ANGKA ILAHIYAH


Bagaimana sebenarnya makna serta sejauh mana pentingnya angka dalam Islam? Cukupkah dipahami sebagaimana angka itu simbol dan dijadikan alat untuk mengkonstruksi realitas secara rasional-logis sebagaimana Barat memaknainya?
Secara normatif Islam mengingatkan sebaik-baik pemahaman rasionalitas atas realitas sebagai manusia Ulil Albab bukan hanya cerdas akal otak rasional tetapi otak yang berfikir sekaligus berzikir dan dengan itu setiap diri diminta untuk mengarah pada ketakwaan Ilahiyah:
Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku, hai orang-orang yang berakal (QS. Al Baqarah: 197).
Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. (yaitu) Orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan Kami, Tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha suci Engkau, Maka peliharalah Kami dari siksa neraka (QS. Ali Imran: 190-191).
Interpretasi kontekstual Islam memang memiliki kekhasan dalam mendorong setiap diri dalam memahami rasionalitas, realitas, bahkan yang lebih teknis matematis maupun angka. Qur’an misalnya bercerita tentang penciptaan dalam 6 hari tidak dapat diinterpretasikan “lugu” enam hari dalam logika kemanusiaan biasa. Rasulullah SAW menjelaskan tentang munculnya mujtahid, mujahid, ijtihad 100 tahunan juga tidak bisa dipahami langsung menggunakan akal rasional, tetapi sangat menginginkan konstruksi secara holistik.
Menurut Nasr dalam bukunya berjudul Science and Civilization in Islam (2007) menjelaskan bahwa matematika memang tidak sesimpel simbol dan angka yang kering dan semata material, tetapi:
… is regarded as the gateway leading from the sensible to the intelligible world, the ladder between the world of change and the heaven of archetypes. Unity, the central idea of Islam, is an abstraction from the human point of view, even though in itself it is concrete. With respect to the world of the senses, mathematics is similarly an abstraction; but considered from the standpoint of the intelligible world, the “world of ideas” of Plato, it is a guide to the eternal essences, which are themselves concrete. Just as all figures are generated from the point, and all numbers from unity, so does all multiplicity come from the Creator, who is One. Numbers and figures, if considered in the Pythagorean sense that is, as ontological aspects of Unity, and not merely as pure quantity become vehicles for the expression of Unity in Multiplicity. The Muslim mind has therefore always been drawn toward mathematics, as may be seen not only in the great activity of the Muslims in the mathematical sciences, but in Islamic art as well.
