death”, memicu perjalanan mereka menyeberangi dunia-dunia baru di luar Eropa, dimulai dari tahun 1500-an, hingga dipuncaki revolusi Perancis, revolusi Amerika dan lainnya; semua dengan pertumpahan darah atas nama kemakmuran Kristen Barat dan ajarannya yang menyebar serta bertransformasi menjadi liberalisme sekuler ke seluruh pelosok hingga kini. Akhirnya, kotak pandora keserakahan atas nama kemakmuran terbuka, melalui ledakan penduduk, perebutan sumber daya alam, kehancuran lingkungan, yang dimungkinkan memuncak tahun 2024 pada saat jumlah anak manusia di bumi mencapai 8 (delapan) miliar, hasil dari 5 kali kelipatan 12 tahunan sejak 1975. Ini merupakan kejadian demografis luar biasa yang belum pernah terjadi sepanjang sejarah kemanusiaan. Semua berawal dari revolusi industri di Inggris, setelah kejadian Deus Absconditus, Tuhan tersembunyikan, dipisahkannya dunia (sains, teknologi, ruang sosial, ekonomi, politik, pendidikan, hukum dan kebudayaan) dari keberadaan Tuhan, Tuhan dianggap pensiun, cukuplah berada di Singgasana Langit.
Memang, dampaknya, taraf hidup di Barat meningkat kemakmurannya, tidak di Timur, luar biasanya perkembangan sains teknologi, jaminan pendidikan meningkat drastis. Lawrence Smith mengatakan hal itu adalah hak Barat, bukan hak Timur. Karena, atas nama modernisasi lebih baik tidak melakukan pergerakan melakukan peningkatan kapasitas kemanusiaan menuju kemakmuran di semua wilayah di dunia, cukuplah mereka yang sedang dalam situasi “the most impoverished, dangerous, and depressing on Earth” diberi improvisasi aksi sosial atas nama kemanusiaan, tidak lebih dari itu. Fukuyama mengatakan sebagai simbol kemenangan Liberalisme dan Demokrasi Liberal, dan Barat adalah pemegang sah status sosial Manusia Terakhir di muka bumi. Tetapi, kemakmuran ternyata juga dibarengi dengan kehancuran moralitas seperti bencana kebebasan LGBT – lesbong hombreng, meningkatnya kejahatan, aborsi, masifikasi penggunaan narkotika, serta kejahatan-kejahatan lainnya, yang melejit melampaui dunia Timur. Bukan hanya itu, institusi inklusif ekonomi dan politik yang digadang-gadang Acemoglu dan Robinson berbasis demokrasi liberal-nya Fukuyama di Barat, ternyata diungkapkan Fukuyama sendiri sebagai realitas paling bobrok, birokrasi sebagai simbol institusi inklusif adalah pusat segala kebobrokan yang menyebabkan pembusukan politik, political decay.
Masalah kemakmuran, sekali lagi yang ada di benak Barat, hanyalah kemakmuran berbasis materialisme, tidak lebih. Maka, membincangkan peradaban yang dilakukan di sepanjang buku ini bukan yang seperti itu, tetapi lebih dan bahkan melampaui kekeringan intelektual semacam itu. Kemakmuran seharusnya, sebagaimana saya yakini, adalah bagian dari integralitas berjiwa Langit untuk memberikan yang terbaik bagi umat, dan setiap manusia maupun masyarakat di dalamnya, memiliki hak, keinginan, kebersamaan yang sebenarnya, serta kebaikan yang perlu didakwahkan kepada siapapun untuk mencapai umatan wahidah sekaligus wasathan, umat yang utama, sekaligus umat yang sejahtera seiring sejalan. Tetapi, sulit sekali menjelaskan bahwa idealisme Islam dan kearifan Nusantara yang telah menjelma dalam ruang sejarah Keindonesiaan seperti sekarang ini bila tidak diawali dengan penjelasan runtut akan kesalahan paradigmatik dalam memahami realitas, sejarah, dunia, dan kemanusiaan itu sendiri. Apalagi bila itu sudah dipenjara dalam kenyataan pikiran dan laku pragmatisme ilmiah, materialisme, liberalisme dan sekularisme yang terangkum dalam ruang kesejarahan tanpa peran Tuhan sama sekali di dalamnya, Deus Absconditus, atau lebih lungrah bila Tuhan dipahami hanyalah sebagai mesin raksasa tak nampak bermekanisme otomatis atas kerja dan pengaturan yang terdapat di alam semesta, Gaia, dan dengan demikian alam semesta berjalan sebagaimana adanya. Tuhan tidak dipahami sebagai Wujud Ketuhanan sebagai Yang Satu, Maha Pencipta, Maha Pengasih, Maha Pemurah, Maha Kuasa, Maha Melakukan Segala Sesuatu, Maha Meliputi, Maha Hadir di setiap aktivitas, dan Mahanya Maha di seluruh alam semesta termasuk dalam diri maupun peradaban manusia.