Penjelasan beliau sebenarnya menegaskan berbagai peran tokoh Muslim di masa-masa keemasan peradaban Islam yang memaknai matematika dan angka lebih dari sekedar simbol dan penuh makna Ilahiyah. Salah satu tokoh penting matematika yang saat ini banyak menjadi sentral rujukan dunia saat ini adalah Al-Khawarizmi (Muhammad bin Musa), penemu Aljabar dan Algoritma yang memahami angka 1,2,3,4,5,6,7,8,9,0 bukan sekedar angka matematis material-fisikal sebagaimana kita pahami sekarang. Buku Algoritma (ditulis tahun 824) sebenarnya pula merupakan panduan utama revolusi industri 4.0 dan pusat dari html, script, bahasa mesin, internet, dan hampir seluruh kunci utama teknologi saat ini; termasuk tokoh idola Mark Zuckerberg pendiri Facebook itu.
Al-Khawarizmi lahir sekitar tahun 780 di Khwarizm (sekarang Khiva, Uzbekistan) dan wafat sekitar tahun 850/863 di Baghdad. Al-Jabar, adalah buku pertamanya yang membahas persamaan linear dan notasi kuadrat. Al-Khawarizmi berperan penting dalam memperkenalkan angka Arab melalui karya Kitāb al-Jam’a wa-l-tafrīq bi-ḥisāb al-Hind yang kelak diadopsi sebagai angka standar yang dipakai di berbagai bahasa serta kemudian diperkenalkan sebagai Sistem Desimal.
Bagi Al-Khawarizmi Aljabar dan Algoritma memiliki nilai-nilai utama yang sangat Ilahiyah sifatnya, dengan merujuk pada sifat angka pada para guru dan rujukan-rujukan ahli matematika awal jaman periode kenabian yang disebut “Ikhwan al-Safa”, yaitu angka selalu bersanding yang matematis (material) sekaligus bersifat metafisis (Ilahiyah). Angka 1 misalnya tidak hanya merefleksikan material tetapi bermakna metafisis, angka 1 adalah awal, pertama sebagaimana Alif, adalah puncak huruf yang merefleksikan Allah itu sendiri, baik Alif berdiri sendiri maupun ketika bersandar dengan kata Allah itu sendiri.
Huruf-huruf penyusun kata Allah terdiri dari Alif, Lam, Lam, dan Ha’, dapat kita maknai dengan Alif sebagai representasi Allah yang 1, yang kemudian mencipta Lam (semesta) dan Lam (manusia) yang diakhiri pada Ha’ yang fana, 0; kemudian berakhir pada tashdid kematian menuju Fathah yang dapat bermakna Allah yang 1. Seluruh rangkaian kata Allah juga dapat dimaknai dengan Allah yang 1, Alif sebagai representasi Allah, ketika Alif dihilangkan, menjadi kata Lillah yang juga berarti Demi Allah, dan pada saat Alif-Lam-Lam dihilangkan hingga tinggal Hu yang bermakna Dia (Allah). Semua merepresentasikan Allah yang 1 dan kekuasaan tak hingga (0).
Algoritma gagasan Al Khawarizmi yang “asli” tidak pernah melepaskan angka menjadi hanya angka atau simbol bagi penjelasan realitas maupun simbolisasi yang terkonstruksi. Baginya, dalam angka, unit, dan persamaan matematika pasti membawa spiritualitas itu sendiri. Jadi? Silakan memilih angka tetaplah angka material, atau angka itu material sekaligus Ilahiyah. Semua kembali kepada apa yang kita pahami sebagai kebenaran. Yang jelas saya masih memahami bahwa angka memang sejak dari sononya Ilahiyah. Wallahu a’lam.
Ajidedim – Singosari, 9 Rabiul Akhir 1440 ; 17 Desember 2018