Pesan 624 M adalah kenyataan sejarah sekaligus titah Langit, begitu Saya memahaminya, tak bisa memahami terpisah bagaimana kenyataan sejarah harus dilepaskan dari titah Langit, entah karena ini adalah dogma yang telah mengakar habis di seluruh kejiwaan dan fikiran, atau memang pesan itu adalah teriakan semesta dalam ruang jiwa atau rasionalitas memandang sejarah. Hal itu jelas sekali merupakan masalah yang tak bisa dipaksakan oleh siapapun. Hadits Gusti Pangeran Muhammad SAW yang mengatakan bahwa setiap 100 tahun pasti akan muncul pembaharu, bagi saya bukan hanya bersifat personal, atau individu, tetapi di dalamnya terdapat sifat keumatan, yang tercerahkan oleh setiap tetesan dan guyuran ayat-ayat langit tak henti barang sepertriliiun triliun detik bahkan tak hingga di semesta ini, dan dengan demikian maka seluruh semesta bersama seluruh pembawa titah langit di manapun akan bergerak bersama menebarkan kebaikan, keadilan, kebenaran yang terpatri tak lekang jaman. Rentetan tahun-tahun sejak 2010 hingga 2016 adalah aksi kesejarahan yang khas dan dipenuhi tanda-tanda kegelisahan umat, dan mungkin akan memuncak dalam ruang-ruang kesedihan sampai tahun 2019. Tetapi kesedihan tak akan berlangsung lama, karena insya Allah selalu bersama umatnya yang sadar dan selalu mendekat kepada titah dan takdir-Nya, hingga 2020 situasi akan menjadi terang benderang, menjadi simbol dilakukannya perubahan yang berpihak pada umat, memuncak pada 2024, hingga Fathul Mekkah di negeri ini tahun 2029, bukan 2030 saya rasa. Pesan-pesan Qur’an terutama Surat Thaha jelas sekali dan sangat gamblang, bloko sutho, tanpa tedeng aling-aling, menunjukkan bahwa abad ini, di seratus tahunannya, 2024 M hingga 2029 M nantinya, kebangkitan harus dijemput dan ditegakkan. Sebagaimana Jang Oetama HOS Tjokroaminoto di tahun 1924 M, Pangeran Diponegoro dan Kaum Paderi di tahun 1824 M, Sultan Agung (1624), Sultan Trenggono (1524), Megat Iskandar Syah (1424), Sultan Aru Barumun (1324), Sultan Alaidin Sy Abbas Syah (1224), Nashiruddin al-Thusi (1224), Umar Khayyam (1038/104-1123/1132), Ibn Sina (980-1037); Al Biruni (973-1051), Al Kindi (801-873) Hunain ibn Ishaq (810-877), Al Khawarismi (…-863), Al Farabi (870-950), Mas’udi (…-956), atau Khalifah Al Ma’mun masa Dinasti Abbasiyah berhasil mengonsolidasi kekuatan Islam tahun 824 dan Yazid tahun 724 masa Ummayah setelah dikuatkan dasar peradabannya oleh Ummar bin Abdul Aziz tahun 711-720. Itu hanya contoh, pasti tak terkira di era-era yang sama, para mujtahid-mujtahid dan mujahid-mujahid mendorong untuk, seperti diistilahkan Ismail Raji Al Faruqi, Pax Islamica, di manapun, kapanpun.
Akhirnya, saya memahami dan meyakini bahwa peradaban masa depan adalah peradaban yang mengedepankan Marwah Masjid, bukannya, sebagaimana diistilahkan Kuntowijoyo “Pasarisme”, dengan syarat bahwa kemakmuran dan peradaban yang lebih baik adalah milik bersama, milik umat. Maka, kata kunci pentingnya adalah Konsolidasi Umat, di negeri ini harus disegerakan untuk mencapai kemakmuran bersama, dimulai dari kebangkitan 2024 melalui Hijrah, ya Hijrah Untuk Negeri tahun 2024, melalui hijrah kebudayaan religius sebagai desain ideologis, melakukan hijrah syuro sebagai antitesis demokrasi liberal, dan hijrah ekonomi berbagi sebagai antitesis ekonomi liberal sebagai desain konstruktif. Dengan itu maka desain strategis, taktis, dan praktis diarahkan pada dua hal utama itu, desain ideologis-konstruktif.
Selamat membaca pesan 2024, selamat menelusuri masa lalu, kini, dan masa depan. Semoga kita masih punya semangat membawa negeri ini menuju kesejatiannya, Negeri Kesatuan Berkebangsaan Religius bernama Republik Indonesia.

Singosari, Purnama di bulan Rajab menjelang Ramadhan 1439 H – Akhir Maret 2018.

KITALAH TUHAN BARU “HOMO DEUS”


Hari-hari ini kita saksikan kemajuan dunia bergerak tak henti, seharian tak cukup, ekstensi lebih bagus lagi menuju semalaman, detik ke detik, di seluruh pelosok negeri-negeri berpenghuni yang katanya hasil evolusi homo erectus menjadi homo sapiens ini, bahkan sudah ingin mencapai apa yang dikatakan Yuval Noah Harari dalam bukunya yang juga sebagai narasi besar kemanusiaan hari ini, Homo Deus, Manusia Tuhan, dengan narasi besar anti Iman itu: “Our Future will be shaped by the attempt to overcome death”. Homo Deus memang sebuah kemustian bila manusia ingin tetap eksis sebagai penguasa di dunia lewat evolusi kemanusiaan mutakhir, human brain, karena bagi Michio Kaku di bukunya berjudul The Future of the Mind, “Brain is the power being God”. Toh, Jared Diamond dalam bukunya The World Untill Yesterday menganggap masa depan agama hanyalah masalah evolusi otak akibat makin meningkatnya kecanggihan otak dalam mengenali penjelasan penyebab dan dalam membuat prediksi, sedangkan agama hanyalah produk sampingan kemampuan otak yang semakin canggih.

Jadi sudah waktunya kita tak lagi mementingkan agama bahkan Tuhan di masa kini dan masa depan karena “sulap” darwinisme telah membentuk realitas itu hanyalah masalah materialisasi sains, teknologi dan perputaran ekonomi-bisnis global, bahkan lebih dari itu mekanisasi interaksi kebudayaan masyarakat dalam ruang pluralisme, demokratisasi, sampai ujungnya free will kemanusiaan atas nama laissez faire untuk kebahagiaan duniawi. Inilah yang penulis sebut sebagai berhala-berhala dunia. Tak ada lagi itu bahasa Al Qur’an tentang perbedaan siang dan malam, siang waktumu berjuang sedang malam waktumu meredakan aktivitas fikir dan fisikmu, menuju penataan keseimbangan kosmologis diri sekaligus meningkatkan puncak religiusitas. Yang ada adalah siang dan malam semua untuk berjuang atas nama diri memuaskan kebahagiaan lewat penciptaan materialisasi teknologi yang berjalin kelindan dengan kepentingan kekuasaan, politik, ekonomi, bisnis, dan lainnya yang jelas semua untuk diri, boro-boro ummat apalagi Tuhan, karena kitalah Tuhan. Titik.

Maka menjadi penting Homo Deus membentuk berhala-berhala baru pula, yaitu uang yang direpresentasikan pada shift pabrik-pabrik mencetak kebutuhan umat manusia, bila perlu ada intranet, webcam, lembur ganda, asal akuntan dapat mencatat hasil kerja manager produksi dalam bentuk bottom line income dan bottom right side setoran untuk pemegang saham. Berhala posmodern kemudian mewujud pula pada Internet melalui backbone-backbone virtual-nya dihidupkan tanpa jeda kematiannya lewat penunjang kehidupan server, tower, sampai pada power-supply listrik tanpa henti, demi melayani hasrat manusia menjelajah dunia maya bukan hanya untuk pemuasan akumulasi rupiah, dolar, euro, dan mata uang manapun, disediakan pula untuk hasrat penuh kesemuan kecantikan, gagah, nikmat, atau apapun. ATM dan alat penggesek uang plastik berbentuk kartu sebagai penyimpan energi yang hari-hari ini juga sudah bergerak evolutif menuju cryptocurrency, berhala uang kemudian menghadirkan berhala turunannya. Ya, berhala turunan untuk memenuhi kebutuhan siapapun yang menghendaki transaksi bisnis, politik, hiburan, bahkan sampai ritual pengganti shalat malam, yaitu diskotik dan satanic party di manapun dengan sajian irama musik berdentum untuk dapat menjingkrakkan kaki, menggelengkan kepala, sembari mata merem melek, mulut minum TKW dan tak ketinggalan menyedot herbal ganja yang nantinya berubah nama jadi cimeng/rasta, dulunya ditanam dan diproduksi membantu ibu-ibu menahan sakit dalam melahirkan, kalau perlu ditiru sintetiknya apapun mereknya entah itu putaw, coke, atau butterfly, apapunlah asal dapat junkie, sedotan ke otak demi memuncakkan fly stone kalau perlu sampai jackpot. Kalau ingin lebih menikmati puncak, karena kita adalah Tuhan Manusia, maka LGBT adalah kemustian sejarah, Lesbong, Gebong, Bisexong, dan Transexong adalah kenikmatan dunia tanpa batas.