Iklan

AGENDA: TUHAN BUNUH DIRI


Kemajuan kemanusiaan Homo Sapiens dimulai saat terintegrasikannya kemampuan yang tidak dimiliki makhluk hidup lainnya, yaitu tulisan dan bahasa. Tulisan dan bahasa adalah simbol rasionalisasi logika pikiran di otak manusia, hingga membentuk peradaban pertanian/menetap, meninggalkan mentalitas hewan yang suka berburu dan mengumpulkan.
Di masa keemasannya homo sapiens manusia mulai mengenal Tuhan, hingga dipungkasi kemanusiaannya melalui Iqra’ Ketuhanan Rasulullah SAW di gua Hira’. Rasionalisasi, pikiran, tulisan, bahasa, termasuk angka di dalamnya hanyalah kuasa otak atas pemberdayaan semesta membangun peradaban dengan tetap menegaskan nilai Ilahiyah segala sesuatu, tanpa kecuali.
Ternyata, iqra’ belum cukup menyadarkan manusia. Kekuatan Iqra’ Ketuhanan yang “asali” masih harus ditegaskan melalui perjalanan Mi’raj spiritual Sang Nabi ke langit. Rasionalitas logis berjiwa langit itulah yang kemudian ditekniskan Al-Khawarizmi menjadi yang sekarang biasa disebut Algoritma.
Berbeda dengan matematika langitan, matematika dan Algoritma modern meninggalkan “langit” dan menjadi akar aliran liberalisme/kapitalisme dan tentunya komunisme yang saudara kandungnya itu. Dengan “sangu” rasionalitas dan materialitas puncak matematis logis mereka menderivasikannya pada seluruh aspek keduniaan seperti ekonomi, politik, hukum, sosial, dan lain sebagainya, yang makin kering ruh hakiki. Bukan hanya ekonomi seperti pertumbuhan hingga APBN penuh angka, politik, semuanya, termasuk cinta, bila dia tidak dikoneksikan dengan kepentingan dan rasionalisasi keterhubungan matematis, segera saja ditinggalkan.
Menarik pengalaman maestro matematika John Nash, yang awalnya memahami bahwa cinta itu harus terefleksi pada hubungan seks dengan puncak bertemunya cairan kebahagiaan. Di akhir masa tua, saat sambutan menerima penghargaan Nobel 1994, Nash memahami bahwa cinta tidak sekedar muncratan cairan, sudah lanjut memang tapi hanya material dan logika lanjut. Cinta adalah kebahagiaan, roso, saling percaya, saling membutuhkan, tetapi tetap saja, semua harus logis, rasional dipetakan dalam persamaan algoritma, algoritma cinta:
“I’ve made the most important discovery of my life. It’s only in the mysterious equation of love that any logical reasons can be found. I’m only here tonight because of you. You’re the only reason I am…you’re all my reasons.”
Liberalisme paling mutakhir, melampaui realitas material, mencapai realitas supra-material dengan meng-algoritma-kan ruang psikis dan roso kemanusiaan termasuk intensi bahkan cinta. Manusia individual sudah kuno, manusia algoritma bersifat dividual, manusia yang tersusun dari agoritma rasa, batin sekaligus rasional terkoneksi membentuk jejaring pikiran dan intensi konkret. Yang tidak konkret harus dibunuh, bahkan Tuhan, apalagi hanya malaikat, selama bisa masuk dalam persamaan dan bisa dihitung, dikreasi, dan dinarasikan secara rasional.
Pantas mereka bahagia dengan simbol kesombongan ketuhanan manusianya hingga berani mengatakan dirinya adalah Homo Deus, Manusia Tuhan. Secara teknologis, diri diformat dan dipetakan melalui matematisasi segala rasa sesuatu. Berdasar desain algoritmik kebahagiaan yang mendesain diri matematis atas manusia itulah mereka tanpa sadar atau mungkin penuh kesadaran, mendorong bunuh diri Tuhan dalam dunia angan religiositas baru mereka.
Algoritma genuine dari Muhammad bin Musa alias Al Khawarizmi tidak pernah melepaskan substansi angka menjadi hanya angka atau simbol bagi penjelasan yang terkonstruksi. Baginya, di dalam angka, unit, dan persamaan matematika pasti membawa spiritualitas itu sendiri. Sedang bagi para Homo Deus penerus ajaran utama Al Khawarizmi menegaskan angka, unit, persamaan sudah jadi barang basi.
Tuhan sudah berhasil dibunuh, nasib agama-agama dengan Tuhan yang sudah mati pasti tinggal menunggu waktu historis saja, menunggu hilangnya agama di muka bumi, digantikan Agama Baru, Agama Data, agama-tekhno. Agama Baru yang membawa visi penyelamatan melalui alogaritma dan gen.
Selamat menikmati Intensi Algoritmik, untuk menegaskan kematian Tuhan. Selamat berjamaah membuat Tuhan Bunuh Diri, menyambut miliaran manusia yang beralih diri menjadi Tuhan-Tuhan Baru bernama Homo Deus, yang katanya melampaui kuasa dan kecerdasan-Nya.
Ajidedim
Singosari, Ahad, 8 Rabiul Akhir 1440 H

KISAH ABADI DALANG DAN WAYANG


KISAH ABADI DALANG DAN WAYANG:
Mendendangkan Lagu SWAMI di Masa Baru
Kasian memang, di tengah memanasnya politik menjelang mengerucutnya calon-calon Presiden yang akan dipilih oleh ratusan juta masyarakat dalam Pilpres 2019 mendatang kita masih jadi mainan para dalang yang rajin menyorongkan para wayang. Model dalang dan wayang bertebaran di media sosial sekarang sepertinya hanyalah pengulangan dominasi historis tak habis-habisnya. Pesan moral beginian sepertinya juga pernah muncul di negeri kita, bahkan sudah pernah didendangkan SWAMI. SWAMI adalah grup kolaborasi musisi Indonesia kritis kawakan seperti Iwan Fals, Sawung Jabo, Naniel, Nanoe, dan Innisisri, plus Jockie Surjoprajogo.