Di sela-sela itu pula tempat-tempat ritual penyembahan berhala bagi para Tuhan Manusia tidak perlu lagi ruang formal, tetapi berubah wujudnya dalam ruang-ruang pertemuan informal yang memang menjadi lebih penting dilakukan di malam hari daripada di meja-meja kantor dan rapat formal, oleh para pembuat patung-patung berhala baru, yaitu penentu kebijakan negara, politisi, akademisi, pengaman negara (baik itu polisi maupun tentara), memenuhi undangan para cukong yang juga sudah ditemani oleh bankir bermental jabatan dan target bulanan untuk meningkatkan akumulasi bisnis. Tak ketinggalan ditemani malaikat kehancuran bernama economic hitman paling mutakhir perwakilan lembaga keuangan dunia sampai makelar ajaran yang baru lulus dari kampus ternama dengan menyandang pemimpin organisasi kepemudaan agamis/sekuler nasional yang juga telah berinteraksi secara internasional dengan para pemuda di negeri lainnya yang entah mereka punya perilaku sama atau tidak.

Mereka kumpulan Tuhan-Tuhan Baru bersama para Malaikat tertawa terbahak-bahak sambil menikmati hidangan dari negeri jiran, jepang, atau bahkan Italia, yang jelas ndak kelas kalau restorannya itu menyajikan tempe bacem atau sayur asem, apalagi nasi padang, karena itu hanyalah kelas basa basi yang dihidangkan di istana negara untuk menyenangkan para budayawan yang masih menginginkan supremasi majapahit, sriwijaya atau apapun itu, tetap hidup dalam kenangan, kalau perlu juga semua pakai batik sebagai simbol kebudayaan nasional, yang sekarang sudah digelontor negeri Cina Daratan dengan harga lebih murah.

Maka tak perlu menunggu terlalu lama, berhala administratif muncul dalam bentuk perijinan dari pemerintah daerah sampai pusat, baik HO, pertanahan, perindustrian, perkebunan, pertambangan, AMDAL, dan ganti rugi tipu-tipu semua telah disiapkan tim hukum, tim teknis sampai laporan keuangan oleh budak belian para Tuhan (wallahua’alam semoga tidak begitu) akuntan internal maupun Kantor Akuntan Publik berafiliasi Big Four, merapikan seluruh rancangan, tak terkecuali para poli(ti)si dan tentara jadi dewan komisaris, dan muncullah kelapa sawit, lubang-lubang galian pasca pertambangan, penebangan hutan, dan apapun, pokoknya satu, menghancurkan sekaligus mengganti semua tanaman aneka ragam menjadi satu ragam saja di hampir seantero pulau non Jawa. Tujuannya APBN terisi uang untuk bayar gaji PNS, bayar utang, bangun jalan, jembatan, bandara, dan yang bisa dibangun apa saja pokoknya mbangun. Kalau gak cukup uang, ya ngutang ke kawan Tuhan Baru lainnya di jalur Sutra Baru untuk bikin reklamasi, jalan kereta api, tambang minyak, dan entah apa lagi.

Rakyat bagaimana? Rakyat hanyalah budak tak bernyawa, zombie-zombie macam The Walking Dead, perlu dijauhkan dari berhala-berhala dalam bentuk kooptasi pikiran pada peran bisnis kecil saja gak papa. UKM itukan tahan goncangan ndak perlu khawatir krisis dan resiko bunga serta jatuhnya harga saham, cukup dikejar-kejar pajak, kalau perlu tutup rekening untuk menjarah harta mereka, sita, ancam, dan apapun asal rakyat membayar pajak. Sedangkan para Tuhan Baru beserta para malaikatnya, koruptor, antek Orde Baru, dan Cukong, termasuk pejabat negara, poli(ti)si, tentara, dan hitman lokal yang bisa menjarah negeri ini, sak anak cucunya termasuk penerus tradisi bisnisnya yang katanya ciri-cirinya berbusa-busa melakukan aktivitas bisnis dari bawah, plus lulusan MBA, atau Komunikasi Politik atau Bisnis, diamankan kepentingan pajaknya, bahkan kalau perlu ada RUU untuk tax amnesty. Negeri ini memang tak berlebihan bila sudah memberhalakan Birokrasi maka semua harus berbasis “administrative evil”-nya Balfour, berulang dan dibentuk berdasarkan “ritual politeness”-nya Goffman, maka wajar bila di dalamnya “political decay”-nya Fukuyama akan menjadi “Bureaucracy’s Conspiracy Theory”-nya Graeber et al. untuk mempertahankan sistem dan menjatuhkan siapa dan apa saja

Bukan hanya pajak, kalau perlu UU Pertambangan, Migas, BUMN, Pendidikan, UU apa saja, bukan hanya UU, bila perlu UUD 1945-pun harus didesain seperti kehendak para Tuhan Baru. Pancasila dan Pembukaannya mungkin saja itu tidak perlu diganti, karena itu kan bahasa bunga, bahasa basa basi yang diperlukan untuk menunjukkan negeri ini masih sesuai dengan para pejuang bangsa. Eh iya, ada sih tujuh kata harus diamputasi dari situ, itu saja sudah penjarahan habis atas amanat rakyat. Jadi? Pancasila dan Pembukaan, engkau hanya tinggal menunggu waktu untuk dijarah habis para Homo Deus. Lewat mana? Lewat demokrasi paling keren sedunia, pileg, pilkada, pilpres serentak demi menegaskan Tuhan Baru. Karena itu ulama sebagai representasi atau wakil agama di dunia lama cukup jadi kuda tunggangan, tidak boleh jadi Tuhan Baru, cukup jadi kuda saja. Mengapa? Ya karena para Tuhan Baru kan sudah memiliki “agama”.

Tuhan dan Malaikat Baru, penikmat dunia apa sebenarnya tak beragama? Tidak mungkinlah, negeri ini kan penganut basa-basi formalitas agama, bahkan Indonesia kan memang dihuni oleh 85-90% ummat Islam, dan sebagian sisanya beragama Katholik, Kristen, Hindu, Budha, Konghucu, dan Kepercayaan. Jadi? Jelas negeri kita pasti dikelola oleh pola yang sama dari struktur statistik seperti itu. Artinya, Indonesia adalah negeri ber-Tuhan-kan mayoritas Allah SWT. Mereka, para Tuhan Baru kalau sudah musim Ramadhan, Hari Raya Idul Fitri, Idul Adha, Natal, Nyepi, dan semua gagasan tentang Ketuhanan selalu paling rapi, banyak nyumbang, getol mengadakan acara-acara formal yang penuh gebyar, malah kalau perlu jadi pemateri utama Kajian Ramadhan, Diskusi Puasa, Buka Puasa dan apalah kalau perlu disajikan di televisi. Bulan Ramadhan full sebulan mereka perlu berbalut jenggot, sorban, baju gamis, dan wis to apa aja demi meyakinkan pemirsa memandang wajah mereka sebagai pengiman tertinggi, bahkan menjadi Nabi sekaligus Tuhannya. Agama sudah berevolusi diinjeksikan pada substansi kejahatan puncak dunia, Berhala. Berhala sekarang sudah tak lagi berbentuk lawan dari Agama. Dunia posmodernisme malahan berani melakukan face-off sistem kenabian Musa, Ibrahim, Isa, Muhammad, menjadi pengiman sekaligus pendosa, bertakwa sekaligus penjarah negeri.