Baca lebih lanjut

2024 bukan 2030


Pasrah di tahun 2030 mengikuti novel yang ujungnya berkeping-keping atau analisis ekonomi yang katanya jadi 7 negara hebat dunia padahal jadi pasar asing, sama saja para pemimpin di negeri ini mengajari rakyatnya jadi pemalas dan sub-ordinat bangsa lain seumur hidupnya.

Desain 2024 Hijrah Untuk Negeri yang terbit 2016 dan masuk cetakan kedua ini tidak melihat kedua skenario itu penting.

2024 memandang lebih pada membangkitkan jati diri negeri, bukan jadi buih tapi jadi ombak yang menggulung lautan di 20 kota 24 tempat…WhatsApp Image 2018-03-30 at 00.17.20.jpeg

SINOPSIS BUKU 2024


2024 HIJRAH UNTUK NEGERI: Kehancuran atau Kebangkitan Indonesia dalam Ayunan Peradaban

Gegap gempita perbincangan akhir-akhir ini tentang simbol “2030” rasa-rasanya memang menggoda sekaligus mengganggu pikiran kita sebagai Bangsa. Tetapi, apakah benar tesis itu? Apakah benar 2030 adalah kehancuran atau kebangkitan negeri ini? Perbincangan peradaban kenusantaraaan, keindonesiaan kita, pada saat buku ini diterbitkan tahun pertengahan 2016, merupakan kemewahan bagi masyarakat negeri ini, karena tema seperti ini tak dapat dijadikan “pasar”. Tetapi sejak munculnya aksi 411 dan 212 yang menggoncang negeri ini, putaran perbincangan politik tahun 2018 apalagi 2019 menjadi tema terhangat hari-hari ini. Ya begitulah sifat manusia Indonesia di negeri ini, selalu saja berpikir jangka pendek, terganggu dengan isu-isu hangat, dan tak pernah melihat realitas negeri ini dalam konteks yang lebih panjang, apalagi dikoneksikan dengan sejarah masa lalu, masa kini, hingga jauh ke depan. Baca lebih lanjut

KITALAH TUHAN BARU “HOMO DEUS”


Hari-hari ini kita saksikan kemajuan dunia bergerak tak henti, seharian tak cukup, ekstensi lebih bagus lagi menuju semalaman, detik ke detik, di seluruh pelosok negeri-negeri berpenghuni yang katanya hasil evolusi homo erectus menjadi homo sapiens ini, bahkan sudah ingin mencapai apa yang dikatakan Yuval Noah Harari dalam bukunya yang juga sebagai narasi besar kemanusiaan hari ini, Homo Deus, Manusia Tuhan, dengan narasi besar anti Iman itu: “Our Future will be shaped by the attempt to overcome death”. Homo Deus memang sebuah kemustian bila manusia ingin tetap eksis sebagai penguasa di dunia lewat evolusi kemanusiaan mutakhir, human brain, karena bagi Michio Kaku di bukunya berjudul The Future of the Mind, “Brain is the power being God”. Toh, Jared Diamond dalam bukunya The World Untill Yesterday menganggap masa depan agama hanyalah masalah evolusi otak akibat makin meningkatnya kecanggihan otak dalam mengenali penjelasan penyebab dan dalam membuat prediksi, sedangkan agama hanyalah produk sampingan kemampuan otak yang semakin canggih. Baca lebih lanjut