Masih kuatkah kita kita? Apakah memang tak ada harapan lagi untuk kita dan menjadi pentingkah Qur’an Surat Al Kahfi: “Kaum kami ini telah menjadikan selain Dia sebagai tuhan-tuhan (untuk di sembah). Mengapa mereka tidak mengemukakan alasan yang terang (tentang kepercayaan mereka?) Siapakah yang lebih zalim daripada orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah.”? Apakah menggerakkan perubahan tak penting lagi, apalagi komitmen oral, energi, bahkan kehadiran membuat comfort zone deklinatif sampai titik nadir, bahkan hidup, harta dan materi dipertaruhkan? Apakah menggerakkan perubahan itu bagai Musa melawan Firaun, siap dengan tongkat kenabiannya, Ash-Soya, yang wajib siap plus ikhlas di-kadal-in pada tiap aksi basa basi bahkan niat selfish “berbulu” ummat, harus siap dianggap bermimpi, dilecehkan, bahkan ditinggal kawan, sekaligus sasaran tembak lawan?

Astaghfirullahal adzim… Maafkan daku yang mencoba berkata apa adanya ini. Wallahu a’lam…

Singosari, Rajab menjelang Ramadhan 1439 H – Akhir Maret 2018

INTELEKTUAL ITU?


Noam Chomsky di buku terbarunya Who Rules the World seakan menohok, mengingatkan kembali peran dan mempertanyakan tanggung jawab para – yang suka disebut – intelektual, mereka berada di garis mana?

Membela tata nilai ideal atau beradaptasi dengan kebijakan negara?

“…those who line up in the service of the state are typically praised by the general intellectual community, and those who refuse to line up in service of the state are punished.”
(Excerpt From: Noam Chomsky. “Who Rules the World?.” iBooks)

Menurutnya, sepanjang sejarahnya intelektual hanya ada dua tipe, yang kompromis sekaligus teknokratis di sisi sana, dan berorientasi nilai yang biasanya “dianggap” pembangkang di sisi lainnya.

Intelektual kompromis/teknokratis punya kecenderungan melayani negara dan biasanya dihormati oleh komunitas intelektual secara umum. Tipe ini biasanya menjadi pendukung kebijakan pemerintah dan mengabaikan atau bisa jadi membuat rasionalisasi praktik jahat pemerintah. Atas posisi tersebut, mereka akan mendapat kehormatan serta posisi istimewa di tengah masyarakat.

Sedangkan intelektual berorientasi nilai ideal dan menolak kebijakan menyimpang yang dilakukan negara biasanya berakhir di penjara… Dan para pembangkang beginian menurut Chomsky dalam lintasan sejarah biasanya merujuk pada peran kenabian.

Para nabi manapun membuat gerah dan amarah penguasa berbasis analisis geopolitik kritisnya. Protes keras dilakukan terhadap apa yang dilakukan pemerintah menunjukkan ketidakadilan. Berdasar aksi kritis itulah para nabi menyeru dikembalikannya keadilan dan kepedulian pada masyarakat yang tergusur dan tertindas. Yang pasti karena tindakan kerasnya itu, para nabi diperlakukan secara kasar, dikejar-kejar, dipenjara, diteror, kalau perlu dibunuh atau disalib. Berbeda dengan para penjilat istana, yang kemudian hari dalam sejarah tercatat dikutuk sebagai nabi palsu.

Bisa jadi masih ada intelektual ketiga, yang kanan kiri oke apa ya? Kalau dalam peristiwa Romawi disebut Brutus, sahabat karib sang Julius Caesar, yang di akhir hayat penikamannya mengucapkan tiga kata kepada sahabatnya itu: “Et tu, Brute” (Dan engkau juga, Brutus?)

Atau intelektual keempat, intelektual yang tidak (atau bisa jadi sebenarnya) paham bahwa dirinya masuk (atau bahkan rela berada di) jebakan – bukan tikus deh… biar keren, kan intelektual (intelektual jarene krik krik gedubrak) sebutlah – arus besar perselingkuhan, persengkunian atas nama kebaikan, pergerakan atas nama by design.

Atau ada tipe intelektual yang lainnya?

Sepertinya, kita perlu menangkap sinyal jaman dengan lurus, menangkap tanda-tanda perubahan bukan dalam keluguan dan kehambaran analisis, dan pilihan-pilihan kebaikan yang terlalu dangkal. Tetapi mata batin jaman, intuisi jaman kata Iqbal… (cie cie cie Iqbal… nggaya men ngutip iqbal)

Astaghfirullahaladzim.

ADM
Singosari, Jumat 16 Februari 2018, pas sudah lumayan bisa bebas berekspresi, bisa baca macem-macem, liburan di rumah aja… damai kang (biar gak nulisnya peace bro…)